
Tiga hari kemudian,
Marvin sudah mulai membaik, begitu juga Amoera. saat hasil CT Scan keluar dan menunjukan tidak ada kerusakan pada jaringan kepalanya. dokter sudah memperbolehkan Amoera pulang. namun, harus melakukan rawat jalan.
Sebelum Marvin mengajak Amoera pulang ke rumahnya. ia terlebih dulu mengajak wanita itu ke sebuah makam yang tak lain tempat peristirahatan anaknya. ia berjalan beriringan dengan Amoera tak sedikit gundukan tanah yang berjajar dengan rapi di sana.
Marvin menghentikan langkah kakinya di depan sebuah makam kecil yang bertuliskan nama Matthew. nama yang sempat di berikan oleh Marvin untuk anak laki-lakinya itu. yang saat ini mereka kunjungi ialah makam anak mereka yang sama sekali belum sempat melihat dunia.
Amoera dan Marvin duduk berjongkok. tangan Amoera bergerak dengan gemetar memegang gundukan tanah yang masih setengah basah itu. kemudian, ia mengalihkan pegangannya ke batu nisan yang tertulisakan nama anaknya itu. air matanya kembali memecah.
"Bahkan aku tidak sempat menyentuhmu," ucap Amoera dengan suara tidak jelas. ia mengusap air matanya dengan lengannya.
"Maafkan, Ibu, Nak." Amoera semakin tak bisa mengendalikan air matanya. Marvin mengusap bahu wanita yang ia cinta itu untuk sedikit menenangkannya.
"Aku tidak sempat mendengar suara tangisannya." Amoera menyandarkan kepalanya dan menenggelamkan wajahnya di bahu Marvin.
Saat sudah tenang. Amoera memperhatikan kembali gundukan tanah itu. darah dagingnya terkubur di dalam sana.
"Ayo kita pulang," ajak Marvin.
"Aku ingin di sini," ucap Amoera.
"Amoera... kita bisa kemari kapanpun," tutur Marvin. kedua mata Amoera yang masih di penuhi air mata menatap Marvin. kemudian ia mengangguk.
"Ibu pulang, dulu, Nak. nanti Ibu akan kemari lagi." Amoera mengusap kedua matanya yang masih basah. dengan kaki gemetar ia mencoba beranjak berdiri. rasanya ia begitu tak rela. bahkan, Amoera berulang kali menoleh ke makam anaknya seakan tak mau pergi dari sana.
Marvin segera mengajak Amoera untuk pulang kembali ke rumah. setibanya di sana, Amoera mendapat sambutan dari semua orang. bahkan Bi Yonna dan Bi Lian tak segan memeluk erat tubuh Amoera.
"Bibi sangat merindukanmu, Nona." Bi Yonna memejamkan kedua matanya menuangkan kerinduan terhadap wanita itu.
"Bibi juga sangat merindukan Nona Amoera." Bi Lian yang sudah menganggap Amoera seperti putrinya tak malu untuk menumpakan air matanya. ia ingat betul saat Amoera terluka. rasanya mengerikan bagi wanita parubaya itu.
"Amoera juga sangat merindukan kalian," ujar Amoera sambil tersenyum.
Amoera melihat ke arah Clarissa yang saat ini sedang menggendong anaknya, "Apa itu anakmu, Nona Clarissa?" tanya Amoera.
"Iya, Amoera. apa kau ingin menggendongnya?" tanya Clarissa.
"Boleh?" tanya Amoera dengan begitu polos.
"Tentu saja." Clarissa tersenyum dan mengalihkan gendongannya ke tangan Amoera. kedua mata Amoera berkaca-kaca. ia kembali mengingat anaknya yang belum sempat tersentuh oleh tangannya.
"Seperti inikah menggendong seroang bayi?" gumam Amoera seraya menelan salivanya. Amoera mencium lembut kedua pipi bayi itu. air matanya ikut membasahi kedua sudut matanya. kemudian, ia mengembalikan anak itu kepada Ibunya.
"Amoera, ayo kita main," ajak Alice dengan penuh semangat.
"Nanti saja, Alice. biar Amoera bersitirahat," tutur Marvin. Alice terpaksa mengiyakannya.
Marvin menyuruh Amoera untuk istirahat dan mengantarkan wanita itu ke kamar yang sudah di siapkan oleh Bi Lian dan juga Bi Yonna.
