
Beberapa hari kemudian...
Ayri masih merasakan santai di rumah melakukan aktivitas biasa di rumah, membantu kakak nya di toko karna Saydi sudah beberapa hari tidak lagi bekerja di toko milik om Ayri. Tetapi kali ini Ayri sedang santai di dalam kamar mencoba memulai berimajinasi menulis novel karyanya sendiri.
" Assalamualaikum, ada paket bu. " Ucap seorang lelaki dengan lantang menyapa ibu Ayri yang sedang mengepel lantai depan rumah.
" Walaikum salam. Eh iya, untuk siapa ya mas?. " Tanya ibu Ayri dengan santun. Laki-laki tersebut adalah Kurir dari POS INDONESIA.
" Oh ini undangan bu, untuk Ayri Apriliani. " Jawab kurir tersebut.
" Oh iya terimakasih. " Ibu Ayri menerima paket undangan tersebut lalu kemudian di sampaikan kepada Ayri yang sedang Asyik di dalam kamar.
" Ayri, ada paket nak. " Ucap Ibu Ayri mengetuk pintu.
" Paket apa bu?. " Tanya Ayri bingung sambil membukakan pintu untuk ibunya.
" Ga tau tuh coba buka aja, bilangnya sih paket undangan. " Jawab ibu nya yang sama bingung.
" Coba Ayri buka. " Ayri membuka paket tersebut dan isinya adalah undangan dari Universitas Gunadarma.
" Alhamdulilah ya allah. " Ucap Ayri setelah membuka undangan tersebut bahwa dirinya di undang untuk mengikuti seleksi selanjutnya karna hasil yang ia dapat memenuhi kriteria untuk masuk di kejuruan yang ia tuju dan mendapat peluang untuk mendapatkan beasiswa karna hasil dari UN nya dan nilai-nilai lainnya pula rata-rata A dan B.
Ayri jelaskan atas isi undangan tersebut kepada ibu nya dan ibunya pun ikut bahagia karna hal tersebut.
" Alhamdulilah ya nak, ngga sia-sia ibu doain kamu. Nanti kasih tau ke papah tentang ini. " Ucap ibunya bersemangat.
" Tapi mah. Papah pasti ngga suka, karna papah lebih memilih Ayri kuliah kebidanan. Padahal Ayri ngga mau mah. " Ucap Ayri memelas dengan wajah lusuhnya.
" Hm, iya juga sih. Tapi Ayri pastikan ke papah aja. Sebenernya papah juga udah berunding sama mamah mengenai pendaftaran kebidanan, mamah juga sempat sependapat dengan papah. Tapi kalo kamu merasa keberatan, mamah ngga maksa kamu ko nak. " Ibu nya membelai rambut Ayri berharap hati Ayri selalu tenang. Ayri menerima perlakuan ibunya dan menyandarkan kepalanya di bahu ibunya.
__ADS_1
"Assalamualaikum. " Suara Ayah Ayri membuyarkan pelukan hangat dari ibu kepada Ayri dan membuat Ayri merelai pelukan ibunya.
" Walaikum salam. Tumben papah pulang cepat. " ibu Ayri langsung cepat melayani suaminya membantu membawakan tas yang suami nya bawa.
" Iya, ada dokumen yang tertinggal. Ayri ada mah?. " Tanya ayah Ayri.
" Ada tuh di kamar lagi istirahat. " jawab ibu Ayri meletakkan tas suaminya di meja depan TV.
" Tadi juga ada pak Pos nganterin undangan buat Ayri, nih papah baca deh. Ada peluang buat Ayri bisa kuliah dan ada kesempatan juga untuk dapat beasiswa. " Ibu Ayri menyodorkan amplop berisi undangan tersebut dan di baca oleh Ayah Ayri.
" Psikolog, alah susah cari kerjanya. Udah bener papah daftarin Ayri masuk kebidanan . Nih ya asal mamah tau, jadi bidan itu setelah selesai perkuliahan Ayri bisa buka praktek di rumah. Bisa juga kerja di puskesmas. Jangan kalah mah sama anak nya temen-temen papah yang jadi dokter, bidan. Papah juga ga mau masa depan anak bungsu kita sia-sia kaya kakak-kakaknya yang ngga mau di untung. " Nada Ayah Ayri tegas dan keras sambil menyantap suguhan istrinya yang dari tadi sambil mendengarkan ucapan suaminya mempersiapkan suguhan.
" Iya, papah juga ada benar nya. Papah istirahat dulu nanti kalau Ayri udah bangun, papah bicarakan lagi sama Ayri. " Ucap Ibunya yang selalu berusaha tenang.
Sementara Ayri mendengar pembicaraan Ayahnya sejak awal Ayahnya berbicara. Ia pun meneteskan air mata nya karna tersinggung akan perkataan Ayahnya.
