Amoera Is My Lady

Amoera Is My Lady
Seorang Ayah ~ Amoera


__ADS_3

Pagi itu di rumah Nenek Tiny, Clarissa terlihat baru saja memandikan bayinya.


"Rissa," suara Nenek Tiny terdengar, Clarissa pun menoleh, ia melihat wanita tua itu berdiri di depan pintu kamar dengan senyuman yang menyeringai wajahnya.


"Nenek?" Clarissa tersenyum. Nenek Tiny berjalan mendekati Clarissa dan duduk di sampingnya. lalu, wanita tua itu mengambil alih anak Clarissa dari tangannya.


"Apa Nenek mau pergi ke pasar?" tanya Clarissa.


"Iya, Nak." Nenek Tiny tersenyum kepada bayi yang saat ini ada di dekapannya.


"Clarissa, lihatlah anakmu ini," perintah Nenek Tiny. Clarissa pun menatap hangat wajah mungil bayi yang baru beberapa hari ia lahirkan itu.


"Dia sangat membutuhkan Ayahnya, Nak." Nenek Tiny mencoba membujuk Clarissa. seketika itu, Clarissa mengalihkan pandangannya.


"Oh iya, Nek. Rissa lupa belum menyusuinya." Clarissa hendak mengambil alih anaknya. karna ia ingin menghindar dari pembicaraan yang Nenek Tiny lontarkan padanya.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Nak!" tutur Nenek Tiny.


"Nenek tau, kamu sangat mencintai pemuda itu," ujar Nenek Tiny. Clarissa menundukan pandangannya seraya menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Rissa sudah tidak mencintainya, Nek," bantah Clarissa.


"Kau tidak bisa berbohong tentang perasaanmu, Nak. pemuda itu sudah menyesali kesalahannya, kau seharusnya memafkannya, biarkan dia menebus kesalahannya. dia juga sangat mencintaimu," tutur Nenek Tiny.


"Rissa sudah memaafkannya, Nek. tapi, Clarissa tidak bisa bersamanya." Clarissa bertutur pelan seraya menahan air matanya agar tidak terjatuh.


"Setidaknya, pikirkan anakmu, dia seorang anak perempuan. dia akan membutuhkan sosok seorang ayah yang akan melindunginya." Nenek Tiny mengalihkan bayi itu kembali ke tangan Ibunya. Clarissa mematung akan perkataan Nenek Tiny.


"Nenek tinggal pergi ke pasar dulu ya, Rissa." Nenek Tiny mengelus kepala Clarissa dan berlalu pergi dari sana.


Clarissa memandangi wajah mungil anaknya. wajah yang sangat mirip sekali dengan Marquez, sangatlah mirip. Air mata yang semula Clarissa bendung, kini tak lagi bisa ia tahankan. ia mencium pipi bayi itu hingga terlihat jelas. cairan bening mengalir dari kedua sudut matanya.

__ADS_1


"Maafkan, Ibu, Nak." Clarissa berbisik lembut di telinga anaknya.


"Ibu sangat mencintai Ayahmu. tapi, kita tidak boleh merusak kebahagian orang lain, Nak." bisiknya kembali. bahkan air mata itu semakin menderas di sana. membuat suara tangisan anaknya memecah dengan sangat keras. Clarissa segera menenangkan anaknya dan menyusui anaknya tersebut.


 


***


Saat Clarissa tengah sibuk menyusui anaknya, suara ketukan pintu terdengar dari luar rumah.


"Siapa yang bertamu sepagi ini?" gumam Clarissa. ia menggendong bayinya untuk mengajaknya membuka pintu rumah tersebut. karna, saat itu, Nenek Tiny belum kembali dari  pasar.


Clarissa memutar gagang pintu rumah itu, dan saat pintu sudah terbuka. kedua mata Clarissa terbelalak lebar saat melihat seorang wanita yang tak asing di kedua matanya berdiri di depan sana. Clarissa beradu pandang dengan wanita itu. wanita itu tak lain ialah Hanna.


"Hanna, kau?"


"Apa aku boleh masuk?" tanya Hanna dengan tatapan sinisnya.


"Silahkan," Clarissa memberi jalan untuk Hanna dan memperslahkannya untuk duduk. Hanna pun duduk dan di ikuti oleh Clarissa. Clarissa begitu takut melihat raut wajah Hanna yang tak ramah seperti biasanya.


"Bagaimana bisa kau melahirkan anak dari laki - laki yang bukan suamimu? bahkan kau tau laki - laki itu hendak menikah, kau datang mengacaukan semuanya! kau dan anakmu merusak semua kebahagiaanku!" seru Hanna dengan menatap tajam Clarissa.


"Hanna, maafkan aku. aku tidak pernah bermaksud merusak kebahagiaanmu, Demi Tuhan. aku sudah tidak pernah berharap bisa bersama Marquez lagi. aku akan pergi dari kehidupan kalian berdua. aku akan kembali ke London, tapi aku mohon tunggu anakku ber-usia satu bulan, aku berjanji akan menjauh dari kota ini," Clarissa menangis dengan ketaktan seraya mendekap lebih erat anaknya dalam pelukannya.


