Amoera Is My Lady

Amoera Is My Lady
Kesepian ~ Amoera


__ADS_3

Amoera sedang berada di meja makan. ia menikmati makan malam sendirian. kedua matanya tak henti melihat ke arah jam dinding seakan sedang menantikan seseorang. belum selesai menghabiskan makanannya. Amoera kembali masuk ke dalam kamarnya. ia duduk di tepi tempat tidur. berbulan - bulan ia lewati di rumah itu. namun, baru kali ini Amoera merasa kesepian.


"Aku sungguh bosan," Amoera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. ia berguling ke sana dan ke mari mencari posisi yang menurutnya nyaman.  dan lagi, kedua matanya melirik ke arah jam dinding yang tengah menempel di kamarnya tersebut.


"Kenapa dia tidak ke mari?" gumam Amoera seraya memejamkan matanya. ia melepaskan penat dan rasa lelah dalam pejaman mata itu, hingga satu pejaman mata seketika membuatnya terlelap akan tidurnya.


***


Keesokan paginya, Amoera terbangun. perutnya tiba - tiba seakan di aduk. ia cepat - cepat lari ke kamar mandi dan mengeluarkan semua cairan bewarna kuning yang saat ini sudah berada di mulutnya. bahkan membuat Amoera mengernyit karna rasa asam akan cairan yang baru saja ia keluarkan tersebut. ia berkumur sekaligus mandi. seusai Mandi. Amoera mendekati jendela. ia menyingkap sedikit tirai yang menutupi jendela kamarnya tersebut. hingga sinar matahari sedikit memasuki cela dari jendela itu.  kedua mata Amoera mengawasi sekitar halaman rumahnya. namun tidak ada mobil yang terpakir di halaman rumah itu. Amoera menutup tirai itu dengan sedikit kecewa. ia langsung berjalan menuju ke arah dapur untuk menemui Bi Lian.


"Pagi Nona," sapa Bi Lian. Amoera menyapa balik wanita paru baya itu.


"Apa Marvin tidak ke mari, Bi?" tanya Amoera.


"Tidak,  Nona. dari kemarin, Tuan Marvin tidak ke mari sama sekali," jawab Bi Lian.


"Ya sudah,  Bi." Amoera terlihat sedikit kecewa. ia mendudukan tubuhnya di atas kursi meja makan itu.  dan ia mulai menikmati sarapan yang sudah di sajikan oleh Bi Lian untuknya.


Tok... Tok... Tok... (suara ketukan pintu terdengar dari luar rumah)


Bi Lian cepat - cepat ke depan hendak membukakan pintu itu.  namun,  Bi Lian terlebih dulu melihat ke luar jendela. untui memastikan siapa yang sedang bertamu sepagi itu.


dan Tanpa membuka pintu.  Bi Lian berlari kembali ke arah dapur untuk menemui Amoera.


"Nona ... Nona ..." panggil Bi Lian.


"Iya, Bi?" saut Amoera.


"Nona, di luar ada teman laki - laki Nona, yang kemarin." Bi Lian berkata dengan hebohnya.


"Untuk apa Danny kemari lagi? kalau sampai Marvin tau. bisa - bisa dia akan marah," gumam Amoera.


"Bibi, tolong temui dia. dan bilang kalau saya sudah pindah rumah," ucap Amoera.


"Baiklah, Nona."


***


Bi Lian kembali ke depan menemui Danny yang sedari tadi berdiri mengetuk pintu rumah itu.

__ADS_1


"Selamat pagi, Tuan." Bi Lian menyapa Danny dengan menundukan kepalanya.


"Permisi, saya sedang mencari Amoera. Apa dia ada?" tanya Danny dengan melihat ke dalam rumah.


"Maaf, Tuan. Nona Amoera, sudah tidak tinggal di sini," ucap Bi Lian.


"Dia tinggal di mana? tolong beri tau," tanya Danny dengan sedikit memaksa.


"Saya tidak tau, Tuan. Karna Tuan Marvin tidak memberi tau membawa Nona ke mana," ujar Bi Lian.


"Ehm, saya permisi ya, Tuan." Bi Lian pamit.


"Tunggu sebentar." Danny mencoba menghentikan Bi Lian. Namun, Bi Lian cepat - cepat masuk ke dalam rumah dan menutup pintu itu. hingga membuat Danny merasa janggal.


"Amoera pasti ada di dalam," gumam Danny.


"Bagaimana aku bisa menemuinya? aku harus mencari cara membantunya dan membawa dia pergi dari sini. Aku tidak akan membiarkan laki - laki itu menyakitinya lagi." Danny mengepalkan tangannya dan berlalu pergi dari sana.


