Amoera Is My Lady

Amoera Is My Lady
Obat tidur ~ Amoera


__ADS_3

Dengan langkah kaki yang panjang. Marquez menuju ke ruangan Amoera. ia melihat kondisi perempuan itu masih sama seperti sebelumnya. tak ada perubahan. Marquez rasanya begitu bingung akan ini semua. terlebih lagi, suara monitor detak jantung membuat kepalanya terasa pusing. Marquez mendekati Amoera dan duduk di sampingnya.


"Amoera, kenapa kau belum bangun? kau tidak kasihan dengan Marvin?" tanya Marquez.


"Apa kau tau, Marvin sekarang juga sedang sakit? dia sama sekali tidak pernah mau meninggalkanmu selama satu bulan ini. dia benar-benar sangat mencintaimu, tolong, tolong bangunlah demi adikku... tolong, Amoera! Tolong bangunlah! jangan membuat dirinya seperti orang kehilangan akal!" ucap Marquez sambil mengatupkan kedua tangannya.  Bahkan,  kedua matanya terlihat berkaca-kaca. Namun, Marquez hanya bisa menghela napas dengan percuma. ia tak mendapatkan apapun dengan berbicara seperti itu.


Marquez melemaskan tubuhnya. dengan raut wajah yang bingung. ia segera keluar dari sana. dan saat keluar dari ruangan Amoera. terlihat Clarissa yang tiba-tiba menghampirinya.


"Sayang, kau kenapa kemari? Flo dengan siapa? dan Alice?" tanya Marquez.


"Aku menitipkan Flo kepada Bi Lian dan Bi Yonna. dan Alice tadi istirahat karna terkena pengaruh obat. jadi aku kemari ingin menemanimu," ujar Clarissa.


'Baiklah." Marquez mendudukan tubuhnya di kursi tunggu yang ada di sana. Clarissa segera mengikuti suaminya tersebut.


"Kau kenapa, sayang?" tanya Clarissa.


"Marvin sakit, dan harus di rawat juga." Marquez berbicara dengan suara datarnya.


"Astaga... Marvin sakit?" tanya Clarissa.


"Iya, tadi dia tiba-tiba jatuh dan tidak sadarkan diri. dokter bilang tubuhnya mengalami dehidrasi berat dan otaknya kekurangan oksigen... Clarissa, aku sungguh bingung harus bagaimana." Marquez mengusap wajahnya dengan frustasi.


"Sayang, tolong bersabarlah..." Clarissa mencoba mengusap-usap bahu suaminya itu.


"Bagaimana aku bisa sabar? adikku seperti orang yang hampir kehilangan akal. dia sama sekali tidak beristirahat dan di pikirannya hanya ada Amoera saja. bahkan dia selalu saja marah-marah. sekarang dia sakit, aku sungguh takut, Clarissa. kenapa hidup keluargaku jadi sepert ini."


"Sayang..." Clarissa memeluk Marquez dan mencoba menenangkannya.


 


***


 


Sore harinya, Marquez menjaga Marvin di ruangannya. sedangkan Clarissa baru saja pulang dari  sana. dan Albert sendiri di suruh oleh Marquez untuk menjaga Amoera. bahkan, Marquez yang terlalu lelah membuat dirinya mengistirahatkan tubuhnya dengan sembarangan. ia terlihat tidur dengan posisi duduk di samping Marvin yang masih berbaring di tempatnya.


Kedua mata Marvin terlihat mengerjap. perlahan kelopak matanya terbuka dan sedikit menyesuaikan cahaya di ruangan itu. kedua matanya melirik dan kini  berpusat ke arah Marquez.


"Kakak?" panggil Marvin. Telinga Marquez tersentak hingga membuat dirinya terbangun. ia mengucek kedua matanya dan memperhatikan adiknya tersebut.


"Marvin,  kau sudah sadar?" tanya Marquez.

__ADS_1


"Kakak,  kenapa aku di sini?" Marvin yang merasa tak nyaman tiba-tiba tangannya menarik inpus yang melekat di pergelangan tangannya dan bergantian melepas selang yang kala itu  masih menyalurkan oksigen ke rongga hidungnya.


