
Permasalahan Aisyah di kamar dengan teman - teman sudah selesai dan mereka saling memaklumi akan kehamilan Aisyah. Aisyah pun sudah bercerita kepada Ayri tentang bagaimana ia bisa di terima kuliah meski dengan kehamilan.
Hari sabtu tiba...
Hari ini adalah hari yang di tunggu Ayri untuk segera pulang. Menunggu 1 minggu rasanya lama apalagi semakin hari dan setiap mata kuliah selalu di beri tugas presentasi sementara Ayri sudah pusing karna kerap kali dia mengerjakan tugas di Warnet menghabiskan uang jajan nya selama 1 minggu yang seharusnya bisa ia gunakan untuk jajan dan membeli kebutuhan yang lain.
" Masya allah, rasanya lega banget udah hari sabtu. Tinggal menunggu mata kuliah satu lagi. Terus pulang, aku kabarin Dewa dulu deh. " Ucap Ayri sambil mengambil HP di tasnya dan mengabari Dewa.
' Pagi sayang, lagi apa nih? Aku kangen tau, nanti malam kita ketemu yuk. ' Chat Ayri kepada Dewa.
' Aku lagi ngumpulin tugas akhir di sekolah. Emang nanti malam kamu ada di rumah?' Balas Dewa kepada Ayri.
' Yap, pokonya nanti malam kita ketemu ya, Miss you' Balas Ayri lagi dan di balas oleh Ayri dengan emoticon love.
" Silent hey, dosen KDPK bentar lagi datang. " Ucap Dian dengan lantang yang kemudian di ikuti langkah dosen yang bernama Uun Nurjanah. Ibu Uun Nurjanah adalah Dosen Perawat yang berjabat sebagai Wakil Yayasan Kampus.
" Selamat siang menjelang sore calon bidan-bidan ku." sapa Ibu Uun dengan lembut.
" Siang bu. " Seru Mahasiswa kelas C.
" Ibu tidak akan panjang lebar menjelaskan materi kali ini ya, karna ini adalah pertemuan pertama kita jadi kita belajar sambil berkenalan aja. " Ujar dosen cantik tersebut.
Perkuliahan yang berawal dari obrolan sampai akhirnya materi yang membuat para Mahasiswa pusing karna harus menghitung tetesan cairan infus dan belajar bagaimana cara mencari urat tangan untuk bisa di tusuk jarum infus pun akhirnya berakhir.
" Materi tambahannya nanti kalian pelajari di rumah ya, searching di google tentang materi yang ibu berikan tadi. Semoga hari libur besok kalian menyenangkan, permisi wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatu " Pamit ibu Uun.
" Akhirnya selesai juga. " Ayri langsung bergegas keluar kelas dan menuju kamar untuk berkemas pulang.
' Ayri papah udah nunggu kamu di depan kampus.' Chat Ayah Ayri.
Chat tersebut membuat Ayri buru-buru berkemas dan langsung pergi menemui ayahnya yang sedari tadi menunggu Ayri di parkiran kampus.
" Gimana kuliah nya, menyenangkan?" tanya Ayah Ayri ketika anak nya itu menggapai tangannya untuk bersalaman.
" Pusing pah, semua tugas harus di kerjakan dengan online. Sementara Ayri ngga punya laptop. " Ucap Ayri lusuh. Mereka berbincang di atas motor sambil berjalan pulang.
" Nanti papah belikan, papah juga butuh laptop untuk kerja dan kuliah. " Ucapnya.
Selama perjalanan pula Ayah Ayri bercerita bahwa ia juga mulai masuk perkuliahan Umum mengambil Bidang Ekonomi karna ia ingin mewujudkan keinginannya menjadi Pejabat pemerintah.
Ayri hanya menggumam-gumam dalam hati.
" Ngapain sih pake kuliah-kuliah segala dan segala ingin jadi pejabat, heuh nambah-nambah biaya aja. " Gumam Ayri sinis.
Sesampainya di rumah, Ayri mendapati ibu nya yang sedang menunggu kedatangannya.
" Assalamualaikum Mah. " Ucap Ayri sambil bersalaman dan memeluk ibunya tercinta.
" Walaikumsalam, cape ya? sini mamah bantu bawakan tasnya. Buru mandi, terus makan dan istirahat." Suruh ibu Ayri sambil membantu Ayri membawakan tas.
" Iya mah, Ayri banyak tugas mah selepas mandi, makan shalat Ayri mau ke warnet mengerjakan tugas mah. " Ucap Ayri sambil melepas sepatunya dan membuka jilbabnya.
