
Di rumah..
Rasa yang masih tidak percaya bahwa dia akan bertemu Dewa masih terngiang di fikiran Ayri.
" Dia masih inget sama gue, ya ampun seneng banget. Andai aja gue punya HP, tadi pasti gue minta no. HP nya, huhu." Ayri menyesal. Ia baru teringat bahwa di HP kakaknya ada foto Dewa yang pernah Saydi kirim tempo itu.
" Kakak... " Panggil Ayri tergesa-gesa menghampiri ke rumah Kakanya yang berdempetan dengan rumah Ayri.
" Ada apa, Kakak lagi masak." Sahut kakak Ayri yang sedang sibuk di dapur.
"HP kakak mana? HP kakak masih yang N70 kan?. " Tanya Ayri kepada kakaknya sambil meraba kantong kakak nya.
" Iya masih, ya ampun Ayri kamu tuh kenapa sih. Itu HP ada di laci meja tv. " Ucap kakaknya dengan kesal.
Ayri tidak mempedulikan ocehan kakaknya, dia malah pergi mencari HP kakaknya yang ada di dalam laci.
Ayri langsung mencari di galeri foto HP. Dan ternyata foto itu masih tersimpan.
" Syukurlah. Kakak, aku pinjem sebentar ya. " Ayri langsung berlari ke dalam rumah nya dan mencari kunci motor milik ayahnya kemudian langsung pergi ke tempat percetakan foto untuk ia cetak.
Setelah itu..
" Alhamdulilah, akhirnya gue dapat juga foto Lo." Ayri merasa bahagia dan ia selipkan di dalam buku diary nya bersama identitas Ujian Nasional yang Ayri ambil waktu itu.
" Ya allah tunjukkan jalan, jika ia adalah jodohku dekatkan. Jika ini adalah kabulan doa dari mu aku bersyukur ya Allah. " Ayri berharap.
****
1 Minggu berlalu, telah berakhir pula liburan semester pertama bagi Ayri. Selama berada di kampung Ayri tidak lagi bertemu dengan Dewa, tetapi ia selalu berharap agar doanya- doanya di kabulkan oleh Allah. Kini Ayri telah kembali bersekolah.
" Ayri tunggu. " Ujar seorang laki-laki yang ternyata itu adalah Ali, teman sekelas Ayri yang bertubuh tinggi, bermuka culun menghampiri Ayri.
" Iya ada apa Li?" Tanya Ayri yang hendak pergi ke kantin namun di cegah oleh Ali di lorong kelas.
" Ini gue dapet titipan oleh-oleh dari Ghani, suruh kasih ke Lo karna dia ga berani ngasih langsung ke Lo. " jelas Ali memberikan 1 plastik yang berisikan makanan khas dari Ghani.
" Ma, makasih ya Li, tapi kalo kamu mau ambil aja Li. Di kamar aku banyak simpanan makanan takut nanti yang ini ngga kemakan. Mungkin ini nanti bisa buat persediaan kamu di kamar. " Ucap Ayri seolah ia menolak hasil pemberian Ghani.
" Oh iya udah deh, makasih ya Ay. Ini maksudnya kamu tolak pemberian Ghani ya Ay?. " ucap Ali sambil mengikuti Ayri yang terus berjalan menuju kantin.
__ADS_1
" Ali, maaf ya kamu jangan bilang ke Ghani kalo aku nolak, aku ngga enakan. Tapi aku ngga mau Nerima ini karna aku ngga suka dengan Ghani. Tolong ucapin makasih aja buat dia." Ujar Ayri yang kemudian memesan makanan di kantin karna dia merasa lapar.
" Ya udah kalo gitu, biar nanti aku yang simpan makanan ini. Terus kenapa kamu ngga suka sama Ghani, dia kan baik. " Ali terus bertanya seolah ia ingin tau tentang perasaan Ayri.
" Ya karna aku di sini bukan niat mau cari pacar, tapi mau cari ilmu. Udah deh sama kamu pergi, nanti di kira aku pacaran lagi sama kamu." Tegas Ayri yang kemudian berpindah tempat duduk menjauh dari Ali.
Malam hari setelah pulang dari pengkajian, Ayri di atas kasurnya membuka buku diary yang kini ia bawa. Ia menatap foto Dewa yang ia tempel di dalam buku tersebut, ia teringat akan sebuah lagu dari Ari Lasso yang berjudul 'HAMPA'
' Ku pejamkan mata ini, mencoba tuk melupakan. Segala kenangan indah tentang dirimu, tentang mimpiku. Semakin aku mencoba, bayangmu semakin nyata, merasuk hingga kejiwa, tuhan tolonglah diriku.
Entah dimana dirimu berada, hampa terasa hidupku tanpa dirimu. Apakah disana kau rindukan aku, seperti diriku yang slalu merindukanmu..
Tak bisa aku ingkari, engkau lah satu-satunya. Yang bisa membuat jiwaku tak pernah mati, menjadi berarti. Namun kini kau menghilang, bagaikan di telan bumi, tak pernahkah kau sadari arti cintamu untukku.'
Ayri meneteskan Air matanya berharap Dewa mengerti akan perasaan Ayri saat ini.
" Ayri, Lo jangan sedih. Disini ada gue yang akan selelu menjaga hati lo. " Ucap Dewa merangkul Ayri.
