Apakah Ini Cinta??

Apakah Ini Cinta??
Penyusup part 2


__ADS_3

Pukul 22.00 Wib


Ayri baru saja selesai mandi karna baru pulang Dinas.


" Rasanya seger banget, besok libur Dinas lebih baik besok aku pulang. Aku udah rindu masakan mamah hmm. Eh tapi, ah pasti bete banget ngga bisa ketemu Dewa. " Hati Ayri tiba-tiba lusuh seketika akan membuka loker untuk menyiapkan baju untuk besok pulang.


Tok tok tok..


Tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar asrama luar.


Ayri pun merasa was-was khawatir orang jahat yang mengintai.


Ayri mengintip dari jendela dan tidak ia sangka ternyata itu adalah Dewa. Ayri langsung membuka pintu.


" Dewa, kamu ko ada disini? ini udah malam, gimana caranya kamu bisa masuk ke area sini, kan udah jam 10 gerbang udah di kunci. " Tanya Ayri yang tidak habis bicara karna ia merasa penasaran.


" gerbang masih dibuka, itu masih banyak orang di area kampus. " ujar Dewa yang masih berdiri di luar pintu.


" kamu ko.. " Tanya Ayri lagi tetapi belum sempat Ayri berkata, Dewa sudah menghentikan mulut Ayri dengan 1 jarinya.


" Sttttt, udah jangan banyak tanya ayo ganti baju terus ikut aku. " Ujar Dewa.


" Eh tapi.... " Lagi-lagi Ayri masih penuh tanya.


" Udah sana ganti baju, aku tunggu di luar. Jangan lama sebelum gerbang di tutup. " Ujar Dewa yang kemudian menunggu Ayri di luar.


Ayripun segera berganti baju, menyiapkan tas yang berisi dompet dan uang.


" Kita mau kemana malam-malam gini Dewa. " Tanya Ayri ketika ia sudah di depan asrama dan berjalan beriringan dengan Dewa.


" Jalan- jalan, menghabiskan malam di kota. " Jawab Dewa simpel dan datar. Sementara Ayri tiba-tiba canggung terhadap Dewa, pasalnya ia merasa bersalah karna pagu tadi sudah berani bertemu dengan Nugi dan sarapan bersama.


Mereka menunggu angkutan umum di halte depan kampus sementara sambil menunggu Ayri minta penjelasan dari Dewa akan kehadirannya yang secara tiba-tiba.


" Ada apa tiba-tiba kamu datang, untung gerbang kampus masih di buka. Kamu lusuh banget, pakaianmu lecek. " Tanya Ayri was-was melihat Dewa yang berpakaian dekil, dan wajah yang lusuh.


" Aku resign dari kerjaan ku karna aku tidak tahan kerja berat di lapangan, belum lagi team kerjaku semuanya mempengaruhi nakal. Ah entahlah, aku pulang dadakan dengan keadaan seperti ini. " cerita Dewa dengan memalingkan badan nya dari tempat duduk halte.


" Hmm, yang sabar. Jangan memaksakan diri jika memang tidak mampu Dewa, eh itu mobil sudah dekat. Kita mau kemana sekarang?. " Ayri melambaikan tangan kepada angkutan umum tersebut agar berhenti dan membawa nya pergi ke suatu tempat.


" Kita makan malam, ke alun-alun ya. Pasti kamu lapar belum makan kan?." Tanya dan ajak Ayri. Dewa hanya menuruti Ayri lalu keduanya pergi menaiki angkutan umum.

__ADS_1


Tiba di alun-alun tepat di depan mall, Ayri memesan pecel lele yang kadang Ayri pergi sendiri dan makan di tempat tersebut meskipun hanya sesekali.


" Untuk menunggu besok kamu akan tidur dimana Dewa, menunggu pagi masih lama. " Tanya Ayri yang menghawatirkan Dewa yang dari tadi lusuh.


" Nanti aku hubungi teman yang ngekost di sekitaran sini, kalaupun tidak ada kita tidur di masjid atau bermalam di sini. " Jawabnya masih simpel.


Mereka berdua menikmati makan malam, meskipun Ayri sudah makan malam sebelum mandi, tetapi melihat Dewa yang lahap ia pun terbawa lapar.


Malam pun semakin larut, setelah makan mereka menikmati malam di bawah pohon taman alun-alun memandangi langit mereka berdua berbaring di rumput alun-alun. Kedua nya saling menatap, Dewa yang sejak datang tidak lepas dari sweater yg ia kenakan terlihat sangat pucat ketika Ayri pandang.


" Dewa. " ucap Ayri.


" Hmm. " mata nya sambil terpejam.


" terimakasih ya, kamu telah menjaga hati selama ini. Dan aku minta maaf kalau selama ini aku ada salah. Jangan pernah tinggalin aku ya. " Ucap Ayri dengan tatapan serius kepada Dewa.


" Iya. " Jawab Dewa datar dan lusuh.


" ko singkat gitu sih. Serius dong. " Ayri berganti posisi menjadi telungkup karna kurang terima akan jawaban Dewa.


" Iya beneran. " Ucap Ayri yang sesekali memejamkan matanya. Terlihat oleh Ayri bahwa badan Dewa menggigil.


" Astagfirullah Dewa badan kamu demam banget, ayo bangun. Kamu ga boleh kena angin malam kalo begini. Ayo kita menepi ke depan toko tutup itu. " Ayri membantu membangunkan Dewa dan berusaha memapah Dewa sampai ke depan toko di sebrang jalan alun-alun.


