
" Hey, marah ya?. " Ucap Dewa kemudian ringan dan meraih tangan Ayri yang hendak keluar ruangan.
" Ya iya lah, aku kesini jauh-jauh cuma mau tau alasan kamu, tapi kamu malah cuekin aku kaya gini. Lepasin tangan aku, aku mau pulang. " Ayri mengguncangkan tangan yang di raih Dewa sementara tangan satu ia gunakan untuk menyeka air mata yang tiba-tiba menetes.
" Ayri, kamu lupa ya?. " Dewa berusaha mengingatkan Ayri yang sama sekali tidak ingat bahwa kemarin adalah hari jadian mereka berdua.
" Apa?. " tanya Ayri jutek tapi dalam hati ingin mengurungkan langkahnya untuk pergi.
" Udah deh Dewa jangan bikin aku jadi emosi dan sedih. lepasin tangan aku, aku mau pulang. " Ucap Ayri dengan mengguncangkan tangan yang tetap Dewa pegang.
" Kemarin hari jadian kita ke 3 tahun. Kemarin malam aku chat kamu berusaha kamu respon supaya kita romantis dalam chat, tapi kamu ngga respon chat aku. Dan ternyata aku salah, aku baru ingat pas baca chat dari kamu minta doa, aku baru inget kamu akan ujian. Dan sial nya kemarin pas aku niat balas, kakak aku malah pinjam HP jadi aku non aktifkan kartuku. Bahkan hari ini pun aku ngga pegang HP. " Jelas Dewa berusaha mengucapkan dengan cepat agar Ayri tidak lekas pergi.
Ayri pun terenyuh mendengar hal tersebut sehingga ia terdiam dan terpaku.
" Maafin aku. " Ucap Dewa yang kemudian memeluk Ayri.
" Betapa stress nya aku memikul beban perkuliahan di kebidanan Wa sampai - sampai di hari jadian pun aku sama sekali tidak ingat. " Ucap Ayri terisak di pelukan Dewa.
" Sabar sayang, jangan patah semangat itu semua demi cita-cita kamu. " ucap Dewa sambil memeluk Ayri dengan erat.
" Ehmm, duh siang bolong gini nih. " Sindir Sinta yang melihat secara langsung mereka berpelukan. Hingga akhirnya mereka melepaskan pelukan sementara Ayri menghapus air matanya.
" Ayo di minum dulu nih suguhannya. Maaf ya kak suguhannya seadanya, hehe. " Ucap Sinta dengan ramah.
" Oh iya Sinta ga apa-apa, maaf ya aku udah merepotkan kamu. " Ayri tiba-tiba canggung terhadap Sinta dan melihat jam. Tidak terasa 1 jam ia berada di rumah Sinta hingga akhirnya ia harus pamit pulang karna tidak ingin terlalu sore untuk sampai rumah.
" Oh iya Sinta, Dewa, aku pamit pulang ya. Keburu sore, dan cuaca juga kaya nya mau turun hujan. " Pamit Ayri kemudian.
" Oh iya udah ga apa-apa, hati- hati ya kak. Jangan ngebut-ngebut pulangnya. Ucap Sinta mengantar Ayri keluar ruangan di ikuti oleh Dewa.
Di perjalanan Ayri menyetir motor dengan kecepatan tinggi karna ia ingin segera sampai rumah dan karna cuaca sudah sangat mendung sekali.
Sesampainya di depan rumah Ayri..
Ada beberapa motor terparkir di depan rumahnya selain itu ada beberapa laki-laki seusianya duduk di teras rumahnya. Bahkan Ayri mengenali salah satu dari laki-laki tersebut.
" Itu, seperti Uga, atau Ugi ya?. Kenapa dia ada disini?." Dalam hati Ayri penuh tanya.
" Assalamualaikum. " Sapa Ayri kepada para tamu yang sedang duduk berbincang dengan tamu yang lain sambil menundukkan kepalanya dan berjalan masuk dengan cepat.
" Loh, ko kamu pulang nak?. " Ibu Ayri terkejut ketika ia sedang menyiapkan suguhan kepada tamu.
