Apakah Ini Cinta??

Apakah Ini Cinta??
kecewa


__ADS_3

" Hey, kenapa sih sikapnya kaya gitu?." Tanya Shisi yg menghampiri Ayri duduk di lobi depan kelas.


" Iya, gue curiga deh, jangan-jangan lo itu ada apa-apa ya sama dewa?." Tebak Melly.


" Ngga, gue cuma BT aja." Jawab Ayri berusaha menutupi.


" Jujur aja Ay sama kita, kita kan sahabat kamu, Aku tau ko gerak gerik kamu."


"Iya oke gue jujur ke kalian, gue itu lagi berusaha deketin Dewa. Gue suka sama Dewa, dan sekarang gue mau ngasih kado ke Dewa, tapi udah keduluan sama Riri. Puas kalian tau gue sedih karna Riri dan Dewa yg udah respon pemberian Riri?." Ayri menggerutu di depan 2 sahabatnya itu.


"Sabar-sabar, udah kita ke kantin yuk. tenangkan hati lo, minum yg seger-seger biar hatinya fresh lagi." Shisi berusaha menghibur hati Ayri, dan Ayri pun menuruti.


Sementara di dalam kelas masih heboh dengan dewa, teman-temannya membukakan kado dari Riri dan memakaikannya ke kepala Dewa, yapppps benda yg serupa namun beda motif dan warna (sebuah topi).


" Cie ganteng bro, topi nya juga cakep. Buat gue aja ya?." Ucap Gugun, ia memakaikannya kepada Dewa, namun kemudian melepaskannya lagi dan ia pakai.


" Gue juga mau." Sahut Haevi, namun Dewa hanya senyam-senyum entah apa yg ada dalam fikiran nya.


Bel tanda masuk pun berbunyi, para siswa kembali ke dalam kelas. Ayri, Shisi dan Melly pun masuk ke dalam kelas. Mereka masih mendapati Dewa bersama teman-temannya membahas kado dari Riri.


Ayri cuek dengan ulah mereka yg konyol terhadap kado tersebut, beruntung lah tidak lama kemudian guru masuk untuk memulai pelajarannya meskipun Ayri tidak fokus mengikuti penjelasan dari guru tersebut.


Sampai bel tanda pulang, hati Ayri di penuhi rasa kekecewaan. Sampai pada akhir nya di jam pulang sekolah Dewa menghampirinya saat Ayri sedang mengemas buku ke dalam tas sementara para siswa sudah berbondong keluar kelas.


"Ayri, mana tas plus kadonya?." Tanya Dewa dengan nada yg tidak biasanya, seakan ia penuh harap.


"Nih, sorry gue telat ngasihnya. " Ucap Ayri ketus sembari memberikan tas milik Dewa dan ia pun beranjak meninggalkan Dewa di susul dengan Shisi dan Melly.


Dalam hati Dewa bertanya-tanya, harusnya Ayri memberikan kado tersebut dengan senyuman kenapa dia malah berbalik ekspresi. Jutek, tidak seperti kemarin pada saat dia menawarkan seakan dia jaim namun ceria.


" Woy, ga pulang lo? ayo." Ucap Saydi yg merangkul bahu Dewa menandakan untuk jalan bersama.


" Lo kenapa sih, ada apa antara lo sama Ayri?." Tanya saydi. mereka berjalan menuju parkiran.


" Ngga ko." Jawab Dewa menutupi.


" Ini apaan lagi tas lo ko tiba-tiba berisi gini?." Saydi iseng dan berusaha membuka sleting tas milik Dewa.


" Apaan sih, jangan ceroboh deh." Dewa mengelak.


"Ya elah liat doang, ah gue tau itu kaya bingkisan kado. Kaya nya pemberian dari Ayri ya? tadi gue liat pas Ayri ngasih tas ke lo." Saydi ceplas-ceplos, sambil tetap merangkul bahu Dewa mereka berjalan.


" Ya udah cukup cuma lo yang tau, gue di kasih bingkisan ini. Tapi gue ga tau isinya apa." Ucap Dewa datar.

