
Marvin mengikuti perawat ke ruang jenazah untuk melihat anaknya. sedangkan Alice yang baru saja melihat Kakaknya keluar dari ruangan Amoera, ia segera menggantikannya masuk ke dalam sana.
"Sayang, aku titip Alice dan Amoera, aku mau menemani Marvin," pinta Marquez kepada Clarissa.
"Iya, temanilah, dia." Clarissa mengusap bahu Marquez dan Marquez berlalu pergi dari sana mengikuti Marvin dan Perawat itu dari belakang.
Saat di ruang jenazah, Kedua mata Marvin tertuju ke arah bayi laki - laki yang tengah telanjang dengan tubuh yang membiru dan sudah tak bernyawa lagi. ia menatap bayi itu dengan tatapan pilu. Demi Tuhan, sesakit itu rasanya. ia mengumpulkan keberanian untuk menguatkan dirinya sendiri melihat darah dagingnya yang belum sempat melihat Ibunya. Marvin mengangkat tubuh bayi itu dengan tangan gemetar. Bahkan tubuh itu terlihat semakin melunak di tangannya. Marvin memeluk erat bayi itu hingga air matanya yang mengalir semakin tak tertahankan.
"Maafkan, Ayah, Nak. ini salah Ayah." Marvin mendekap tubuh bayi itu dan menciumnya berkali - kali.
"Maafkan Ayah... Maafkan Ayah..."
"Marvin..." Marquez mengusap - usap punggung adik laki - lakinya itu.
"Kakak, aku kira Tuhan mengirimkan anak ini sebagai pengganti nyawa orang tua kita. itu sebabnya, aku menyuruh Amoera tidak menggugurkan anak ini dan membiarkannya untuk lahir . tetapi, Tuhan begitu tak adil. dia terlebih dulu mengambilnya sebelum melihatku dan Amoera," Marvin berbicara dengan suara beratnya. Marquez juga tak kuasa karna terbawa suasana akan kesedihan adiknya.
"Marvin, ini sudah takdir." Marquez mencoba menenagkan adiknya tersebut. Marvin pun mencoba mengikhlaskan semuanya.ua meminta izin kepada perawat untuk membawa anak itu ke ruangan Amoera. sebenarnya, perawat tidak mengizinkannya. namun, karna Marvin memaksa dan mendesak perawat itu. akhirnya perawat itu mengizinkannya tanpa sepengetahuan dokter..
Marvin membaluti tubuh anak itu dengan sebuah kain dan membawanya ke ruangan Amoera. di sana terlihat Alice sedang duduk menangis di samping Amoera.
"Alice, keluarlah!" suara Marvin membuat gadis itu menoleh.
"Kakak?" Alice beranjak berdiri dan mendekati Marvin. ia memperhatikan bayi yang sedang di gendong oleh Kakaknya. tangisan Alice memecah saat melihat bayi yang sudah tak bernyawa itu, Marquez mengajak Alice keluar dan menenangkannya.
"Kakak, kasihan Amoera. kenapa dia yang harus menderita seperti ini? aku sangat menyayanginya, Kak. dia wanita baik, Kak." Alice manangis terisak - isak di pelukan Marquez. Marquez berusaha keras menenangkan adik perempuannya itu.
***
Marvin, meletakan bayi itu di samping Amoera. ia bergantian melihat Amoera dan bayi itu. Demi Tuhan, rasanya Marvin begitu tersiksa melihat ini semua, dadanya begitu berat, bahkan, untuk bernapas saja, dia begitu kesulitan.
"Bangunlah, aku membawa anakmu..." Marvin berucap dengan bibir gemetar. Marvin sejenak memperhatikan Amoera yang tak bergeming sama sekali. rasanya, tak mengubah apapun. ia memejamkan kedua mtanya hingga cairan bening terlihat membasahi wajah laki - laki itu.
"Kenapa tidak aku saja yang berbaring di sini? kenapa harus dirimu? Tolong segeralah bangun, Amoera. aku sudah kehilangan anak kita. aku tidak mau kehilanganmu juga, tolong bangunlah... tolong..." bisik Marvin.
"Tuan, mohon segerelah! saya takut dokter kemari!" ujar perawat itu dengan sedikit panik. Marvin mengusap kedua matanya dan mengiyakan kata perawat itu.
"Aku akan memakamkan anak kita, tolong bangunlah... nanti kita mendoakan anak kita bersama," bisiknya kembali sembari mencium kening Amoera.
