
Marvin hanya terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan adiknya tersebut. dirinya juga merasa kacau di posisi yang saat ini sedang ia rasakan. Alice juga masih saja menangis, ia begitu memikirkan Amoera.
"Kenapa Kakak hanya diam?" tanya Alice.
"Kakak, bagaimana jika seseorang menyiksa dan menghancurkan kehidupan Alice juga?" tanya Alice dengan air mata yang masih berderai di sana.
"Alice, kau ini bicara? itu tidak akan terjadi," ucap Marvin.
"Bukankah itu hal yang sama yang Kakak lakukan terhadap Amoera? menyiksa dan menghancurkan hidupnya? bagaimana kalau itu semua juga terjadi kepada Alice, Kak?" tanya Alice. hatinya begitu pilu merasakan derita Amoera. karna Alice melihat sendiri bagaimana perlakuan Kakaknya terhadap Amoera saat pertama kali menginjak rumahnya.
"Alice cukup! itu tidak akan pernah terjadi! Kakak tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu," seru Marvin seraya memeluk tubuh adiknya tersebut.
"Kakak berjanji akan mencari cara untuk menyelesaikan ini semua. tapi, Kakak mohon. jangan memberitau dulu masalah Amoera kepada siapapun, setidaknya yang mengetahui masalah ini hanya kita berdua. Kakak mohon," pinta Marvin dengan memelas. Alice hanya diam, ia bingung harus menyikapi Kakaknya bagaimana. namun, ia mengiyakan permintaan Kakaknya tersebut.
***
Clarissa dan anaknya sudah pulang sejak kemarin. saat kemarin di rumah sakit, Marquez menemuinya dan mengajaknya untuk pulang ke rumah untuk ikut tinggal bersamanya. namun, Clarissa menolak keras untuk ikut bersama dengan Marquez. meskipun, tidak bisa di pungkiri. bahwa, Clarissa masih sangat mencintai Marquez. namun, hatinya masih terluka akan perlakuannya. terlebih lagi, ia tidak ingin merusak kebahagiaan Marquez dan juga Hanna. berkali - kali Marquez sudah memberitau bahwa dirinya sudah memutuskan hubungannya dengan Hanna. hal itu bukan malah membuat Clarissa senang, justru malah membuat perempuan itu merasa bersalah.
__ADS_1
Sebenarnya, Clarissa ingin sekali membawa anaknya pergi kembali ke London untuk menghindar dari Marquez. namun, Nenek Tiny melarangnya keras, karna bayinya masih berumur beberapa hari dan itu justru akan sangat membahayakan nyawa anaknya. Clarissa pun menurut dengan wanita tua itu. kini, ia masih tinggal di rumah Nenek Tiny bersama anaknya.
Siang itu, saat Clarissa tengah menidurkan anaknya di dalam kamar. tiba - tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah.
Clarissa yang tengah duduk memangku anaknya. seketika itu, langsung meletakan anaknya tersebut di tempat tidur, dan ia bergegas membukakan pintu rumah. karna kebetulan sekali, Nenek Tiny sedang pergi mengikuti panduan lansia yang dilakukan setiap satu minggu sekali di kotanya.
Clarissa pun membuka pintu rumah itu, dan saat pintu sudah terbuka, ia begitu terkejut saat melihat orang yang bertamu tak lain ialah Marquez.
"Sedang apa kau di sini? pergilah!" seru Clarissa.
"Clarissa, aku mohon sebentar saja," pinta Marquez seraya menahan pintu yang hendak di tutup oleh Clarissa.
"Marquez, aku mohon pergilah dari sini ..." pinta Clarissa dengan tatapan sendunya. rasanya ia berat sekali mengusir laki - laki yang ia cinta seperti itu. namun, ia tidak memiliki pilihan lain.
"Clarissa, aku mohon maafkan aku. aku ingin menebus semua kesalahanku, menikahlah denganku dan kita besarkan anak kita bersama, aku mohon." pinta Marquez seraya mengatupkan kedua tangannya.
"Aku tidak bisa, Marquez. tolong pergilah!" seru Clarissa.
"Katakaanlah, apa kau tidak mencintaiku?" tanya Marquez sekali lagi. Clarissa tak segan menepis tangan Marquez dari bahunya.
"Sejak hari itu, aku sudah memutuskan untuk mengubur dalam - dalam apapun itu tentang dirimu, tak terkecuali perasaanku!" ucap Clarissa dengan suaranya yang semakin memberat karna menahan air matanya. Marquez pun memejamkan matanya seakan tak percaya.
"Tapi aku mencintaimu, Clarissa. jika kau tidak mau hidup denganku karna kau tidak mencintaiku, tidak masalah. tetapi, setidaknya demi anak kita, dia sangat membutuhkanku, dia sangat membutuhkan sosok seorang ayah," tutur Marquez. bahkan matanya berkaca - kaca, terlihat jelas di kedua mata laki - laki itu. bahwa ia menyimpan penyesalan yang begitu mendalam.
"Dia tidak pernah membutuhkanmu! bahkan, saat dia masih di dalam perutku, dia hanya selalu berdua denganku, dia hanya membutuhkanku. tidak membutuhkanmu!" seru Clarissa. ia menutup pintu itu dengan keras dan menguncinya rapat - rapat. gedoran pintu yang sangat keras di iringi dengan suara teriakan Marquez terdengar begitu jelas di telinga Clarissa. namun, Clarissa tak mehiraukannya. seketika itu Clarissa menjatuhkan tubuhnya duduk di bawah lantai dan menangis sejadi - jadinya.
"Aku sangat mencintaimu, Marquez. tapi aku tidak bisa bersamamu. aku bisa merawat anakku sendiri. kau tidak pernah tau bagaimana terlukanya aku waktu itu. bagaimana kau memberiku sebuah harapan, lalu, memusnahkannya begitu saja."
"Aku tidak pernah jatuh cinta, dan sekalinya aku jatuh cinta, hatiku patah saat itu juga"
.
__ADS_1
.
.
.
.
** lama ngga update \, update cuman dikit.**
yaelah, dikit banget sih thor
ngga niat banget sih thor
aish udah untung di update. jadi, ngga usah protes. tolong hargain ya! aku update sebisanya karna aku bener - bener sibuk. kalau kalian koment ngga enak, aku bakal males ngelanjutin cerita ini. karna kalau baca koment gak enak, pikiran ku lari kemana mana dan aku males buat neglanjutin nulis. ngga hanya aku aja, sih. tapi semua para author juga ngalamin hal yang sama. mereka bakal males nulis kalau baca komentar ngga enak! jadi, lebih baik kasih semangat para author novel kesayangan kalian. ^_^
__ADS_1