Amoera Is My Lady

Amoera Is My Lady
Rumah sakit ~ Amoera


__ADS_3

Dengan di banjiri air mata dan kepanikan. Bi Lian segera berlari keluar rumah memanggilkan taxi yang sangat kebetulan sekali melintas di depan rumahnya. Marvin dan Bi Lian segera membawa Amoera masuk ke dalam taxi itu dan di bantu oleh supir taxi tersebut.


"Tuan, Nona ini kenapa?" tanya sopir taxi itu.


"Jangan banyak bertanya, cepat antarkan kami ke rumah sakit terdekat!" seru Marvin dengan suara yang membentak di telinga sopir itu. sopir itu takut dan segera melajukan taxinya ke rumah sakit.


Marvin memangku  kepala Amoera yang sudah tak sadarkan diri. Ia menyobek baju miliknya untuk menyumbat darah yang mengalir begitu banyak dari kepala Amoera.


"Amoera, Amoera. tolong bertahanlah." hanya kata - kata itu yang tak henti Marvin ucapkan dengan di iringi air matanya. ia benar - benar takut melihat Amoera yang terluka seperti itu.


ia semakin mendekap tubuh Amoera.


"Cepatlah sedikit!" teriak Marvin kepada sopir itu.


"I-iya, Tuan." sopir itu takut dan semakin menambah laju kecepatan mobilnya.


Bi Lian yang masih menangis dan panik melihat kaki Amoera semakin di derasi cairan bening bercampur darah.


"Tuan, air ketuban Nona Amoera pecah." bibir Bi Lian berucap gemetar.


"Amoera, tolong bertahanlah, tolong ... tolong..." Marvin mendekap erat dan menangis ketakutan. ia begitu takut hal buruk terjadi dengan Amoera.


kejadian hampir satu tahun yang lalu tiba-tiba menyambar ingatannya. di mana saat dirinya tertembak oleh peluru anak buah Charlote, dan Amoera memangkunya dengan posisi yang sama. Ia masih ingat Amoera sedang mengkhawatirkan dirinya yang sudah memperlakukannya dengan begitu kejam. namun, Amoera masih saja mau menyelamatkan nyawanya. Marvin semakin frustasi.


"Tolong, Amoera... tolong..." Marvin berharap Amoera akan baik-baik saja.


"Cepatlah! apa kau bisa membawa mobil!" teriak Marvin dengan memukul belakang kepala sopir itu.


"Ini sudah kecepatan maximal, Tuan. sebentar lagi kita sampai!"


"Tuan, tolong bersabarlah." tutur Bi LIan.

__ADS_1


 


 


***


5 menit kemudian,


Setibanya di rumah sakit. Marvin mengangkat tubuh Amoera masuk ke dalam sana. bahkan darahnya tercecer mengotori lantai rumah sakit. Petugas rumah sakit yang melihat Marvin berteriak-teriak. segera menghampirinya dengan membawa tempat pembaringan. Marvin segera meletakan Amoera di pembaringan itu. dan petugas rumah sakit segera mendorong ke ruang UGD dan di ikuti oleh Dokter.  dengan segera Dokter menangani Amoera dan menyuruh Marvin dan Bi Lian, keluar dari ruangan itu.


Marvin meminjam telpon rumah sakit untuk menghubungi orang rumah. dan setengah jam  kemudian, Marquez, Clarissa dan Alice datang ke sana. sementara Clarisa menitipkan bayinya kepada Bi Yonna.


"Marvin, siapa yang masuk rumah sakit? kenapa bajumu penuh darah seperti ini?" tanya Marquez.


"Apa, Elsa?" tanyanya lagi. karna sewaktu menelpon Marquez, Marvin tak menyebutkan siapa yang sedang masuk ke dalam rumah sakit.


"Kakak, siapa yang masuk rumah sakit?" Elsa juga ikut panik.


"Amoera..." Marvin berucap dengan suara terendahnya seakan tak kuasa menyebut nama itu.


"Kakak, Amoera kenapa?" tanya Alice. firasat gadis itu tidak enak. namun, Marvin hanya membungkam.


"Kakak, jawab Alice, Amoera kenapa?" Alice tiba - tiba menangis ketakutan  dan menggoyang goyangkan tubuh Kakaknya yang sedang kepanikan berharap menndapat jawaban atas pertanyaannya.


 


"Marvin, katakan kenapa, Amoera?" timpal Marquez. Marvin seketika menceritakan kronologi kejadian yang terjadi di rumah yang Amoera tempati, Alice dan Marquez begitu terkejut saat mendengar semuanya. air mata Alice  semakin tak terkendalikan menangisi Amoera. sementara Clarissa hanya terdiam dengan begitu bingung dengan apa yang sebenarnya  terjadi saat ini.


"Kenapa Amoera bisa bersamamu? dan kenapa kau tidak memberitau Kakak?" tanya Marquez. Marvin yang masih panik dengan Amoera yang sedang terluka di dalam sana tidak bisa menjawab pertanyaan Kakaknya.


perawat terlihat keluar dengan terburu - buru dari ruangan Amoera dan Marvin segera menghampirinya.

__ADS_1


"Suster... bagaimana Amoera? apa dia baik - baik saja?" tanya Marvin dengan suara gemetarnya.


"Sebentar, Tuan. saya harus memanggilkan bebrapa dokter lagi." perawat itu berjalan cepat meninggalkan Marvin.


Marvin semakin ketakutan,


"Tuhan, tolong jangan terjadi apa-apa dengan dia. aku mohon jangan... aku mohon..." Marvin menenangkan dirinya sendiri yang sedang panik layaknya tenggelam di tengah lautan dengan ombak besar yang sedang menggulung dirinya entah ke mana.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2