
Marvin masuk ke dalam kamar Alice. ia melihat adiknya sedang sibuk menyulam sebuah syal di tangannya. bahkan, sangking sibuknya. Alice tak menyadari akan kedatangan Kakaknya yang masuk ke dalam kamarnya tersebut. Marvin mendekati adiknya tersebut dan duduk di sampingnya.
"Sedang membuat apa?" tanya Marvin mengejutkan Alice.
"Kakak? sejak kapan Kakak di sini?" tanya Alice.
"Baru saja."
"Aku sedang membuatkan Amoera syal, kak." Alice tersenyum dan kembali melanjutkan sulamannya.
Marvin teringat kembali akan wanita itu. ia tadi berniat ingin mengajak Amoera ke pasar untuk membelikan dia baju. tetapi, Elsa terlebih dulu menelponnya dan menyuruhnya untuk pulang dengan alasan sakit.
"Apa syal ini bagus, Kak. untuk Amoera?" tanya Alice.
"Sangat bagus, dia akan sangat cantik jika menggunakan syal ini," ucap Marvin sembari membayangkannya.
"Bagaimana kabar Amoera, Kak?" tanya Alice, kedua matanya masih jeli menyulam benang itu sehelai demi sehelai.
"Dia baik," ucap Marvin.
"Apa Alice boleh menemuinya?" tanya Alice.
"Jangan sekarang. kondisimu kesehatan masih naik turun. kakak khawatir--"
"Alice baik - baik saja, Kak." Alice menukas.
"Kalau kau benar - benar sembuh. Kakak akan mengajakmu menemui Amiera lagi," bujuk Marvin.
"Kakak, kapan Amoera akan tinggal lagi bersama kita?" tanya Alice. Marvin terdiam. ia tidak bisa menjawab pertanyaan adiknya tersebut. karna ia benar - benar tidak tau harus menjawab apa.
"Kakak kenapa diam?" Alice menghentikan aktivitas menyulamnya.
"Tidak apa - apa, nanti jika sudah saatnya," bujuk Marvin.
"Iya tapi kapan, Kak?" tanya Alice.
__ADS_1
"Secepatnya," bujuknya kembali. karna Marvin tau jika ia melanjutkan percakapan tentang Amoera dengan Alice yang ada hanya membuat dirinya dan Adiknya menjadi berdebat.
"Baiklah, Kak." Alice melanjutkan kembali aktivitasnya.
"Kakak tinggal ke kamar dulu, ya, sayang." Marvin beranajak berdiri dan mengelus kepala adiknya. Alice mengiyakannya.
Marvin berlalu meninggalkan Alice dan kembali ke dalam kamarnya. ia sejenak merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. ia melipat kedua tangannya di belakang kepala. kedua matanya menatap langit - langit kamar itu dengan tatapan yang kosong. tiba - tiba Marvin merasakan ada ketakutan sendiri di dalam hatinya. Entah ketakutan apa yang ia rasakan saat itu. ia memejamkan matanya dan mengacak - acak rambutnya dengan begitu frustasi.
"Ya Tuhan. kenapa hidupku jadi kacau seperti ini." Marvin menahan teriakannya. rasanya pikiran Marvin saat itu hanyalah di penuhi dengan Amoera.
"Aku sudah janji kepada Elsa untuk menemaninya," gumam Marvin.
***
Siang harinya, Marquez terlihat mengajak Clarissa dan juga anaknya untuk pulang ke rumahnya. dan saat mereka bertiga masuk, Alice dan Marvin yang kala itu selesai melakukan makan siang. langsung menghampiri Kakak sulungnya tersebut.
"Wanita ini siapa, Kak?" tanya Alice dengan tatapan sinis. Ia menatap Clarissa dari ujung kaki hinhga ujung kepalanya. Clarissa hanya menundukan pandangannya seraya mendekap anaknya yang sedang tertidur dengan sangat erat.
"Dia Clarissa. wanita yang akan Kakak nikahi," ujar Marquez.
"Apa Kakak bercanda?" teriak Alice.
"Lalu bagaimana dengan Kak Hanna, Kak?" tanya Alice.
"Alice, sudah! Kakak tidak mau membahasnya!" seru Marquez.
