
Marvin menghentikan mobilnya di depan rumah Amoera. ia turun dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah dan mekanjutkannya ke kamar Amoera. di sana, ia melihat Amoera duduk berselonjor di atas tempat tidur dengan tangan yang sedang sibuk menjahit sesuatu. Marvin tersenyum dan menghampirinya.
"Sedang menjahit apa?" suara Marvin menghentikna aktivitas Amoera.
"Kau kemari lagi?" tanya Amoera. Marvin mengiyakannya.
"Aku sedang menjahit baju bayi untuk anakmu dan Elsa," ucap Amoera dengan tersenyum. namun, Amoera merasakan sesuatu yang sedikit menyakiti hatinya. namun, ia mencoba menyembunyikan itu semua. Marvin terdiam, rasanya ia tidak nyaman dengan kata - kata Amoera.
"Ini anakmu dan aku, bukan anak Elsa," tutur Marvin seraya mengusap lembut perut Amoera.
"Tapi, Elsa akan menjadi Ibunya nanti." Amoera menatap sendu kedua mata Marvin, ia mengalihkan kedua matanya karna ia merasa air matanya seakan hendak keluar dari sana.
"Apa kau sudah makan?" tanya Amoera. Marvin menganggukan kepalanya.
"Baiklah." Amoera kembali melanjutkan aktivitasnya. Marvin memperhatikan Amoera dengan perasaan yang begitu kacau. hatinya seakan beperang tak karuan. Amoera pun tak sengaja melihat Marvin yang sedari tadi memperhatikannya.
"Kenapa memandangiku seperti itu?" tanya Amoera dengan memiringkan kepalanya.
"Tidak apa - apa! ayo bersiaplah. aku ingin mengajakmu jalan - jalan," ajak Marvin.
"Ke mana?" tanya Amoera.
"Terserah, kau mau ke mana?" tanya Marvin.
"Ke taman hiburan sambil makan ice cream, pasti sangat nikmat." Amoera menelan salivanya yang tercekat di tenggorokan seraya membayangkan nikmatnya memakan ice cream.
"Kau mau ke sana?" tanya Marvin. Amoera dengan cepat menganggukan kepalanya.
***
Marvin pun mengajak Amoera pergi ke taman hiburan. Ia membantu Amoera untuk masuk ke dalam mobil. Dan Marvin melajukan mobil tersebut dengan kecepatan rendah.
"Bagaimana kabar Alice?" tanya Amoera.
"Dia baik," jawab Marvin.
__ADS_1
"Aku sangat merindukannya." Amoera menatap ke arah Marvin yang sedang fokus mengemudikan mobilnya.
"Besok aku akan mengajaknya kemari," kata Marvin.
"Benarkah?" tanya Amoera dengan begitu girangnya. Marvin pun mengiyakannya.
Tak lama kemudian, Marvin menghentikan mobilnya di Pom Bensin untuk memompa bensin mobilnya yang sudah hampir menipis.
"Tunggu di sini. Aku mau memompa bensin," ujar Marvin. Amoera mengiyakannya. Marvin segera turun dari mobil tersebut.
Amoera menunggu di dalam mobil sembari memperhatikan sekitaran. tangannya dengan reflek mengelus perutnya saat bayi di dalam kandungannya itu bergerak dengan lincah, bahkan membuat Amoera tersenyum di buatnya. Namun, kedua matanya tidak sengaja melihat sebuah design undangan di laci mobil Marvin.
Amoera meraih design undangan itu. Ternyata itu ialah contoh design undangan pernikahan. Ia begitu terkejut saat tau di undangan itu bertuliskan nama Elsa dan juga Marvin. bahkan tertera tanggal acara resepsi pernikahan mereka berdua yang akan di selenggarakan bulan depan.
"Bulan depan mereka akan menikah?" gumam Amoera dalam hati. Dan saat Amoera melihat Marvin hendak masuk ke dalam mobil. ia cepat - cepat mengembalikan undangan itu ke tempat semula. Marvin masuk ke dalam mobil dan segera mengemudikannya menuju ke taman hiburan.
Setibanya di taman hiburan. Marvin membantu Amoera turun dari mobil.
