Amoera Is My Lady

Amoera Is My Lady
Kecurigaan ~ Amoera


__ADS_3

Selama seharian, Amoera berada di dalam kamar. ia sama sekali tidak mau menemui Marvin, bahkan berulang kali Marvin merayunya. namun tetap saja Amoera tidak mau menemuinya. Marvin pun tak mau memaksanya. ia menyuruh Bi Lian untuk mengantarkan makanan kepada Amoera dan menemaninya di dalam kamar.


Malam harinya, Bi Lian terlihat baru saja keluar dari kamar Amoera. Marvin yang sedang asyik duduk dan sibuk menghisap batang rokok miliknya. segera menghampiri pembantunya tersebut.


"Apa dia tadi mau makan, Bi?" tanya Marvin.


"Iya, Tuan. Nona menghabiskan makananya," ujar Bi Lian dengan menunjukan piringnya yang sudah kosong. Marvin bernafas dengan lega saat mengetahui Amoera sudah makan.


"Sedang apa dia sekarang, Bi?" tanya Marvin.


"Nona, mau beristirahat, Tuan."


"Apa Tuan mau pulang?" tanya Bi Lian yang memperhatikan Marvin sudah rapi dengan mengenakan jaket kulitnya.


"Iya, Bi. sebenarnya, Marvin masih ingin di sini  menemani Amoera. tapi Marvin sudah janji pada orang rumah  akan pulang malam ini," ujar Marvin dengan suara malasnya. karna ia sebenarnya memang malas untuk kembali ke rumahnya.


"Ya sudah, Tuan, hati - hati." tutur Bi Lian.


"Saya titip Amoera, ya, Bi." Bi Lian mengiyakannya dengan senang hati.


Marvin pun mengambil kontak mobilnya dan segera berlalu pergi dari sana. namun, ia sejenak pergi ke jendela luar kamar Amoera untuk melihat wanita itu. karna kebetulan, jendela kamar tersebut tirainya hanya tertutup sebagian  saja. sehingga memudahkan Marvin untuk  melihat Amoera dari luar sana.


Ia sedang melihat Amoera sedang berbaring di dalam kamarnya. hatinya serasa sesak saat melihat wanita itu. Marvin menghembuskan napasnya dengan begitu berat. bahkan kedua sudut matanya terlihat basah karna terlalu larut memperhatikan Amoera. ia segera mengusap air matanya, lalu, ia kembali masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan tempat itu untuk kembali pulang ke rumahnya.


Setibanya di rumah, Marvin pergi ke kamar Elsa, ia sudah melihat kekasihnya itu tidur. ia melepas jaket kulit miliknya dan meletakannya ke sembarang tempat. suara gesekan dari jaket itu membangunkan Elsa.


"Sayang, kau sudah pulang?" Elsa beranjak bangun dan memeluk Marvin dari belakang.

__ADS_1


"Iya, kenapa kau bangun?" tanya Marvin seraya mengusap kepala Elsa.


"Aku menunggumu," ucap Elsa.


"Tidurlah lagi, aku akan kembali ke kamarku untuk beristirahat."


"Kau tidak ingin tidur di sini bersamaku?" tanya Elsa.


"Aku butuh ketenangan." Marvin mencium kening Elsa dan mengucapkan selamat tidur. ia segera berlalu keluar dari kamar itu.


Elsa hanya mematung di tempat yang sama memperhatikan sikap Marvin yang semakin hari semakin tak ia kenali.


"Apa yang membuatnya berubah seperti itu kepadaku?" Elsa memijat dahinya yang pusing memikirkan hubungannya dengan Marvin yang semakin hari semakin merenggang.


 


 


Keesokan paginya, sesuai bangun tidur Marvin bersiap - siap kembali untuk menemui Amoera. kebetulan di waktu yang sama Elsa terbangun, ia pergi ke kamar Marvin dan melihat kekasihnya itu berpakaian rapi. pertanyaan dan kecurigaan Elsa semakin memperkuatnya.


"Sayang, mau ke mana sepagi ini?" Elsa mengusap bahu Marvin.


"Bekerja." Marvin mengikat tali sepatunya tanpa memandang Elsa.


"Bekerja lagi?" tanya Elsa.


"Kalau tidak bekerja lalu apa? menemanimu di rumah  tanpa mencari penghasilan untuk hidup kita nanti?" seru Marvin.

__ADS_1


"Maksudku, ini pagi sekali, sayang. kan tidak biasanya kau pergi sepagi ini."


"Elsa, sudahlah, aku benar - benar lelah setiap hari kau selalu menanyakan hal yang sama."


"Aku berangkat dulu." Marvin beranjak dari duduknya. ia mengambil kunci mobil miliknya dan meninggalkan Elsa.


"Aku tidak bisa diam seperti ini sebelum melihat sendiri rutinitas apa yang setiap hari Marvin lakukan hingga mengabaikanku seperti ini." Elsa beranjak berdiri. ia keluar dari kamar dan mendekati telpon rumah yang ada di ruang tengah. kedua mata Elsa mengawasi sekitar, berharap tidak ada orang yang sedang melintas di sana.


Elsa menekan tombol telepon dan menghubungi seseorang.


Tut ... tut ... tut ...


"Iya sayang?" suara seorang laki - laki menyaut dari balik telpon yang saat ini Elsa genggam. laki - laki itu tak lain ialah Bobby.


"Jangan memanggilku seperti itu!" seru Elsa. Bobby tertawa mendengarnya.


"Ada apa kau menelponku sepagi ini?" tanya Bobby.


"Apa kita bisa bertemu sekarang?" tanya Elsa. ia mengecilkan suaranya agar tidak ada orang yang mendengar percakapannya.


"Tentu bisa, sayang. aku akan menjemputmu!" suara Bobby terdengar begitu girang dan semangat.


"Baiklah, ku tunggu di tempat biasa," Elsa dan Bobby segera mengakhiri panggilan itu.


 


 

__ADS_1


__ADS_2