__ADS_1


Rasa kesal Ayri terbawa sampai rumah, ia memendam kesal dan sedihnya itu sampai akhirnya air mata jatuh di pelipisnya wajahnya saat ia merebahkan tubuhnya di kasur.


" Gue benci Dewa, kenapa dia tega sama gue. Dia respon pemberian dari Riri dengan antusias gitu, gue nyesel ngasih bingkisan itu, hati gue sakit." Ayri menyesali perbuatannya dan mengobrak abrik atas kasur.


Namun ketika itu hp nya berdering (telfon dari Eqi) Ayri pun menjawab telfon tersebut dengan nada yg masih lusuh.


" Apaan?." Jawabnya datar.


" Hey kenapa blo, ko suaranya kaya sumbang gitu? abis nangis ya?." Tanya Eqi yg dari balik telfonnya sedang melepaskan celemek, ia tengah istirahat setelah melayani pembeli (kerjaan Eqi adalah pelayan di salah satu cafe di Jakarta)


" Ngga ko cuma lagi kesel aja." Ucap Ayri sedikit jutek.


" Kesel kenapa?cerita dong." Bujuk Eqi.


" Gimana sih perasaan lo kalo lo ngasih sesuatu ke orang yg lo suka, tapi orang tersebut juga di kasih sesuatu dr orang lain yg suka sama dia juga. Malah bahagia pula di kasih dari orang itu." Ayri mencurahkan tentang kejadian tadi di sekolah.


" Oh, hahaha. ya elah cewe, kaya gitu aja di bikin nangis. Minta lagi aja tuh kado nya."


"Mana bisa, ada-ada aja loh." Ucap Ayri bete.


" Hehe, udah jangan kesel nangis gitu, mending mandi gih. Pasti sepulang sekolah belum mandi kan?, udah kecium baunya sampe sini." Eqi berusaha menghibur Ayri meskipun Ayri tidak begitu tertarik dengan candaan Eqi.


" Ya udah gue mau mandi dulu, bye." Ayripun mengakhiri telfonnya.


Eqi pun mulai memahami, bahwa jelas ternyata bukan dialah sosok pengganti rangga. Ia sudah merasa PD sudah merasa bahwa dirinya ada yg menyukai.


" Gue kenapa ya, serasa ga enak badan gini, kepala juga pusing. Apa karna terlalu sedih karna kejadian tadi pagi? ah ga mungkin. sebaiknya gue istirahat."


Ayri pun mengistirahatkan tubuhnya dengan tidur di sore hari setelah sholat dan makan, namun ketika bangun dari tidurnya bukannya bugar malah ia tambah loyo dan badannya semakin demam.


Untunglah ibunya segera datang setelah Ayri menelfon nya, ibunya langsung sigap memberinya obat penurun demam dan memijat badan Ayri yg menggigil.


" Kayanya kamu kecapean, udah tidur lagi ya, besok ijin sekolah aja dulu." Ujar ibunya yg sangat perhatian terhadap anaknya tersebut.


" Iya mah Ayri istirahat dulu ya, tapi kayanya besok akan tetap sekolah mah karna Ayri tidak mau ketinggalan pelajaran, di kelas 3 ini banyak banget tugas jadi ga boleh malas mah." Ucap Ayri.


Ke esokan harinya..


Cuaca hari ini sama halnya dengan kemarin selalu saja hujan di pagi hari sehingga rasa dingin pun menyelimuti di setiap pagi, Ayri tetap pergi ke sekolah dengan berselimutkan sweater dengan muka yg lusuh.


Ia menyandarkan kepalanya di atas meja yg di alaskan tangan dan tasnya, sweater ia buka dan ia sampirkan di sandaran kursi.


Sementara itu, Melly dan Shisi datang dan mereka mendapati Ayri yg loyo dan pucat.

__ADS_1


" Selamat pagi Ayri, kamu kayanya sakit ya loyo gitu?." Shisi meletakkan tasnya di laci dan memegang kening Ayri.


"Ya ampun Ayri badan kamu panas banget. udah minum obat, udah sarapan belum?." Shisi melontarkan perhatiannya kepada Ayri yg hanya angguk geleng saja.


" Mell, ayo ke kantin kita beliin Ayri obat." Shisi menarik Melly untuk buru-buru membelikan obat.