Marquez dengan segera keluar dari ruangan Amoera. ia dan Marquez sejenak meninggalkan rumah sakit untuk memakamkan bayi itu di pemakaman yang letaknya dekat rumahnya. Marquez meminta Clarissa dan juga Bi Lian untuk tetap di rumah sakit menunggu Amoera dan menemani Alice di sana.
Clarissa bergantian dengan Alice masuk ke dalam ruangan Amoera. ia menatap wanita asing yang sedang tak sadarkan diri itu. memang, Clarissa tak mengenalnya, namun, ia begitu ibah melihat Amoera.
"Kasian sekali, dia." Clarissa hendak mengusap kepala Amoera, namun ia urungkan saat melihat kepala itu terbalut perban, ia mengalihkannya ke pipi Amoera dan mengelusnya dengan lembut. kemudian ia memperhatikan wajah Amoera dengan begitu seksama.
"Bukankah dia wanita yang pernah datang waktu itu bersama Marvin di tempat Kakak?" Clarissa mengingat - ingat kembali wajah Amoera.
"Iya, dia wanita itu."
"Nona, semoga kau segera sadar." Clarissa mengusap pipi Amoera.
__ADS_1
***
Seusai memakamkan bayi nya, Marvin dan Marquez kembali ke rumah sakit. namun, saat di lorong rumah sakit, ia melihat Elsa juga di sana.
"Kak Marvin..." Elsa berucap dengan langkah gemetar menghampiri Marvin.
"Sedang apa kau di sini?" suara Marvin terdengar mengeras dan menggema di lorong rumah sakit itu.
"Kak Marvin, maafkan aku. aku dan temanku benar - benar tidak sengaja melukai Amoera." Elsa menangis dengan ketakutan. Marvin mendekati Elsa dan mencengkram erat lengannya hingga wanita itu merasa kesakitan.
"Pergi kau dari sini. Sampai matipun aku tidak akan pernah memaafkanmu!" teriak Marvin.
"Kau sudah membunuh anakku dan temanmu sudah melukai Amoera hingga Amoera tidak sadarkan diri. aku tidak akan pernah memaafkanmu Elsa. sampai matipun aku tidak akan pernah memaafkanmu!" Marvin mendorong keras tubuh Elsa.
"Marvin!" teriak Marquez. ia berharap adiknya itu tidak terlalu kasar kepada Elsa.
"Dia pantas mendapatkan itu, Kak!" seru Marvin.
"Aku tadi tidak bisa mengendalikan emosiku, aku hanya merasa terluka saat kau mengkhianati diriku dengan wanita itu! demi Tuhan aku tidak bermaksud membuatnya celaka!" ucap Elsa. air matanya jatuh secara bergantian membasahi wajahnya.
"Apa kau tau, Elsa? aku memang melakukan sebuah kesalahan. tapi, aku sudah memantapkan niatku untuk menikahimu. dan berharap bisa membesarkan anakku dan Amoera bersamamu. tapi, sekarang kau sudah mengubah semuanya. aku tidak akan pernah mau menikah denganmu!"
"Dan jika sesuatu buruk terjadi kepada Amoera. aku sendiri yang akan melenyapkan kalian berdua!" seru Marvin bahkan ia menggertakan giginya menahan rasa geram yang tak bisa ia kendalikan.
Elsa hanya menangis ketakutan, napasnya naik turun tak beraturan. wajahnya begitu memucat seakan tak teraliri darah sama sekali di sana.
Tiba-tiba tubuh wanita itu ambruk tepat di hadapan Marvin.
Marvin dan Marquez seketika itu panik. mereka memanggil nama Elsa dan menepuk-nepuk pipinya. namun, Elsa tetap tak sadarkan diri. Marvin mengangkat tubuh wanita itu dan segera memanggilkan dokter. dokter menyuruh Marvin meletakan Elsa di atas pembaringan. dokter dengan cepat memeriksa keadaan Elsa. sementara, Marvin dan Marquez menunggu di luar.
"Kak, aku akan pergi menemui Amoera." Marvin hendak pergi dari sana.
"Marvin, tunggu sampai Elsa sadar!" tutur Marquez.
"Aku sudah tidak memperdulikannya, Kak." dokter yang memeriksa Elsa keluar dari ruangan itu dan menemui Marquez dan juga Marvin hingga membuat Marvin mengurungkan niatnya untuk menemui Amoera.
"Apa salah satu dari anda adalah suami Nona Elsa?" tanya Dokter sembari bergantian menatap Marvin dan juga Marquez.
