Amoera Is My Lady

Amoera Is My Lady
Ternyaman ~ Amoera


__ADS_3

Keesokan paginya


Amoera hendak menemui Danny di taman hiburan, ia terlihat sudah bersiap dengan menggunakan mantel tebal yang membaluti tubuhnya. karna pagi itu cuaca memang sangat dingin hingga membuat siapa saja yang keluar dari tempat persinggahannya. ia akan merasakan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang belulangnya,


namun Amoera tak memperdulikan itu, karna dirinya sudah memiliki janji dan ia harus menepati janji itu.


Amoera keluar dari kamarnya dan pergi ke dapur menemui Bi Lian untuk meminta izin jalan - jalan kepadanya. Bi Lian sebenarnya tak mengizinkannya, namun karna paksaan Amoera. wanita paru baya itu akhirnya mengizinkannya.


ia melangkahkan kakinya ke arah pintu dan memutar gagang pintu rumah, saat pintu sudah terbuka, AmoerA hendak melangkahkan kakinya untuk segera meninggalkan rumah itu. namun kedua mata nya di kejtkan dengan sebuah mobil yang tiba - tiba sudah berada di halaman rumahnya, seorang laki - laki turun dari mobil itu. laki - laki itu tak lain ialah Marvin.


" Marvin. " Amoera berucap Lirih. sungguh tidak biasa sekali, Marvin datang sepagi ini ke rumah. Marvin berjalan mendekati Amoera.


" Kau mau kemana sepagi ini ?" Tanya Marvin, ia mengernyitkan dahinya sambil memperhatikan penampilan Amoera yang berbeda dari biasanya.


" Aku-- "


" Jawab yang jelas, kau mau kemana! " Marvin setengah berteriak hingga membuat wanita yang ada di hadapannya sedikit ketakutan.


" A-aku ingin jalan - jalan, " Jawab Amoera dengan menundukan pandangannya.


" Tidak ku izinkan, cuacanya dingin. cepat masuklah. " Perintah Marvin.


" Marvin, sebentar saja. " Pinta Amoera.


" Cepat masuklah. " Seru Marvin. namun Amoera tak bergemming akan posisinya, ia masih berdiri disan dengan menatap Marvni dengan tatapan sendunya, hingga membuat Marvin merasa tak tega.


" Baiklah, aku akan menemanimu. " Kata Marvin.


" Tapi, aku ingin jalan- jalan sendiri. " Ucap Amoera dengan wajah yang memelas.

__ADS_1


" Kalau begitu tidak usah, masuklah." Seru Marvin. ia begitu kesal akan Amoera.


" Baiklah, ayo temanilah aku. " Ucap Amoera. Marvin mengiyakannya dan hendak menggandeng tangan Amoera.


" Aku bisa berjalan sendiri. " Kata Amoera dengan melepaskan tangan Marvin dan berjalan mendahului laki - laki itu. Marvin hanya terdiam memperhatikan Amoera, rasanya ia begitu terluka akan penolakan Amoera baru saja, jelas saja, karna terlihat sekali bahwa tangan Marvin mengepal saat Amoera mencoba menjauhkan tangannya darinya.


Marvin berjalan mengikuti Amoera dari belakang hingga kini posisi di antara mereka berjalan dengan berdampingan. sesekali kedua mata Amoera melirik ke arah laki - laki yang ada di sampingnya saat ini seraya menggigit bibir bawahnya dengan perasaan bingung.


" Ya Tuhan ... aku harus bagaimana? Danny pasti sudah menungguku di taman. " Gumam Amoera dalam Hati. semakin lama tatapan mata itu berubah menjadi kosong dan wajah Amoera terlihat tiba - tiba memucat. Marvin yang sedari tadi memperhatikan Amoera mulai merasa begitu khawatir.


" Apa kau sakit? " Tanya Marvin. Amoera hanya menggelengkan kepalanya tanpa bersuara. Marvin meraih tangan Amoera dan mencoba menggenggamnya. ia merasakan tangan yang saat ini ia geggam begitu dingin.


" Ayo kita pulang. " Ajak Marvin.


" Tidak mau, aku masih ingin jalan - jalan. " Pinta Amoera dengan menarik tangannya dari Marvin.


" Tapi Marvin, aku masih--  "


" Pulang! aku sangat  tidak suka ada yang membantahku. " Bentak Marvin hingga membuat Amoera sedikit takut. Amoera terpaksa mengiyakannya. Marvin kembali menarik tangan Amoera dan mengajaknya kembali ke rumah.