"Kenapa Kakak malah memilih wanita ini? Kak Hanna wanita yang sangat baik. kenapa Kakak malah meninggalkannya?" seru Alice. Clarissa mengalirkan air matanya saat mendengar kata - kata Alice yang ia rasa tidak mau menerima akan kehadirannya. ia merasa bersalah dan sangat tidak pantas berada di sini.
"Alice, kau tidak tau apa - apa, lebih baik tidak usah ikut campur masalah Kakak," tutur Marvin.
"Kalian semua sama. kalian semua sama saja! Alice sangat membenci kalian semua!" Teriak Alice. ia menangis dan berlari masuk ke dalam kamarnya. ia membanting pintu itu dengan sangat keras. hingga terdengar begitu memecah seisi rumah itu.
"Marquez?" Clarissa berucap lirih.
"Tidak usah di masukan hati." Marquez menyeka air mata Clarissa. Sementara, Marvin sedari tadi terlihat sedang memperhatikan Clarissa dengan seksama.
__ADS_1
"Nona, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Marvin dengan menyipitkan kedua matanya. Clarissa memperhatikan Marvin dan mengingat -ingat kembali wajah laki - laki itu.
"Apa kau, yang dulu hampir menabrakku dengan seorang Nenek yang sedang menyabrang? dan kau mengantarakan kami pulang?" tanya Clarissa dengan mengusap matanya yang basah.
"Iya benar, itu aku. tidak menyangka kita bertemu lagi," ucap Marvin.
"Iya," saut Clarissa.
"Ajaklah dia dan anakmu istirahat, Kak. tidak usah memikirkan Alice. nanti aku akan mencoba membujuknya," tutur Marvin. Marquez pun mengiyakannya. ia mengajak Clarissa dan anaknya untuk masuk ke dalam kamar. Maquez menyuruh Clarissa untuk duduk di tempat tidur. sedangkan dirinya, mengeluarkan baju - baju milik Clarissa dan anaknya yang tertata rapi di dalam tas besar yang sempat Clarissa bawa tadi.
"Mau kau letakan di mana bajuku?" tanya Clarissa.
"Aku letakan di dalam lemariku," jawab Marquez seraya memindahkan baju itu satu persatu ke dalam lemari.
"Marquez, biarkan saja. biar aku yang menatanya." Clarissa meletakan anaknya dan mendekati Marquez.
"Tidak usah, istirahatlah saja," tutur Marquez dengan tersenyum.
"Aku akan membantumu." Clarissa dengan cepat mengambil beberapa baju miliknya dan menata baju - baju itu di dalam lemari kayu yang ada di kamar Marquez.
Namun, pikiran Clarissa terganggu kembali akan Alice yang tidak suka akan kehadirannya di rumah ini. Clarissa tidak tau bagaimana Alice. bukankah ini pertama kalinya dirinya bertemu dengan perempuan itu. namun, pertemuan pertamanya sangat buruk sekali. nyali Clarissa menciut. ia tidak yakin jika Alice akan menerimanya sebagai kakak iparnya. karna jelas sekali, bagaimana sikap Alice tadi di hadapan Clarissa. Alice benar - benar menyayangi Hanna. pantas saja, Hanna adalah wanita baik. itu yang ada di pikiran Clarissa saat ini.
"Marquez?" panggil Clarissa.
"Iya, ada apa?"
"Marquez, sepertinya Alice tidak akan pernah bisa menerimaku," ucap Clarissa seraya menahan air matanya.
"Dia akan menerimamu," bujuk Marquez.
"Bahkan setelah dia tau kalau aku adalah adik dari pembunuh Ayahnya?" tanya Clarissa dengan menatap sendu kedua mata Marquez.
Marquez menghentikan aktivitasnya. ia menatap wajah Clarissa dengan jelas. lalu mendekap wajah itu. Wajah seorang wanita yang ia cintai. Ia memeluk Clarissa begitu erat dan mencoba menenangkannya.
"Kau jangan mengkhawatirkan itu, semuanya akan baik - baik saja," tutur Marquez lirih.
__ADS_1
"Tapi aku takut jika adikmu tidak bisa menerimaku." Clarissa mengalirkan air matanya di pelukan laki - laki yang ia cintai itu.
"Tidak ada yang perlu kau takutkan selama aku bersamamu," bisik Marquez mencoba menenangkan Clarissa. kata - kata itu sedikit menenangkan batin Clarissa yang sedang kacau.