
3 bulan kemudian,
setalah hari itu. Amoera menjadi sangat dekat dengan Clarissa dan juga Alice, begitu pula dengan Marquez yang kini menganggap Amoera seperti adik kandungnya sendiri, memperlakukan hal sama seperti dirinya memperlakukan Alice. Kebahagiaan Alice terasa terlengkapi, kesedihan yang menimpanya beberapa tahun belakangan ini seolah musnah dalam sekejap mata.
Alice mendapatkan perhatian lebih dari Clarissa dan Amoera sebagaimana perhatian yang telah diberikan ibunya dulu semasa hidupnya. Dan itupun mempengaruhi kesehatan Alice. Mereka berdua sangat menyayangi adik dari laki-laki yang mereka cintai.
Pagi itu, Amoera terlihat begitu cantik dengan balutan mini dress di tubuh rampingnya. Dirinya hendak pergi bersama Marvin untuk melakukan fitting gaun pengantin di tempat Nona Wang sesuai rekomendasi yang telah diberikan oleh Clarissa.
"Kau sudah selesai?" Marvin mengejutkan Amoera yang tiba-tiba berdiri di belakangnya. Untung saja jantung wanita itu tidak terlepas.
"Iya, sudah..." jawabnya sambil tersipu malu. Meskipun dirinya dan Marvin sangat dekat selama tiga bulan ini, Amoera yang polos dan tidak pernah merasakan jatuh cinta masih sering dibuat malu saat bertatap wajah langsung bersama calon suaminya itu.
"Kau sangat cantik sekali..." pujinya sembari tersenyum. Betapa bahagianya Marvin bisa bersama dengan wanita yang kini tengah berdiri di hadapannya. Bahkan dirinya tidak pernah sebahagia ini saat bersama Elsa.
"Ayo kita berangkat sekarang," ajak Marvin, Amoera mengiyakannya. Sebelum mereka berangkat, mereka terlebih dulu berpamitan kepada semua orang rumah.
***
Saat dalam melakukan perjalanan menuju ke tempat Nona Wang, suara ledakan membuat Marvin mendadak menginjak rem mobil jeep miliknya hingga mobil itu berhenti dengan sempurna di tepi jalan raya. Suara ledakan itu ternyata berasal dari ban mobil Marvin yang pecah.
"Sial!" umpat Marvin.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Amoera.
"Ban mobilku pecah, tunggulah di sini. Aku akan menggantinya dengan ban cadangan." Amoera menganggukan kepalanya dan Marvin segera turun dari mobilnya untuk segera mengganti ban mobilnya tersebut.
Sudah 10 menit lamanya Amoera menunggu di dalam mobil sambil memperhatikan Marvin dari balik kaca spion yang masih sibuk mengganti ban mobilnya.
Amoera melihat ke arah sekitar jalanan, ia tak sengaja melihat segerombolan laki-laki bertubuh kekar dan menkutkan yang serentak mengenakan baju berwarna hitam di seberang jalan sana. Dan terkejutnya lagi, Amoera mengenali sosok seorang wanita yang ada di gerombolan para lelaki itu. Wanita itu terlihat sedang dikawal oleh dua orang hendak menyebrang jalan dan menuju ke arah mobil yang kini ia tumpangi.
Amoera menyipitkan kedua matanya, sejenak mengingat wajah wanita yang menurutnya tidak asing itu. hingga akhirnya dirinya mengingat wanita tersebut. "Astaga, wanita itu..."
Amoera dengan segera turun dari mobil dengan raut wajah yang panik, ia menarik Marvin mengajaknya pergi dari sana.
"Amoera, ada apa?" tanya Marvin.
"Tenanglah, ada apa?" tanya Marvin dengan heran.
"Marvin, lihatlah wanita itu..." Amoera menunjuk ke arah wanita yang ia maksud. Kedua mata Marvin dibuat membulat dengan sempurna.
"Charlotte..." Marvin segera menarik tangan Amoera, ia berlari dan mengendap-endap supaya Charlotte tidak melihat mereka berdua. Marvin mengajak Amoera bersembunyi dibalik batu besar yang ada di sebuah lahan yang tak jauh dari mobilnya berhenti, dari kejauan mereka mengintip Charlotte tengah berjalan menghampiri mobil mereka yang terhenti di tepi jalan sana.
POV Charlotte.
__ADS_1
"Permisi..."Charlotte mengetuk jendela pintu mobil Marvin yang tertutup. Tidak ada sautan, Charlotte pun mengintip ke dalam, namun tidak ada siapapun di dalam mobil tersebut.
"Kalian buta? lihatlah tidak ada orang, kenapa kalian tadi bilang ada orang di sini!" bentak Charlotte kepada kedua anak buahnya tersebut. Memberi hantaman kepalan tangan ke masing-masing dada mereka. Meskipun Charlotte seorang perempuan, tetapi karna dirinya sangatlah terlatih, kekuatannya setara melebih tiga orang pria sekaligus, hingga membuat kedua anak buahnya itu menahan rasa nyeri di ulu hatinya akibat pukulan Charlotte.
"Kami tidak salah melihat, Nona. Tadi ada orang, di mobil ini."
"Iya, Nona."
"Mana? lihatlah! Apa perlu kuganti mata kalian dengan mata seekor binnatang!" teriak Charlotte. Kedua anak buahnya itu hanya berdiam pasrah tak mau membantah bossnya tersebut.
"Dasar kalian ini sungguh bodoh. Tidak berguna! Sekarang kita harus bertanya kepada siapa? tidak ada orang satupun yang berhenti di jalanan seperti ini."
"Kita sudah satu minggu mengelilingi kota ini, dan ini adalah kawasan terakhir yang kita pijaki. Sebenarnya informasi tentang Rissa di sini benar atau tidak?" teriakan Charlotte seakan membuat telinga siapapun berdarah saat mendengarnya.
"Nona, kami benar-benar tidak salah informasi. Informasi terakhir yang kami dapatkan, Nona Rissa berada di kota ini," tutur anak buah Charlotte.
"Tapi kenapa hingga sekarang kita belum mendapatkan petunjuk bahwa adikku ada di kota ini!"
"Aku tidak mau tau, kalian harus segera menemukan adikku. Jika tidak, aku akan membunnuh keluarga kalian! Kalian mengerti!" ancam Charlotte.
"Iya, Nona. Kami mengerti. Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menemukan Nona Rissa."
__ADS_1
"Cepat kita pergi dari sini!" Charlotte meninggalkan mobil tersebut dan mengajak kedua anak buahnya untuk kembali menghampiri anak buah lainnya.