***


Malam harinya, di rumah Marvin. Marvin terlihat sedang menemani Elsa yang sedang menonton televisi di dalam kamarnya.


"Ya sudah cepat tidurlah," perintah Marvin. ia berharap sekali agar kekasihnya itu tidur dan ia bisa segera meninggalkannya untuk menemui Amoera.


"Tidak mau, nanti kau akan meninggalkanku kerja. kau kan sudah janji menemaniku selama berberapa hari." Elsa bergelayutan memeluk erat tubuh Marvin. Marvin terdiam sejenak. Ia bingung harus bagaimana.


"Iya aku akan menanimu," saut Marvin.


"Sayang, aku ingin sekali melakukan itu," pinta Elsa dengan tangannya yang sudah menggerayai isi di balik kaos yang Marvin kenakan.


"Jangan sekarang, cepat istirahatlah." Marvin menyingkirkan dengan pelan tangan. Elsa dari tubuhnya.


"Kau kenapa selalu menolakku?" Elsa bertanya dengan kesal. Marvin tidak punya jawaban akan hal itu. entahlah, rasanya ia tidak berselera melakukannya.


"Kenapa kau diam saja? Kau tidak memiliki perempuan lain kan?" tanya Elsa dengan mengernyitkan dahinya.


"Elsa kau ini bicara apa? Aku hanya tidak ingin melakukannya saja. Kau sedang sakit kan? seharusnya kau istirahat!" perintah Marvin.


"Kalau kau tidak mau istirahat dan berpikiran yang macam - macam. Aku akan meninggalkanmu pergi bekerja," sambungnya. Elsa terdiam dan menatap Marvin.

__ADS_1


"Kenapa kau sekarang berubah seperti ini?" tanya Elsa dengan mata yang berkaca - kaca. Marvin semakin merasa bersalah mendengar kata - kata itu. Seketika, ia langsung memeluk Elsa.


"Aku tidak berubah, situasi yang membuatku seperti ini. tolong sedikit mengertilah," ucap Marvin. Elsa menganggukan kepalanya. Lalu, Marvin menyuruhnya untuk beristirahat. Namun tetap saja Elsa tidak mau. Dan ia kembali menyalakan TV yang sempat ia matikan itu untuk mengusir rasa bosannya.


****


Seusai makan malam. Amoera membuka pintu rumah dan melihat ke sekeliling halaman depan.


"Nona, sedang apa di depan? Ayo masuk." Suara Bi Lian mengejutkan Amoera.


"Ayo, Nona. masuk." Bi Lian menarik tangan Amoera mengajaknya masuk kembali ke dalam rumah. Amoera pun menuruti Bi Lian untuk masuk ke dalam rumah. Bi Lian masuk ke dalam kamarnya. sementara Amoera, Saat dirinya baru saja masuk ke dalam kamar. Ia langsung keluar lagi. Ia berjalan mendekati telepon. Lalu, ia mencoba memutar tombol angka yang tertera di telepon tersebut. Dan meletakan genggaman telepon itu di telinganya. Sesaat nada panggilan menguhubungkan.


"Hallo?"


suara seorang perempuan terdengar di balik telepon itu. Namun Amoera hanya diam saja.


"Hallo ini siapa? Tolong bicaralah!"


Amoera masih mematung dan membisu. Mulutnya tak bergerak dan hanya mendengarkan suara perempuan itu.


"Elsa, siapa yang menelpon?"


suara seorang laki - laki yang tak asing di telinga Amoera tertangkap dari balik telepon itu. Iya benar, laki - laki itu tak lain ialah Marvin. dan perempuan itu ialah Elsa.


"Entahlah, sayang. aku tidak tau dia hanya diam saja."


Marvin mengambil alih telepon tersebut.


"Hallo, ini siapa? ada perlu apa?"


"Hallo."


Seketika itu Amoera langsung menutup teleponnya. Ia memejamkan matanya hingga cairan bening ikut tersapu di sana dan ia masuk kembali ke dalam kamarnya.


Amoera menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia memeluk guling yang kini sedang ada di rengkuhannya. air matanya tiba - tiba mengalir deras membasahi guling itu. rasanya Amoera ingin sekali berteriak melepaskan rasa sakitnya. melepaskan semua perasaan yang ia rasa begitu kacau.


Ia benar - benar tidak tau apa yang membuat dirinya terluka seperti ini.


Amoera mengusap air matanya dengan sesenggukan.

__ADS_1


"Kenapa Amoera harus berada di situasi seperti ini Ayah?" Gumam Amoera. Air matanya terlihat semakin menderas di sana.


__ADS_2