Amoera Is My Lady

Amoera Is My Lady
Mengendalikan ~ Amoera


__ADS_3

Marvin menggedor keras pintu rumah Bobby yang kala itu masih tertutup.


"Kak Marvin..." Elsa semakin gemetar.


"Diam!" teriak Marvin. tak lama kemudian, seorang wanita paru baya yang tak lain pembantu Bobby membuka pintu itu.


"Selamat siang, Tuan. ada yang bisa saya bantu?" tanya pembantu itu. ia bergantian memandangi Marvin dan Elsa yang masih menangis. bahkan pembantu itu tak sungkan menyebut nama Elsa.


"Mana Tuanmu? suruh dia keluar menemuiku!" seru Marvin.


"Maaf, Tuan. Tuan muda sedang di beribadah. Tuan muda tidak bisa di ganggu saat ini, kau bisa kembali satu jam nanti," ujar pembantu itu dengan menundukan pandangannya. Marvin mencengkram erat lengan wanita paru baya itu hingga membuatnya mendelik ketakutan.


"Cepat panggilkan, atau aku yang akan mengacaukan rumah ini!" teriak Marvin. ia benar-benar tidak bisa mengontrol amarahnya.


"Ba-baik, Tuan." Marvin melepas wanita itu. dan saat wanita itu berbalik badan hendak memanggilkan Bobby. tiba-tiba Bobby terlihat turun dari tangga.


"Ada apa kau mencariku?" suara Bobby menggema di seluruh ruangan itu. rasanya Marvin begitu jijik mendengar suara laki-laki itu. Bobby menyuruh pembantunya tersebut untuk masuk ke dalam. Bobby semakin berjaln mendekati Marvin dan Elsa. Marvin dengan keras mencengkram tangan Elsa dan mendorongnya ke arah Bobby.


"Berani sekali kau kasar dengan Elsa!" teriak Bobby. ia mendekati Marvin dan mencoba memberinya pukulan. namun Marvin menangkisnya. mereka melakukan adu pukul tanpa senjata. bahkan, darah di antara mereka tak sedikit bercecer di sana. Elsa histeris teriak ketakutan mencoba menghentikannya. namun, semuanya percuma. bahkan,  beberapa Pembantu Bobby kini hanya menjadi penonton di sana. mereka semua ingin melerai, namun, itu tidak mungkin mereka lakukan.


Setiap pukulan yang di berikan oleh Bobby selalu Marvin balas lebih dari dua kali. bahkan, saat bayangan Amoera tak lepas memenuhi isi kepalanya, membuat dirinya semakin murka. Marvin yang semakin di penuhi amarah. ia mengepalkan tangan kekarnya dan menghantam wajah Bobby berulang kali. tak sedikit luka dan darah  terlukis di wajahnya. tak puas akan hal itu, Marvin mencoba mengunci kedua tangan Bobby dan membekuk tulang lehernya hingga laki-laki itu tersungkur di lantai.


"Kau pantas menerima ini! bahkan, sepuluh nyawamu saja tidak akan cukup mengganti semuanya!" rasanya, kata-kata Marvin terdengar seperti kutukan. ia menginjak dada Bobby hingga laki-laki itu kesulitan bernapas dan bergerak. Marvin menggertakan giginya dengan begitu geram. bahkan,  darah yang tercucur di dahinya kini menetes mengotori baju Bobby. Marvin mengambil pistol yang sempat ia selipkan di saku celananya tadi dan menodongkan pistol itu tepat di atas kepala Bobby. rasanya Marvin ingin sekali menghujam dalam-dalam setiap peluru ke tubuh laki-laki itu.

__ADS_1


"Marvin jangan..." Elsa berteriak dan menghalangi Marvin.


"Minggir! atau aku menarik pelatuk ini ke arahmu!" teriak Marvin.


"Tolong jangan... tolong, aku mohon jangan membunnuhnya..." Elsa bersujud dan memohon di bawah kaki Marvin.


"Dia pantas mati. bahkan nyawanya saja tidak bisa menggantikan apa yang Amoera rasakan!" suara Marvin terdengar seperti tak main-main di telinga Elsa. bahkan, selama dia mengenal Marvin. dia tidak pernah melihat sisi buruk Marvin yang seperti ini.


"Kau berbicara rasa sakit. kau juga pernah menyiksa wanita itu bukan?" Elsa mencoba memberanikan berbicara.