Wajah Amoera tiba - tiba terlihat nampak tak semangat seperti sebelumnya.
"Ayo buka mulutmu aku akan menyuapimu," perintah Marvin.
"Aku bisa makan sendiri." Amoera mengambil alih ice cream itu dari tangan Marvin. Ia memakan ice cream perlahan - lahan. rasanya Amoera enggan memakannya, padahal jelas - jelas ia tadi sangat menginginkan sekali untuk memakan ice cream. namun, tubuhnya seakan tak bisa menerima makanan apapun. karna, pikirannya masih kacau akan undangan pernikahan yang sempat ia lihat tadi.
"Aku tidak, mau." Amoera memberikan ice cream itu kepada Marvin. Marvin menarik beberapa lembar tissue yang sempat ia bawa dari mobilnya. ia membantu Amoera mengelap mulutnya yang belepotan karna terkena ice cream.
"Aku bisa sendiri." Amoera mengambil tissue itu dari tangan Marvin.
"Bukannya tadi ingin memakan ie cream? kenapa sekarang tidak mau?" tanya Marvin.
"Aku sudah tidak menginginkannya," jawabnya sambil tersenyum.
"Ehm, apa kau mau makan sesuatu yang lain?" tanya Marvin. Amoera menggelengkan kepalanya tanpa bersuara.
"Mau bermain mesin boneka?" tanya Marvin. Amoera menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ehm, lempar gelang?" tanya Marvin kembali. jawaban Amoera tetap sama.
"Lalu, kau mau apa?" tanya Marvin sembari menyibakan rambut Amoera yang berantakan karna terkena angin.
"Aku tidak mau apa - apa. kita duduk di sini saja," ucap Amoera.
"Baiklah," jawab Marvin.
Amoera menatap ke sembarang arah dengan tatapan kosong. Hatinya seakan menjerit rasa sakit. bahkan ia sendiri tidak mengerti kenapa hatinya sesakit ini saat melihat undangan itu. bukankah ia sudah tau, bahwa Marvin akan segera menikah dengan Elsa, wanita yang sangat di cintainya? tapi, kenapa rasanya Amoera ingin sekali menangis seperti ini? punya hak apa dia? Bahkan air matanya tak berhak untuk mengadu akan rasa sakit yang kini tengah ia rasakan. Marvin sedari tadi memperhatikan Amoera yang tiba - tiba diam.
"Amoera, kau ini kenapa?" tanya Marvin.
"Aku baik-baik saja." seulas senyuman mencoba mewakili rasa sakit hati Amoera.
Punya hak apa dia memikirkan ini semua? namun, bukankah Amoera seorang perempuan yang juga ingin merasakan sebuah pernikahan? Amoera menahan keras air matanya agar tidak terjatuh, ia kembali mengalihkan tatapannya agar mengalihkan perhatian Marvin. karna, Marvin masih memperhatikannya dengan tatapan heran.
"Sebenarnya kau kenapa? Bicaralah!" Marvin menangkap perubahan wajah Amoera yang tak ceria seperti sebelumnya.
"Aku baik - baik saja, Marvin. seharusnya aku yang bertanya, kau ini kenapa!" seru Amoera.
"Kau tiba - tiba diam, dan kau bilang kalau kau baik - baik saja?" Marvin begitu geram di buatnya.
"Badanku merasa tidak enak, aku mau pulang saja." Amoera mengalihkan pandangannya.
"Kau tidak mau mengatakan kepadaku?" tanya Marvin. namun, Amoera hanya diam saja.
"Amoera..." Marvin mengeraskan suaranya.
"Tidak ada yang perlu di katakan. aku baik - baik saja!" seru Amoera. ia beranjak dan berjalan mendahului Marvin. Demi Tuhan, rasa sakit itu semakin menjadi - jadi. Amoera tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya.
"Ya Tuhan, kenapa rasanya sakit sekali?" ia berjalan dengan sejenak memejamkan kedua matanya. buliran air ikut mengaliri kedua sudut matanya. Amoera segera menghapus air matanya saat ia tau Marvin sudah menyusulnya dari belakang.
__ADS_1