Apakah Ini Cinta??

Apakah Ini Cinta??
Sama-Sama Berjuang ( Part 2 )


__ADS_3

" Aduh. " Teriak Ayri kesakitan ketika ia terjatuh dan motornya menimpa kaki kirinya.


" Ya ampun kaka maaf. " Seketika seorang anak laki-laki kisaran usia 12 tahun langsung menolong Ayri yang tertimpa motor.


" Sakit tau, lain kali hati-hati dong kalo nyetir motor. " Ucap Ayri ketus karena merasa kesal terhadap anak tersebut yang telah menabraknya dari depan yang akan menyebrang dari arah kiri Ayri namun anak tersebut menyerobot.


" Iya Kak maaf, aku baru bisa nyetir motor. Sini aku bantu, kita obati luka kaka di rumah aku aja yuk. " Ajak anak tersebut. Anak itu membantu Ayri menepi namun Ayri menolak dengan raut wajah cemberut dan ia malah mengambil HP dari dalam tas nya kemudian menelfon Dewa untuk segera datang membantunya.


" Kak, sekali lagi maaf ya. Sini biar aku bantu, kaki kakak berdarah aku belikan obat ya kak. " Bujuk anak itu lagi.


" Udah ga usah, nanti pacar aku yang akan bantu aku. sini aku ajari ya kalo berkendara itu hati-hati jangan sembrono kamu itu masih kecil punya SIM aja belum kan? " Ucap Ayri yang mulai meredamkan emosinya dengan cara menasehati anak tersebut.


" belum, iya maaf kak aku nakal. Aku ga akan mengulanginya lagi. " ucap Anak tersebut dengan menunduk.


" Bagus, sekarang kamu duduk temani aku disini nunggu pacar aku datang. Dan kamu harus ingat kalo kamu ngga mengulangi kesalahan lagi itu tandanya aku maafin kamu, tapi kalo sampai kamu mengulangi nya lagi aku ngga akan maafin kamu entah ke siapapun kamu mengulanginya. " Jelas Ayri bermaksud menasehati.


Tidak lama kemudian Dewa datang dengan membawa betadine yang sengaja ia bawa dari rumah.


" Kamu ngga apa-apa? atau bagian mana yang sakit? " tanya Dewa panik dan langsung mengecek bagian yang luka.


" Kaki aku tadi ketimpa motor, kayanya keseleo deh bagian kiri dan lecet-lecet. " Ayri memperlihatkan kakinya dan Dewa segera mengobati dengan Betadine.


" Gimana ceritanya bisa kecelakaan kaya gini sih. Habis ini mending kita ke klinik atau panti pijat biar kamu di pijat." Ayri menggeleng dan ia bergegas berdiri bersiap untuk kembali pulang.


" udah ngga apa-apa ko, makasih ya udah bantu aku. Aku harus buru-buru pulang khawatir orang tua aku mencari. " ujar Ayri. Sementara Anak yang menabrak Ayri masih berdiri memperhatikan Ayri dan Dewa.


Sesampainya Ayri di rumah, ia menyembunyikan luka bekas kecelakaan dan menahan sakitnya luka lecet di bagian lutut.


" Ko masih siang udah pulang nak, libur ?. " Tanya ibunya memberikan Ayri secangkir minum dan menaruhnya di meja belajar ketika Ayri selesai melepas baju dan menggantinya dengan baju sehari-hari.

__ADS_1


" Iya mah, aku lagi banyak tugas dan lebih memilih mengerjakan di rumah, lebih nyaman di rumah dari pada di kosan bareng teman-teman. " Ujar Ayri sambil menatap wajah ibunya. Rasanya nya yang tidak terbendung membuat Ayri bercerita tentang beban kuliahnya yang ia jalani membuat Ayri ingin menyerah, rasa capek setiap hari selalu di beri tugas sementara alat dan materi yang ia butuhkan tidak memadai.


" Sabar sayang. " Ibu Ayri memeluk Ayri ketika Ayri bercerita meneteskan air mata.


