
Marquez masih berada di luar rumah Nenek Tiny. bahkan hingga berjam - jam lamanya. namun, tetap saja, itu tak membuat Clarissa membukakan pintu untuknya.
bahkan hingga sore hari, dan saat itu, kebetulan Nenek Tiny sudah pulang, ia pun langsung menegur Marquez yang terihat sedang duduk di bawah lantai depan pintu rumahnya.
"Nak," panggil Nenek Tiny.
"Nyonya," sapa Marquez, ia beranjak berdiri dan mendekati Nenek Tiny.
"Kau sedang apa di sini, Nak?" tanya Nenek Tiny.
"Saya ingin menemui Clarissa, Nyonya."
"Nyonya, apa kau bisa membantu saya agar Clarissa mau memaafkan saya? saya benar - benar menyesal, Nyonya, saya ingin sekali menebus kesalahan saya,"ucap Marquez dengan memelas.
"Pulanglah, Nak," tutur Nenek Tiny.
"Nyonya, saya mohon," pinta Marquez. ia mengatupkan kedua tangannya di depan wanita tua itu.
"Pulanglah, Nenek akan berbicara kepada Rissa," bujuk Nenek Tiny.
"Apa benar, Nyonya mau membantu saya?" tanya Marquez. Nenek Tiny pun mengiyakannya.
"Baiklah, Nyonya. kalau begitu, saya permisi pergi dulu, terimakasih sebelumnya," pamit Marquez. ia pun dengan berat hati meninggalkan rumah itu, tanpa membawa kembali belahan jiwanya.
Nenek Tiny pun masih berdiam diri memperhatikan mobil Marquez yang baru saja melaju meninggalkan rumah miliknya.
"Sepertinya, dia benar - benar menyesali kesalahannya. aku akan mencoba berbicara kepada Rissa dan membujuknya," gumam Nenek Tiny dalam hati.
__ADS_1
****
Saat Amoera sedang merapikan tempat tidurnya. tiba - tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar rumah. ia menghentikan aktivitasnya, dan berjalan ke arah pintu. namun, saat ia keluar dari kamar. ia berpapasan dengan Bi Lian yang juga hendak membukakan pintu rumah itu.
"Bi Lian, biar Amoera saja yang membukakan pintunya," kata Amoera.
"Baiklah, Nona. kalau begitu Bibi akan melanjutkan menyiapkan makan malam lagi," ucap Bi Lian. Amoera pun mengiyakanannya.
Amoera melangkahkan kakinya mendekat ke arah pintu dan ia memulai memutar gagang pintu rumah tersebut. dan saat pintu terbuka, ia begitu terkejut saat melihat orang yang bertamu di rumahnya sore itu tak lain ialah Danny.
"Danny?" seketika itu, Amoera menarik tangan Danny dan mengajaknya menjauh dari sana.
"Kau sedang apa di sini? aku kan sudah bilang jangan menemuiku kemari lagi," seru Amoera seraya kedua matanya melihat ke arah sekitar takut jika ada yang melihat dirinya bersama Danny.
"Aku kemarin menunggumu di taman, tetapi kau tidak datang juga, dan aku terpaksa kemari. tapi, aku lihat kemarin di rumah ini ada sebuah mobil Jeap, jadi aku memutuskan pergi dan tidak jadi menemuimu," ucap Danny.
"Apa Marvin itu laki - laki yang aku temui di taman bersamamu waktu itu?" tanya Danny. Amoera pun membenarkannya.
"Danny ku mohon pergilah dari sini, dan jangan pernah kemari untuk menemuiku lagi," pinta Amoera.
"Amoera, aku sebenarnya tidak tau apa yang terjadi dengan dirimu, sampai kau ketakutan seperti ini. tolong ceritakan kepadaku, kau kemarin sudah janji akan menceritakan semuanya kepadaku, kan." Danny memegang erat kedua bahu Amoera. namun Amoera hanya diam saja. dan kedua matanya berkaca - kaca.
"Katakan, siapa laki - laki itu? apa dia suamimu?" tanya Danny. Amoera menggeleng - gelengkan kepala dan menepis air matanya yang baru saja terjatuh.
"Lalu, di mana suamimu? beri tau aku," tanya Danny dengan begitu penasaran.
__ADS_1
"Aku belum menikah," ucap Amoera dengan lirih. ia memejamkan matanya dengan merasakan rasa sakit yang begitu luar biasa.
"Kalau, kau belum menikah. lalu, anak yang kau kandung saat ini anaksiapa?" tanya Danny. ia benar - benar begitu terkejut dengan pernyataan Amoera. namun Amoera hanya diam saja dan malah semakin menangis. ia benar - benar tidak kuasa menceritakan kehidupannya selama beberapa bulan belakangan ini.
"Amoera, tolong ceritakan kepadaku yang sebenarnya, aku mohon," pinta Dany sembari mengangkat wajah Amoera. bahkan terlihat jelas, air mata masih membasahi wajah Amoera. Amoera benar - benar tidak kuasa menceritakan penderitaannya selama ini, namun, karna Danny tak henti memaksanya. Amoera pun terpaksa menceritakan semuanya kepada teman lamanya itu. dan saat Danny mendengar semua cerita dari Amoera. kedua tangannya mengepal dengan penuh amarah. demi apapun, rasanya ia benar - benar tak percaya dengan apa yang yang baru saja di ceritakan oleh Amoera kepadanya.
"Jadi laki - laki itu ayah dari anak yang kau kandung saat ini?" tanya Danny. Amoera memejamkan matanya dan menganggukan kepalanya.
"Apa pantas laki - laki menyiksa seorang perempuan seperti itu? bahkan untuk kesalahan yang sama sekali tidak pernah di lakukan?" seru Danny dengan menahan rasa geram di dalam dirinya.
"Danny, dia sudah menyesali semua perbuatannya," tutur Amoera..
"Kalau dia sudah menyesali semua perbuatannya. Lalu, kenapa dia tidak menikahimu?" tanya Danny dengan begitu geramnya. mendengar pertanyaan Danny. Amoera terdiam sejenak. hatinya semakin sakit.
"Dia akan menikah dengan kekasihnya, wanita yang dia cintai. dia tidak akan pernah menikahiku, tidak akan pernah. semua ini hanya sebuah kesalahan saja." ucap Amoera dengan sesenggukan. Air matanya semakin mengalir deras di sana. bahkan air mata itu menyiratkan luka yang begitu mendalam di hati Amoera. seketika itu Danny mendekap tubuh Amoera dalam pelukannya. ia mencoba menenangkannya. meskipun Danny seorang laki - laki, tetapi, ia bisa merasakan penderitaan yang saat ini Amoera rasakan.
"Amoeraaaaaa," suara teriakan seseorang, yang tak asing di telinga Amoera. Amora melepaskan pelukannya dengan Danny dan menoleh ke asal suara tersebut.
"Marvin," ucap Amoera dengan begitu terkesiap, kedua matanya membulat dengan sangat sempurna saat melihat laki - laki itu datang secara tiba - tiba.
__ADS_1