Amoera Is My Lady

Amoera Is My Lady
Membalas ~ Amoera


__ADS_3

Marvin kembali ke kamar Amoera, menatap pilu wanita itu. Demi Tuhan. ia tak bisa menahan perasaannya. ia merasa menderita melihat Amoera masih juga tak sadarkan diri. ia merengkuh jari-jari tangan Amoera dan meletakan di pipinya.


"Aku sudah memakamkan anak kita dengan baik. kau tidak ingin bangun?" tanya Marvin dengan mata yang berkaca-kaca.


"Ayo bangunlah, ku mohon." suara Marvin terdengar lirih dan semakin memberat.


"Amoera, ayo bangunlah. tolong..."


"Tolong..."


Marvin merasa putus asa sedari tadi tak mendapat apapun di sana. Amoera masih tak bergeming, "Amoera,  ayo bangunlah. aku mohon bangunlah. Aku janji akan menikahimu dan kita hidup bersama. tolong bangunlah kenapa kau diam saja?" ucap Marvin.


Amarah Marvin kembali memuncak, ketika mengingat bahwa Bobby-lah yang membuat Amoera menjadi seperti ini. Marvin melepaskan tangan Amoera. ia beranjak berdiri dan meninggalkan ruangan itu untuk menemui Elsa dengan wajah yang murka. Marquez yang melihat adiknya tersebut hendak menghampirinya. namun, Marvin malah menyuruh Marquez untuk menjaga Amoera. Marquez pun mengiyakan kata-kata Marvin untuk menurutinya.


Marvin berjalan dengan cepat ke ruangan Elsa, di sana. terlihat Elsa hendak pergi meninggalkan ruangan itu. Marvin semakin mempercepat jalannya dan menarik kasar tangan Elsa, hingga membuat wanita itu merasa kesakitan.

__ADS_1


"Tunjukan di mana Bobby!" tanya Marvin dengan raut wajah yang memerah seakan lahar panas sudah menumpah ruah di wajah tampannya itu. kedua mata Elsa membuat dan ketakutan. ia bingung harus menjawab apa.


"A-aku tidak tau," ucap Elsa.


"Cepat tunjukan di mana Bobby. kalau kau tidak menunjukan di mana kekasihmu itu. kau yang akan membalas semuanya!" seru Marvin dengan penuh penekanan.


"Kau mau apa, Kak Marvin?" tanya Elsa dengan ketakutan.


"Jangan banyak bertanya, cepat tunujukan aku!" suara Marvin semakin menggelegar di telinga Elsa. Elsa yang ketakutan,  terpaksa mengiyakan. Marvin menarik paksa Elsa dan mengajaknya menuju ke parkiran mobil. ia menyuruh wanita itu untuk segera masuk ke dalam mobilnya dan Marvin segera melajukan mobilnya tersebut dengan kecepatan maximal.


Marvin menghentikan mobilnya sesuai dengan alamat yang Elsa berikan. ia berhenti di sebuah rumah mewah yang minim penjagaan, "Apa ini tuamhnya?" Marvin mengeraskan suaranya hingga membuat Elsa berjingkat.


"I-iya, ini rumah, Bobby." Elsa berbicara dengan bibir gemetar.


"Turun!" perintah Marvin.

__ADS_1


"Kak Marvin, tolong... jangan melukai Bobby. dia benar-benar tidak sengaja, Kak." Elsa menangis dan menggelayuti tangan Marvin. Marvin menepis tangan Elsa. entah itu air mata cinta atau air mata buaya agar Marvin ibah dan mengampuninya.


"Turun!" teriak Marvin. Elsa menarik napasnya dengan tersendat-sendat. ia segera menuruti kata-kata Marvin untuk segera turun dari sana. Marvin mengambil pistol dari balik kursi mobil dan menyelipkan di saku celananya. ia segera turun dan menarik tangan Elsa untuk masuk ke dalam sana. dan saat berada di depan gerbang. dua orang penjaga rumah menghampiri Marvin.


"Hey, kau siapa? lepaskan Nona Elsa jangan kasar seperti itu." penjaga itu mencoba menjauhkan Elsa dari Marvin.


"Wah, kau sering berkunjung kemari? bahkan mereka sangat hafal denganmu," ujar Marvin.


"Mana Tuanmu?" tanya Marvin kepada penjaga itu.


"Ada prlu apa kau mencari Tuan kami?" seru penjaga itu. tanpa banyak bicara. Marvin menendang dada penjaga itu secara bergantian. mungkin tendangan Marvin yang begitu keras hingga mengenai ulu hati penjaga itu. membuat mereka meringis kesakitan dan sulit untuk bangkit. Marvin menarik tangan Elsa dan melewati kedua penjaga yang masih terkapar di tanah dengan memegangi dadanya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2