"Kenapa dengan dia, Dok?" tanya Marquez.
"Tidak, ada apa-apa, Nona Elsa baik-baik saja. hanya saja awal kehamilan memang terlalu rentan, jadi, tolong lebih di perhatikan lagi terutama asupan nutrisinya." kedua mata Marvin dan Marquez membulat dengan sangat sempurna saat mendengar pernyataan dokter.
"Elsa hamil?" bibir Marvin memastikan kembali dan dokter membenarkannya dan segera berlalu pergi dari sana.
"Marvin, kau menghamili Elsa?" tanya Marquez. namun, tanpa menjawab pertanyaan Kakaknya. Marvin meninggalkannya dan menyelonong masuk ke dalam ruangan Elsa. Marvin menghampiri Elsa yang baru saja terlihat mengerjapkan kedua matanya untuk menyesuaikan cahaya yang menyorotinya dari ruangan itu.
"Kak Marvin?" Elsa beranjak bangun dan memperhatikan Marvin yang sedang menatap tak ramah kepadanya.
"Kau berbicara tentang berkhianat, sementara kau sendiri berkhianat kepadaku!" seru Marvin.
__ADS_1
"A-apa, ma-maksudmu, Kak?" tanya Elsa dengan gelagapan. Marvin mencengkram erat lengan Elsa hingga wanita itu memekik kesakitan.
"Apa teman laki-lakimu itu yang menghamilimu?" pertanyaan Marvin tiba-tiba terlontar begitu saja. membuat Elsa terkesiap saat mendengarnya.
"Kak Marvin, tanganku sakit. lepaskan! aku tidak tau maksudmu!" bantah Elsa.
"Marvin, lepasakan!" Marquez yang tiba-tiba datang seketika langsung menyingkarkan tangan adiknya dari lengan Elsa.
"Jangan berpura-pura tidak tau jika kau sedang hami! teriak Marvin.
"Ti-tidak, tidak mungkin... aku tidak hamil. aku--" wajah Elsa semakin memucat.
"Kau mengatai Amoera Pel**acur, wanita tidak tau diri, lalu bagaimana dengan dirimu?" Marvin berteriak tak bisa mengendalikan emosinya. napas Elsa naik turun dengan gemetar. yang ia lakukan saat itu hanyalah menangis.
"Marvin!" teriak Marquez.
"Kakak tidak tau apa - apa! jadi, jangan ikut campur!" seru Marvin.
"Aku sangat mencintaimu, Kak Marvin. aku mohon, jangan meninggalkanku. bukankah kau sudah berjanji dan bersumpah kepada Ibu akan menikahiku? tolong jangan meninggalkanku. tolong maafkan aku, tolong..." Elsa menggelayuti tangan Marvin dan menangis sesenggukan.
"Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah mau menikahimu!" seru Marvin. ia menggertakan giginya dengan geram.
"Marvin, Kakak tidak akan membiarkanmu berbuat sesukamu seperti ini. kau harus tetap menikahi Elsa, dia sedang hamil anakmu!" seru Marquez.
"Itu bukan anakku, Kak!" bantah Marvin.
"Kau jangan keterlaluan hingga tidak mau mengakuinya, kau ini laki - laki macam apa!" teriak Marquez.
"Apa yang mau di akui? untuk apa mengakui anak yang bukan anakku? Kakak tanya kepadanya saja!" Marvin dengan geram berlalu meninggalkan Marquez dan Elsa keluar dari ruangan itu. Marquez berkali - kali meneriaki nama Marvin, namun suaranya hanya terbuang dengan percuma.
"Kak, tolong bantu Elsa." Elsa memohon kepada Mrquez seraya menggelayuti tangannya.
"Jawab pertanyaan Kakak dengan jujur. apa itu anak Marvin?" tanya Marquez. Elsa hanya diam.
"Jawab pertanyaanku, Elsa?" tanya Marquez kembali.
"Aku tidak tau, Kak." Elsa menggelengkan kepalanya dan semakin mengencangkan tangisannya.
"Maaf, Elsa. Kakak tidak bisa membantumu." Marquez melepaskan tangan Elsa dari tangannya dan berlalu pergi dari sana.
"Kak Marquez...." Elsa berkali - kali memanggilnya. namun, Marquez sama sekali tak menghiraukannya.
"Kenapa jadi seperti ini? aku tidak mau anak ini, aku tidak mau berpisah dengan Marvin..." Elsa menangis sambil memeluk lututnya.
***
__ADS_1