"Marvin, kenapa kau melepas inpusnya. kau harus istirahat dan di rawat. setidaknya selama beberapa hari sampai benar-benar pulih," tutur Marquez


"Aku mau menunggu Amoera, kasian dia sendirian," ucap Marvin dengan suara lemahnya, ia menurunkan salah satu kakinya hinnga menyentuh lantai.


"Ada Albert yang menjaga Amoera. ayo istirahatlah," Marquez mencoba menahan tubuh adiknya itu.


"Lepaskan, aku. aku baik-baik saja, aku ingin menjaga Amoera." dengan tubuh yang sudah benar-benar tak bertenaga. Marvin mencoba meronta dari Marquez.


"Besok saja temui dia di ruangannya, tolong istirahatlah." Marquez mencoba membuat Marvin mengerti. namun, usahanya sia-sia karna Marvin yang begitu keras kepala semakin memberontak.


"Aku tidak mau, kenapa Kakak memaksaku!" seru Marvin dengan mendorong tubuh Marquez. bahkan, napasnya begitu ngos-ngosan. ruangan itu seakan sedang membuat dirinya berputar hingga kedua tangannya berpegangan pada kursi yang ada di jangkauannya.


"Marvin... lihatlah! kau ini butuh istirahat! kenapa kau keras kepala sekali!" teriak Marquez.


"Aku tidak butuh apa-apa. aku hanya butuh Amoera!" Marvin mencoba melangkahkan kakinya. namun, tubuhnya di buat ambruk ke lantai.


"Mavin..." Marquez segera menghampiri adiknya dan mencoba membantunya untuk berdiri.


"Lepaskan aku. aku bisa sendiri," Marvin menepis tangan Kakaknya. ia mengatur napasnya dan mencoba berdiri.


"Marvin, tolong mengertilah. Kakak Mohon istirahatlah," tutur Marquez.


Marquez memanggil perawat yang kala itu melintas di depan ruangan Marvin. Perawat itu segera memanggil dokter dan tak lama kemudian ia kembali bersama  dengan dokter yang sebelumnya menangani Marvin.


 


"Tuan Marvin,  kau perlu banyak istirahat," tutur Dokter.


"Saya baik-baik saja. Saya ingin menjaga Amoera," ujar Marvin dengan napas yang tersengal - sengal.


"Ayo kembali ke pembaringan anda, Tuan." Dokter mencoba membantu Marvin.


"Saya bilang tidak mau! apa pendengaran anda tidak berfungsi? Jangan memaksa saya!  pergi dari sini!" teriak Marvin. Marvin memegangi kepalanya yang benar-benar terasa berat. piyama rumah sakit yang ia kenakan terlihat basah akan keringat dingin yang menjalar keluar dari tubuhnya.


Dokter mengedipkan matanya kepada perawat seolah sedang memberinya perintah. perawat itu mengangguk. ia mengambil sebuah suntik yang terlihat sudah di isi cairan di dalamnya. perawat itu segera memberikan suntik itu kepada Dokter.


"Tuan Marvi,  kau mau ke ruangan Nona Amoera bukan? tolong kembali ke pembaringan anda. saya akan menyuntikan obat agar kepala anda tidak pusing dan anda kuat untuk menjaga Nona Amoera," tutur Dokter. rasanya bujukan dokter itu membuat Marvin mau menuruti kata-katanya. Marquez segera membantu Marvin berdiri dan membantunya untuk berbaring di tempat pembaringannya. Dokter segera menyuntikan cairan itu.


bukan membaik seperti apa yang di katakan oleh dokter. tubuh Marvin malah melemas. kedua matanya terasa begitu berat hingga membuat kedua matanya memejam dengan sendirinya.

__ADS_1


"Dokter, adik saya kenapa?" tanya Marquez.


"Tidak apa-apa. Saya hanya menyuntikan obat tidur," uajr Dokter. Marquez seketika bernapas dengan begitu lega. Dokter dan perawat tersebut segera pergi dari sana. dan Marquez duduk kembali seperti sebelumnya.


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2