
Setelah lumayan jauh dan bertanya kesana kemari alamat rumah Shisi, Akhirnya mereka pun sampai di rumah Shisi yang sedang di kerumuni banyak orang dan terdapat beberapa karangan bunga serta bendera kuning.
Jasad Nene Shisi akan segera di bawa menuju pemakaman, menunggu di azani. Sementara Ayri dengan ke tiga temannya menghampiri Shisi, ke dua orang tuanya serta Melly yang selalu berada di samping Shisi.
"Shisi, tante, om kami dari temen Shisi dan mewakili sekolah turut berduka cita ya atas meninggalnya nenek Shisi" Ucap Ayri sambil bersalaman dengan kedua nya dan memeluk Shisi di ikuti oleh ke tiga temannya.
" Iya nak terimakasih ya sudah mau dateng ikut berkabung" Jawab ibunya Shisi sembari mengelus pundak Ayri saat bersalaman.
" Ayo kalian ikut ke makam." Ajak Ayah Shisi setelah jasad nenek Shisi selesai di azani. Mereka mengangguk dan ikut melangkah menuju pemakaman.
Acara prosesi pemakaman sedang dilakukan, namun Ayri heran ketika memperhatikan Dewa yang sejak dari rumah Shisi raut muka nya berbeda, ia lagi-lagi menunduk seakan ikut merasa berduka.
" Sedari tadi Dewa diam dan sering menunduk, dia kenapa ya?." Ayri bertanya-tanya dalam hati.
" Say, Vi, Gue ke parkiran duluan ya. Tiba-tiba kepala gue pusing." Bisik Dewa kepada ke dua temannya itu.
"Oke." Jawabnya sambil mengangguk.
Ayri masih memperhatikan langkah Dewa, namun ia hanya bisa terdiam.
Acara prosesi sudah selesai. Namun keluarga Shisi masih terpaku pada pusaran makam dan memberi doa serta menabur bunga di tengah pusaran makam. Ayri bersama teman-temannya hanya bisa menyaksikan dan ikut bersimpati.
"Om, Tante.. kalo gitu kita pamit pulang dulu ya, Sudah sore juga, hehe ." Ucap Ayri mewakili teman-temannya.
"Oh iya iya nak, terimakasih banyak atas sambangannya, salam juga nanti untuk teman-teman dan guru-guru kalian ya." ucap Ibu Shisi dengan melempar senyuman.
" Iya Tante nanti akan kami sampaikan, kalo gitu kita duluan ya tan, om, Assalamu'alaikum." Ucap Ayri lagi sambil bersalaman.
"Iya walaikumsalam, Hati-hati ya kalian." Ucap ibu nya Shisi lagi. Ayri bersama teman-temannya menuju parkiran dan menghampiri Dewa yang sedari tadi sudah duduk di atas motor menunggu mereka.
" Dewa lo ga apa-apa, katanya pusing?" tanya Haevi.
__ADS_1
" Iya tadi kepala gue tiba-tiba pusing liat banyak orang, mungkin karna efek lelah dari pagi otak nya belajar melulu ." Jawab Dewa,, padahal ada hal yg ia tutupi .
"Kesambet kali, haha." Celoteh Melly mencandai Dewa.
" Sialan lo. " Ucap Dewa refleks. mereka pun pulang masing-masing sementara Ayri, Saydi dan Melly berboncengan 3 karna Melly tidak membawa motor.
Selama perjalanan Ayri menggumam dalam hati.
" Kaya ada yg di tutupi oleh Dewa, kenapa dia saat prosesi malah pergi. Apa emang pusing? atau ada sesuatu, tapi gue lihat di parkiran tadi dia biasa aja. "
Di rumah..
Sepulang dari rumah Shisi, Ayri mendapati Ayah dan Ibunya berada di rumah yang sedang santai bermain-main dengan Roy.
"Assalamualaikum. " Ucap Ayri memberi salam kepada mereka dan bersalaman.