" Eh, iya mah. Mah itu ko tamu laki-laki siapa dan ada acara apa?. " Tanya Ayri heran karna tidak seperti biasanya pemandangan tersebut ada di rumahnya.
__ADS_1
" Itu teman-teman kuliah papah, katanya lagi diskusi tugas kelompok. Ayo kamu bantuin mamah ngasih suguhan ini. " Suruh ibunya menyodorkan baki berisi kaleng kue.
" Oh iya bentar mah, Ayri simpan tas dulu. Emang papahnya kemana?. " Tanya Ayri sambil menaruh tas dan membantu ibunya menyiapkan suguhan.
" Papah lagi mandi, shalat dulu. " ucapnya.
Ayri menyodorkan suguhan dan meletakkan nya di meja tamu, sementara tanu tersebut terpanah melihat Ayri. Namun Ayri hanya menunduk.
" Ayri, kuliah dimana kamu sekarang?. " Tanya salah satu tamu tersebut.
Hati Ayri pun tiba-tiba berdebar dan menoleh ke arah suara tersebut.
" Hmm, Uga ya?. " Tebak Ayri dengan sinis.
" Bu, bukan. Aku Ugi hehe. " Jawabnya.
" Oh, aku ga terlalu hafal sih. Maaf ya. " Ucap Ayri kemudian berlalu masuk ke dalam rumah.
" Ya ampun, kenapa ko aku deg-degan gini sih. Kenapa juga aku salah nebak. Huh, kenapa juga ko dia jadi teman kuliah papah. " Gumam Ayri dalam hati. Ia pun kemudian masuk kamar dan bersiap untuk mandi.
Terngiang semalaman ia akan sapaan seorang Nugi Nugroho yang dulu adalah laki-laki yang sempat Avril ceritakan bahwa ia ngefans dengan seorang Uga/Ugi dan sering bertemu di saat ia berkunjung ke toko paman nya, sempat bertemu pula di alun-alun trotoar dengan temannya yang bernama Nana. Ayri pun kembali teringat masa-masa SMP dulu sambil membuka FB dan mencari nama FB Ugi.
" Nugi Nugroho, oh ini toh nama aslinya. Masih jomblo, kuliah di Univer. Singaperbangsa jurusan Ekonomi. Hmm coba deh add pertemanan. " Ayri memintai pertemanan yang tidak lama Nuga konfir.
" Ayri, bangun sayang. " Ibu Ayri membangunkan Ayri di jam 5 subuh. Sementara Alarm yang Ayri pasang di jam 3 pagi tidak ia dengar sama sekali karna tidur lelap.
" Ayri katanya ujian tulis, ayo bangun. " Ucap ibu nya yang terus berulang-ulang.
Ayri pun terbangun dan langsung tergesa-gesa
" Astagfirullah mah, aku kesiangan. " Ucapnya langsung bangkit dan menuju kamar mandi untuk mandi. Ayri pun memakai baju sambil membaca materi ujian, serta sedikit menulis contekan pada secarik kertas.
Setelah selesai siap-siap, Ayri berangkat membawa motor sendirian ke kampus. Tapi hati Ayri masih khawatir berkendara di jalan raya sendiri sehingga ia menelfon Dewa untuk mengantarnya ke kampus.
" Aku masih ngantuk sayang. " Ucap Dewa sambil menguap.
" Pliss Dewa, apa kamu ngga takut aku kenapa-kenapa di jalan?." Rayu Ayri. Pasalnya ia menelfon Dewa di perjalanan menuju rumah Sinta.
" Iya oke, bangun. Tunggu di depan toko Sinta, aku mandi dulu. " ucap Dewa kemudian mematikan Hp nya. Ayri pun menuruti perintah Dewa.
Dewa setia menemani Ayri, beruntung ibunya setelah shalat subuh sudah pergi ke kebun sehingga Dewa leluasa untuk pergi menemani Ayri.
Suasana sejuk masih berembun mengiri perjalanan mereka menuju kampus sampai-sampai Ayri tertidur di punggung Dewa.
