Amoera Is My Lady

Amoera Is My Lady
Belas kasihan ~ Amoera


__ADS_3

Marvin pun mencoba menjauhkan tangannya dari amoera .


Amoera benar benar merasa kedinginan namun ia enggan menerima bantuan laki laki yang saat ini ia benci . laki la


Lebih baik mati kedinginan dari pada hidup dari belas kasihan seorang bajingan , kata kata itu tak henti terlontar di pikiran amoera .


Amoera pun kembali merasakan mual , ia membuka pintu mobil dan duduk  berjongkok untuk mengeluarkan isi perutnya yang begitu tidak nyaman . ia menghela nafas dengan begitu berat , tubuhnya semakin menggigil kedinginan , kini amoera tengah duduk dengan menyandar di samping mobil milik marvin karna ia merasakan tubuhnya benar benar lemas .


melihat amoera tak kunjung masuk ke dalam mobil , ia pun turun dari mobilnya dan menghampiri amoera , ia melihat amoera duduk memejamkan mata dengan menggigil pucat .


" ayo masuklah ke dalam mobil , kalau kau disini , kau akan semakin kedinginan " ajak marvin , ia menarik tangan amoera dan mencoba membantu amoera berdiri , namun amoera dengan kasar mendorong  tubuh  laki laki yang sedang mencoba membantunya  saat ini .


" aku bilang jangan pernah menyentuhku ! jangan berpura pura baik didepanku " teriak amoera . marvin dengan geram , mencengkram lengan amoera .


" kau sedang bersamaku ! jadi kau harus menurut apa kataku " teriak marvin , ia pun dengan paksa membantu amoera masuk ke dalam mobilnya . ia mengambil sweater memiliknya dan memakaikan paksa sweater tersebut ditubuh amoera .


" aku tidak mau memakai bajumu , singkirkan ini " teriak amoera meronta


" diammmm ! apa kau bisa diammmm ?  " teriak marvin , amoera pun tak berkutik , ia begitu takut melihat marvin yang meneriakinya seperti itu , marvin pun masih sibuk membantu amoera mengenakan sweater miliknya . amoera pun mendorong tubuh marvin .


" menjauhlah .. aku bisa memakainya sendiri " kata amoera , ia pun melanjutkan sendiri untuk memasang sweater itu di tubuhnya , sweater itu memiliki bahan rajut yang begitu tebal , hingga mampu memberi sedikit kehangatan di tubuh amoera , meskipun sesekali tubuh amoera masih kedinginan , namun saat ini tubuhnya merasa jauh lebih baik daripada sebelumnya .


amoera menyandarkan kepalanya di samping pintu mobil  kedua matanya menatap arah jendela tersebut , air matanya mengalir karna tak tertahankan , ia tengah meratapi nasibnya yang begitu buruk , karna harus berada di titik hidup yang seperti ini , takdir buruk mempertemukannya dengan orang orang yang ia anggap menjadi kesialan dalam hidupnya .


Kedua mata marvin tak henti memandangi wanita Yang tengah duduk di sampingnya tersebut dengan hati yang bertanya tanya . amoera dan marvin yang merasa begitu kelelahan dan mengantuk , mereka berdua pun memejamkan matanya hingga tertidur .

__ADS_1


Hingga terbitnya sang fajar , terlihat marvin dan amoera masih terlelap tidur  di dalam mobil tersebut , terik sinar matahari pun membias kaca mobil milik marvin hingga membuat laki laki itu mengerjap karna kesilauan .


Marvin pun membuka matanya dan menguap karna rasa kantuk masih melanda dirinya , kedua matanya melirik ke arah amoera yang masih tertidur .


marvin yang tengah melihat sebagian hutan tersebut sudah di terangi oleh sinar matahari Marvin pun turun dari mobil dan segera memperbaiki mobil miliknya yang sempat mogok semalam .


Ia membuka bagasi depan mobil dan kedua tangannya dengan lihai mengutak atik kabel dan mesin mobil tersebut , seusai marvin rasa mobilnya sudah membaik ia pun menutup bagasi itu . Namun kedua matanya  tak bergemming saat melihat raut wajah amoera yang masih terpejam Didalam mobil .