***
Malam harinya setelah makan malam. Marvin mendatangi kamar Amoera untuk memastikan keadaan wanita itu. Marvin mendudukan tubuhnya di samping Amoera yang kala itu duduk di tepi tempat tidur.
__ADS_1
tangannya mengusap rambut Amoera secara bergantian.
"Marvin, apa aku boleh pergi dari sini?" tanya Amoera.
"Apa maksdumu?" tanya Marvin.
"Bukannya kau pernah bilang, jika akan membebaskanku?" tanya Amoera. Marvin terdiam seketika.
"Aku tidak akan pernah melepaskanmu!" ucap Marvin dengan penuh penekanan.
"Kenapa kau ingkar? kau sudah berjanji bukan?" tanya Amoera. Marvin hanya diam dan memegang kedua tangan Amoera.
"Amoera, aku hampir kehilanganmu. aku hampir gila karnamu! aku tidak mau melepaskanmu, aku ingin hidup bersamamu. apa kau menikah denganku?" tanya Marvin dengan tatapan yang begitu dalam.
"Maaf, Marvin. aku tidak bisa." Amoera mengalihkan pandangannya dan menarik tangannya dari rengkuhan Marvin. penolakan Amoera membuat Marvin sedikit kecewa.
"Kenapa? kau tidak memiliki perasaan sama sekali kepadaku?" tanya Marvin. namun Amoera hanya diam saja.
"Amoera..."
"Aku tidak bisa Marvin... aku tidak bisa! aku tidak mau menjadi perusak hubunganmu dengan Elsa. apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan Elsa? biarkan aku pergi dari hidupmu. aku akan pergi sejauh mungkin dari hidup kalian," ujar Amoera yang tiba-tiba tidak bisa menahan air matanya.
"Amoera... aku sudah tidak bersama Elsa lagi," ucap Marvin. telinga Amoera begitu teresiap saat mendengar apa yang baru saja Marvin ucapkan.
"Kenapa? apa karna aku? kenapa kau tidak bersama dengan Elsa lagi?" tanya Amoera. ma,im Marvin bungkam.
"Tolong Marvin, jangan meninggalkan Elsa. tolong kembalilah bersama dia. jangan membuat diriku semakin bersalah. tolong kembalilah kepadanya, dia sangat mencintaimu!" ucap Amoera sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Amoera... dia mengkhianatiku. dia hamil dengan laki-laki lain. laki-laki yang melukaimu. laki-laki yang membuatku hampir kehilangan dirimu. Elsa berkhianat dengan laki-laki itu," ucap Marvin. Amoera terdiam seolah tak percaya.
"Aku memang bersalah karna mengkhianatinya. tapi aku benar-benar tidak sengaja, Amoera."
"Ini semua gara-gara aku... ini semua karna aku, aku yang merusak hubungan kalian. aku penyebab kekacauan ini," tangisan bersalah Amoera memecah.
"Amoera... kau tidak pernah bersalah. aku yang salah!"
"Amoera, aku benar-benar mencintaimu. tolong menikahlah denganku tetaplah di sini bersamaku!" Marvin berbicara dengan penuh harap. ia benar-benar berharap bisa hidup bersama wanita yang ia cintai itu.
"Maafkan Aku, aku tidak bisa, Marvin." Amoera berucap dengan suara rendah sambil mengusap air matanya secara bergantian.
"Kau tidak mencintaiku?" tanya Marvin suaranya terdengar seakan tak bertenaga. Amoera terdiam, sunyi sejenak menyelimuti mereka berdua. Amoera menggelengkan kepalanya membuat kekecewaan Marvin semakin bertambah. Marvin memejamkan kedua matanya.
"Baiklah, aku tidak bisa memaksamu." Marvin berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Besok pagi, aku akan mengantarkanmu kembali ke kampungmu," ucap Marvin.
"Apa aku boleh memelukmu untuk terakhir kalinya?" pinta Marvin. Amoera mengiyakannya. Marvin memeluk erat tubuh Amoera sambil memejamkan kedua matanya.
"Maafkan aku karna pernah berbuat kasar kepadamu. merusak hidupmu. maafkan atas semua perlakuan burukku kepadamu. aku sangat mencintaimu, Amoera." Marvin berusaha menahan keras air matanya agar tidak terjatuh dari tempatnya. rasanya, ia tak mau melepaskan wanita itu. namun, ia tak berhak akan itu. Marvin melepaskan pelukannya, dan tanpa pamit, ia segera pergi dari kamar Amoera.
