
Setelah pulang dari pertemuannya dengan Dewa, Ayri masih terngiang ucapan romantis yang di ucapkan oleh Dewa membuat Ayri senyum-senyum sendiri di dalam kamar. Ia tidak mempedulikan kehadiran teman-temannya.
" Yang lagi bahagia, jangan lupain kita dong. Sakit tau di kacangin melulu dari tadi " Sindir Desy.
" Haha, kalian tau kan betapa bahagianya aku ketemu Dewa. Jadi, ga ada peluang buat Ghani sama Rahman buat dapetin hatiku " Nada Ayri seperti merayu.
" Eh tapi, kamu yakin sama Dewa? kalo yang anak santri itukan udah terjamin faham agama Ay. Kamu ga mau apa punya calon suami yang nantinya bisa nuntun kamu ke surga?. " celoteh Ririn kemudian yang membuat hati Ayri tersentak.
" Ga semua nya santri faham akan aqidah islam. Akhlak baik tidak harus dari seorang santri kan. " Jawab Ayri yang tersinggung akan ucapan Ririn.
" Tapi kan setidaknya Ay. " Sambung Desy yang sependapat dengan Ririn. Ayri sejenak terdiam dan kemudian memalingkan badannya membaringkan tubuhnya di pinggir Desy.
" Brisik ah, mending tidur dari pada dengerin nasehat kalian. " Ucap Ayri sewot, namun dalam hatinya Ayri menggerutu.
" Ada bener nya juga mereka, tapi kan ngga semua orang baik harus jadi santri. Ah, aku yakin Dewa adalah orang baik." Batin Ayri. Lalu ia pun memejamkan matanya.
Ke esokan harinya..
Ririn dan Desy memutuskan untuk kembali ke Pesantren. Karna mereka merasa tidak enak terhadap respon Ayri dan merasa merepotkan orang tua Ayri.
" Ayri. " Ucap Ririn pelan sambil malu terhadap Ayri yang sedang sibuk membantu ibunya memasak di dapur selepas mandi.
" Eh Ririn, Desy udah rapih. Ayo sini duduk kita sarapan " Ibu Ayri yang sedang menyiapkan hidangan mempersilahkan ke duanya untuk duduk di bangku meja makan.
" Eh iya bu makasih. " Mereka pun duduk.
" Sttt, kamu dong yang bilang. " Ririn menyenggol-nyenggol bahu Desy agar Desy mengatakan pamit kepada Ayri dan ibunya.
" Kamu aja, aku malu. " tolak Desy.
" Ayri, ibu. Mmm, kita mau pamit pulang lagi ke pesantren. " Tutur Ririn dengan malu-malu.
" Loh ko nginepnya cepet banget. Kan liburannya masih ada 6 hari lagi, kenapa? kalian ga betah ya nginep disini?. " Ibu Ayri sambil menata hidangan dan menyiapkan piring makan untuk mereka.
" Eh, ngga usah tante kita tadi udah sarapan roti di dalam kamar. Bukan ngga betah juga bu, tapi Desy ngajak saya untuk ikut pulang ke rumahnya di brebes. " Jelas Ririn.
" Bohong, bilang aja kalian ga betah karna aku jutek kan?. " Celoteh Ayri yang menyudahi memasak tumis sebagai teman nasi dan menghidangkannya di meja makan.
__ADS_1
" Ngga ko Ayri, justru kita seneng banget bisa main ke rumah kamu. Maafin kita ya kalo omongan-omongan kita ke kamu bikin ga enak di hati. " Ucap Desy menyadari akan ucapannya semalam.
" Ngga apa-apa ko, maafin aku juga ya bikin kalian ngga betah disini. Udah kalian jangan pergi dulu, nanti aja sekalian sampe hari teakhir aja kalian disini. " Ayri mengelus ke dua pundak sahabatnya itu.
" Ngga Ay, tadi aku di telfon ibu ku suruh aku pulang ke kampung. Jadi aku mau langsung ke brebes aja sekarang. " Desy pun bergegas dari tempat duduknya untuk pamit.
" Yakin kalian bisa sampai brebes ber dua?. " Tanya ibu Ayri yang merasa khawatir.
" Insya allah bisa bu, Desy liburan kemarin juga pulang sendiri. Ibu ga usah khawatir, hehe. Kalo gitu kami pamit ya bu, Ayri. Sampe ketemu di Pesatren lagi. " Desy dan Ririn bersalaman dengan ibu Ayri.
