
"Masuklah," Clarissa membuka pintu ruangan Amoera. kedua mata Marvin begitu terkesiap saat melihat Amoera sedang duduk bersandar dan tertawa bersama Alice. Di sana juga terlihat Marquez yang bersandar di dinding hanya Alnert yang tidak terlihat. Karna laki-laki itu sempat berpamitan untuk bergantian pulang.
Saat melihat Amoera. Marvin serasa seperti sudah bangun dari tidur panjangnya. Ia benar-benar tak pecaya bahwa wanita itu sudah sadar. bahkan, ia masih berdiri mematung di depan pintu, Memperhatikan wanita yang perhatiannya sekarang teralih kepadanya.
"Marvin... " Amoera berucap pelan. semua mata tertuju ke arahnya. Suaranya terdengar jelas di telinga Marvin. Demi Tuhan Marvin masih tak percaya dengan ini semua.
"Kakak... Amoera sudah bangun." suara polos Alice memberanikan Marvin untuk mengajak Kakinya mendekati Amoera.
Ia memperhatikan wajah Amoera dengan jarak yang begitu dekat. Kelopak mata yang menutup selama satu bulan lamanya itu kini sudah terbuka kembali.
"Kau sudah sadar?" kedua mata Marvin berkaca-kaca seakan tak percaya. Amoera hanya menganggukan kepalanya dengan polos.
Tanpa aba-aba tangan Marvin merengkuh tubuh Amoera dan memeluknya dengaan begitu erat. Rasa sakit yang mengaduk - aduk tubuh dan kepalanya tiba-tiba sirna dalam sekejap. ia menumpahkan kerinduannya dalam dekapan itu.
Amoera seakan obat baginya. ia tak membutuhkan apapun selain wanita itu.
"Aku sangat merindukanmu, aku sangat merindukanmu!" ujar Marvin berkali-kali. namun, Amoera hanya diam saja tak membalas pelukan laki-laki itu sama sekali.
"Kenapa tidak ada yang memberiatuku?" Marvin sejenak melepaskan pelukan itu.
"Marvin, Kakak mau memberitaumu waktu kau bangun. kau tadi masih beristirahat," tutur Marquez mencoba membuat adik laki-lakinya mengerti. Pandangannya kembali mengarah ke Amoera. ia tak akan pernah melepaskan wanita itu meskipun dari pandangannya sekalipun.
"Tinggalkan aku. Aku ingin bersama Amoera!" perintah Marvin. Marquez mengiyakannya, ia segera mengajak Alice dan Clarissa untuk pergi dari sana.
Marvin kembali memeluk Amoera tanpa mau melepaskannya.
"Kau tau? Aku sangat merindukanmu. Aku benar-benar takut kehilanganmu," ucap Marvin semakin mengeratkan pelukannya.
Marvin melepaskan pelukannya dan memegang kedua pipi Amoera. ia menatap wajah Amoera dengan seksama. Ia berkali-kali bersumpah di dalam hatinya tidak akan melepaskan wanita yang ada di hadapannya saat ini. tangan Amoera bergerak. ibu jarinya mengusap lembut kedua sudut mata Marvin yang terlihat berair.
"Kenapa kau menangis?" tanya Amoera.
"Aku tidak menangis. aku hanya bahagia. Aku merindukanmu, benar-benar merindukanmu." Marvin menyibakan rambut Amoera yang kala itu menutupi dahinya. kemudian, mencium tanpa menyakitinya.
__ADS_1
"Kau sakit?" tanya Amoera.
"Tidak. aku baik-baik saja," saut Marvin.
"Tapi, kau terlihat tidak sehat." Amoera mencoba memperhatikan raut wajah pucat Marvin.
"Aku baik-baik saja, aku hanya kelelahan," jawab Marvin.
"Pasti karna menungguku. maafkan aku Marvin," ucap Amoera.
"Aku kelelahan bukan karma dirimu, jangan bicara seperti itu!" tutur Marvin.
Seorang Perawat tiba-tiba masuk dan membawa sebuah nampan yang di atasnya terlihat mangkok berisi bubur. perawat itu meletakan bubur tersebut di samping meja kecil pembaringan Amoera dan segera berlalu pergi dari sana.
"Ayo aku akan menyuapimu!" Marvin mengambil bubur itu. Amoera mengangguk dan Marvin mulai menyuapinya sesuap demi sesuap.
Pikiran Amoera kembali di penuhi pertanyaan tentang keberadaan bayi yang pernah ia kandung selama 9 bulan ini.
"Iya?"
"Di mana dia?" tanya Amoera dengan suaranya yang paling rendah.