Tangisan Amoera kembali memecah saat melihat laki-laki itu pergi dari sana. Amoera menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menangis sejadi-jadinya.
Sementara Marvin. dengan langkah yang begitu menyakitkan. ia kembali ke dalam kamarnya. ia merebahkan tubuhnya sambil memejamkan kedua matanya, "Meskipun aku sangat mencintainya. aku tidak bisa memaksanya. aku tidak mau menyakitinya ataupun membuat dirinya tersiksa karna paksaanku, melihat dia sudah baik-baik saja. aku sangat bahagia."
"Aku benar-benar mencintainya." Marvin menelan salivanya. tak sedikit air mata yang ikut tersapu saat kelopak matanya terpejam.
__ADS_1
***
Keesokan paginya, Marvin pergi ke kamar Amoera dengan pakaian yang sudah rapi. hatinya masih kacau. namun ia sembunyikan. hari ini ia harus melepaskan Amoera. mengikhlaskan wanita itu untuk pergi dari hidupnya. Marvin melihat Amoera duduk di tepi tempat tidur. ia tak kuasa menatap Amoera yang saat ini beranjak berdiri dan berjalan mendekatinya. rasanya ia ingin sekali menangis. namun, Marvin tak selemah itu.
"Kau sudah bersiap-siap?" tanya Marvin. Amoera hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara.
"Ayo..." ajak Marvin mencoba berjalan mendahului Amoera. namun, Amoera tak bergeming dari tempatnya.
Marvin sejenak berhenti dan menoleh ke arah Amoera, " Amoera, ayo..." ajaknya kembali. Marvin berbalik badan. hendak keluar dari sana. Amoera dengan cepat menghampiri Marvin dan memeluknya dari belakang hingga membuat tubuh Marvin berhenti dengan sendirinya.
"Tidak, aku tidak mau pergi... aku mau di sini denganmu, aku mau hidup bersamamu. aku tidak mau meninggalkanmu." Amoera menumpahkan air matanya di bahu kekar laki-laki itu. Marvin membalikan tubuhnya.
"Aku tidak mau pergi, Marvin. aku mau di sini, aku sangat mencintaimu," ucap Amoera.
"Amoera..." Marvin mencoba menjauhkan tubuhnya dari Marvin.
"Aku tidak mau pergi... aku mau bersamamu." Amoera menggelengkan kepalanya. air matanya masih mengalir deras di sana.
"Kau mau menikah denganku?" tanya Marvin. Amoera menganggukan kepalanya dengan cepat mengiyakan pertanyaan laki-laki itu. Marvin benar-benar tak menyangka bahwa Tuhan telah berbaik hati kepadanya mengobati luka yang membuat hatinya semalam begitu kacau. senyuman bahagia melingkar di wajahnya.
"Terimakasih, Amoera. aku bersumpah akan memperlakukan dirimu sebaik mungkin." Marvin memeluk erat tubuh Amoera dan mencumi kepalanya. bahkan, ia tak malu menumpahan air mata harunya. ia benar-benar bahagia sekali akan hari itu. begitu juga Amoera.
******* SEKIAN ***********
Alhamdulilah, sudah sampai di penghujung cerita. sesuai janji Nona. Nona sudah menyelesaikan cerita Amoera is My Lady ini. terimakasih banyak yang sudah setia menunggu cerita ini kurang lebih 6 bulan lamanya.
jangan di unfavorite ya teman-teman. karna entah kapan, Nona akan melanjutkan kembali cerita ini. jika ada kesalahan kata dan alur yang kurang berkenan untuk di baca mohon di maafkan ya.
Nah, karna cerita Amoera sudah Nona selesaikan. Nona bakal fokus sama cerita Nona yang My Introvert Husband 3 dan My Geeky Wife. semoga kalian masih tetap setia mengikuti cerita receh Nona yang lainnya.
Terimakasih banyak atas dukungannya dan juga kritik saran yang membuat Nona semakin terpacu untuk memperbaiki cerita Nona.
__ADS_1
semoga kita semua di beri kesehatan dan selalu dalam lindungan Tuhan.