"Apa kau mau lari dari kenyataan? setelah kau mengacaukan semuanya?" seru Hanna. Clarissa hanya menggeleng - gelengkan kepalanya seraya mengusap air matanya.


"Hanna, maafkan aku! aku benar - benar--"


"Diam!" tukas Hanna. Hanna beranjak berdiri tiba - tiba ia mengambil alih anak Clarissa dari tangannya.


"Hanna, jangan. ku mohon!" Clarissa menangis dan menahan anaknya agar tidak lepas dari tagannya. namun, Clarissa tak ingin menyakiti anaknya tersebut. hingga ia melepaskan pegangannya. tiba - tiba bayi yang saat ini ada di dekapan Hanna, menangis dengan begitu kencangnya.

__ADS_1


"Hanna, kembalikan anakku!" pinta Clarissa. dengan mendekati Hanna.


"Diam!" teriak Hanna.


"Hanna, ku mohon! anakku sedang menangis," Clarissa sesenggukan dan memohon kepada Hanna. demi apapun, Clarissa tidak bisa mendengar tangisan dari suara bayinya tersebut, ia begitu tersiksa akan tangisan keras yang memecah isi  rumah itu.


"Apa kau kasian dengan anakmu ini?" tanya Hanna dengan penekanan. Clarissa menganggukan kepalanya dan mengusap wajahnya yang basah.


"Tolong kemarikan anakku," pinta Clarissa dengan memelas.


"Kalau kau kasian terhadapnya. lalu, kenapa kau memisahkannya dengan Ayahnya?" seru Hanna. Clarissa terkejut dengan pertanyaan Hanna, Clarissa membungkam seketika.


"Apa kau pernah berpikir, pentingnya seorang Ayah bagi seorang anak perempuan?" tanya Hanna kembali. namun Clarissa masih diam. air matanya masih mengguyur deras di sana.


"Hanna." Clarissa berucap lirih.


"Apa kau tidak pernah berpikir. siapa yang akan melindungi anakmu di dunia yang kejam ini?"


"Apa kau tidak pernah berpikir, mental anakmu, ketika semua temannya mengejek dirinya tidak memiliki seorang Ayah?"


"Apa kau bisa menjawab, ketika kelak dia sudah dewasa dan bertanya di mana Ayahnya? apa kau bisa menjawab ketika dia bertanya, kenapa kau tidak tinggal bersama dengan Ayahnya?"


"Apa kau bisa menerima kenyataan bahwa suatu saat anakmu akan membencimu?"


"Hanna," Clarissa menggeleng - gelengkan kepala seraya memejamkan matanya. ia begitu tak kuasa mendengar pertanyaan - pertanyaan yang terlontar dari wanita yang saat ini menggendong bayinya


"Clay, apa kau tau? saat aku berusia 5 bulan, Ibu dan Ayahku berpisah. selama 10 tahun aku tidak pernah tau keberadaan Ayahku dan aku tidak pernah tau bagaimana rupanya. aku begitu menderita, bahkan setiap hari  aku mencoba mencari tau keberadaannya. namun, Ibuku tidak pernah memberitaukannya."


"Apa kau tau, Clay. setiap hari aku di ejek oleh semua teman - temanku, karna aku tidak memiliki seorang Ayah. aku selalu bertanya kepada Ibuku kemana Ayahku? Ibuku hanya menjawab Ayahmu sudah pergi jauh! Ibuku selalu menjawab jawaban yang sama ketika aku bertanya. aku merasa benar - benar terluka waktu itu. aku selalu menangis di toilet sekolah ketika semua teman - temanku menertawakanku dan mengataiku sebagai anak tidak sah."


"Tapi, Tuhan begitu baik, saat aku berusia 12 tahun, aku mengetahui siapa Ayahku. ternyata selama 2 tahun itu Ayahku tidak pernah jauh dariku. demi melihatku, Ayahku yang seorang pengusaha, rela berjualan mainan di sekitar sekolahanku. dia selalu memberiku mainan gratis dan menghiburku ketika aku menangis."

__ADS_1


"Ayahku selalu mencari cara untuk menemuiku. tapi, Ibuku selalu melarangnya. sejak saat itu, aku selalu menyalahkan Ibuku, kenapa Ibuku sejahat itu memisahakanku dengan Ayahku? kenapa Ibuku sejahat itu melarang Ayahku untuk bertemu denganku. kenapa Ibuku tidak pernah memberi Alasan kenapa berpisah dengan Ayahku?


"Apa kau tau, Clay? aku begitu sulit memafkan Ibuku waktu itu. aku tau aku memang berdosa. tapi, seorang Ibu juga  berdosa jika memisahkan seorang anak dengan Ayahnya!" ujar Hanna. dengan menangis sesenggukan. Clarissa begitu terhanyut akan cerita Hanna. ia mengambil alih anaknya dari tangan Hanna. dan seketika itu Clarissa mencoba memeluk Hanna.


__ADS_2