" Ya udah bentar kalo gitu aku ganti baju dulu buat antar kalian sampe terminal. " Ucap Ayri yang langsung berlari menuju kamar untuk ganti baju.
" Hati-hati di jalan ya, nanti kalo udah sampe kasih kabar. " Ucap Ayri mengusap bahu mereka ketika mereka telah sampai di terminal dan Ririn serta Desy mendapati mobil jurusan karawang brebes.
" Iya Ayri, makasih ya. Maaf udah repotin kamu sama keluarga. " Ayripun mengangguk dan mereka pu masuk ke dalam angkot.
Ayri merasa tidak enak hati terhadap mereka karna memperlakukan mereka dengan angkuh.
" Maafin aku ya Rin, Des. Kadang aku judes. " Ayri menyesali akan sikapnya terhadap ke dua sahabatnya itu. Ayri berlalu meninggalkan terminal saat bis yang Ririn dan Desy tumpangi tengah melaju.
1 panggilan tak Terjawab (New number)
" Nomor baru, siapa ya?" Ayri bertanya-tanya dalam hati.
'Siapa?. ' Ayri
' Hey salam kenal. Aku Trian, boleh aku kenal sama kamu?. '
Namun Ayri tidak mempedulikan SMS tersebut.
" Dewa lagi apa ya? Rasanya pengen ketemu lagi sama dia. " Ia malah membayangkan wajah Dewa ketika bertemu kemarin.
" Coba telfon deh. " Ayri memencet tanda memanggil pada kontak nomor Dewa. Namun Dewa tidak lekas mengangkat, ia malah memberi SMS pada Ayri.
' Maaf Ayri, aku lagi sibuk. Nanti malam aku telfon lagi ya. ' Dewa.
'Oh iya udah. Sibuk apa sih?' Ayri
__ADS_1
' Sedang mengumpulkan syarat pendataran sekolah. Insya allah tahun ini aku mulai masuk sekolah.' jelas Dewa.
'Alhamdulilah, akhirnya kamu bisa melanjutkan sekolah lagi. Selamat ya, jadi adik kelas aku dong. Hehe'
Ayri merasa bahagia dan lega karna Dewa bisa melanjutkan sekolahnya lagi.
" Akhirnya Dewa akan melanjutkan sekolah, alhamdulilah kamu akan punya masa depan Wa. Aku janji kita akan berjuang bersama, ya allah jika dia adalah jodohku ijinkan aku untuk bisa membuat Dewa semangat. " Ayri memohon.
Beberapa hari kemudian...
Hari ini Ayri baru bisa bertemu dengan Dewa setelah sekian hari mereka tidak bisa bertemu karna Dewa sibuk dengan kegiatannya.
' Aku di Warnet ya, sama keponakan. ' Dewa
' Oke aku OTW. ' Ayri.
Ayripun bergegas ke sebuah Warnet di pertigaan komplek dekat rumah Ayri.
Ayri berniat untuk memberikan Dewa bingkisan sebelum Ayri kembali ke pesantren beberapa hari lagi.
" Maaf ya nunggu lama. " Ucap Ayri ketika ia telah sampai depan warnet dan menemui Dewa di parkiran warnet membonceng seorang wanita cantik seumuran dengan Ayri, tapi wanita tersebut hanya melempar senyum pada Ayri.
" Iya ga apa-apa. Kapan kamu akan kembali ke pesantren?" Tanya Dewa.
" Lusa, mungkin besok aku akan kemas barang. Takutnya kita besok ga ketemu ya seenggak nya hari ini kita bisa ketemu meskipun sebentar. " Ucap Ayri sambil memberikan sebuah bingkisan.
" Apa ini?. " Tanya Dewa penasaran.
" Nanti aja di bukanya saat Aku udah ada di pesantren. " Ayri menggenggam tangan Dewa sebentar.
" Aku ga bisa lama, nanti lanjut telfonan aja ya. Ga enakan bawa keponakan, hehe. " tutur Dewa pelan sambil sedikit berbisik pada Ayri.
" Ya udah ga apa-apa. Hati-hati, jangan dulu di buka bingkisannya. "
Dewa pun pergi mendahului Ayri, sementara Ayri menatap kepergian Dewa.
" Wanita itu keponakannya, cantik juga. Ah Ayri mereka itu bersaudara, jangan jelous. " Batin Ayri yang merasa tidak karuan.
__ADS_1