
Pagi hari..
Seperti biasa sebelum sarapan di dapur pesantren, kamar Ayri mendapat jadwal piket. Kali ini piket halaman kantor pesantren. Teman-temannya riang gembira menyapu halaman sambil bercanda-canda, namun Ayri hanya bisa memandangi mereka tersenyum sambil ikut tersenyum.
" Mereka sepertinya betah menjalani keseharian disini, semoga gue juga sama" Batin Ayri.
" Eh Ayri, tolong buangin sampah ini dong." Suruh Tiara salah satu temannya di kamar, karna Ayri tidak kebagian alat piket sehingga ia kebagian untuk membuang sampah.
" Eh iya, sini. " Ayri meraih tong sampah dan membuangnya di tong sampah akhir yang terletak di samping koprasi.
Pada saat Ayri menuang sampah, Ayri melihat Haikal yang sedang tadarusan di tempat kasir sambil duduk dengan sikap tegap.
" Pantas saja Kaka kelas itu kagum sama dia, meskipun dia lagi jaga koprasi tapi tetap meluangkan waktu untuk tadarusan." Ucap Ayri dalam hati. Ia pun kembali melakukan piketnya. Dan kemudian melakukan rutinitas lainnya di pesantren.
Beberapa hari di pesantren kini Ayri mulai merasa betah, tetapi bayangannya selalu teringat oleh sosok Dewa. Ayri memikirkan apakah Dewa masih mengingatnya, ataukah dia sudah mempunyai pacar.
****
Beberapa bulan kemudian..
Ayri semakin semangat sekolah karna hari ini adalah hari terakhir ujian sekolah dan besok adalah hari libur Semester sekolah.
" Rasanya ga sabar banget menunggu besok, udah kangen sama mamah sama Roy juga. Sahabat-sahabat gue masih inget ngga ya?." Fikiran Ayri sudah tertuju pada suasana rumah.
" Ayri, kamu pulang kampungnya kemana?." tanya seorang laki-laki secara tiba-tiba muncul di hadapan Ayri. Kehadiran nya membuat Ayri tersentak kaget.
" Kamu, sejak kapan kamu berdiri disitu? " Ucap Ayri kaget.
" Sejak kamu senyum-senyum sendiri." Ucap laki-laki dengan nada datar yang ternyata adalah Ghani.
Ghani adalah teman satu kelas Ayri yang secara terang-terangan pernah mengungkapkan perasaannya kepada Ayri. Tetapi Ayri menolak karna dia sama sekali tidak suka dengan Ghani yang sikapnya pendiam tetapi matanya jelalatan suka memperhatikan wanita.
" Yey, aku pulang ke Karawang. Kenapa emang? Pengen tau banget sih." Ucap Ayri ketus.
" Karawang? Berarti Deket dong sama alamat aku. Aku dari Subang, boleh aku main ke rumah kamu? atau minta nomor HP kamu deh." Ucap Ghani yang membuat Ayri geli.
" Maaf ya aku ngga punya HP, permisi." Jawab Ayri yang masih ketus dan malah bergegas meninggalkan Ghani. Ayri hanya tersenyum melihat kelakuan Ayri.
" Ya ampun, kenapa sih gue malah di demenin sama orang macam Ghani . " Ayri mengernyitkan bahunya geli.
Jam pelajaran terkahir ujian selesai, para siswa terutama siswa Asrama berbondong - bondong pulang bersama-sama. Ayri pulang bersama Ririn dan Desy yang semakin hari mereka semakin akrab.
__ADS_1
" Cie kayaknya ada yang pada seneng nih bisa pulang kampung." Celoteh Ririn kepada Desy dan Ayri.
" Iya dong, kamu juga pasti senenglah." Jawab Ayri
" Hehe, seneng aja sih aku mah setiap hari juga. Aku ngga pulang Ay, Aku nunggu kalian aja di Asrama sambil mengikuti kajian di pesantren." Jawab Ririn dengan senyuman.
" Masa ngga pulang Rin? kamu nda kangen opo sama ma bapa mu di kampung?." Ucap Desy dengan logat yang masih kental.
" Hehe, pastilah kangen. Biaya pulang kampungku mahal, aku musti berangkat pakai pesawat." Jawab Ririn.
" Hehe, iya juga ya. Ya udah yang sabar ya Rin, apa kamu mau ikut pulang ke rumah aku aja?." Tawar Ayri kemudian. Ia merasa simpati kepada Ririn yang pastinya rindu dengan keluarganya
" Eh, ngga usah. Aku disini masih banyak temen ko, yang satu perantauan sama aku kan banyak jadi meskipun kalian pada liburan aku masih banyak temen, hehe. " Jawab Ririn Yang selalu riang. Mereka berjalan beriringan dengan hati suka cita.
Keesokan harinya..
" Ririn, Desy aku pulang duluan ya Kaka aku udah jemput di kantor. " Pamit Ayri kepada ke 2 sahabatnya yang ikut membantu mengemaskan barang-barang yang akan Ayri bawa.
" Iya hati-hati di jalan ya. " ucap Ririn sambil memeluk Ayri. Ayripun pergi setelah berpamitan dengan teman sekamar yang lainnya.
" Kaka..... " Ayri berlari menemui kalanya yang sedari tadi menunggunya di ruang tunggu. Ia memeluk kakanya erat.
