Apakah Ini Cinta??

Apakah Ini Cinta??
Shisi Berduka


__ADS_3

Jam istirahat pun tiba..


Ayri menemui Tea di kelasnya yang baru saja selesai jam pelajaran.


" Ayo buruan keluar. " Ayri menarik paksa Tea yang masih mengemas buku ke dalam tasnya .


"Iya bentar, sabar ih. " Tea buru-buru mengemas bukunya dan mengikuti ajakan Ayri. Mereka menuju taman sekolah untuk mendengarkan curhatan Ayri.


"Gue sedih Tea, huhu. Masa setelah lulus SMP gue mau di pesantrenin" Curhat Ayri yang lagi-lagi meneteskan air matanya setelah ia bercerita.


" Oh, haha. Hey kenapa lo malah nangis, sini-sini gue peluk. Unchh sahabat gue ini" Tea pun memeluk Ayri sambil memberikan motivasi kepada Ayri.


" Itu tandanya bokap nyokap lo sayang sama lo, supaya anaknya bisa jadi anak yang lebih baik lagi. Gue justru pengen mesantren kalo bokap gue ngijinin, tapi sayang ga ada biaya." Ujar Tea yang penuh harap.


" Iya sih, bener juga kata lo, tapi tuh... " Ucap Ayri, namun di seka oleh Tea.


" Sttttt... Jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan Ay buat jadi yang lebih baik lagi." Tea menyeka perkataan Ayri yang belum selesai.


Suasana hening sejenak, Ayri menyerap setiap perkataan positif teman-temannya yang membuat Ayri berfikir.


" Iya juga sih, temen-temen gue ga seberuntung gue, papah sama mamah masih peduli mau nyekolahin gue di pesantren. Jadi meskipun berat gue harus menuruti nya." Gumam Ayri dalam hati.


" Ga selamanya kan lo bakal tinggal di pesantren, kita masih bisa ketemu ko di hari liburan. Lo jangan merasa sendiri Ay, kita akan selalu jadi sahabat lo ko selamanya bahkan. " Ucap Tea lagi meyakinkan, ia memegang ke dua pundak Ayri.


Bel tanda masuk berbunyi..


Ayri dan Tea pun kembali ke kelas masing-masing. Ayri mendapati Shisi dengan muka sembab di peluk oleh Melly.


"Shisi, kamu kenapa?" Ayri tersentak kaget melihat raut muka Shisi yang seperti habis menangis.


" Dia dapet kabar duka, Nene nya meninggal." Ucap Melly yang masih memeluk Shisi.


" Innalilahi wainnailaihi rojiun, yang sabar ya Shi. Kalo gitu mending kita antar kamu pulang aja yuk. " Ayri ikut memegang pundak Shisi.


" Makasih Ay, tapi tanggung sebentar lagi pun jam pulang. Jadi aku tunggu jam pulang sekolah aja." Jawab Shisi yang berusaha menyudahi kesedihannya.

__ADS_1


" Baiklah kalo kaya gitu, Nanti kita ikut ke rumah kamu buat ngelayat ya. " Ucap Ayri, dan Shisi hanya menjawab angguk sambil terperanjat dari tempat duduk. Melly melepaskan pelukan Shisi.


" Aku mau ke toilet dulu ya. " Ucap Shisi yang masih menyimpan kesedihan seakan ia ingin menangis kencang, ia berlari menuju toilet.


Sementara Ayri hanya bisa terdiam.


" Shisi kenapa Ay?" Tanya Saydi kepada Ayri yang sedari tadi memperhatikan mereka.


" Neneknya Shisi meninggal dan gue sama Melly pulang sekolah mau ngelayat, lo mau ikut?" Tanya Ayri.


"Innalilahi, iya boleh gue ikut nanti ngajak temen yang lain juga."


Guru Fisika pun masuk mengisi jam pelajaran.. Ayri berusaha fokus menerima pelajaran fisika setidaknya mengurangi rasa sedihnya.


"Untuk jam pelajaran hari ini kita sambung sampai jam bimbel ya." Jelas pak Kuwadi selaku Guru.


" Yahhh bapak lama banget dong pak. sekarang aja bimbelnya. biar 1 jam aja pelajarannya." Protes salah satu siswa.