__ADS_1
" Masya allah, kamu cape banget ya nak, yang sabar ya. Ayo buruan mandi ya, biar nanti mamah siapkan makan buat kamu. " Ucap ibu Ayri bergegas ke dapur.
Ayripun masuk ke dalam kamar dan mengabari Dewa.
' Sayang, aku udah sampai nih. jam 7 kita ketemu di Warnet dekat rumah aku ya. ' Chat Ayri kepada Dewa.
Dan kemudian Ayri bergegas mandi.
Waktu yang di tunggu Ayri terasa cepat berlalu, tetapi Ayri tidak ingin melewati malam minggu secara percuma.
Ayri bertemu dengan Dewa di sebuah Warnet, dan ini adalah kali pertamanya Ayri dan Dewa bertemu di malam minggu meskipun pertemuannya harus dengan mengerjakan tugas perkuliahan Ayri.
" Aku pusing banget Wa, banyak banget tugas yang harus di buat, sementara aku ngga ngerti apa yang harus di kerjakan. Huhu. " Adu Ayri kepada Dewa.
" Terus kamu ngapain kesini dan otak atik komputer?" Tanya Dewa yang sama sekali tidak mengerti dengan tugas Ayri.
" Ya kerjain aja apa yang aku bisa deh. " Jawab Ayri pasrah.
" Ya udah coba kerjain, aku liatin aja. Habis selesai ngerjain tugas nanti aku ajak kamu ke tempat yang romantis. " Ucap Dewa mencoba menghibur Ayri.
" Hmm, serius? kemana? " Tanya Ayri dengan wajah ngeyel.
" Udah kerjain aja dulu. " Ucap Dewa memastikan.
30 menit berlalu Ayri otak atik komputer mencari materi tentang tugas yang di berikan hingga akhirnya selesai juga.
" Ikhtiar aja, semoga tugas-tugasnya di terima. Dan sekarang lets go, kita ke tempat romantis. " Ucap Ayri bersemangat.
" Emang mamah sama papah ngga bakal nyariin dan marahin kamu kalo tau kamu pergi malam mingguan sama aku?" tanya Dewa yang mengkhawatirkan mereka akan backstreet nya terhadap orang tua Ayri.
Akhirnya Dewa pun membawa Ayri pergi menuju taman kelapa yang tidak jauh dari rumahnya.
Suasana taman tersebut sunyi dan gelap, hanya cahaya bulan yang menerangi tempat tersebut. Ayri merasa takut dan dia memeluk Dewa dari belakang di atas motor.
" Gelap Dewa, aku takut. " Ayri khawatir dan jantung nya deh-degan.
" Kan ada aku disini, tenang aman ko. Katanya kamu cape, coba kamu cerita ke aku yang membuat kamu terbebani. " Dewa turun dari motor dan membalikkan posisi nya menatap wajah Ayri.
" Aku, sebenarnya ngga mau kuliah di kebidanan Wa, cape. Langkah ku terasa berat dan hati aku terasa sempit tiap kali berada di lingkungan kampus. Apalagi di tambah dengan tugas-tugas yang ngga di mengerti" Ucap Ayri sambil menangis terisak, telapak tangan nya menutupi wajah agar Dewa tidak melihat berapa banyak air mata yang terjatuh.
Dewa meraih tangan Ayri yang basah oleh air mata. Kemudian menghapus air mata yang membasahi wajah lusuhnya Ayri.
" Sabar sayang, orang tua kamu pengen anaknya jadi anak yang sukses. Kamu harus semangat ngga boleh ngeluh kaya gini. " Dewa memeluk erat Ayri sehingga kepala Ayri tersandar di pundak Dewa.
Sementara tangisan Ayri semakin larut dalam pelukan Dewa.
" Tapi aku berat untuk melakukan nya Wa, kamu juga ngga ngerti-ngerti ya. " Ayri melepaskan pelukan Dewa seketika karna sedih nya mejadi emosi. Namun tangan Dewa meraih tangan kanan Ayri dan menggenggamnya erat.
" Aku ngerti, dan aku..... " Dewa mendekatkan wajahnya ke pelipis wajah Ayri sehingga terasa hembusan nafasnya.
Hati Ayri sentak menjadi gugup seakan ia mengingat kejadian beberapa tahun silam saat pertemuannya dengan Rangga di tempat gelap saat itu.
__ADS_1
Tetapi Ayri merasakan hal yang beda, ia merasa lebih tenang dan nyaman ketika lebih dekat dengan Dewa.
