
Sementara Elsa, tanpa di minta oleh Marvin. ia sudah tau diri untuk pergi meninggalkan rumahnya. Elsa kini terpaksa tinggal bersama Bobby, laki-laki yang tak pernah ia cintai. karna tidak mungkin, jika ia kembali ke Italia dalam keadan hamil. berulang kali, Elsa mencoba menggugurkan anak yang ada di dalam kandungannya. namun, Bobby tidak membiarkan hal itu terjadi. meskipun Bobby marah dan berbicara kasar kepada Elsa. ia selalu menyesalinya dan tak pernah mengubah perasaannya bahwa dirinya benar-benar mencintai wanita itu.
***
Hari ini, tepat satu bulan. Amoera masih berada di tempat dengan keadaan yang sama seperti sebelumnya. tak ada perkembangan baik akan kondisinya. hingga terkadang membuat Marvin sedikit putus asa, ketakutannya seakan tak bisa terkendalikan. ia benar-benar merindukan Amoera merindukan setiap tatapan sendu wanita itu. demi apapun, Marvin benar-benar tersiksa dengan keadaan ini.
Pagi itu, Marquez meyuruh Marvin untuk pulang terlebih dahulu. ia bergantian dengan adiknya tersebut untuk menjaga Amoera. sebenarnya, Marvin enggan meninggalkan Amoera. namun, karna paksaan kasar dari Marquez, membuat dirinya terpaksa mengiyakan perintah Kakaknya itu.
"Jika, Amoera sadar. tolong segera kabari aku, Kak!" pinta Marvin. Marquez menepuk bahu Marvin dan mengiyakannya. ia benar-benar tidak bisa melihat adik laki-lakinya seperti itu. dengan langkah yang berat. Marvin segera meninggalkan ruangan Amoera.
Saat di rasa Marvin sudah pergi dari sana, Marquez duduk di samping Amoera sembari memperhatikan wanita malang itu.
"Hidupmu sungguh tidak beruntung. kau sudah aku anggap seperti adikku." Marquez memijat tulang hidungnya. entahlah, kenapa dia juga merasa sesedih itu.
"Amoera... apa kau tau, Marvin sangat mencintaimu. bahkan, dia sama sekali tidak ingin meninggalkanmu. berjuanglah untuk hidup kembali. nanti kita tinggal bersama - sama lagi," bisik Marquez.
__ADS_1
***
Ceklek
pintu terbuka
"Marvin, kenapa cepat sekali?" tanya Marquez. ia begitu heran. bahkan, belum sampai satu jam Marvin pulang, ia sudah kembali lagi ke rumah sakit. laki-laki itu benar-benar tidak bisa meninggalkan Amoera sendirian.
"Apa Amoera sudah sadar, Kak?" tanya Marvin yang saat ini berjalan mendekati Marquez dan Amoera. namun, Marquez hanya diam saja.
"Kenapa kau tidak bangun juga? apa kau tidak merindukanku?" tanya Marvin dengan suara terendahnya. bahkan tak jarang, ia mengusap-usap rambut Amoera. karna, kini, perban yang membaluti kepala wanita itu sudah terlepas. karna lukanya yang sudah mengering, jadi, Marvin sudah bisa sedikit leluasa menyentuh kepala itu dengan perlahan.
"Ayo bangunlah, Amoera. aku sangat merindukanmu, aku benar - benar merindukanmu." Marvin memegang erat telapak tangan Amoera dan mencium punggung telapak tangan itu.
"Aku bersumpah akan memperlakukanmu sebaik mungkin. aku tidak akan kasar kepadamu, aku bersumpah untuk hal itu. aku mohon kepadamu bangunlah." tatapan mata Marvin sudah bercampur dengan bauran air mata.
"Marvin?" Marquez menepuk bahu adiknya tersebut. Marvin beranjak berdiri dan menatap Kakaknya. Marquez menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Kakak..." seketika langsung memeluk Kakaknya.
"Marvin, sudah. Lebih baik kita berdoa saja supaya Amoera bisa sgera sadar!" tutur Marquez seraya mengusap - usap punggung adiknya tersebut.
"Tapi ini sudah satu bulan, Kak. dan dia belum juga bangun? tolong bangunkan Amoera Kak. bangunkan dia. Aku banyak melakukan dosa kepadanya. Kak."
"Aku sangat mencintai Amoera kak, aku benar-benar takut kehingan dia. tolong bangunkan dia." Marvin menangis di pelukan kakaknya tersebut.
Marquez mencoba menenangkan adiknya. ia ikut terbawa emosi dan tak tega melihat Marvin. benar saja, untuk pertama kalinya, Marquez melihat Marvin begitu terpuruk.
__ADS_1