" Teman-teman Ayri semuanya punya laptop, HP nya bagus, setiap ada tugas mereka ngga kesulitan kaya aku. Uang sakunya juga memadai, tapi ngga untuk Ayri, sehari hanya cukup untuk makan dan uang transpot selebihnya Ayri harus pintar-pintar sendiri mengelola keuangan. Ayri capek mah, lagi pula kuliah jadi bidan bukan keinginan Ayri mah. Mamah tolong ngomong ke papah kalo Ayri mau berhenti kuliah aja, Ayri mau kerja mah, biar bisa bantu keuangan keluarga, ngga apa-apa Ayri kuliah dari hasil kerja Ayri asal Ayri kuliah sesuai keinginan Ayri. " Ucap Ayri sambil menangis di pelukan ibunya.


Malam hari sebelum tidur terlintas di benak Ayri untuk memulai jualan di kampus. Ia ingin membawa jajanan yang ia buat dengan tangannya sendiri. Ayri membuka kulkas dan ia menemukan pisang serta kulit lumpia sehingga ia pun memulai oprek di dapur membuat gorengan pisang coklat di balut dengan kulit lumpia. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan jam 12 malam, Ayri juga sudah merasa ngantuk sehingga ia memutuskan untuk tidur dan melanjutkan menggoreng jajanan tersebut setelah shalat subuh sebelum berangkat kuliah.


Setelah shalat subuh, Ayri langsung menggoreng pisang yang telah Ayri buat semalam, ia semangat dan berharap jajanannya ada yang membeli dan uangnya bisa untuk tambahan mengerjakan tugas di warnet dan juga bisa menjadi uang tambahan bensin.


Namun, sayang jajanan tersebut tidak laku Ayri jual. Padahal ia buat banyak dengan susah payah.


" Dari 50 buah hanya 5 yang terjual, sia-sia aja aku buat dengan susah payah. Ya allah, kenapa begitu berat ujian yang engkau berikan kepadaku ya allah. Rasanya ingin mengakhiri hidup saja supaya papah tau kalau aku udah ngga kuat berjuang " Isak Ayri dengan mengendarai motor saat perjalanan pulang. Di jalan ia berniat untuk membuang jajanan tersebut ke sungai, namun ia melihat ada seorang pengembala kambing yang sedang menggiring kambingnya.


" Bapak permisi, pak maaf saya ada sedikit jajanan untuk bapak mohon di terima ya pak, siapa tau keluarga bapak di rumah suka " Ayri memberikan 1 kantong plastik berisi pisang lumpia tersebut kepada si pengembala kambing.


" Oh iya makasih ya neng, kamu baik sekali semoga pemberian ini di balas oleh allah dan semoga kamu selalu menjadi wanita yang penyabar dan semoga rejekinya selalu berlimpah ya neng " Ujar pengembala kambing. Ayri pun mengamini doa tersebut dan lalu melanjutkan perjalanan pulang. Hati Ayri yabg sedih menjadi kembali ceria dan termotivasi oleh doa seorang pengembala.


Ayri masih kuliah seperti biasanya dan masih berusaha menyelesaikan tugasnya karna mulai sekarang teman-temannya sudah ada yang mengikuti Ujian Presentasi akan tugas Ilmiah tersebut.


Sialnya, dari awal sampai detik ini Ayri belum pernah berkonsultasi dengan dosen pembimbing dan dosen penguji sehingga ia terpaksa di panggil oleh dosen penguji karna ada laporan dari dosen pembimbing bahwa Ayri belum pernah sama sekali mengonsultasikan tugasnya.


" Ayri Apriliani, kamu saya panggil karna ada laporan dari ibu Rahayu katanya kamu belum pernah sama sekali mengkonsultasikan karya ilmiah mu, apa benar?. " Tanya bu Titin sebagai Dosen penguji.


" I,iya bu. Saya baru selesai mengumpulkan materi-materi yang akan di konsultasikan. " Jawab Ayri gugup namun jujur menjelaskan apa yang ia alami.


" Coba mana hasil pengumpulan materinya, saya mau lihat. " Ucap Bu Titin.


Sialnya lagi materi tersebut tidak ia bawa karna ada di laptop yang sedang Ayahnya pakai.

__ADS_1


" Ta, tapi materinya, ngga saya bawa karna laptop nya sedang di pakai ayah saya kerja. " Jawab Ayri lagi kali ini Ayri benar-benar gugup dan merasa ia adalah mahasiswa yang paling bodoh di kampus.


