
Marvin tak henti memperhatikan wajah wanita yang saat ini sedang sibuk mengobati lukanya. entahlah, kenapa ia begitu merasakan kekacauan yang berkecamuk di dalam dirinya.
"Apa kau akan menikah dengan laki - laki itu?" pertanyaan Marvin menghentikan aktivitas Amoera. kedua matanya yang sendu sejenak menatap Marvin.
Amoera hanya terdiam dan masih mencerna, apa maksud dari pertanyaan Marvin tersebut. tanpa menjawabnya, Amoera kembali mengobati luka Marvin. seketika itu, Marvin langsung menghentikan tangan Amoera.
"Aku sedang bertanya, kenapa kau malah diam saja?" tanya Marvin seraya menajamkan kedua alisnya.
"Apa kau menyukai temanmu itu,?" tanya Marvin. dengan menjauhkan tangannya.
"Bukan urusanmu, kemarikan tanganmu!" pinta Amoera, ia meraih kembali tangan Marvin dan mengobati lukanya. Marvin pun tak henti-hentinya memandangi Amoera dengan penuh pertanyaan di kepalanya. ia merasakan sebuah kekacauan yang saat ini mengguncang hatinya. namun, Marvin mencoba menyangkal akan itu semua.
"Sudah ku obati. keluarlah dulu, aku mau ganti baju," perintah Amoera.
"Cepatlah ke meja makan," perintah Marvin seraya berlalu meninggalkan kamar Amoera.
Amoera membongkar semua isi lemarinya untuk mencari baju yang menurutnya nyaman. lalu ia mengenakan baju yang baru saja ia ambil.
"Kenapa bajuku kecil semua?" gumam Amoera dalam hati. rasanya ia begitu kesulitan bernafas mengenakan baju yang baru saja ia oakai.
Amoera berdiri di depan cermin yang memantulkan seluruh tubuhnya di sana. ia memperhatikan lekuk tubuhnya dan perutnya yang semakin hari, semakin membesar. ia mengelus - elus perut besarnya itu.
"Kurang beberapa bulan lagi, anak ini akan lahir. dan aku akan terbebas dari Marvin," gumam Amoera. namun, tiba - tiba cairan bening terlihat mengalir dari kedua sudut mata Amoera. ia memejamkan Kedua matanya dengan begitu pilu. Amoera mengusap air matanya dan berlalu keluar dari kamarnya untuk pergi menuju meja makan. dan saat ia keluar dari kamarnya, ia bepapasan dengan Marvin.
"Kenapa kau lama sekali?" tanya Marvin dengan menajamkan kedua alisnya.
"Maaf, aku kesulitan mencari baju. karna, bajuku sudah tidak ada yang muat," ucao Amoera seraya menundukan pandangannya. Marvin pun memperhatikan Baju yang di kenakan oleh Amoera. memang benar, rasanya dulu badan Amoera tidak berisi seperti yang sekarang ini. terlebih lagi wanita itu sedang hamil.
"Cepatlah," ajak Marvin. ia berjalan mendahului Amoera ke meja makan. mereka berdua pun makan. dan tak berbicara sepatah kata satupun. seusai itu, Amoera yang merasa kenyang. tak menghabiskan makanannya dan hendak kembali ke kamarnya.
"Kenapa makanannya tidak di habiskan?" tegur Marvin, hingga menghentikan langkah kaki Amoera.
"Aku sudah kenyang, aku sangat lelah ingin istirahat," ucap Amoera. ia pun melanjutkan kembali niatnya untuk kembali ke kamar. dan saat Amoera mendudukan tubuhnya, Marvin pun menghampirinya.
"Kau tidak pulang?" tanya Amoera.
"Kenapa kau suka sekali mengusirku?" seru Marvin.
"Bukan seperti itu, tapi nanti pasti dia akan mencarimu," tutur Amoera.
__ADS_1
"Siapa yang kau maksud dia?" tanya Marvin seraya mendudukan tubuhnya di samping Amoera.
"Maksudku, orang rumah nanti akan mencarimu. lebih baik kau pulang saja," ujar Amoera.
"Kau menyuruhku pulang, agar kau bisa bertemu dengan teman laki - lakimu itu, iya?" tanya Marvin dengan menajamkan kedua alisnya.
"Apa maksudmu? aku tidak ada niatan seperti itu." Amoera membantah dengan kesalnya.
"Besok aku akan mencarikan tempat tinggal baru untukmu dan Bi Lian," kata Marvin.
"Untuk apa, Marvin? aku sudah nyaman tinggal di sini, aku tidak mau harus pindah tempat tinggal lagi!" tolak Amoera.
"Kau nyaman tinggal di sini, karna kau bisa bertemu dengan laki - laki itu setiap hari. iya kan?" seru Marvin.
"Terserah kau saja mau bicara apa! aku sungguh lelah menjelaskannya kepadamu!" seru Amoera.
" Apa kau begitu menyukainya?" tanya Marvin. namun Amoera hanya diam saja dengan menatap sendu kedua mata laki - laki itu.
"Kenapa kau diam? " tanya Marvin, ia lebih mendekatkan wajahnya kepada Amoera.
"Aku tidak menyukainya!" ucap Amoera dengan memelas.
"Lalu kau menyukai siapa?"tanya Marvin namun Amoera membungkam.