Ia pun melangkahkan kakinya masuk kembali kedalam mobil dan mencoba menyalakan mesinnya . Dan tak lama kemudian mesin mobil tersebut menyala .


" syukurlah .. Lebih baik aku lanjutkan perjalanan nya " ucap marvin , ia pun  melanjukan kembali mobilnya , sementara amoera masih terlihat belum bangun dari tidurnya , kurang lebih 25 menit marvin menempuh perjalanan keluar dari hutan belantara tersebut untuk menuju ke jalan raya . dan saat sudah sampai di jalan raya Ia menghentikan mobilnya di sebuah rumah makan untuk mengajak amoera makan terlebih dulu .


" amoera bangunlah , ayo kita sarapan dulu " panggil marvin. Namun amoera tak bergemming .


" amoera .. " panggilnya kembali , merasa tidak ada sautan , marvin pun mencoba membangunkan amoera kembali dengan menggoyang goyangkan lengannya .


" ayah " terdengar suara amoera merintih lirih dari bibir nya yang begitu pucat ,


" ayah " rintihnya kembali .


" amoera bangunlah " pinta marvin , ia hendak menepuk nepuk pipi amoera , namun saat kulit telapak tangannya tersentuh pipi amoera , ia pun terkejut.


" amoera badanmu sangat panas sekali " ucap marvin dengan panik , marvin melajukan kembali mobilnya untuk mencari klinik terdekat dengan lokasi yang saat ini ia pijaki .


tak lama kemudian Ia pun berhenti di sebuah klinik kecil yang letaknya tak jauh dari jangkauannya .

__ADS_1


Marvin pun turun dari mobil dan mencoba mengangkat tubuh amoera. namun amoera terbangun ,


" kau mau apa ? Lepaskan " teriak amoera ia mencoba mendorong tubuh marvin namun rasanya ia benar benar tak bertenaga .


" kau sedang sakit , aku membawamu ke dokter , ayo turun ! " pinta marvin .


" aku tidak mau lepaskan aku " pinta amoera , suaranya terdengar begitu melemah .


" kau sedang bersamaku jadi kau harus menurut !  " marvin setengah berteriak , ia menahan kegeramannya akan amoera . Amoera pun terpaksa mengiyakan permintaan marvin .


" aku bisa jalan sendiri , menjauhlah " teriak amoera  . Ia turun dari mobil dan berjalan tertatih tatih , ia mencari sandaran untuk berjalan menopang tubuhnya , karna tubuh amoera benar benar lemah , ia berulang kali bernafas dengan berat . bahkan dahinya menderas basah karna keringat dingin . Amoera hendak terjatuh dan marvin memeganginya .


" aku bilang jangan menyentuhku " teriak amoera seraya menepis tangan marvin dari tubuhnya . Saat amoera berteriak Semua mata yang ada di klinik tersebut pun tertuju ke arah amoera dan marvin .


" apa kau bisa berbicara pelan sedikit ? Semua orang melihat ke arah kita " seru marvin dengan geram .


" aku tidak peduli ! " ujar  amoera , ia kembali melangkahkan kakinya . Amoera mendudukan tubuhnya di kursi tunggu pasien , ia mengatur nafasnya dengan berat , sesekali perutnya seakan diaduk aduk . Ia begitu mual namun tidak bisa mengeluarkan isi di dalam perutnya . Ia menyandarkan kepalanya di dinding sembari memejamkan matanya kembali .


Sementara marvin ia masih mengambil nomer antrian .


Setelah ia mendapatkan nomer antrian , ia pun kembali menghampiri amoera dan memperhatikannya dengan begitu dekat .


" nona amoera silahkan masuk " teriak salah seorang perawat .


" amoera , ayo " ucap marvin. Ia mencoba membantu amoera berdiri ..

__ADS_1


" aku sudah bilang berkali kali jangan menyentuhku ! jauhkan tangan kotormu itu dariku ! Aku bisa jalan sendiri dan tidak butuh bantuan darimu " seru amoera . Marvin menahan kegeramannya akan mendengar kata kata amoera .


" wanita ini di beri hati malah melunjak , bahkan di depan banyak orang dia berani meneriakiku seperti itu  . Liat saja kau akan rasakan nanti akibatnya " gumam marvin dalam hati dengan geram .


__ADS_2