
Chelsea and westminster hospital
Setibanya di rumah sakit tersebut albert dan marquez masuk dan menanyakan ruang rawat amoera .
Setelah mengetahui ruangan amoera ia bergegas menuju kesana dan masuk ke ruangan tersebut .
Terlihat marvin sedang duduk memperhatikan amoera yang masih terbaring lemah . Mendengar langkah kaki dan pintu yang terbuka , marvin sontak menoleh dan betapa terkejutnya ia ketika melihat kakaknya berada di hadapannya . Ia beranjak berdiri dan menghampiri marquez dan juga albert .
" kakak .. Ini benar benar kau ? " tanya marvin menyentuh lengan marquez . Marquez pun mengiyakannya . Ia langsung memeluk kakaknya dengan erat . Namun marquez tidak membalas pelukan adiknya tersebut . ia butuh penjelasan marvin tentang kebenaran atas apa yang sudah di ceritakan oleh albert kepadanya .
Mata marquez memusat kepada amoera , ia menjauhkan tubuhnya dari marvin dan melangkahkan kakinya mendekati amoera . Ia mengernyitkan dahi dan berpikir keras mengingat ingat wajah amoera .
" wanita ini .. ? Ini wanita yang kau ajak kapan hari kan ? " tanya marquez kepada marvin . Marvin pun mengiyakannya ,
" marquez .. wanita ini yang bernama amoera ,dia yang selama ini marvin tuduh sebagai pembunuh paman louis , bahkan ia berulang kali menyiksanya " saut albert
Tak segan marquez menarik tangan marvin dengan kasar untuk keluar ruangan , albert pun mengikuti langkah kaki adik kakak tersebut .
" Marvin .. kakak bertanya kepadamu , apa benar yang dikatakan oleh albert ? kau menuduh dan menyiksa wanita itu ? " tanya marquez dengan meninggikan suaranya ,
" memang benar kak. Karna wanita itu pembunuh ayah!! " seru marvin
" marvinnnnnn .. bicara apa kau ? Wanita itu sama sekali bukan pembunuh ayah !! " teriak marquez ,
" kakak .. Kau ini bilang apa ? Jelas jelas alex sendiri yang bilang kepadaku bahwa wanita itu adalah pembunuh ayah " seru marvin kembali
__ADS_1
" dia bukan pembunuh ayahhhh !!
Apa kau tau ? Pembunuh ayah adalah wanita yang pernah kau temui waktu itu , wanita yang sempat berbicara kepadamu di halaman rumah itu sebelum kau tertembak " teriak marquez dengan geram .
marvin pun terkejut mendengarnya . Kedua matanya terbelalak dan mulutnya terbungkam seketika
" kak .. Tapi alex bilang .. " ucap marvin
" alex itu seorang binatang yang licik , kenapa kau begitu percaya dengan mulutnya yang beracun " teriak marquez.
Marvin tertegun seketika . ia seakan tak bisa menopang tubuhnya hingga tubuhnya rubuh di atas kursi tunggu .
Ia mengingat semua perlakuan buruknya terhadap amoera selama ini . Wanita malang yang berniat baik mengantar obat untuk adiknya malah ia tuduh sebagai pembunuh ayahnya . bahkan hingga mendapat penyiksaan atas kesalahan yang sama sekali tidak pernah ia lakukan .
Di dalam ruangan
Kedua Matanya bergerak perlahan hendak terbuka . Ia tersilaukan dengan lampu rumah sakit yang menyorotinya dari atas . Matanya terlihat begitu sembab karna semalaman penuh menangis ,
amoera masih belum sepenuhnya sadar . Ia masih memperhatikan sekitar ruangan tersebut seraya mengedipkan matanya secara bergantian,
nafasnya tersengal terdengar begitu berat dan melemah . Ia melirik sisi pergelangan tangannya sedang dibalut perban dan terasa sangat nyeri .
ia mencoba mengangkat tangannya tersebut , namun tuba tiba ingatan buruknya semalam kembali pulih . Ia mengingat begitu jelas tentang apa yang marvin lakukan kepadanya . sontak amoera pun berteriak .
" kenapaa aku masih hiduppp " teriak amoera menangis dengan keras , air matanya kembali mengucur deras Ia langsung menarik perban yang menutup pergelangan tangannya tersebut . Dirinya menarik selang oksigen yang kala itu menyumbat hidungnya . Ia pun berteriak dengan begitu histeris .
__ADS_1
Mendengar teriakan dari ruangan amoera
Marvin , marquez dan albert sontak masuk menghampirinya .
Mereka bertiga terkejut melihat amoera menangis dan berteriak seperti itu . Albert pun mencoba menenangkannya
" amoera tenanglah " pinta albert mendekati amoera yang masih menangis , seraya memegang bahu amoera
" amoera " ucap marvin hendak mendekatinya . Mata amoera melotot dan memerah ketika melihat marvin dihadapannya .
" pergiiiiiiiii jangan mendekatiku .. aku sungguh membencimu , jangan mendekattt " teriak amoera dengan meronta ronta
" nona amoera tenanglah " pinta marquez
" amoera aku minta maaf " ucap marvin kembali
" pergiiiii ... Aku membencimu. Sampai mati pun aku tidak akan pernah memaafkanmu , Kau sudah menghancurkan hidupku . Kenapa kau tidak membiarkanku mati , kenapaaaaa ? pergi darisiniiiiiii pergiiiiii " teriak amoera semakin mengeraskan tangisannya , albert mencoba menenangkan amoera yang sedang menangis meronta ronta .
" ayahhhhhhhhhhhh " teriak amoera kembali air matanya masih membanjir hingga membasahi wajah dan baju yang ia kenakan .
Marvin begitu menyesal , ia merasa sangat bersalah melihat amoera seperti itu .
Jeritan tangisnya seakan menjadi jadi namun tak lama kemudian Tiba tiba dokter datang menghampiri nya .
" ada apa ini ? " tanya dokter tersebut dengan heran
__ADS_1
" dokter tolong bantu kami untuk menenangkannya sebentar " pinta marquez , dokter pun mengiyakannya . ia menyuntikan obat penenang untuk amoera . Tubuh amoera tiba tiba mati rasa , ia terdiam dan matanya semakin lama semakin menutup layu dan tak sadarkan diri . Albert dan marquez mencoba membantunya untuk berbaring . Dan dokter menyuruh mereka bertiga keluar dari ruangan tersebut untuk memeriksa amoera kembali .