" Ya allah sampe segitunya Ayah ke aku. Kenapa sikap ayah egois banget sih, aku harus gimana ya allah " Ayri hanya bisa menangis di dalam kamar. Sayang nya suara Azan zuhur berkumandang sehingga mengharuskan Ayri untuk bergegas ke kamar mandi mandi dan melakukan shalat.
" Iya pah. " Jawab Ayri yang kebetulan sudah keluar kamar dan mengelap pipi nya yang basah karna air mata.
" Sini duduk, ayah mau ngobrol sama kamu. Tadi kata mamah kamu dapat undangan dari UGM. " tanya Ayah Ayri bernada santai.
" Iya yah. " jawab Ayri singkat namun tidak membangkang.
" Terus mau kamu gimana?" tanya Ayahnya lagi.
" Hm, Ayri mau masuk psikolog di UGM yah. Tapi kalo papah keberatan atau ga ada biaya ga apa-apa Ayri ikuti kemauan papah. " Ucap Ayri pasrah.
" Papah ada dan sanggup sampe kamu jadi bidan juga. Masalah biaya no problem, tapi kamu lebih melihat ke depan nya lagi nak. Jadi bidan kamu bisa buka praktek di rumah aja akan ada pasien datang. Psikolog apa, ga semua nya orang butuh dan di desa ga butuh psikolog-psikolog kaya gitu. Susah dapat uang dapat kerjaan nya nak. " Jelas Ayahnya yang sedikit menekan.
__ADS_1
Sementara Ayri hanya menunduk, tetapi hati nya begitu hancur mendengar setiap perkataan Ayahnya.
" Terserah papah deh, Ayri mau mandi. " Ucap Ayri yang meninggalkan Ayahnya begitu saja ke kamar mandi. Ia tidak kuat menahan bendungan air mata, sehingga ketika di dalam kamar mandi Ayri menangis sejadi - jadi ny.
" Ya allah kenapa papah sebegitu tega kepada anaknya, egois banget. " Ucap Ayri lirih sambil menahan suara.
Ayri memutuskan setelah mandi ia bertemu Dewa mengajak Dewa untuk pergi sekedar berboncengan mencari udara sejuk.
" Mau kemana?. " Tanya Dewa bingung. Mereka bertemu di taman kelapa. Dewa juga bingung mau berbuat apa ketika melihat Ayri menangis dan menceritakan tentang Ayahnya yang egois dan tentang masalah yang ia alami.
" Terserah kamu mau bawa aku kemana, yang penting membuat hati aku tenang. " Ucap Ayri kesal.
Dewa pun menyetir motor dan membawa Ayri pergi ke suatu tempat. Ini adalah kali pertamanya Ayri dan Dewa berboncengan. Dengan perasaan gugup, Ayri membonceng dan tidak berani menyentuh Dewa.
Pantai yang Dewa tuju dan Dewa berharap Ayri akan menyukai tempat tersebut.
" Coba duduk di sini, dan pandangi secara keseluruhan yang kamu lihat di depan. " Dewa mengarahkan. Ia mempersilahkan Ayri duduk di atas karang dan memandangi luasnya laut yang ada di depannya.
Ayri pun menuruti arahan Dewa. Dan kemudian mencurahkan uneg-unegnya kepada.
" Coba gimana perasaan kamu Wa kalo kamu di paksa gini sama ortu kamu. " Ucap Ayri.
" Menurut aku, kamu adalah wanita yang terlahir penuh keberuntungan Ay. Kamu masih memiliki orang tua lengkap yang begitu perhatian dan mementingkan masa depan kamu. Sementara aku, aku cuma anak buruh serabutan yang cuma di suruh-suruh orang. Kalo ga mau di suruh aku ga di kasih uang jajan bahkan aku yang meskipun sekarang masih sekolah tapi aku harus bantu ortu. " Cerita Dewa yang membuat Ayri terpaku.
" Bapak aku udah meninggal sejak aku masih usia 7 tahunan. Dan semenjak itu ibu harus kerja keras untuk menghidupi ke tiga anaknya. Itu yang membuat aku harus kerja keras. " Lanjut Dewa.
" Aku bukan laki-laki yang dilahirkan dari keluarga kaya Ay, maka nya kamu harus bersyukur. Itu adalah cara orang tua kamu supaya kamu jadi orang sukses." Dari kata - kata Dewa, membuat Ayri termenung. Ia menyadari bahwa Dewa bukan lah
" Maaf. " Ucap Ayri lirih menatap Dewa. Setelah ia sadar dari termenung nya.
__ADS_1
" Udah jangan sedih, pulang yuk. Ga baik terlalu lama kena udara angin laut. " Ucap Dewa mencubit pipi Ayri dan membuat Ayri tersenyum.