
Amoera masih memperhatikan laki - laki yang saat ini dihadapannnya dengan senyuman yang menyeringai . ia mencoba mengingat ingat laki - laki yang ia rasa tak asing baginya .
" Amoera apa kau masih mengingatku ? " tanya laki laki itu .
" Ehmm . maaf apa kau Danny ? " tanya Amoera . ia masih memperhatikan kilas wajah laki laki itu .
" iya Amoera , aku Danny apa kau lupa denganku ? " tanya laki laki itu . ternyata laki laki itu adalah Danny tetangga Amoera waktu di kampung halamannya dulu . Danny dan Amoera ialah teman dekat dan Danny pernah mempunyai rasa terhadap Amoera , namun kedua orang tua Danny sangat menentang jika Danny berteman dekat dengan Amoera karna dari segi ekonomi keluarga Amoera sangatlah miskin sementara Keluarga nya ialah keluarga terpandang di desanya , Karna orang tua Danny yang takut akan anaknya yang dekat dengan Amoera , mereka terpaksa menjual rumah dan pindah dari desa tersebut .
" Astaga , Danny kau sungguh berubah , maaf aku hampir saja tidak mengenalimu " ucap Amoera . Danny pun menepiskan senyumnya ,
" Kau apa kabar ? sudah 6 tahun kita tidak bertemu dan Aku tidak menyangka kita bisa bertemu di Cambridge " tanya Danny
" Aku baik , iya kebetulan sekali kita bertemu disini " saut Amoera .
" Bukannya kau di Desa tinggal bersama ibu tirimu ? karna aku sempat mendengar kabar kalau ayahmu meninggal 5 tahun yang lalu " ujar Danny . Amoera terdiam sejenak .
" Ehem iya memang ayahku sudah meninggal ceritanya panjang , ehm apa kau tinggal disini ? " tanya Amoera .
" Tidak , aku dan keluargaku tinggal di London , disini aku tinggal hanya beberapa minggu saja karna aku sedang memantau proyek pembangunan pabrik ku " ucap Danny .
" Oh , " Amoera membulatkan mulutnya .
" Kau disini tinggal dimana? " tanya Dannu , kedua mata nya memperhatikan tubuh Amoera .
" Aku tinggal di dekat sini tepatnya di belakang Gereja " saut Amoera.
" Ehm, Kau sudah menikah ? " tanya Danny . Amoera menggelengkan kepalanya .
" Ta-pi kau .. kau terlihat sepertinya sedang hamil " ucap Danny dengan sedikti takut akan salah bicara . Amoera hendak berbicara namun ia urungkan karna terkejut akan mendengar suara Marvin .
" Amoera " panggil Marvin dengan mengernyitkan dahinya . Amoera pun menoleh ke arah Marvin yang tiba - tiba sudah berada persis di hadapannya
__ADS_1
" Marvin , ada apa ? " tanya Amoera .
" Kita pulang " Ajak Marvin seraya menggenggam tangan Amoera .
" Kita kan baru saja kemari , kenapa pulang terlalu cepat ? " tanya Amoera .
" Apa dia suamimu? " tanya Danny. Amoera hanya terdiam kemudian menggelengkan kepalanya .
" Kenalkan aku Danny teman Amoera " ucap Danny seraya menyodorkan tangannya kepada Marvin, namun marvin hanya diam saja tak menjabat tangan Danny hingga Danny menarik tangannya kembali
" Amoera ayo " ajak Marvin.
" Danny, aku permisi pulang dulu. Senang bisa bertemu denganmu lagi, sampai jumpa di lain waktu. " pamit Amoera. Marvin menarik tangan Amoera dengan paksa untuk menghampiri Alice .
" Marvin bisakah berjalan dengan pelan " tanya Amoera . namun Marvin tak menggubrisnya .
" Kakak, Amoera, ada apa " tanya Alice.
" Kakak, kita kan baru saja sampai! Alice belum puas bermainnya " seru Alice.