" Udah ga usah banyak protes, kalo kamu tidak suka boleh tinggalkan pelajaran bapak." Ucap pak Kuwadi dengan logat kalem ke jawa-jawaan. Namun tidak ada yg berani untuk melawan karna mereka merasa kasian dengan guru tersebut yang sudah hampir pensiun di usianya yg sudah menua.


Sementara itu..


" Ya ampun jenuh banget dong, oh iya terus gimana mau ngelayat nenenya Shisi." Gumam nya dalam hati.


" Shi, mending kamu ijin pulang aja biar bisa ikut acara pemakaman Nene kamu. Nanti sepulang sekolah kita sambang ke rumah kamu." Ayri menyarankan Shisi yang sedari tadi murung dan tidak fokus dengan pelajaran.


"Tapi ay.."


" Hmm, Pak. Shisi mau ijin pulang boleh? Di rumahnya sedang ada duka pak, Nene nya meninggal." Ucap Ayri menyeka ucapan Shisi dan meminta ijin pada Pak Kuwadi.


" Oh iya silahkan, apa perlu di antar. Salah satu temannya saja boleh mengantar." Pak. Kuwadi mengijinkan.


Melly pun berpartisipasi untuk mengantar Shisi pulang sampai rumah.


" Nanti Gue nyusul Mell, kalian hati-hati ya." Ucap Ayri setelah mereka beranjak dari tempat duduk. Melly hanya menyetujui dengan kode acung jempol.

__ADS_1


Pelajaran tetap berlanjut..


Ayri duduk sendiri dan ia melanjutkan menyimak pelajaran.


Entah kenapa mata Ayri tiba-tiba tertuju pada Dewa yang ke gep sedang melirik nya.


"Sejak kapan matanya ngrlirik ke gue?." Gumam Ayri yang kemudian menunduk dan pura-pura untuk menulis serta fokus terhadap tulisan yang Pak. Kuwadi tulis di papan tulis.


" Plis Dewa jangan buat gue semakin ngarepin lo, percuma udah ga ada kesempatan lagi." Ayri jadi membayangkan berat ketika ia nanti harus pergi dan tidak akan pernah bertemu lagi dengan Dewa.


Jam pulang sekolah..


Pak Kuwadi bergegas keluar kelas di ikuti oleh para siswa yang berbondong-bondong keluar kelas, Ayri bersiap untuk langsung pergi ke rumah Shisi.


" Eh Ayri, tungguin. Bareng dong, lo mau ngelayat kan?. Dewa, sini lo mau ikut ngelayat ngga.?" Ucap Saydi yang kemudian mengajak Dewa.


"Iya hayuk, Gue tunggu di parkiran ya." Namun Ayri lupa bahwa dia berangkat sekolah di bonceng oleh Tea, sehingga ia bingung mau berangkat pake apa.


" Eh, hmm. Say, kayanya gue ga jadi pergi deh." Tiba-tiba Ayri berubah fikiran karna tidak ada kendaraan.


" Lah, lo gimana sih. Tadi pagi lo ngajakin kita, sekarang lo malah ngebatalin. Gimana sih?."


Saydi heran dengan sikap Ayri.


" Gue lupa, ga ada kendaraan say. Tadi pagi pun gue nebeng Tea, hehe." Ucap Ayri merasa malu.


"Oh, hmm. Ya udah gue bawa motor ini, nanti gue bincengin deh." Ucap Saydi. Mereka pun melangkah menuju parkiran bersama ( Ayri, Saydi, Dewa dan Haevi).


Selama menuju parkiran Ayri berjalan di belakang Saydi dan Haevi. Bersebelahan dengan Dewa, namun Ayri hanya menunduk tanpa kata ataupun menyapa Dewa, Tetapi jantung nya berdegup sangat kencang.


Di parkiran..


Saydi mengambil motornya, bagitupun Haevi.


Ayri membonceng motor Saydi dan Dewa dengan Haevi. Dewa hanya terdiam dan tidak lagi memperhatikan Ayri ketika Ayri naik ke atas motor Saydi.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan Ayri hanya menunduk malu karna tidak terbiasa di bonceng oleh laki-laki.


" Ya ampun, ko gue tegang gini sih. Mana di belakang Dewa ngikutin. " Gumam Ayri dalam hati. Ia tidak berani memegang Saydi, hanya tangan kiri nya berpegangan pada bagian belakang jok motor.


__ADS_2