
" Nih gitarnya, yang lain pada kemana?." Tanya Ayri sambil memberikan gitar kepada Amir selaku salah satu cowo yang sekelompok dengan Shisi. Ia melihat ruang kelasnya hanya ada kelompok Shisi.
" Udah pada nemuin Bu Feni, kita juga kesana yuk." Kelompok Shisi kemudian bergegas menuju ruang kesenian untuk mengikuti yang lain.
Di ruang kesenian rupanya kelompok Dewa sedang maju tampil menyanyikan lagu daerah. Riri duduk beriringan dengan Dewa yang memainkan gitar dengan malu-malu, namun sesekali Riri melirik kepada Dewa.
Sementara Ayri dan yang lainnya duduk sebagai penonton, menyaksikan kelompok Dewa tampil. Dalam hati Ayri selalu menggumam dan seakan hatinya ingin menyerasikan mereka berdua.
" cocok sih mereka berdua, tapi kenapa kalo membayangkan suatu saat Dewa bersama orang lain ko hati gue seakan ngga rela " Batin Ayri.
" Baik, tepuk tangan untuk kelompok Dewa. Selanjutnya kelompok yang lain boleh maju." Ucap Bu Feni dengan memberikan penilaian serta memberikan dukungan tepuk tangan.
Kelompok Ayri masih menunggu giliran, Sementara Riri menempati tempat duduk di belakang Ayri dengan Risa yang sedari tadi sudah duduk di tempat itu.
" Akhirnya Lo bisa sekelompok juga sama Dewa, kan kata gue kalo jodoh dia ga akan kemana ko." Bisik Risa terhadap Riri. Sementara Ayri hanya bisa menguping.
" Iya ya, semoga aja suatu saat dia bakal jadi jodoh gue." Ucap Riri girang dengan bersyukur menengadahkan ke dua tangannya.
Setelah selesai tugas kesenian,
Ayri beserta para siswa lain berhamburan keluar dari kelas kesenian untuk segera istirahat.
Ayri bersama Shisi dan Melly menuju kantin karna mereka merasa haus.
" Setelah ini tugas pelajaran apa lagi ya, pengen cepet-cepet rampung. Cepet-cepet liburan deh, tinggal nunggu UN." Gumam Melly.
" Hmmm, nanti aja kalo udah lulus kamu bakal rindu masa-masa kaya gini." Jawab Shisi, mereka duduk dan memesan 3 es dalam gelas.
Pada saat mereka bercanda gurau di bangku kantin, mereka melihat Risa, Riri dan Dewa berjalan menuju kantin yang sedang mereka singgahi.
__ADS_1
" Apa gue ga salah lihat Ay?." Melly tercengang melihat Dewa berjalan beriringan bersama Risa dan Riri meskipun bermuka datar.
" Ngga ko, emang bener mereka Risa Riri Dewa." jawab Ayri santai saat ia juga melihat ke tiganya berjalan .
" Lho?. Aku ngga ngerti deh sama sikap Dewa, kemarin dia ngasih kamu kado, sekarang dia malah ngeladenin Risa sama Riri. Udah Ay kamu mending lupain aja Dewa, dia ngga pantes buat kamu sukai. Dia ngga punya pendirian Ay." Shisi merasa kesal terhadap sikap Dewa seperti hidung belang.
" Udah ah, ke kelas yukk." Ayri berdiri dan bergegas dari kantin dan di ikuti oleh Shisi serta Melly. Langkah Ayri lebih cepat di banding ke dua temannya.
" Ayri....." panggil Saydi ketika Ia melihat Ayri lewat di hadapannya, namun Ayri tidak mempedulikan panggilannya tersebut.
" Ayri, tunggu." Saydi mengejar langkah Ayri dan berusaha meraih tangan Ayri agar menghentikan langkahnya.
"Apa, lepasin gue. Gue mau ke kelas." Ucap Ayri pada saat Saydi berhasil meraih lengan Ayri.
" Tunggu sebentar, gue mau ngomong sama Lo, plis." ucap Saydi memohon seakan omongan dia hal yang sangat penting.
" Ikut gue." sambung Saydi yang kemudian memaksa Ayri sambil menarik langkah Ayri menuju taman tanpa Shisi dan Melly. Ayri tidak mampu menolak karna lengannya di tahan oleh Saydi.