"Marvin, menjauhlah," perintah Amoera dengan menahan tubuh Marvin agar tidak lebih mendekat lagi.
"Aku tidak mau!" Marvin memegang leher belakang Amoera, dan seketika itu mencium lembut bibirnya. tidak ada penolakan sama sekali dari Amoera. ia hanya diam saja, ketika bibir laki - laki itu menggeluti bibirnya.
Marvin merebahkan tubuh Amoera dan sedikit menindihnya. rasanya ia seakan tak bisa menahan nafsunya. ia mencoba melucuti baju yang di kenakan oleh Amoera. namun, Amoera menghentikan tangan Marvin.
"Marvin, jangan!" Amoera memelas dengan menggeleng - gelengkan kepalanya. namun, Marvin tak menghiraukan perkataan Amoera. ia menepis lembut tangan Amoera dan mencoba melucuti pakaian wanita itu satu persatu. begitu juga Marvin.
Seketika itu, Marvin kembali **** tubuh Amoera. Amoera benar - benar pasrah dan tak menolak dengan apa yang Marvin lakukan kepadanya saat ini. bahkan buliran air mata membasahi Wajah Amoera.
"Aku tau ini sebuah kesalahan, tapi aku?" Amoera memejamkan matanya. satu tangannya mencengkram erat kain sprei yang melapisi tempat tidurnya tersebut. dan tangan lainnya menyentuh dada bidang Marvin yang basah karena keringat.
Dan untuk kedua kalinya, Amoera melakukan ini semua dengan orang yang sama. orang yang pernah merenggut mahkotanya dengan paksa. namun kali ini sungguh berbeda, rasanya Amoera tidak terpaksa melakukan ini semua.
****
__ADS_1
Keesokan paginya, Amoera terbangun terlebih dulu. ia melihat tubuhnya masih telanjang bulat, ia masih melihat Marvin tidur dengan melingkarkan tangan di tubuhnya. Amoera perlahan memindahkan tangan Marvin, dan cepat - cepat mengenakan pakaiannya. dan pergi dari kamar itu.
Dan tak lama kemudian Marvin pun bangun, ia sudah tak melihat Amoera di sampingnya. Marvin mengenakan pakaiannya dan keluar kamar untuk mencari Amoera. dan ia melihat Amoera sedang berada di dapur bersama Bi Lian. Marvin langsung bernafas dengan begitu lega. ia sejenak beradu pandang dengan Amoera, namun Amoera memalingkan pandangannya.
"Tuan, sarapannya sudah siap, silahkan sarapan!" ucap Bi Lian.
"Iya, Bi. sebentar saya akan mandi dulu!" kata Marvin berlalu dari sana.
Dan seusai mandi, Marvin kembali ke meja makan untuk sarapan bersama Amoera yang terlebih dulu sarapan di sana. Marvin pun makan sembari memandangi Amoera yang sedang sibuk mengunyah makanan di dalam mulutnya.
"Apa dia marah?" gumam Marvin dalam hati. namun, tiba - tiba Amoera pergi meninggalkan meja makan tersebut tanpa berkata.
Marvin yang tak sempat menghabiskan sarapannya, ia mengikuti Amoera yang kala itu masuk ke dalam kamar.
"Kenapa kau mendiamkanku?" tegur Marvin.
"Aku tidak mendiamkanmu! bukankah kita memang seperti ini setiap harinya?" bantah Amoera. Marvin membungkam seketika.
"Bersiaplah, kita ke pasar. aku akan membelikanmu baju," ajak Marvin.
"Tidak usah, Marvin." tolak Amoera.
"Lebih baik, kau pulang saja, pasti Elsa sedang menunggumu di rumah," tutur Amoera dengan tatapan sendunya.
"Aku--"
"Tuan Marvin, Ada telpon dari Nona Elsa." Bi Lian tiba - tiba masuk ke dalam kamar dan menukas pembicaraan Marvin dan Amoera.
Marvin pun memejamkan matanya dengan begitu kesal. ia pun mengiyakannya dankeluar dari kamar untuk mengangkat telpon dari Elsa.
obrolan yang sama seperti sebelum - sebelumnya.
Setelah mengangkat telpon dari kekasihnya tersebut. Marvin kembali ke kamar Amoera. ia melihat Amoera sedang duduk di tepi tempat tidur sembari melipat bebrapa baju milik Marvin yang sudah kering karna di cuci oleh Bi Lian.
"Amoera, aku tinggal pulang ke rumah," pamit Marvin. Amoera mengangguk tanpa melihat ke arah Marvin. ia masih sibuk melipat baju - baju itu.
Marvin duduk berjongkok di depan Amoera.lalu tangannya mengelus - elus perut wanita itu, sembari menciumnya.
" Aku akan segera kembali. dan jangan menemui laki - laki itu lagi!" tutur Marvin.
__ADS_1
"Kau tidak berhak melarangku!" seru Amoera dengan kesal. Marvin mengepalkan tangannya dengan geram seraya berlalu meninggalkan Amoera. Amoera pun menghentikan Aktivitasnya.
dan lagi, ia menyingkap tirai jendela dan memandangi Marvin yang pergi meninggalkan rumah dengan membawa mobilnya tersebut. Amoera menutup tirai itu kembali. ia memejamkan kedua matanya. hingga terlihat jelas air mata ikut tersapu di sana.