__ADS_1
Dewa menggenggam tangan Ayri yang dengan refleks jatuh di pahanya lepas dari pegangan pinggang Dewa.
" Hmm, udah sampai mana ini?. " Ayri membuka matanya perlahan melawan rasa kantuknya.
" Ini bentar lagi sampai, itu kan kampus kamu?. " Tanya Dewa menunjuk kampus yang sudah mulai terlihat.
" Iya, nanti kamu tunggu ya sampai aku keluar jam pulang. Hari ini aku cuma sampai jam 12 siang. " Ujar Ayri. Padahal menunggu 6 jam terlalu lama dan membuat jenuh tanpa aktivitas.
" Iya, tapi kamu harus janji, semangat kuliah dan ujian." Dewa memberikan semangat. Tanpa pikir panjang Ayri mengangguk dan setelah sampai di lokasi, Ayri langsung masuk area kampus sementara Dewa menunggu di mushola depan parkiran.
" Ayri...... ! " Panggil Aisyah dari arah belakang Ayri. Sontak Ayri langsung memalingkan badan dan melihat Aisyah berjalan dengan nyengir-nyengir menahan sakit.
" Lho, Aisyah. " Ayri pun menghampiri Aisyah dan membantu memapah Aisyah.
" Kenapa kamu malah masuk kuliah, baru sehari kamu pasca lahiran. Kenapa ngga ijin aja sih. " Ucap Ayri sambil terus memapah Aisyah.
" Hari ini kan ujian, aku ngga mau ketinggalan Ay, lagi pula mumet banget ngga boleh ada alasan tidak bisa mengikuti ujian, harus menyertakan surat sakit. " Jelas Aisyah sambil berbisik karna takut kedengaran mahasiswa lain.
" Kan bisa minta surat sakit, dari pada nanti kamu kenapa-kenapa sama luka nya. " Ayri menghawatirkan Aisyah.
" Ngga apa-apa Ay, insya allah aku kuat, asal kamu selalu ada temani aku. " Ujar Aisyah.
Sayangnya mereka tidak satu ruangan selama ujian sehingga Ayri tidak bisa selalu dekat dengan Aisyah.
" Kamu jaga diri ya, aku masuk ruangan dulu. Pokonya kalo ada apa-apa kamu kabarin aku. " Ucap Ayri sambil melepas gandengan dan mendahului Aisyah masuk ruangan.
Selama Ujian, Hati Ayri memikirkan Dewa yang ia rasa pasti jenuh menunggu berjam-jam di parkiran dan juga memikirkan Aisyah yang pasti kesakitan duduk berjam-jam mengisi soal ujian.
" Ayo, konsentrasi, isi yang benar. " Ujar Pengawas ujian yang dari tadi memperhatikan Ayri Gelisah.
Ayri pun merasa tertegur dan kembali fokus terhadap soal. Dengan sigap Ayri pun mengisi soal-soal berharap 1 jam ia mampu menyelesaikan nya.
Bel tanda istirahat pun berbunyi, Ayri segera mengumpulkan lembaran Esai dan bergegas menuju parkiran mencari Dewa.
" Dewa, maaf ya aku lama. Pasti kamu lapar belum sarapan. " Ujar Ayri kepada Dewa yang setia menunggu sembari tertidur di luar mushola.
" Hmm, udah selesai?. " Tanya Dewa sambil memakai jaketnya lagi yang dari tadi ia pakai untuk bantalan kepala.
" 1 materi lagi. Ini waktu istirahat, kita sarapan dulu yuk, Disitu ada warteg. " Ajak Ayri menunjuk depan kampus.
Dewa pun menuruti ajakan Ayri karna memang sejak tadi ia menahan lapar.
Bekal jajan Ayri hari ini hanya lima puluh ribu sehari, tetapi ia harus mentraktir Dewa sarapan, serta membeli bensin untuk perjalanan pulang. Sehingga mereka harus cukup makan dengan porsi dan lauk seadanya.
__ADS_1