" Walaikumsalam salam. " jawab ibunya yg di ikuti oleh Roy.
Ayri yang berawal menampilkan muka ceria, kini menjadi muram dan takut.
" Abis ngelayat ke rumah Shisi dan hari ini jadwal bimbel di gabung dengan pelajaran umum." Jelas Ayri jujur berharap ayahnya mengerti, namun ayahnya hanya terdiam.
Ayri pun ijin masuk ke dalam kamar melepaskan tas dan merebahkan sejenak tubuhnya di atas kasur.
" Uhh, entahlah terserah dia aja mau nilai gue gimana yang penting menurut yang gue lakuin itu bener." Gumam Ayri terhadap ayahnya.
waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB. Ayri menyadari ia segera mengambil handuk dan bergegas ke kamar mandi untuk mandi dan shalat. Setelah itu ia berniat untuk mengambil nasi dan lauk di meja makan, namun ayahnya sudah mendahului duduk dan makan di meja makan sehingga membuat Ayri sungkan untuk mengambil nasi sehingga ia lebih memilih untuk kembali ke kamar.
" Uh, perut laper banget tapi ada papah. Gue males tatap muka sama dia, kenapa sih dia ko hiperprotektif banget ke gue " Gumam Ayri cemberut sambil mengecek HP yang sedari tadi belum sempat ia buka.
(1 pesan di terima)
__ADS_1
' Cup, cup, cup jangan sedih melulu dong yang mau mesantren' Rangga.
' Ngga ko' balas Ayri singkat.
TokTokTok ( suara pintu kamar Ayri terketuk)
" Ayri, lagi apa. Mamah boleh ngobrol sebentar nak?" Ucap ibunya Ayri dari belakang pintu.
" Iya sebentar" Ucap Ayri jutek. Ia pun membukakan pintu.
" Papah mau ngobrol sama kamu." ucap ibunya Ayri dengan lembut meskipun Ayri jutek terhadapnya.
Ayri menghampiri ayahnya yang sedang duduk di bangku ruang TV sambil membuka brangkas yg berisikan dokumen.
" Ada apa yah? Ayri cape nih, pusing ngantuk." ucap Ayri malas.
" Sebentar. Sini duduk, nih nanti kamu baca persyaratan dan peraturan-peraturan nanti kalo di pesantren ." Ayahnya Ayri memberikan 1 lembar kertas surat yg berisikan 'PERATURAN ASRAMA PONDOK PESANTREN SUMBER BAROKAH'
" nanti Ayri baca di kamar aja. Terus apa lagi yang mau ayah sampaikan ke Ayri?." Tanya Ayri dengan raut muka jutek.
" Nanti hari Minggu kita berkunjung kesana, supaya kamu tau tempatnya disana seperti apa. " ucap Ayahnya pun datar.
"Iya insya allah. Ya udah Ayri mau ke kamar lagi." Ayri pun berlalu begitu saja di hadapan ayahnya.
Ibu nya hanya menggeleng kepala melihat tingkah anaknya yg merasa tertekan. Ia tidak sanggup untuk berkata kepada suaminya apalagi membela Ayri di hadapan ayahnya.
" peraturannya banyak banget, sanggup ngga gue nanti tinggal di asrama pesantren." Ucap Ayri sambil membaca satu persatu poin peraturan.
Ia membaca satu persatu peraturan yang di terapkan pondok pesantren tersebut yang mana pokok utamanya adalah tidak boleh membawa HP serta tidak boleh meninggalkan Asrama tanpa kepentingan selain sekolah atau tugas sekolah, tidak boleh di jenguk dalam jangka waktu 3 bulan sekali.
" hmm, gue rasanya pengen kaburrrr aja, pensiun jadi anak mamah papah." Ayri merebahkan badannya dan menutupi muka nya dengan selembaran kertas tersebut.
__ADS_1