Sementara itu Ali teman sebangku dewa malah menghampiri Ayri.


"Ay, kata Dewa minjem pena tuh." Ucapnya lurus tanpa basa basi.


" Kemarin dia udah minjem pena gue dan ga di balikin, sekarang awas aja kalo ga di balikin." Ayri merogoh laci dan mengambil pena nya.


" Thanks, o iya sweater nya juga lucu, gue pinjem juga ya, hehe." Ali langsung kembali menuju mejanya tanpa mempedulikan Ayri yg sedang merasakan tidak enak badan tersebut. dewa pun memperhatikan kekusutan Ayri.


" Nih gue dapet penanya dan sekalian minjem sweater nya, bagus loh sweater nya nyaman di pake nya. coba deh Lo pake." Ujar Ali kepada Dewa. Dia pun menuruti memakai sweater tersebut.


" Tapi ko Ayri hari ini beda banget, dia kaya ga bergairah gitu. Kenapa ya? apa dia sakit?." Dewa bertanya-tanya dalam hati dan ia menghampiri Ayri.


" Ayri, nih penanya gue balikin. Lo kenapa, sakit?." tanya Dewa dan ia masih memakai sweater milik Ayri.


Ayripun menoleh saat Dewa menghampirinya dan mengangkat kan kepalanya meskipun ia merasa pusing.


" Iya gue lagi ga enak badan, ngapain Lo pake sweater gue, lepasin. Bau tau sweater nya belum sempet gue cuci, lagi pula gue kedinginan nih." ucap Ayri dengan nada tak berdaya.


" Oh iya nih." Dewa melepaskan sweater nya, dan memakaikannya pada Ayri. Saydi dan Haevi yg menyaksikan hal tersebut pun mencandai Ayri dan Dewa.


" Cieee anget dong habis di pake Dewa, uh so sweet." celoteh mereka.


Namun Ayri dan Dewa tidak mempedulikan candaan tersebut, hanya saja Riri dan Rika yg sedang ngobrol di mejanya mereka menyaksikan hal tersebut dan mereka melihat dengan antusias.


" Ri, lihat, apa Lo ga jelous liat mereka kaya gitu? ga boleh di biarin Ri." Gumam Rika merasa kesal, namun Riri malah keluar kelas merasa jelous melihat kejadian tersebut.


Dewa pun kembali ke bangkunya setelah ia memakaikan sweater, sementara Shisi dan Melly sudah datang dan memberikan roti serta obat pada saat Dewa selesai memakaikan Ayri sweater.


" Thanks ya kalian baik banget ke gue." Ayri terharu terhadap ke 2 temannya itu, ia merangkul Shisi dan Melly.


Heh Dewa, apa-apaan Lo tadi? Lo ngga liat apa tadi Riri merhatiin Lo dan tuh lihat sendiri dia sampe keluar kelas karna jelous liat tingkah Lo terhadap Ayri, ternyata lo tuh cowo lenjeh ya." ucap Rika dengan amarah.


" Biarin aja sih, kelakuan-kelakuan Dewa ini, lagi pula Riri kan bukan pacarnya Dewa, jadi Dewa bebas dong mau ngelakuin apa aja." Ucap Ali ceplas-ceplos


" Udah ah, kekantin yuk kita sarapan." Dewa tidak mempedulikan ocehan Rika dan ia malah pergi keluar kelas.


" Ih ternyata tuh orang ngeselin banget." Rika menggumam, dan ia menghampiri Ayri yg baru saja telah menelan obat yg Shisi berikan.

__ADS_1


" Heh dasar cewe genit, asal Lo tau ya Riri itu suka sama Dewa jadi lo jangan ganggu Riri . Gue ingetin lo awas aja kalo kejadian kaya tadi terulang lagi." Rika menggumam di depan Ayri dengan meremas-remaskan tangannya di depan Ayri.


" Lo waras ga sih?? emang Dewa siapanya Riri? pacar? gue rasa bukan tuh karna Dewa juga ga suka sama Riri." Balas Melly ketus terhadap Rika, namun Rika malah meninggalkan mereka.


__ADS_2