" Dewa, aku kangen banget sama kamu. Jangan pergi ya, temani aku disini sampai aku lulus. " Ucap Ayri lirih menatap wajah Dewa.
" Iya, Lo jangan tangisin gue. Jelek tau. " Ucap Dewa sambil mencubit hidung Ayri.
" Ayri, bangun. Ayo buruan nanti kita di catet loh sama keamanan santri kalo ga ikut shalat tahajud. Nanti kita kena kafaroh. " Ririn berusaha membangunkan Ayri dari tidurnya sampai Ririn mencubit-cubit hidung Ayri.
" Dewa. " Ucap Ayri masih melantur.
" Apaan sih Dewa, Dewa. Dewa Krisna apa Dewa 19, udah ayo bangun. " Ririn dan Desy menarik Ayri untuk segera bangun.
"Astagfirullah, ternyata itu cuma mimpi. " Ayri pun terbangun dan baru menyadari bahwa ke dua sahabatnya itu sudah menarik-narik tangan Ayri.
" Iya, iya aku bangun. Ayo. " mereka pun segera bergegas ke masjid. Ayri kembali menjalankan shalat istikharahnya dan meminta sekali lagi agar hatinya tenang.
" Kalau dia adalah jodohku, lalu kapan ia akan kembali ya Allah, Aku sangat merindukannya. sampaikan ke dia bahwa aku rindu. " Ayri berharap.
Setelah salat istikharah sebelum menjelang subuh, Ayri membaringkan badannya di teras depan kamar mandi. Tempat tersebut seperti lapangan volly, serta tempat untuk para santri bercanda gurau dengan teman-teman sambil mengantri kamar mandi.
Ayri menatap bintang yang cerah, seakan jiwa Ayri melayang. Mengingat masa dimana ia bercanda salah tingkah di hadapan Dewa sampai akhirnya ia tertidur di teras tersebut.
Hari - hari berganti
__ADS_1
sampai 1 tahun kemudian..
Hari ini adalah hari libur semester pertama di kelas 2. Ayri sejak kemarin sudah ada di rumah untuk berlibur. Rasanya seperti bernafas lega sudah ada di rumah, karna Ayri di pesantren sudah risih terhadap tingkah Ghani yang suka sekali melirik-lirik Ayri dari berbagai sudut. Bahkan teman sekamarnya Ghani pun sudah tau bahwa Ghani tengah mengagumi Ayri.
" Rasanya seger banget menikmati hijaunya tanaman yang basah karna air hujan. Jadi mager, hehe. " Ayri menyibak tirai jendela kamarnya dan menghela nafas panjang. Hari ini ia berniat untuk main ke rumah Avril karna ia sudah rindu sekali dengan sahabatnya.
Ayri bersiap untuk pergi ke rumah Avril.
" Mah, Ayri keluar sebentar ya. Kangen sama Avril." Ucap Ayri kepada ibu nya sambil membuka garasi motor.
" Eh, sarapan dulu. Pagi-pagi gini udah mau bepergian . " Ucap ibunya yang sedang menyapu halaman rumah.
" Iya udah ko tadi, Ayri berangkat dulu ya Assalamualaikum. " Pamit Ayri dan ia langsung tancap gasss.
" Assalamualaikum " Seru Ayri ketika telah sampai di depan pintu rumah Avril, namun beberapa kali Ayri mengucapkan salam tidak ada sahutan. Sehingga Ayri pun kembali pulang dengan hati kecewa.
" Eh, ko sebentar banget." Kata Ibu Ayri yang masih membereskan taman.
" Rumah Avril sepi mah, jadi Ayri balik lagi. " Jawab Ayri dengan muka lusuh dan kembali masuk ke dalam kamar.
" Hmm, bete juga ya ngga ada temen. Apa main ke Tea aja? Coba kalo gue punya HP, huhu. " Gerutu Ayri, ia membaringkan tubuhnya di atas kasur.
" Dewa, gue kangen tau sama Lo, ayo dong Plisss hari ini kita bisa ketemu lagi." Ayri berharap kemudian ia membuka buku diary dan menatap foto Dewa.
" Mah, Ayri mana?. " Tanya kakak Ayri kepada ibunya yang kini sedang membereskan ruang Tv.
" Tuh di kamar. " jawab nya.
" Dek, nih tadi ada telfon dari temen kamu. " Ucap Kakak Ayri memberikan HP nya kepada Ayri.
" Telfon, siapa? Ko lewat nomor HP Kaka?" Ayri heran karna ia tidak merasa memberikan nomor HP kakak nya kepada siapapun.
" Ya mana Kaka tau, dia bilangnya De, De siapa ya tadi tuh?." Kakak Ayri mencoba mengingat, namun Ayri mencoba menebak.
" Dewa?, Mana mungkin. Salah sambung kali tuh orang."
" Yey mana Kaka tau, ya udah pegang aja dulu tuh HP, Kaka lagi nyetrika. " ucap kakaknya yang kemudian pergi.
" Dewa, masa?. Coba deh gue SMS. "
__ADS_1
' Assalamualaikum, maaf dengan siapa ini tadi nanyain Ayri lewat telfon.' Ayri.
' Walaikum salam. Iya, saya Dewa. Ayri nya ada?.' Dewa