
Sementara di ujung sana, kedua mata Elsa membulat dengan sempurna saat melihat seorang wanita tak asing di kedua matanya yang kembali masuk ke dalam rumah itu.
"Dia..."
"Apa kau mengenal wanita itu?" tanya Bobby. Elsa hanya diam dan menggeram dengan penuh amarah.
Ia seketika turun dari mobil dan berjalan mendekati rumah itu. Bobby berkali - kali meneriaki dan memanggilnya. namun, Elsa sama sekali tak menghiraukannya. Bobby pun terpaksa turun mengikuti Elsa.
Elsa dengan segera menggedor pintu itu dengan sangat keras.
Amoera yang sedang berada di dalam kamar bersama Marvin dan baru saja mendudukan tubuhnya, begitu kaget akan suara gedoran keras pintu itu.
"Siapa yang tidak sopan mengetuk pintu seperti itu," ucap Marvin.
"Sebentar, aku akan membukanya." Amoera hendak beranjak.
"Jangan, biar aku saja." Marvin berlalu keluar hendak membukakan pintu rumah. Amoera pun juga penasaran dengan tamu yang ia rasa tak sopan itu. Ia segera mengikuti Marvin dari belakang.
Amoera memghampiri Marvin yang sedang membukakan pintu rumah itu.
Ceklek (pintu terbuka)
Kedua mata Marvin dan Amoera terkesiap bukan main saat melihat Elsa berdiri di depan pintu rumah dengan begitu murkanya.
"Elsa?" Marvin benar-benar terkejut Saat melihat kekasihnya berdiri di sana.
"Kau sedang apa di sini bersama dia?" tanya Elsa dengan bibir gemetarnya seolah ia tak percaya apa yang sedang ia lihat saat ini. ia beralih melihat perut Amoera yang nampak membesar di kedua matanya. Elsa mencoba menenangkan Dirinya untuk berpikir yang tidak - tidak dan menunggu jawaban atas pertanyaan yang baru saja ia lontarkan kepada Marvin.
"Marvin jawab aku! kenapa kau diam saja? Kenapa kau di sini bersama dengan wanita ini?" teriak Elsa. semua amarahnya sudah hampir terkumpul di ubun-ubunnya seakan siap meledak. Tubuh Amoera gemetar hebat akan ketakutan yang saat ini ia rasakan. jantungnya berdegup tak karuan melihat situasi yang mencengangkan saat ini.
"Elsa, masuklah dulu kita bicara di dalam," ajak Marvin. ia menarik tangan Elsa.
"Jangan menyentuh dia!" Bobby menepis kasar tangan Marvin.
"Siapa kau!" Marvin mengernyitkan dahi saat melihat laki - laki yang ia anggap asing itu. namun, saat ini Marvin tak menghiraukan Bobby. di pikirannya hanya bagaimana caranya menenangkan Elsa dan perlahan memberitaunya.
"Ayo Elsa masuklah dulu. kita bicarakan di dalam." Marvin merayunya kembali dengan menarik tangan Elsa.
"Aku tidak mau! katakan di sini!" teriak Elsa. namun Marvin kebingungan harus menjawab apa. Ia terdiam seribu bahasa dan mengusap kasar wajahnya.
"Elsa..."
"Kau mengkhiantaiku?" bibir Elsa berucap gemetar di iringi dengan air matanya.
__ADS_1
"Kau mengkhianatiku Marvin!" Elsa mendorong tubuh Marvin. Air matanya berderai tak karuan. Amoera memundurkan langkah kakinya dan semakin ketakutan melihat ini semua.
"Elsa, aku akan menjelaskan semuanya. Tenanglah dulu!" Marvin menarik tangan Elsa berharap kekasihnya itu mau mendengarkannya.
"Wanita ini hamil anakmu?" tanya Elsa.
"Elsa... "
"Jawab aku Marvin!" Elsa menarik - narik kera baju Marvin dengan isakan tangisnya yang semakin mengencang. Marvin menganggukan kepalanya dengan pasrah. kenapa Elsa harus mengetahui ini semua di saat seperti ini?
"Elsa, tolong masuklah dulu!" Marvin menarik tubuh Elsa.
"Aku tidak mau! Kau keterlaluan. Kenapa kau mengkhianatiku?" Elsa semakin mengencangkan tangisannya.
"Elsa, ini hanya kecelakaan." ujar Marvin. suaranya kini semakin mendatar dengan sedikit bingung.
"Kalau hanya kecelakaan, kenapa kau tidak menggugurkan anak itu?" teriak Elsa.
"Elsa kenapa kau berbicara seperti itu. tenanglah sebentar!"
Elsa yang begitu murka, tak menghiraukan perkataan Marvin. ia mendekati Amoera dan menampar keras wajah wanita itu. Marvin menahan tubuh Elsa.
"Pela**cur, wanita tidak tau diri!" teriak Elsa kepada Amoera.
"Nona Elsa..." Amoera memanggilnya dengan ketakutan.
"Lepaskan aku Marvin..." Elsa memberontak hingga lepas dari tangan Marvin. Ia menarik rambut Amoera dan mendorongnya hingga membuat Amoera hendak terjatuh.
"Elsa...." Marvin berteriak melantangkan suaranya dan ia segera membantu Amoera.
"Kau berani menyentuh Amoera aku tidak akan pernah memberimu ampun!" teriak Marvin dengan penuh penekanan. Amoera hanya menangis dengan ketakutan akan hal ini. sesuatu yang ia takutkan akhirnya terjadi.
"Dia pantas mendapatkan itu. wanita tidak tau diri!" amarah dan suara Elsa semakin tak terkendali.