"Aku menyiksanya karna sebuah kesalahpahaman. waktu itu aku kehilangan Ayahku dan tidak bisa mengendalikan emosiku seperti ini!" gigi Marvin semakin menggertak seakan tak tahan ingin dengan segera menarik pelatuk pistol itu.


"Elsa minggirlah, biarkan saja. memang aku bersalah karna memukul wanita itu!" ujar Bobby dengan suara terbata-bata.


"Marvin, lebih baik kau membunnuhku dari pada aku harus membesarkan anakku tanpa seorang ayah. bunnuh aku saja... bunnuh-lah aku... jangan membunnuhnya. dia hanya membantuku saja, dia benar-benar tidak sengaja melukai Amoera, ayo bunuh-lah aku." Bobby membulatkan kedua matanya seakan tak percaya apa yang baru saja Elsa katakan.


"Elsa... apa yang kau katakan?" Bobby mencoba bangkit. namun, beban kaki Marvin yang saat ini menginjak dadanya. membuat Bobby kesulitan untuk bangun. napas laki=laki itu terdengar tersengal-sengal.


"Aku sekarang sedang hamil anakmu, lebih baik aku yang mati. aku sudah lelah seperti ini." suara Elsa yang memberat dan di iringi isakan tangisnya itu. bahkan, terdengar begitu jelas di telinga Marvin.


"Drama yang menjijikan!" seru Marvin.


"Lebih baik kalian berdua yang ku lenyapkan!" seru Marvin.

__ADS_1


"Marvin cukup!" suara seorang laki-laki membuat kepala Marvin memutar ke belakang. ia melihat Albert berdiri di ambang pintu dan saat ini, temannya tersebut berjalan menghampirinya.


"Cukup Marvin! jangan mengotori tanganmu. tolong kendalikan emosimu!" tutur Albert.


"Pergi dari sini! jangan ikut campur masalahku!" Marvin mengeraskan suaranya.


"Marvin, tolong jangan membuat kesalahan untuk kesekian kalinya! apa dengan membunuh dia, akan mengembalikan semuanya? apa kau bisa meredam amarahmu? tidak!" Albert menggeleng kepalanya.


"Ayolah, Marvin, tolong. Amoera tidak akan senang melihatmu seperti ini. aku tau kau sangat mencintai wanita itu? kalau kau membunuh dia, kau akan menambah masalah baru. tolong..." Albert berjalan perlahan dan mendekati Marvin. napas Marvin naik turun karna mencoba menenangkan dirinya sendiri, "Marvin,tolong jangan biarkan emosi mengendalikanmu!" Marvin sejenak mencerna kata-kata Albert.


"Marvin, semua orang pernah melakukan kesalahan. tak terkecuali dirimu. jangan mengotori tanganmu, kau bukan pembunuh!" tuturnya lagi. seketika itu Marvin langsung menjauhkan pistol itu dan berlalu pergi dari sana. Albert begitu lega dan segera mengikuti Marvin dari belakang. Marvin kembali mengendarai  mobil dan melajukannya dengan secepat mungkin untuk kembali ke rumah sakit. sementara, Albert juga mengikuti Marvin dengan menggunakan mobil miliknya  dari belakang.


 


 


***


Sebelumnya, Albert mendapat kabar  dari Marquez tentang keberadaan Amoera bahwa wanita itu sedang di rawat di rumah sakit.


saat tau kabar tersebut. Albert segera mendatangi rumah sakit. namun, saat dirinya sampai di rumah sakit dan menanyakan keberadaan Marvin kepada Marquez. Marquez memberitau kalau Marvin sedang pergi. dan Marquez juga menceritakan semua kronologi kejadian sebenarnya kepada Albert. Albert pun sangat terkejut, ia sangat tau betul bagaimana  Marvin. laki-laki itu tidak bisa mengendalikan emosinya jika benar-benar merasa terluka. Albert pun segera menyusul Marvin yang kala itu masih belum jauh. hingga Albert mampu mengejar dan membuntuti  mobil Marvin dari belakang. namun, sialnya, saat di tengah perjalanan, ban mobil milik Albert pecah. hingga membuat waktunya tersita akan hal  itu. bahkan membuat laki-laki itu harus kehilangan jejak Marvin. Albert terpaksa mengganti ban mobilnya terlebih dahulu. setelah Albert mengganti ban mobil miliknya. ia perlahan - lahan mencari keberadaan Marvin. dan pencariannya terhenti saat melihat mobil Marvin terparkir di depan rumah mewah yang tak lain ialah rumah Bobby. dengan segera, Albert turun dari mobil dan masuk ke dalam sana.


 

__ADS_1


 


__ADS_2