" Aku akan berusaha menenangkan mu dengan caraku. percayalah Ayri, kamu adalah wanita kuat. " Bisik Dewa. Lalu Dewa manjauhkan lagi wajahnya dari pelipis Ayri.
" Mmm, ngomong-ngomong udah jam berapa?. " Tanya Ayri gugup menyudahi emosinya.
" Jam 11 " Ucap Dewa.
" Ayo Dewa buruan, antar aku pulang. Aku takut papah marah. " Ayri panik dan langsung bergegas naik ke motor. Dewa pun menuruti ucapan Ayri dan mengantarkan Ayri sampai depan warnet sementara Ayri melanjutkan pulang dengan berjalan kaki.
Di rumah...
Ayah Ayri tengah duduk di teras menunggu Ayri pulang.
Ayri berlari dari gerbang rumah menuju pintu dengan hati yang deg-degan tidak karuan.
" Aduh gimana ini, apa alasan nya kalo di tanya papah?" gerutu Ayri dalam hati sambil mempercepat langkahnya.
" Anak gadis jam segini baru pulang? udah ngerti mingguan nya sekarang?. Ayo masuk kamar, mana katanya mengerjakan tugas?." Tanya Ayah Ayri dengan tegas.
Hati Ayri bergetar mendengar ucapan ayahnya itu tetapi hatinya emosi sehingga ia lebih memilih lekas masuk ke dalam rumah dan meletakan tasnya di ruang tv. Ia kemudian masuk kamar dan mengunci pintu kamarnya.
" Ya allah kenapa papah sampai segitunya mengeluarkan naga tinggi terhadapku, apa dia tau aku pergi dengan Dewa?. " Hati nya masih bergetar dan tangannya masih memegangi dada.
" Ya allah gimana pula hubunganku dengan Dewa kalo papah masih bersikap keras, tegas terhadapku?. Ah udah Ayri, untuk sekarang jangan pikirkan yang aneh-aneh. " Ayri mempersiapkan diri untuk tidur.
Minggu pagi yang membuat Ayri teramat malas untuk bangkit dari tempat tidur. Pasalnya ia sangat malas untuk bertatap muka dengan Ayahnya, sehingga ia lebih menghabiskan waktu paginya di kamar sambil chatingan dengan Dewa.
" Pengen ketemu kamu lagi, oh iya aku semalam kena omelan Papah, huhu. " Chat Ayri kepada Dewa.
" Ya udah kalo kena omel jangan ketemu aku dulu. " Balas Dewa datar.
" Tapi aku kangen sama kamu. Aku akan temui kamu bawa motor ku sendiri. " Balas Ayri yang kemudian membuka lemari pakaian nya dan memilih-milih baju untuk ketemu dengan Dewa.
" Ayri, kamu udah bangun belum sayang. Ini udah siang lho nak, ayo mandi terus sarapan. Habis shalat subuh itu ngga boleh tidur lagi nak. " Ucap Ibu Ayri dari belakang pintu kamar Ayri.
" Iya mah ini bentar lagi. " Jawab Ayri yang kemudian keluar kamar dengan membawa handuk. Ayri tengak tengok mencari keberadaan Ayah Ayri yang tidak terdengar suaranya sedari subuh tadi.
" Papah masih tidur ya mah?. " Tanya Ayri.
" Papah dari setelah shalat subuh pergi ke kampus. Udah sana cepetan mandi, bau acem tau. " Ucap Ibu Ayri bercanda.
" Syukur. " Ayri mengelus dada tanda tenang.
" Dih kenapa, kayanya seneng banget ngga ada Papah. Ada masalah ya sama Papah?." tanya Ibu Ayri sambil menyiapkan sarapan untuk Ayri.
" Habisnya udah tau anaknya habis ngerjain tugas malah d ucapin yang kurang enak di hati. " Ucap Ayri cemberut dan kemudian masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi dan sarapan, Ayri langsung bersiap untuk pergi ketemu dengan Dewa. Tak lupa ia juga membawa tas dan buku sebagai alasan untuk mengerjakan tugas.
" Mah, Ayri berangkat ngerjain tugas dulu ya. Zuhur Ayri pulang, mamah jangan khawatir. " Pamit Ayri sambil bersalaman dan pergi menggunakan motor milik Ayahnya.
__ADS_1
Seperti biasa, Ayri menunggu Dewa di taman kelapa. Lagi-lagi ia tengak tengok mencari keberadaan Dewa yang tidak kunjung datang.
" Kemana sih Dewa, ini udah jam 9 masa dia masih tidur. Chat aku ngga di balas, telfon pun ngga di angkat. " Ayri resah sambil terus berusaha menelfon Dewa.