"ma,salah kado yang De,wa ka,sih ke elo." Ucap Saydi dengan nada terbata-bata.
" maksud Lo?" Tanya Ayri tidak mengerti karna ucapan Saydi yang terbata-bata
"Ta,Tapi e,lo jangan salah sangka, plis. Dewa beneran ko suka sama lo, tapi Lo jangan benci sama gue sama Dewa." Ucap Saydi terbata-bata namun kemudian mempercepat ucapannya dengan nada penuh ketakutan.
"Tunggu, udah Lo jangan jelasin. Gue bisa nebak, sebenarnya coklat itu bukan dari Dewa kan, tapi dari Lo?." tebak Ayri dengan nada kecewa
" I, iya. tapi gue jujur bukan maksud kita buat nyakitin hati Lo, tapi karna gue kasian sama Dewa." Jelas Saydi.
"Udah jangan di lanjutin Say, gue benci sama Lo dan Dewa." ucap Ayri marah.
__ADS_1
"Dengerin penjelasan gue dulu, emang itu coklat punya gue yang gue kasih buat Dewa demi ngasih lo. Karna Dewa ga punya uang buat beliin Lo kado, jadi Lo jangan salah sangka dan hargai Dewa ya, Plisss." Jelas Saydi dengan memohon kepada Ayri.
" Udah say, gue benci sama Lo, pergi sanaaaaaa." Ucap Ayri yang kemudian ia terisak dan menyeka muka dengan lengannya.
" Gue mohon maafin gue." lagi-lagi Saydi memohon dan berusaha membuka sekaan muka Ayri.
" Kalian udah jahat sama gue, bohongin gue, permainin gue. Padahal gue udah bahagia, lalu kenapa tadi gue malah liat Riri, Risa sama Dewa jalan beriringan. Sampein ke Dewa kalo gue benci." Ucap Ayri dengan nada marah dan kemudian ia berlari ke dalam kelas.
Ayri menangis terisak-isak di tempat duduknya.
" Ayri, kamu kenapa ko nangis?." Tanya Shisi yang tercengang melihat Ayri berderai air mata. Di saat itu, Saydi masuk ke dalam kelas dan berusaha menghampiri Ayri.
" Tanya aja tuh sama Saydi." Ucap Ayri yang bergegas dan membawa Tasnya keluar kelas.
Ke dua temannyapun penuh pertanyaan.
Bertepatan dengan Ayri keluar kelas, bell tanda pulang berbunyi sehingga ia langsung pergi menuju parkiran dan berniat untuk mampir ke rumah Avril sebelum pulang ke rumah karna ia ingin menceritakan kejadian tersebut kepada Avril. Beruntung, pada saat Ayri akan mengalihkan sepedahnya..
"Ayri..." Panggil Avril dan Tea dari kejauhan belakang Ayri.
"Tea, Avril....." Ayripun langsung menaruh lagi sepedahnya dan langsung meraih dan memeluk ke dua sahabatnya dengan lirih.
" Hey, Lo kenapa?." Avril dan Tea malah tercenang melihat kelakuan Ayri yang tiba-tiba menangis memeluk mereka. Ayri pun menjelaskan akan hal yang membuatnya menangis.
" Baru aja kemarin Lo seneng selangit sekarang mewek lagi." Ucap Tea.
" Udah deh udah, move on aja Dewa itu sebenernya serigala berbulu domba, diam-diam menghanyutkan. Dia itu lebih milih temenan dari pada pacaran, untung aja Lo ga pacaran sama dia." ucap Avril panjang lebar menasehati setelah ia mendengar cerita dari Ayri.
"Nih buat kalian aja makan coklatnya." Ayri memberikan coklat dari dalam tasnya. Padahal coklat tersebut selalu ia peluk saat tidur, selalu ia pandang setiap ingat Dewa dan bahkan kesekolah ia bawa. Namun kesakitan hati Ayri membuatnya mengurungkan niat untuk selalu menyimpan coklat tersebut dan berusaha mengikuti omongan sahabatnya untuk move on dari Dewa.
__ADS_1
" Nah gitu dong, jadikan kita yang enak makan coklat, haha." Celoteh Avril kemudian.
" Gue ga nyangka sejahat itu Dewa ke gue, huhu. Oke baik gue move on dari Dewa mulai detik ini." Ucap Ayri dengan nada meyakinkan.