" Haduh, ini gimana sih. Ya udah pokonya saya ngga mau tau, besok kamu harus menghadap ke saya dan kumpulkan hasil materi yang kamu buat " Kini nada Bu Titin menjadi tinggi dan ia beranjak keluar ruangan sementara Ayri hanya terdiam menunduk, hatinya hancur karna ia menjadi mahasiswa yang sangat bodoh.


Ayri keluar kelas, ia meneteskan ai mata dan duduk di atas motor di parkiran motor.


" Ya allah sebegitu bodohnya kah aku. Yang lain bisa mengerjakan tugas, kenapa aku ngga bisa. " Ayri pun memilih untuk pulang. Sialnya cuaca hari ini sangat mendung dan mulai hujan tetapi Ayri tetap melanjutkan perjalanan untuk pulang. Semakin jauh hujan semakin lebat tetapi Ayri tetap menerjang hujan, ia menangis sepanjang jalan sembari di guyur air hujan. Pandangan di jalan menjadi tidak terlihat karna saking derasnya hujan membuat Ayri kesulitan melihat ke depan. Tanpa ia sadari di depan ada motor berjalan pelan membuat Ayri tidak bisa mengelak karna Ayri membawa motor dengan kecepatan 60Km / jam dan Ayri pun menabrak pengendara motor yang ada di depannya sehingga ia terpental jauh dari motor sementara motor yang ia tabrak tidak terjatuh.


" Brak...... " Lagi-lagi kecelakaan di alami oleh Ayri.


Hujan deras menghapus darah yang bercucuran di kaki tangan dan wajah Ayri. Beberapa orang berusaha menolong Ayri sementara Ayri setengah sadar merasakan sakit dan bisingnya orang yang berusaha menolongnya untuk melarikannya ke klinik. Beruntung Ayri kecelakaan pas di depan klinik dan ia langsung di larikan ke IGD.


" Aduh sakit. " Hanya itu yang Ayri bisa ucapkan.


" Sabar ya dek, kamu kami tolong dulu, telapak tangan kamu sobek jadi harus di jahit dan kaki kamu kena luka bakar karna tertimpa kenalpot bibir kamu robek karna goresan jalan Aspal " Jelas seorang dokter yang menangani Ayri. Ayri hanya berbaring lemas kedinginan tak berdaya dengan berlinangan air mata.


Sementara itu salah satu penolong berusaha menghubungi orang tua Ayri dan bersyukur orang tua Ayri merespon dan bergegas untuk pergi menemui Ayri ke Klinik.


" Ayri sayang " Tutur Ibu Ayri ketika Ayri sudah selesai di tangani dan Ayri di pindahkan ke ruang rawatan.


" Mamah... " Ayri langsung terbangun dan memeluk ibu nya dengan erat dan menangis sejadi-jadinya di pelukan ibunya.


" Sabar ya sayang " Lagi-lagi hanya itu yang bisa ibu Ayri ucapkan. Padahal bukan itu yang Ayri inginkan, Ayri hanya ingin ibunya bercerita kepada ayahnya bahwa ia sudah tidak sanggup lagi untuk berkuliah.


" Kenapa bisa jadi seperti ini nak? " Tanya Ayah Ayri yang tidak sama sekali mengerti dengan kondisi hati anaknya.


" Mungkin Ayri kecapean pah, Ayri terjang hujan karna Ayri ingin cepat pulang. Ayri banyak tugas kuliah jadi ingin cepat-cepat pulang dan segera menyelesaikan tugas itu. Sementara Ayri ngga bisa membuat tugas itu, Ayri harus konsultasikan juga tugas ini kepada dosen pembimbing yang namanya Bu Rahayu " Jelas Ayri kepada Ayahnya.


" Ya sudah kalau begitu, kita pulang di rumah kerjakan tugasnya tetapi kamu pulihkan dulu kondisi kamu " Ujar Ayah Ayri. Hanya itu yang ia ucapkan dan ia pergi keluar ruangan. Ayripun turun dari ranjang di bantu oleh ibunya berjalan menuju parkiran.

__ADS_1


Sepanjang jalan, tanpa satu katapun yang Ayri ucapkan namun dalam hatinya marah, kesal melihat sikap Ayahnya yang dingin terhadap keadaannya.


__ADS_2