Amoera Is My Lady

Amoera Is My Lady
Antar aku ~ Amoera


__ADS_3

Albert segera memberi tau Marquez bahwa Amoera sudah sadarkan diri.  Marquez tak percaya sebelum melihatnya sendiri. ia sejenak meninggalkan Marvin yang kala itu belum bangun. Marquez dan Albert kembali ke ruangan Amoera. namun, mereka berdua mendapati Amoera tertidur.


"Albert, apa kau membohongiku, mana, katamu Amoera sadar?" tanya Marquez.


"Dia memang sudah sadar. mungkin dia istirahat. karna dokter menyuruhnya untuk beristirahat," jawab Albert.


"Kau tidak berbohong kan?" tanya Marquez yang masih belum percaya.


"Marquez, untuk apa aku berbohong? Amoera benar-benar sudah sadar. dia tadi berbicara denganku. apa aku perlu membangunkannya agar kau percaya?"


"Tidak. tidak perlu! aku percaya!" saut Marquez. senyuman bahagia menyeringai wajahnya.


"Adikku pasti senang jika tau Amoera sudah sadar," ucap Marquez.


"Iya, kita beri tau besok pagi saja. agar mereka beristirahat," tutur Albert. Marquez mengiyakannya dan segera kembali ke ruangan Marvin.


 


 


***


 


 


Keesokan paginya Marquez dan Albert pergi ke ruang Amoera dan meninggalkan Marvin sendirian. karna kebetulan, Marvin belum juga bangun dari pengaruh obat tdur yang semalam sempat di berikan lagi oleh dokter.


di ruangan Amoera, beberapa perawat terlihat sibuk melepas selang dan monitor detak jantung yang masih melekat di tubuh Amoera. karna,  Amoera hendak di pindakan ke ruang lain.


Amoera yang masih tidur. ia di dorong ke ruangan barunya. Marquez dan Albert berdiri mengapit Amoera untuk menunggunya bangun.


tak lama kemudian, kedua mata Amoera mengerjap. matanya yang buram bergantian melihat ke arah Albert dan Marquez.


"Kak Marquez." Amoera berucap lirih menatap laki-laki yang saat ini tersenyum kepadanya.


"Amoera... kita bertemu kembali," sapa Marquez. Amoera tersenyum kepada  Marquez.

__ADS_1


"Di mana Marvin?" tanya Amoera.


"Ehm... dia sedang beristirahat," jawab Marquez.


"Iya, Amoera. Marvin benar-benar lelah jadi dia butuh banyak istirahat. nanti dia akan kemari menemuimu," saut Albert. Amoera menganggukan kepalanya.


"Aku ingin duduk," pinta Amoera. Marquez dan Albert segera membantu Amoera untuk duduk. Amoera ingin sekali menanyakan keberadaan anaknya. Namun, ia tak berani. Karna merasa situasinya sepertinya kurang tepat.


Tak lama kemudian, terlihat Alice dan juga Clarissa yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu. Karna, tadi pagi, Marquez sempat menghubungi orang rumah dan memberitaukan kabar Amoera. dan saat tau bahwa Amoera sudah sadar dari komanya. Alice dan Clarissa segera pergi ke rumah sakit. Seperti biasa, Clarissa menitipkan anaknya kepada Bi Lian dan juga Bi Yonna.


"Amoera?" sapa Alice dengan begitu bahagianya. Ia berjalan cepat mendekati amoera dan segera memeluknya.


"Amoera,  aku sangat senang sekali kau sudah sadar. Aku sangat merindukanmu." Alice memeluk erat tubuh Amoera. Amoera hanya tersenyum dan membalas pelukan itu.


"Alice,  jangan erat-erat! Amoera baru saja sembuh!" tutur Marquez.  Alice segera melepas pelukannya.


"Amoera,  ini Clarissa istriku. Dia juga selalu bergantian menamani dirimu di sini," ujar Marquez.