"Ayri kangen banget, Roy apa kabar kamu sayang?." Ayri kemudian memeluk dan menciumi Roy yang ikut dengan ibunya menjemput tantenya.
" Ayo kita pulang, mamah udah nungguin kamu di rumah." Ayripun pulang dengan suka cita.
Sesampainya di rumah..
Setelah mencurahkan rindunya dengan ibu karna ayahnya sedang tidak ada di rumah, lalu Ayri masuk ke dalam kamarnya yang masih tertata rapih sama persis seperti sebelum Ayri berangkat.
Ayri teringat dengan HP miliknya. Ia mencari - cari di dalam lemari dan setiap laci yang ada di dalam kamarnya namun tidak ia temui.
" Mamah, mamah tau dimana HP Ayri?." Tanya Ayri kepada ibunya yang sedang memasak makanan kesukaan Ayri.
" Eh itu sayang. Semenjak kamu ngga ada di rumah, papah yang pake HP kamu. " Tutur ibu Ayri.
" Yah, kenapa bisa sih. Itu kan HP Ayri , papah kenapa ngga izin ke Ayri dulu. " Ucap Ayri kesal dengan wajah cemberut.
" Nanti mamah bilang lagi ke papah buat balikin HP kamu, sekarang istirahat dulu. Mamah lagi bikin sayur kesukaan kamu nih. Nanti kamu makan yang banyak ya." Tutur Ibu Ayri yang selalu lembut.
" Heuh, ada aja yang bikin gue kesel tuh. Kelakuan orang tua gitu amat sih" Gerutu Ayri dalam hati.
__ADS_1
Ayri pun kembali masuk ke dalam kamar dan menikmati kesejukan kasur yang sudah lama tidak ia tiduri.
" Hmmm, rasanya nyaman banget. Ngomong-ngomong Gimana kabar temen-temen gue ya, gue besok harus temui mereka." Ucapnya .
Ayri kemudian memutarkan radio tape yang masih tertata rapih di atas laci dan ia memutar lagu ungu band. 'CINTA DALAM HATI'
" Hehe, terakhir gue denger lagu ini, dan sekarang gimana kabar kamu hey Cidaha gue." Ucap Ayri kepada radio tape.
" Hah, mungkin dia udah bahagia sama pilihannya." Ayri menghela nafas panjang dan membuangnya dengan tersentak.
" Ayri.... " Panggil Kakanya dari luar kamar dan kemudian membuka pintu kamar secara tiba-tiba.
" Hey, kita makan bakso yuk di perempatan komplek." Ajak Kakanya kemudian.
" Em, boleh. Bentar ya Ayri ganti baju dulu. " Ayri pun segera ganti baju dan pergi bersama kakak dan ponakannya ke sebuah kios Bakso yang lumayan jauh dari rumah Ayri.
Di perjalanan, Ayri membonceng motor dengan Kakanya. Sambil bercerita di atas motor yang sedang di jalankan, mereka bercerita ngalor ngidul. Sampai pada suatu tempat, dimana itu adalah jalan gank menuju rumah Rangga Ayri melihat ada sebuah janur kuning melengkung.
Namun Ayri tidak menyadari bahwa janur kuning tersebut adalah tanda pesta pernikahan Rangga dengan wanita pilihannya yang baru kemarin di langsungkan.
" Oh iya Ay, kemarin kamu dapet undangan pernikahan dari teman kamu yang namanya R siapa ya lupa, hehe." Ucap Kaka Ayri setelah melewati janur kuning tersebut.
" Apa? jadi Rangga udah menikah? Segitu cepatnya dia melupakan gue. Tapi syukurlah gue jauhin dia, andai aja gue masih pacaran sama dia apa jadinya?" Gumam Ayri dalam hati.
" Eh pacaran? bukankah waktu itu Rangga pernah bilang ke gue kalo masa pacaran gue tetap berlanjut sama dia?."
" Maaf ya sayang, Kaka udah salah. Tapi Kaka janji mulai malam ini sampai seterusnya Kaka akan ngabarin kamu dan kita akan terus jadian." Ucap Rangga waktu di malam Minggu pertama itu. Ayri membayangkan kembali masa itu.
Sesampainya di kios bakso, Ayri tidak menyangka bahwa di hadapan kasir ada seorang laki-laki yang sangat ia kenal sedang membayar usai makan bakso dengan satu teman laki-laki nya.
" Dewa. " Panggil Ayri refleks.
" Ayri, Apa kabar ?. " tanya Dewa yang takjub melihat Ayri yang kini berpenampilan berbeda. Yang dulu semasa SMP Ayri memakai celana, kini Ayri berpenampilan mengenakan baju syar'i.
" Aku? Ba, baik!. " Ucap Ayri gugup.
" BTW, gue duluan ya. " Dewa tergesa - gesa meninggalkan Ayri.
"Dia siapa Ay? " tanya kakak Ayri penasaran. Mereka duduk di meja makan dan menunggu hidangan di sajikan.
" Eh, dia temen Ayri waktu SMP. Ga nyangka aku bisa ketemu sama dia, hehe."
__ADS_1
"Hayo, kamu suka ya sama dia, Hehe" Canda kakak Ayri.
" Hehe, suka juga ngga pernah ketemu. Kita di sekolah ribut melulu. Ah udah deh jangan bahas dia." Ayri merasa malu terhadap Kakak nya.