"Ikut aku pulang." Marvin dengan kasar menarik Elsa hendak keluar dari sana. Elsa memberontak seakan tak ingin melepaskan Amoera begitu saja.
"Jangan kasar kepada Elsa!" Bobby menarik Elsa dan menghajar Marvin. ia memberi pukulan berat kepada Marvin saat melihat Marvin memperlakukan Elsa dengan sekasar itu.
"Siapa, kau? berani sekali kau memukulku?" teriak Marvin, ia hendak memukul balik Bobby namun Bobby menangkisnya.
"Jangan pernah kasar dengan Elsa, atau aku sendiri yang akan mengambil nyawamu!" teriak Bobby. ia kembali menghajar Marvin. Marvin yang sudah di penuhi Amarah dan tak bisa mengendalikan emosinya, seakan tak terima akan perlakuan laki - laki asing itu. ia membalas setiap pukulan yang ia terima bahkan lebih dari sekali.
"Bobby, tolong hentikan," teriakan Elsa menggema dengan percuma. mereka berdua masih melakukan baku hantam. bahkan tak sedikit darah melukis di tubuh mereka berdua.
"Marvin." Amoera benar - benar ketakutan dan hendak melerainya. namun, ia sendiri takut jika terluka dan terkena pukulan mereka.
"Tolong hentikan!" Amoera ikut bersuara. Perhatian Elsa seketika beralih ke arah Amoera.
__ADS_1
"Ini semua gara - gara dirimu! dasar pelac**ur " Elsa menghampiri Amoera dan menarik rambutnya.
"Nona Elsa, sakit. tolong lepaskan," Amoera meringis kesakitan saat tangan Elsa melilit di rambutnya. Elsa menampar wajah Amoera berkali - kali dan mendorong tubuh Amoera hingga terpental ke tembok.
"Elsa!" suara Marvin terdengar tatkala perhatiannya teralihkan saat ia melihat Elsa menyakiti Amoera. Marvin menendang tubuh Bobby hingga tersungkur di lantai. seketika itu ia langsung menghampiri Amoera.
"Berani sekali kau menyakiti Amoera?" Marvin berteriak dengan penuh amarah hingga mendorong keras tubuh Elsa dan membuatnya terjatuh. Bobby segera menahan tubuh wanita yang ia cintai itu.
"Marvin." Amoera membulatkan kedua matanya saat merasakan perutnya tiba-tiba kencang bahkan ini lebih menyakitkan.
"Amoera kau kenapa, apa kau baik - baik saja?" tanya Marvin. Raut wajah laki - laki itu semakin panik saat melihat Amoera seakan sedang menahan napasnya.
"Amoera kau kenapa?"
"Pe-rutku sa-kit se-ka-li." Amoera berucap tak jelas. bahkan, kini terlihat cairan bening yang mengalir deras mengaliri kaki jenjangnya. Amoera begitu terkejut.
"Marvin... " Amoera semakin meringis kesakitan. cairan bening itu kini di sertai dengan bercak darah. bahkan semakin menderas di sana.
"Amoera, aku akan membawamu ke dokter." Marvin mencoba membantu Amoera berdiri.
Namun, Marvin yang lengah dan perhatiannya di sita oleh Amoera, membuat Bobby memiliki kesempatan untuk membalasnya. ia begitu tak terima laki - laki itu menyakiti hati Elsa. Bobby mengambil gucci yang terlihat di sudut ruangan itu. dengan penuh amarah laki - laki itu mengangkat gucci itu. Ia berjalan menghampiri Marvin yang sedang terlihat nampak membelakanginya membantu Amoera.
"Bobby, jangan!" Elsa mencoba menghentikan Bobby. namun rasanya percuma. kedua mata Amoera begitu terkejut saat melihat laki - laki asing itu mengangkat gucci dan hendak memukulkan gucci tersebut ke arah Marvin.
Amoera berteriak, ia menjauhkan tubuh Marvin dari sana. namun, sialnya, gucci itu malah mengenai kepala Amoera.
"Arghhh... " Amoera seketika itu terkapar di lantai dengan kepala yang tiba - tiba bersimbah darah akibat material keras dari guci itu.
"Amoera!" Marvin berteriak dengan begitu terkejut. ia mendekati Amoera kembali. Bobby dan Elsa juga terkejut.
"Bobby, kau melukainya!" teriak Elsa.
"Aku hanya ingin melukai Marvin bukan wanita itu." percakapan itu teratangkap di telinga Marvin. Bobby sendiri panik dan kebingungan karna dia sudah melukai seorang wanita.
"Nona Amoera... " Bi Lian yang tiba - tiba terlihat dari depan pintu dan pulang dari pasar itu begitu terkejut. Ia membiarkan barang belanjaan di tangannya terjatuh dan tercecer di lantai begitu saja.
"Nona Amoera..." Bi Lian segera berlari mendekati Marvin yang sedang panik memeluk Amoera.
"Amoera... Amoera... " Marvin merengkuh tubuh Amoera. Amoera masih membuka kedua matanya menahan rasa sakit itu, ia masih dengan jelas melihat Marvin yang kepanikan. namun, semakin lama kedua matanya semakin terpejam hingga membuatnya tak sadarkan diri.
"Amoera..."
"Nona ... Nona ... bangunlah..." Bi Lian semakin panik.
"Kaliannnnn... " Marvin mengalihkan pandangannya kepada Bobby dan Elsa. Ia hendak beranjak dan rasanya ingin sekali membunuh laki - laki itu.
"Tuan jangan. Nyawa Nona lebih penting. kita harus membawa Nona ke rumah sakit," tutur Bi Lian.
__ADS_1
Bobby yang ketakutan, segera menarik tangan Elsa untuk segera pergi meninggalkan tempat itu