
Marvin dan Amoera melakukan perjalanan kembali pulang ke rumah, di dalam mobil Amoera juga mendiamkan Marvin. kedua matanya melihat ke luar jendela mobil dengan tatapan sedikit nanar.
"Marvin, bisakah kau mengurangi kecepatannya? kepalaku pusing." Marvin mengiyakannya dan segera mengurangi laju kecepatan mobilnya.
Setibanya di rumah, Marvin menghentikan mobilnya di halaman. ia terlebih dahulu turun karna ia hendak membantu Amoera turun dari mobil. namun, Amoera menolak keras akan bantuan Marvin. ia segera berlalu masuk ke dalam rumah meninggalkan Marvin.
"Kenapa, dia?" Marvin begitu di buat bingung akan perubahan sikap Amoera yang ia rasa secara tiba - tiba. saat ia hendak menutup pintu mobil untuk mengikuti Amoera. tiba - tiba undangan yang ada di laci mobilnya terjatuh. Marvin segera mengambilnya. ia sejenak memperhatikan undangan itu.
"Kenapa design undangan ini ada di sini?" gumam Marvin. kemudian ia memejamkan kedua matanya dan mengusap kasar wajahnya. ia meletakan kembali undangan itu ke tempatnya semula. kemudian, ia menutup pintu mobil dan segera masuk ke dalam rumah untuk mengikuti Amoera.
Marvin masuk ke dalam kamar, ia melihat Amoera yang sedang sibuk mencari sesuatu di dalam laci meja miliknya. ia mengambil sebuah benang dan hendak melanjutkan menjahit baju bayi yang sempat terhenti tadi.
Marvin mendudukan tubuhnya di samping Amoera. ia memperhatikan Amoera yang tak mau memandangnya sedikitpun itu.
"Amoera?" Marvin memanggilnya dengan suara terendah.
"Hem?" Amoera menyautinya tanpa mengangkat wajahnya. tiba - tiba Marvin menyaut pekerjaan tangan Amoera.
__ADS_1
"Marvin, kemarikan." Amoera hendak menyaut kembali baju yang ia jahit itu. Marvin tak menghiraukannya. ia meletakan baju yang masih terjahit sebagian itu ke atas meja tempat tidur. ia menatap Amoera dan tiba - tiba memeluknya.
"Marvin, tolong lepaskan aku!" Amoera meronta dan mendorong tubuh Marvin agar segera menjauh darinya. Marvin menjauhkan tubuhnya. ia menatap Amoera dengan tatapan dalam.
"Kau sudah melihat undangan itu?" tanya Marvin. Amoera hanya diam saja. bibirnya seakan berat untuk mengiyakannya.
"Iya, semoga semuanya di beri kelancaran. semoga kau dan Elsa selalu di berkati kebahagiaan." Amoera bertutur dengan rasa sakit yang menjalar di hatinya. ia tersenyum di depan Marvin seolah ia senang akan kabar pernikahan itu. Marvin kembali memeluk erat tubuh Amoera dan memejamkan kedua matanya.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Amoera," bisik Marvin. bahkan, kata - kata itu begitu dalam di dengar oleh telinga Amoera. membuat hati wanita itu semakin kacau. bagaimana bisa Marvin berbicara seperti iu?
"Marvin."
"Marvin cukup!" Amoera mendorong keras tubuh Marvin.
"Cukup Marvin, tolong jangan seperti ini. tolong jangan perlakukan aku seperti ini lagi!" air mata Amoera mengalir deras di sana.
"Amoera?"
__ADS_1
"Aku seorang perempuan Marvin, aku juga memiliki perasaan seperti Elsa. jangan memperlakukanku seperti ini lagi, tolong hargailah Elsa. kita bisa di sini hanya karna sebuah kesalahan. sedangkan Elsa, dia masa depanmu."
"Amoera, aku sudah tidak---"
"Tolong keluarlah dari sini, Marvin!" tukas Amoera.
"Amoera."
"Tolong Marvin, tolong keluarlah. tinggalkan aku sendiri. aku mohon!" Amoera mengatupkan kedua tangannya. Marvin memejamkan matanya dan mengiyakan permintaan Amoera. ia segera berlalu keluar dari kamar itu. Amoera beranjak berdiri dan segera mengunci pintu kamarnya rapat - rapat.
Amoera kembali mendekati tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di sana, seketika itu Amoera menangis sejadi - jadinya.
"Ya Tuhan, kenapa rasanya sesakit ini? tidak seharusnya aku memiliki perasaan kepada Marvin, " Amoera berkali - kali mengusap air matanya yang tak mau berhenti mengalir.
__ADS_1