"Hallo,  Nona Amoera. Akhirnya kau sudah sadar. aku Clarissa." Clarissa menyodorkan tangannya kepada Amoera.


"Hai Nona Clarissa,  terimakasih banyak. Maaf jika selama aku koma aku merepotkanmu." Amoera menjabat  tangan Clarissa. Dan Clarissa langsung memeluk tubuh Amoera.


 


***


 


Di ruangan Marvin,


Marvin terlihat mengerjapkan kedua matanya.  Ia terbangun dan tidak melihat siapapun di sana. Ia kembali melepas selang dan inpusnya. Tubuhnya yang lemas mengajaknya turun dari pembaringan itu. dengan langkah kaki yang gemetar,  ia menyeret berjalan keluar dari ruangan itu. Tangannya berpegangan apapun yang bisa untuk dirinya berpegang.  Ia mengatur napasnya yang ia rasa begitu berat ketika di hembuskan. Sejenak ia berhenti kemudian melanjutkan kembali. Marvin kembali berjalan menuju ke ruangan Amoera yang hampir saja ia jangkau. Ia semakin mempercepat langkah kakinya karna benar-benar tak sabar melihat wanita itu.


 


Setibanya di sana, Marvin masuk ke dalam ruangan yang pintunya terbuka dengan begitu lebar. Kedua alis Marvin menaut dengan tajam saat melihat ruangan itu kosong.


"Di mana Amoera?" kepanikan merampas raut  wajah laki-laki itu. ia lebih dalam memasukan tubuhnya ke ruangan itu. agar kedua matanya melihat dengan leluasa. namun ia tak mendapati siapapun di sana.

__ADS_1


 


"Amoera..." Marvin berteriak sekencang mungkin memanggil nama itu tanpa mempedulikan apapun. Tubuhnya kembali mengajak keluar dari ruangan yang kosong itu. Ia menarik siapa saja yang melintas di depannya tak dan kebetulan seorang perawat yang tak sengaja melintas di sana.


"Di mana Amoera?" pertanyaan Marvin dengan suaranya yang begitu keras membuat perawat itu ketakutan.


"Siapa yang anda maksud, Tuan?" tanya perawat itu dengan nada gemetar.


"Wanitaku...  Amoera... Dia sedang koma di ruangan ini. Di mana dia?  Cepat katakan!" teriak Marvin. napasnya  naik turun dengan cepat.


Tak sedikit perhatian tersita ke arahnya. rumah sakit menjadi heboh akan kekacauan yang di buat Marvin.


"Saya tidak tau, Tuan. Lebih baik anda tanyakan ke ruang Admisi," tutur Perawat itu. Ketakutan masih terlihat mencekam di wajahnya.


"Aku mau Amoera...  Katakan di mana dia!" suara Marvin semakin mengeras. beberapa orang yang ada di sana mencoba menenangkan amarahnya.  Namun usahanya sia-sia.


"Marvin..." suara seorang perempuan menyita perhatian Marvin. terlihat Clarissa yang saat ini sedang berjalan menghampirinya dengan langkah cepat.


"Kak Clarissa,  di mana Amoera? Ke mana dia? Dia tidak ada di ruangannya. Beri tau aku di mana dia, Kak. aku mau menemuinya." Marvin mencekram erat bahu Clarissa karna tak sabar mendengarkan jawaban dari kakak iparnya itu.


"Marvin,  tenanglah. Amoera di pandahkan ke ruangan lain. Dia sudah sadar," ujar Clarissa dengan suara lembut.


"Amoera sadar?" tanya Marvin. Clarissa mengangguk di selingi dengan  senyumannya.


"Kakak tidak berbohong?" tanya Marvin.


"Tidak Marvin,  Amoera sudah sadar. Aku baru saja berbicara dengannya," ucapnya kembali.


"Antar aku! Antar aku menemuinya!" Marvin menarik tangan Clarissa dengan tidak sabar. Clarissa segera menuntun Marvin menuju ke ruangan Amoera yang letaknya cukup jauh dari sana.


 


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2