Amoera Is My Lady

Amoera Is My Lady
Dehidrasi berat ~ Amoera


__ADS_3

Marvin tidak pernah meninggalkan Amoera dari ruangannya. sekalipun ia pergi meninggalkan ruangan itu. mungkin hanya sebentar saja dan kembali lagi.


ia dengan begitu seksama dan hati - hati mengawasi wanita itu setiap waktu.


 


 


^^^


 


 


Pagi itu, wajah Marvin terlihat begitu pucat sekali. Kedua matanya nampak  terlihat menghitam karna kurang beristirahat. Bibirnya mengering,  bahkan, napas yang terbuang dari hidungnya begitu panas seakan ada yang terbakar di dalam tubuhnya.


Hari - hari Marvin  hanya di isi untuk menemani Amoera. kedua matanya tak pernah berpaling memperhatikan kelopak mata dan bibir tipis Amoera. berharap kedua mata itu terbuka dan bibirnya yang pucat memanggil namanya. Marvin benar-benar merindukan tatapan sendu wanita itu.


"Kenapa kau belum bangun juga. apa kau tidak merindukanku?" tanya Marvin sambil mengusap kepala Amoera.


"Aku ingin sekali makan kue kelapa buatanmu."  ia mencium punggung telapak tangan Amoera. Kini ciumannya berpindah di kening wanita itu.


"Ayo bangunlah! aku benar-benar merindukanmu," ucap Marvin di dekat daun telinga Amoera.


Marvin memejamkan kedua matanya.  Ia memijit dahinya karna kepalanya tiba-tiba terasa berat, namun ia mencoba menguatkan tubuhnya.


tubuhnya mengeluarkan begitu banyak keringat dingin. ia mencoba mengatur napasnya yang pendek dan keluar dengan tidak beraturan.


"Marvin..." suara seseorang membuat Marvin menoleh ke arah pintu. terlihat Albert berdiri di sana.

__ADS_1


"Ada apa?" saut Marvin. suaranya terdengar seakan tidak bertenaga. ia beranjak berdiri dan mencoba menjaga keseimbangan tubuhnya akan pandangannya yang terasa berputar-putar.


"Marvin, kau terlihat pucat. ayo istirahatlah, biar Amoera ku jaga." Albert memberi tawaran kepada sahabatnya itu


"Tidak... aku baik-baik saja." Marvin kembali memutar lehernya menoleh ke arah Amoera dan memperhatikannya kembali.


"Marvin, kau jangan seperti ini. jangan menyiksa dirimu sendiri!" tutur Albert.


"Aku baik-baik saja! tolong keluarlah dari sini!" perintah Marvin.


"Marvin..."


"Aku bilang keluar dari sini!" Marvin mengeraskan saranya dan  menatap Albert dengan tatapan penuh kekesalan.


"Baiklah..."  Albert hendak keluar dari ruangan itu.


 


Saat Marvin hendak duduk kembali, tiba-tiba dirinya terjatuh dan tergeletak di bawah lantai hingga menimbulkan suara benturan keras di sana, ia seketika tak sadarkan diri.


"Marvin..." Albert mengurungkan niatnya untuk pergi dari ruangan itu. ia segera mendekati sahabatnya tersebut dengan begitu panik. ia memanggil-manggil nama Marvin, namun tak ada sautan. Marvin tetap tak sadarkan diri.


Albert mengeraskan suaranya untuk memanggil Marquez yang kala itu sedang berada di luar ruangan Amoera. mendengar suara Albert yang sedang panik. Marquez segera masuk menghampirinya.


"Albert, Marvin kenapa?" tanya Marquez yang terkejut saat melihat Marvin tak sadarkan diri.


"Aku tidak tau! tiba-tiba dia tidak tergeletak." Albert dan Marquez segera mengangkat tubuh Marvin yang mereka rasa begitu berat. kebetulan sekali, Dokter yang biasa memeriksa Amoera datang di ruangan itu. Dokter menyuruh Marquez dan Albert untuk meletakan Marvin ke ruangan lain agar segera memeriksanya.


 

__ADS_1


 


***


 


Tak lama kemudian, Dokter yang memeriksa keadan Marvin terlihat keluar dari ruangan itu, Marquez dan Albert yang kala itu sedang menunggu Marvin di luar. mereka segera menghampiri dokter tersebut.


"Adik saya kenapa, Dok?" tanya Marquez, ia sudah memasang wajah panik.


"Tubuh Tuan Marvin mengalami dehidrasi berat dan otaknya kekurangan oksigen. untuk beberapa hari ke depan. lebih baik Tuan Marvin di rawat agar bisa pulih kembali, saya juga sudah memberikan obat tidur untuk Tuan Marvin. karna saya rasa, Tuan Marvin kurang beristirahat," tutur Dokter.


"Iya, Dok. memang adik saya kurang istirahat.  terimakasih banyak, ya, Dok." Marquez mengusap wajahnya dengan begitu bingung.


Dokter itu berpamitan pergi dari sana. sementara, Marquez dan Albert dengan langkah bersamaan, mereka berdua masuk ke dalam ruangan Marvin. mereka melihat Marvin yang sedang berbaring dengan bantuan selang oksigen di hidungnya dan juga infus yang melekat di punggung telapak tangannya.


Marquez menatap raut wajah adiknya yang benar-benar pucat. jelas sekali, kesedihan dan penderitaan yang Marvin rasakan selama belakangan ini karna memikirkan Amoera. ia benar-benar bingung menghadapi kekacauan ini.


"Albert, aku sungguh tidak tau harus bagaimana lagi," ujar Marquez dengan menatap ibah adiknya itu.


"Kau sabar saja, kau kan tau dari dulu  bagaimana sifat Marvin. dia sangat keras kepala dan tidak mau di bantah," tutur Albert sambil menepuk bahu Marquez.


"Aku tidak pernah melihat adikku seperti ini sebelumnya. aku tidak bisa melihatnya seperti ini," ujar Marquez dengan suaranya yang berat.


"Albert, tolong tunggulah Marvin di sini. aku akan ke ruangan Amoera sebentar," pinta Marquez. Albert mengiyakannya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2