"Dia? siapa yang kau maksud?" tanya Marvin. Amoera hanya diam. kemudian, ia menyentuh perutnya yang datar. Marvin seketika menangkap siapa yang sedang Amoera pertanyakan. Marvin meletakan mangkuk bubur itu ke atas meja. bibirnya membungkam sejenak bingung menyusun kata-kata yang tepat untuk memberi tau Amoera.
"Kenapa kau diam? apa aku tidak boleh menemuinya?" tanya Amoera dengan tatapan sendunya. Marvin masih bungkam.
"Tidak apa-apa jika kau tidak mengizinkannya." Amoera mencoba tersenyum, senyuman yang menyakitkan bagi seorang Ibu. kedua mata Marvin berkaca-kaca. ia masih sibuk dengan kebungkamannya. ia benar-benar bingung harus bagaimana memberi tau Amoera.
"Amoera..." Marvin memanggil nama itu dengan sedikit berat. Amoera hanya diam dan memasang telinganya dengan baik.
"Amoera, sebenarnya--" suara Marvin terputus. ia tak sanggup melanjutkan perkataannya.
"Kenapa, Marvin? apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Amoera dengan begitu penasaran dengan kata-kata yang sempat tak Marvin lanjutkan.
__ADS_1
"Sebenarnya, anak kita tidak bisa di selamatkan," ucap Marvin dengan nada ragu.
"Tidak bisa di selamatkan?" Amoera mengulangi ucapan Marvin.
"Dia meninggal." kata - kata Marvin membuat kedua mata dan bibir Amoera tak bergemming sama sekali. tubuhnya terhenyak ia begitu terkesiap namun ia berpura-pura menempatkan dirinya bahwa ia baik-baik saja.
"Oh..." Amoera hanya menimpalinya dengan kata itu. Membuat marvin mengernyit heran.
"Dia benar-benar tidak menginginkan anak itu,"gumam Marvin dengan sedikit kecewa.
"Aku sudah kenyang! Aku ingin sekali minum," pinta Amoera. Marvin tak melihat air di sana.
"Tunggu lah di sini. Aku akan mengambilkannya untukmu." Marvin segera berjalan pergi keluar dari ruangan itu.
Amoera merebahkan tubuhnya di pembaringan. ia menyentuh perut datarnya dengan kedua tangan dan menggerakannya perlahan. ia memejamkan kedua matanya. bahkan, tak sedikit air yang ikut tesapu di sana. air matanya mengalir sangat deras membasahi kedua suduut mata wanita itu. ia benar-benar terluka, ia masih mengingat bagaimana dirinya merasakan sesuatu yang bergerak di dalam perutnya. merasakan dua detak jantung yang berdetak secara bersamaan di dalam tubuhnya. ia bisa merasakan itu semua.
Air mata Amoera semakin menderas di sana. ia benar-benar tak percaya bahwa dirinya kehilangan bayi yang pernah tumbuh di dalam rahimnya. bukankah ia tak menginginkan anak itu sebelumnya? Namun kenapa rasanya sesakit ini.
"Amoera..." suara Marvin membuat kedua mata Amoera terbuka. ia segera cepat-cepat menghapus air matanya.
"Kau sudah kembali? cepat sekali." Amoera berucap dengan suaranya yang masih memberat. Marvin hanya diam dan memperhatikan Amoera, ia sejenak memgalihkan gelas berisi air putih yang ia pegang dan meletakannya di atas meja. ibu jarinya mengusap sisa-sisa air mata Amoera yang masih melekat di sana.
"Kau menangis?" tanya Marvin. Amoera hanya menggeleng kepalanya tanpa bersuara. Marvin menatap kilas kedua mata yang sayu itu. mata sendu itu tak bisa membohonginya. Marvin menarik tubuh Amoera dan seketika langsung memeluknya.
Amoera semakin tak kuasa. air matanya tiba-tiba mengalir kembali. membuat baju yang Marvin kenakan menjadi basah. Marvin bisa merasakan dengan jelas air mata membasahi sebagian bahunya.
"Aku bisa merasakan kehadiran dia, detak jantungnya. aku berdosa karna tidak memperjuangkannya." suara Amoera memberat di iringi dengan isakan tangisnya.
"Maafkan, aku, Marvin. maafkan aku karna tidak bisa mempertaruhkan nyawa untuk anak itu, maafkan aku." Amoera menangis sesenggukan membuat Marvin tak kuasa hingga ikut terbawa suasana.
"Kau tidak bersalah. ini semua salahku karna menempatkanmu di keadaan seperti ini. ini sudah takdir. kau sama sekali tidak bersalah." Marvin melepaskan pelukannya. ia menyeka air mata yang menderas di wajah Amoera dengan kedua tangannya.
"Setelah pulang dari sini, aku akan mengajakmu ke peristirahatan anak kita," ucap Marvin. Amoera hanya bisa menggangguk pasrah dengan kenyataan yang menyakitkan ini.
__ADS_1