" Kita bisa bermain lagi besok, kakak tiba tiba ada urusan dadakan " ajak Marvin. Dengan berdecak kesal Alice pun terpaksa mengiyakan perintah kakaknya tersebut. Marvin terlebih dulu mengantar Amoera pulang. Ia mengantar wanita itu hingga kedalam kamar dan menyuruh Alice untuk menunggu di dalam Mobil.
" Istirahatlah " perintah Marvin namun Amoera tak menggubrisnya . Marvin hendak berlalu meninggalkan Amoera namun ia mengurungkannya dan berbalik ke arah Amoera .
" Ada apa lagi ? " tanya Amoera.
" Jangan bicara dengan orang asing lagi " ucap Marvin .
" Danny bukan orang asing dia temanku dulu " seru Amoera.
" Sama saja ! aku tidak suka melihatmu bicara dengan siapapun itu termasuk dia " seru Marvin dengan setengah berteriak .
__ADS_1
Amoera pun beranjak berdiri mendekati Marvin .
" Kau bukan siapa siapaku jadi kau tidak berhak melarangku untuk berbicara kepada siapapun " seru Amoera rasanya ia kesal terhadap apa yang di larang Marvin kepadanya.
" Jelas aku berhak ! kau sekarang sedang bersamaku jadi kau harus menuruti apa yang aku katakan " teriak Marvin.
" Aku bersamamu karna kau sendiri yang menahanku disini ! itu karna sebuah kesalahan dan kau yang menyebabkannya! kau yang membuatku hidupku menderita. dan sekarang kau melarangku untuk berbicara kepada orang lain. atas hak apa sampai kau melarangku seperti itu ? " teriak Amoera dengan mendorong tubuh Marvin . namun Marvin membungkam dan tak bergemming.
" Pergi dari sini aku tidak ingin melihatmu " teriak Amoera seraya membalikan badannya karna tak ingin melihat Marvin. air mata Amoera yang sempat ia tahan kini tak lagi terbendungkan . ia memejamkan matanya dan menangis akan perasaan sesak yang saat ini menghujam dadanya. Marvin masih berdiri memperhatikan Amoera yang menangis membelakanginya . tak ambil lama Marvin pun keluar dari kamar Amoera dan mengajak adiknya untuk pulang terlebih dahulu . saat perjalanan pulang rasanya pikiran Marvin di kacaukan kembali oleh Amoera sangat sangat kacau akan memikirkan wanita itu hingga membuatnya tak fokus .
setelah mengantarkan Alice pulang tanpa turun dari mobilnya Marvin pun kembali melajukan mobilnya entah dirinya akan pergi kemana.
* Malam harinya
Terlihat mobil milik Marvin berhenti di depan rumah Amoera . dengan menghela nafas ia pun turun dari mobil tersebut . bahkan sudah hampir tengah malam rumah yang di tempati Amoera terlihat begitu sepi. Bi Lian dan Amoera pasti sudah tertidur.
Marvin melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu dan ia mulai membuka pintu itu dengan kunci cadangan miliknya .
saat pintu sudah terbuka Marvin masuk kedalam kamar Amoera , dan ia melihat wanita itu sedang tidur dengan posisi miring , mungkin itu posisi ternyaman bagi keadaan Amoera saat ini . Marvin melepaskan sepatu dan jas yang ia kenakan saat ini . ia sejenak memperhatikan wajah Amoera seraya memejamkan matanya akan perasaan yang tak menentu . Marvin menjatuhkan tubuhnya disamping Amoera dan memeluknya dengan begitu erat . Amoera yang merasakan aa sesuatu yang melingkar di tubuhnya ia pun langsung mengerjapkan kedua matanya .
visual Marvin nih .
Maaf ya aku slow update , pikiranku lari kemana mana . sebenarnya cerita Amoera ini mau ngga aku lanjutin dulu untuk beberapa waktu tapi kok gak tega . hampir tiap hari aku di teror pembaca lewat DM instagram buat update duhh jadi bingung kan akunya wkwk
jangan lupa likenya dongg
__ADS_1