Waktu menunjukkan pukul 00.00 WIB. Toko-toko di sekitar alun-alun sudah tutup hanya ada beberapa penjual kuliner yang masih buka. Ayri bingung harus bagaimana, ia menyelimuti tubuh Dewa dengan sweater nya.


" ga mungkin kalo aku bawa kamu ke asrama pasti gerbang sudah di tutup. Nunggu pagi masih lama, gimana ini. " gumam Ayri yang menghawatirkan kondisi Dewa yang saat ini sedang bersandar di bahunya. Mereka duduk di emperan toko tutup.


" mungkin aku hanya butuh istirahat sebentar, aku pejamkan mataku dulu sebentar ya. " ujar Dewa dengan suara pelan.


" Iya oke kalo membuat kamu sedikit nyaman, aku akan jagain kamu. " Ucap Ayri sambil mengusap kepala Dewa.


Jam berputar begitu lama, hingga pukul 02.00 WIB, Mata Ayri mulai lelah dan lagi-lagi menguap sampai ia terkantuk-kantuk .


Grrrrr..... Kricik, kricik, kricik.


Hujan deras tiba-tiba turun, sehingga membuat Ayri terbangun dan membangunkan Dewa untuk menepi lebih ke sudut depan toko yang tidak terkena semprotan air hujan.


" Masya allah, kenapa tiba-tiba turun hujan. " Ayri merasa kedinginan karna angin yang tiba-tiba berhembus.


" Jam berapa ini?. " Dewa terbangun merogoh kantong celananya dan melihat jam di layar ponselnya.

__ADS_1


"Jam 2, kamu pasti ngantuk ya jagain aku tidur sebentar. Aku juga udah mendingan, sebaiknya kamu yang kali ini tidur, biar aku jagain kamu sampai pagi. " Ujar Dewa. Dewa memposisikan duduk dengan kaki selonjor agar Ayri bisa tidur di pangkuan nya.


" Tidur yang nyenyak jangan pikirkan aku. " Ujar Dewa lagi.


" Iya, pagi-pagi kita langsung on the way pulang ke rumah ya, aku khawatir keadaan kamu memburuk. " Ucap Ayri yang tidak bisa lepas dari kekhawatirannya.


Azan subuh berkumandang, Ayri dan Dewa memutuskan untuk mencari angkutan umum untuk sampai ke rumah.


Ayri mengurungkan diri untuk pulang ke rumah, dan ia lebih memilih istirahat sejenak di rumah Dewa.


" Assalamualaikum " Sapa Dewa ketika mereka telah sampai di rumah Dewa.


" Walaikum salam, masya allah nak kamu pulang?. " Ibu Dewa menyapa dengan lembut dan memeluk Dewa seketika membuka pintu.


" Iya bu, Dewa ijin kerja badan Dewa kurang Vit." Ujar Dewa menyudahi pelukan itu.


" Eh sama Ayri juga toh kesininya, ayo nak masuk ke dalam. Masih pagi gini, jam berapa kalian dari sana dan kenapa bisa berbarengan kaya gini?. " ujar Ibu Dewa sembari mempersilahkan masuk.


" Hmm, anu bu. Kebetulan saya hari ini libur Dinas, dan ketemu Dewa di jalan jadi kita pulang bareng deh. " Ujar Ayri beralasan.


" Bu, tolong siapkan sarapan untuk Ayri ya. Dewa mau istirahat dulu sebentar di kamar. " Ucap Dewa sambil ia melangkah menuju kamar.


" Sini biar aku bantu kamu sampai ke kamar. " Ayri memapah Dewa sampai kamar. Tanpa di sengaja, Ayri melihat keadaan kamar Dewa yang hanya beralaskan kasur lantai serta lemari tanpa pintu.


" Sebaik nya kamu sarapan dulu, setelah itu minum obat. Biar aku bantu ya. " Ujar Ayri begitu peduli terhadap Dewa.


Ayri pun pergi ke dapur dan membantu Ibu Dewa menyiapkan sarapan untuk mereka.


" biar saya bantu ya bu, badan Dewa demam tinggi jadi setelah sarapan Dewa nanti akan di beri obat bu. " Jelas Ayri kepada ibu Dewa.


" Iya, makasih ya neng kamu udah baik banget sama Dewa. Baru neng loh cewe yang berani Dewa bawa ke rumah. " Ujarnya.


" Oh ya bu? memang Dewa belum pernah pacaran sebelum nya?. " Tanya Ayri basa-basi dan memastikan apakah selama ini Dewa menutupi rahasia atau tidak.


" Ah nanti tanya aja sama Dewa ya, hehe. Oh iya neng tuh kerja dimana bisa kenal sama Dewa?."


Ayri pun bercerita tentang Dirinya yang saat ini sedang berjuang menghabiskan semester pertamanya di bangku kuliah Kebidanan, dan ia pun bercerita tentang pertemanannya dengan Dewa semasa SMP.


" Masya allah, ternyata kalian sudah sejauh ini ya. Sayang Dewa ngga pernah cerita ke ibu kalo dia begitu mengagumi cewe secantik kamu dan berpendidikan tinggi seperti kamu. Sayang nya keadaan Dewa seperti ini neng. " Ujar ibu Dewa yang selalu menyanjung Ayri.


" Ah ibu bisa aja, beruntung Dewa memiliki ibu yang baik dan ramah bu. Saya suka dengan perilaku ibu, makasih ya bu. " Ujar Ayri yang kemudian mengelus pundak Ibu Dewa sambil memberikan senyuman.

__ADS_1


__ADS_2