Apakah Ini Cinta??

Apakah Ini Cinta??
Mengingat Masa itu


__ADS_3

Ayri masuk kedalam kamar dengan penuh kesedihan, hatinya seakan teriris akan keputusan ayahnya yang tanpa persetujuan dirinya mendaftarkan ke pesantren.


" Ya Allah, gue harus gimana ngadepin papah yang kaya gitu, huhu. Gue ga mau sekolah jauh apalagi pesantren . Gue masih pengen main sama temen-temen pengen bebas kaya temen-temen." Ayri menangis sesenggukan di atas kasur.


" Ayri." ibunya memanggil dan membuka pintu kamar Ayri. Ia menghampiri Ayri dan memeluk Ayri dengan penuh kasih sayang.


"Mamah, huhu. Ayri ga mau sekolah jauh mah, Ayri cuma pengen tinggal disini. Pengen ketemu mamah terus dan di urus mamah setiap hari." Ucap Ayri dengan sesenggukan.


"Sabar sayang, iya mamah ngerti perasaan kamu. Begitulah papah, dia egois ga mikirin anaknya mau nya gimana. Udah Ayri yang sabar tenangin hati dulu, ini mamah bawain minum. " Ayri pun berusaha tenang dan minum air yang telah ibunya bawa.


Setelah itu Ayri merasa agak tenang, namun masih mendekap ibunya.


"Ayri inget ngga waktu Ayri kecil, Ayri lucu ya. Liat di album-album foto, Ayri selalu ceria kalo di foto. Ayri inget ga waktu itu suka ikut-ikut Kaka main sama temen-temennya?. " Tanya ibu nya yang berusaha menenangkan dan mengingat kembali memori di masa kecilnya.


" Iya mamah Ayri inget, Ayri suka rese kalo ikut sama Kaka. Kaka suka main sama temen-temen cowoknya boncengan sama cowo, tapi Kaka banyak temennya. Kaya Ayri, Ayri seneng punya banyak temen yg ngertiin Ayri." Jawabnya.


Ia mengingat di usianya saat masih 6 tahunan, saat itu Kakanya masih menginjak SMA kelas 2. Ayri sering di ajak Kakanya main kumpul dengan teman-teman Kakanya itu, Kakanya mempunyai pacar mereka terlihat mesra ketika bersama. Tetapi Ayri tidak begitu mengingat pergaulan mereka saat itu karna usianya yang terlalu kecil untuk mengingat.


Dan yang ia ingat lagi saat ia masih 6 tahun, Ayahnya harus merelakan meninggalkan keluarga untuk pergi merantau kerja di negeri orang demi kebutuhan ekonomi keluarga.


" Dan kamu inget saat Kaka kamu harus nikah di usia muda?. " Tanya ibunya lagi. Namun Ayri geleng tanda Ayri lupa akan hal itu. Yang ia ingat saat acara resepsi Kakanya, Ayri di dandani bak princess yang paling cantik saat itu.


" Tragedi itu membuat Papah sama Mamah trauma, Mamah dan Papah ngga mau kejadian itu menimpa ke kamu nak. Kenakalan Kaka kamu saat itu membuat hati mamah terpukul, Kaka kamu harus menikah muda karna hamil di luar pernikahan. Mamah terpaksa menikahkan Kaka kamu meskipun Papah bersikeras tidak merestui. Dan saat itu ayah tidak hadir dalam acara pernikahan Kaka kamu " Jelas ibu nya menuturkan kejadian 9 tahun itu sambil meneteskan air mata tanda penyesalan.


" Oh iya mah, Ayri baru inget dan baru ngerti kenapa Kaka tidak sampai lulus SMA." Ayri merelai pelukannya itu.


" Iya sayang, akibat dari pergaulan bebas, pacaran, berteman sama cowo sama teman yang ga jelas ya gitu akibatnya. Makanya Papah bersikeras ingin daftarin kamu sekolah di kota sambil mesantren, biar kamu terhindar dari hal-hal yang tidak di inginkan sayang." Ibunya kembali memeluk Ayri.


Ayri terdiam mendengar cerita dari ibunya, ia kembali membayangkan kalau dia sekolah SMA nanti, dan akan mendapatkan teman baru. Namun ia merasa berat untuk berpisah dengan sahabat-sahabatnya.


" Mah, Ayri mau keluar sebentar ya. Ayri pengen nenangin diri dan berusaha Nerima keputusan ini." Ayripun menyapu tetesan air mata yang masih menggenang di ujung mata.


" Ya udah, tapi jangan lama-lama ini udah hampir petang sayang. " Ibunya mengijinkan, Ayripun bersiap untuk pergi menengkan diri dengan sepedahnya.

__ADS_1


Ayri menuju rumah Avril, ia ingin menceritakan kepada Avril tentang masalah dirinya berharap fikirannya menjadi tenang lagi.


"Assalamualaikum." Ayri mengetuk pintu rumah Avril.


"Walaikum salam." Avril membuka pintu.


"Avril..... " Ayri langsung memeluk Avril sambil menangis ketika Avril membukakan pintu untuknya.