 


Setibanya di rumah, Marvin mengajak Amoera masuk dan menutup erat pintu rumahnya. ia menyuruh Amoera masuk ke dalam kamarnya. Amoera merasa dirinya sudah seperti seorang tahanan. ia duduk di tepi tempat tidur dengan perasaan bingung sekaligus campur aduk.


kedua matanya menyorot ke arah pintu kamar yang baru saja terbuka, disana terlihat Marvin berjalan hendak menghampirinya dengan membawa sebuah cangkir berwarna putih yang berisikan teh jahe hangat di dalamnya. ia duduk mendekati Amoera.


" Minumlah, ini akan menghangatkan tubuhmu. " Kata Marvin dengan menyodorkan teh itu kepada Amoera.


" Letakan disitu saja, aku masih tidak ingin minum sesuatu. " Ucap Amoera. penolakan Amoera semakin membuat Marvin kesal mendengarnya.

__ADS_1


" Cepat minum! " Teriak Marvin. Amoera yang takut terpaksa mengiyakan dan meminum teh jahe tersebut hingga habis. Marvin beranjak berdiri dan meninggalkan kamar Amoera begitu saja.


" Masih 4 bulan lagi, setelah aku melahirkan anak ini. aku akan terbebas dari dia. " Gumam Amoera dalam hati seraya tangannya membelai lembut perutnya tersebut.


 


Malam harinya saat Amoera merasa mengantuk, Ia hendak menutup pintu kamarnya. namun tiba - tiba sesuatu ada yang menahan disana.


" Jangan ditutup pintunya. " Suara Marvin mengejutkan Amoera, tangannya menahan pintu itu dan ia mulai menerobos masuk ke dalam kamarnya.


" Kenapa kau masih disini? kau tidak pulang? " Tanya Amoera. namun Marvin hanya diam saja dan mata mereka sejenak beradu pandang. merasa tidak mendapat jawaban akan pertanyaannya, Amoera berlalu meninggalkan Marvin untuk naik ke atas tempat tidurnya. sementara Marvin,  ia duduk di sudut kamar Amoera dengan  menghisap  batang rokok dan menikmati kopi yang baru saja di antarkan oleh Bi Lian untuknya.


kedua matanya tak henti memperhatikan Amoera yang dari tadi berguling kesana kemari diatas tempat tidur. karna memang, Amoera merasa sulit tidur malam itu. ia mencoba memejamkan matanya namun pikirannya berlarian kemana - mana padahal ia sangat mengantuk. bahkan sesekali maa sendu itu melirik ke arah Marvin yang duduk di sudut kamarnya tersebut.


" Ada apa kau melihatku seperti itu? " Tanya Marvin. Amoera terkejut saat Marvin tau bahwa dirinya sedang melirik ke arah nya. Amoera mencoba beranjak duduk dari tidurnya dan mengatur nafas yang sedikit sesak akan baju yang ia kenakan semakin mengecil di tubuhnya.


" Aku tidak bisa tidur. " Ucap Amoera. Marvin sejenak menyeruput kopi hitam miliknya dan meletakan cangkir kopi itu kembali di atas meja. kemudian ia berjalan mendekati Amoera,


" Apa kau mau aku temani tidur ?" Tanya Marvin. Tanpa berpikir panjang, Amoera dengan cepat menganggukan kepalanya. ia kembali merebahkan tubuhnya dan Marvin juga ikut merebahkan tubuhnya di samping wanita itu.


" Tidurlah. " Ucap Marvin, ia melingkarkan tangannya di tubuh Amoera dan mendekapnya dengan begitu erat hingga membuat Amoera merasa nyaman akan itu semua. entahlah, ini benar - benar nyaman  bagi Amoera. Amoera membalikan tubuhnya hingga kini posisinya berhadap - hadapan dengan Marvin dan ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang laki - laki itu untuk mencari posisi tidur yang menurutnya nyaman, Marvin tak keberatan akan hal itu. dirinya justru  merasakan hal yang sama dengan Amoera. merasakan sebuah kenyaman yang sama sekali tak pernah ia rasakan bersama kekasihnya selama menjalin hubungan. Amoera memejamkan matanya dan tak lama kemudian ia tertidur di pelukan Marvin. kedua mata Marvin tak bergemming memperhatikan wajah cantik Amoera dengan sebegitu dekatnya. ia membelai kepala Amoera dan semakin menenggelamkan wajah wanita itu ke dalam pelukannya.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2