" Hey, kenapa dateng-dateng nangis. Sini ayo masuk ke kamar gue, gue lagi sibuk ngerjain tugas nih." Avril menuntun Ayri untuk masuk ke kamarnya.


" kenapa lo tiba-tiba nangis gini?." mereka duduk di bibir kasur.


" Gue di paksa sekolah di kota setelah lulus SMP ini, dan lebih parahnya sekolah sambil mesantren Ril, huhu." Ayri bercerita sambil sesenggukan.


" Oh, yang sabar Ay, mungkin itu keputusan terbaik buat lo supaya jadi anak yang lebih baik lagi, belum tentu loh teman-teman kita yang lain dapet kesempatan kaya lo bisa sekolah sambil mesantren." Ucap Avril berusaha untuk membujuk Ayri.


" Tapi Ril, gue ga mau sekolah jauh, gue masih pengen main sama lo sama Tea dan sama temen yang lainnya juga, huhu."


" Kan masih ada hari liburan, nanti kalo liburan kita main sepuas-puasnya" Ucap Avril lagi.


" Yeh, ga boleh gitu ah. Udah tenang ada gue, nanti kalo lo ga betah gue main deh ke pesantren lo sama Tea." Avril menghapus air mata Ayri yg masih mengalir.


" Thanks ya Ril lo udah jadi sahabat gue, dan nemenin hari-hari gue selama ini. Nanti kalo gue jauh Lo jangan lupain gue ya. " Ayri melepas pelukan nya yang sedari tadi tidak mau lepas.


" Iya, gue janji. Udah hampir magrib nih, pulang gih, apa mau gue anter?." Tawar Avril.


" Ngga usah, ya udah kalo gitu gue pulang dulu ya." Ayripun pamit dan buru-buru untuk pulang karna takut ayahnya semakin marah kalau ia pulang terlalu sore.


Namun pada saat Ayri keluar dari gerbang rumah Avril, ia melihat Rangga yang tengah menyebrang jalan pulang dari mengajar ngaji.


"Ayri.." Panggil Rangga, ia menghampiri Ayri dengan berlari kecil.


" Duh ka Rangga maaf ya, aku ngga bisa ngobrol hari ini, aku buru-buru harus pulang. maaf banget." Ayri pun meninggalkan Rangga yang belum sempat menyapa.

__ADS_1


" Ayri kenapa ya mata nya sembab gitu? gue coba telfon deh nanti malem." Rangga pun melangkah menuju rumahnya.


Sesampainya di rumah..


Ayri langsung memasukkan sepedahnya ke dalam garasi dan ia berharap ayahnya tidak ada di rumah.


" Assalamualaikum." Ayri memberi salam, dan benar saja yang ia jumpai hanya ibunya yang sedang menonton tv.


" Walaikum salam." Jawab ibunya. Ayri langsung menuju kamar untuk mengambil handuk dan ijin ke ibunya untuk mandi serta shalat.


" Jangan lupa nanti habis shalat makan ya, biar kamu ngga sakit." Ucap ibunya yg selalu lembut memperhatikan anak bungsunya.


"Iya mah."


" Ayri, maafin Mamah yang ngga bisa bertindak apa-apa saat Papah memutuskan untuk mendaftarkan kamu sekolah jauh. Mamah juga masih pengen ngerawat kamu sebelum kamu nikah nanti, tapi ibu juga setuju sama keputusan Ayah kamu nak. Kami lebih takut lagi kalo kamu nanti gimana-gimana masa depannya, maafin Mamah nak. " ibunya bergumam dalam hati dengan meneteskan air mata.


Malam hari..


Ibunya tidak menginap di rumah sehingga ia kembali sendiri dalam rumah yang sunyi. Ia pun kembali mengurung diri di kamar, berusaha mengikhlaskan hatinya untuk menuruti kemauan ayahnya. Ia membayangkan bagaimana rasanya jauh dari kampung halaman, mungkin ia akan merasa rindu dengan teman-temannya.


Kriiiiiinggggg (panggilan telpon masuk)


telpon dari Rangga.


" Hallo Ayri, udah tidur belum?. " Tutur Rangga lembut.


" Hehe, belum. Baru aja mau tarik selimut, kenapa ka?."


" Kaka tadi khawatir liat kamu mukanya sembab gitu, kenapa? Kaka boleh tau?." Tanyanya lagi, tutur Rangga kali ini selalu lembut karna ia tidak ingin menyakiti hati Ayri untuk yang ke 2 kalinya.


Dengan merasa senang hati Ayripun menceritakan masalah itu kepada Rangga.


" Oh, jadi gitu. Tapi menurut Kaka sih bagus Ayri mendapat kesempatan bisa sekolah sambil mesantren. Kalo aja Kaka masih seusia kamu, Kaka mau banget tuh masuk pesantren . Banyak ilmu akherat yang nanti di dapat." Ucap Rangga.

__ADS_1


" Iya sih ka, tapi aku takut jauh dari kampung halaman, ngga betah dan belum siap buat pisah sama teman-teman di kampung." Ucap Ayri.


" Hehe, harus ikhlas betah demi masa depan Ay. Itu tandanya orang tua kamu sayang sama kamu. " tambah Rangga yang memberikan energi positif terhadap Ayri.


__ADS_2