
Kini Ayah Ayri sudah berada di rumah dengan kondisi lebih baik dari sebelumnya, tetapi ingatan ia belum sepenuhnya pulih. Ayah Ayri mengalami amnesia ringan akibat benturan di kepala, sehingga ia masih linglung dengan situasi.
" Udah, Ayah istirahat dulu ya. Jangan banyak gerak jangan banyak berfikir yang lain-lain dulu. Fokus kesehatan ayah. " Ujar ibu Ayri dengan penuh perhatian. Ayahnya hanya menuruti dengan respon mengangguk.
Ayri membantu ibunya memposisikan tidur Ayah dengan nyaman.
" Ayah cepet sembuh ya. " Ucap Ayri yang kemudian mencium kening ayahnya.
Ayri dan ibunya pun keluar kamar karna ayahnya sudah nyaman dengan posisi tidurnya.
" Mah, Ayri mau keluar sebentar ya. Mau cari angin, di rumah suntuk. " Ucap Ayri.
" Iya nak, hati-hati jangan pergi jauh-jauh. " Ibunya mengizinkan.
' Dewa, lagi sibuk? ' Ayri
Ayri SMS Dewa sambil bersiap dan berharap agar Dewa ada waktu untuk bertemu.
' Ngga, kenapa?. ' Balas Dewa.
' Kangen, bisa kita ketemu sekarang? aku besok harus balik ke pesantren ' Ayri.
' Oke, kesini aja, kita ketemu di taman dekat komplek ku. ' Balas Dewa.
Ayri pun langsung bergegas pergi dengan hati yang berbunga-bunga.
Dewa sudah menunggu di taman, Ayri melihat Dewa dengan wajah yang sumringah.
" Apa kabar? " Ayri mengawali percakapan. Mereka bertemu di taman ilalang yang berteduh kan pohon kelapa.
" Baik. Gimana ayahnya, sudah baikan?. " Tanya Dewa basa-basi.
" alhamdulilah dia sudah pulang tadi pagi. Dewa, thanks ya jam tangannya Aku suka. " Ayri menatap Dewa lekat. Namun Dewa sedikit memalingkan wajahnya karna ia masih merasa malu terhadap Ayri.
" Aku cuma bisa ngasih kamu itu. Aku harap, kamu bisa jaga jam itu baik-baik sebagaimana kamu bisa mengenang ku dari jam itu. Aku ingin setiap waktu selalu kamu lihat dan selalu kamu ingat. " Ucap Dewa kemudian memandang Ayri lekat.
__ADS_1
" Hehe, insya Allah aku akan selalu ingat. Sejak kapan kamu meletakkan bingkisan itu di depan gerbang rumah?" Tanya Ayri yang masih di hantui dengan rasa penasaran.
" Sejak kamu kasih kabar di Rumah sakit, malam itu aku lagi bungkus kado itu untuk aku kasih saat kamu pulang nanti. Dan, setelah shalat subuh aku pergi mengantar ibuku ke ladang jadi sekalian aku taro bingkisan itu di depan gerbang. Aku masih belum berani kalo harus main ke rumah kamu. Apalagi ketemu sama ortu kamu ." Ucap Dewa.
" Haha, iya jangan. Aku juga ga berani bawa temen cowo ke rumah. Papah aku galak, matilah aku kalo sampe tau aku temenan sama cowo apalagi sampe pacaran. " Celoteh Ayri bermaksud bercanda. Tetapi memang Watak Ayah Ayri keras, Sehingga Ayri tidak berani untuk terus terang bahwa ia tengah dekat dengan Dewa ataupun memiliki teman laki-laki.
" Serius Ay, Segalak itu Ayah kamu?. " Dewa kaget mendengar ucapan Ayri.
" Hehe, ga tau juga sih. Tapi aku memang ga berani cerita kalo aku Deket atau temenan sama cowo, apalagi Deket sama kamu. Jadi kedekatan kita cukup backstreet aja ya, ga apa-apa kan Wa?." Ayri berusaha agar Dewa yakin.
" Hmm, iya . Yang penting kita jalani aja kisah kita berdua. " Dewa kembali menatap lekat Ayri. Jarak duduk mereka agak berjauhan meskipun mereka duduk pada 1 batang pohon kelapa yang di jadikan dudukan.
Mereka berbincang ngalor ngidul bercanda menumpahkan rasa suka cita. Sampai Ayri baru menyadari bahwa hari sudah mulai petang.
" Pulanh gih, sebentar lagi magrib. " Suruh Dewa kepada Ayri.
" Tapi aku masih kangen sama kamu . Mungkin 6 bulan lagi baru kita bisa ketemu. " Ucap Ayri dengan raut muka yang muram.
" Hey, ko ga semangat. Ga boleh gitu dong, aku ga mau kalo cuma jadi peredup semangat kamu. 6 bulan waktu yang cepat ko, sabar aja. Kamu harus fokus belajar. " Dewa pun mendekat dan ia menyentuh pipi Ayri dengan mesra
" Hehe, habisnya aku tuh BT kalo di pesantren. Tiap detik, tiap menit tiap waktu selalu rindu kamu." Ucap Ayri lebay.
" Iya udah deh aku pulang, assalamualaikum. " Ucap Ayri dengan raut muka jutek. Bermaksud nganmbek kepada Dewa karna Dewa tidak mengerti perasaan Ayri yang masih rindu.
Ayripun pergi meninggalkan Dewa dengan meninggalkan perasaan kesal tapi rindu.
" kamu ngga ngerti Wa, aku tuh masih pengen dekat sama kamu. " Ayri meneteskan Air matanya selama perjalanan.
Ke esokan harinya..
Ayri berkemas menyiapkan perlengkapan untuk kembali ke pesantren, hatinya masih ingin tetap di rumah. Tapi demi janji kepada ayahnya, ia harus menahan hatinya untuk tetap sabar menuntut ilmu di pesantren.
" Mah, pah Ayri pamit dulu ya. Insya Allah liburan semester Ayri pulang lagi, doakan Ayri supaya dapat nilai bagus. " Ayri bersalaman dengan ibunya dan tidak lupa mencium kening ayahnya.
" Hati-hati di jalan, jaga kesehatan ya. " Ucap Ayahnya dengan nada pelan.
__ADS_1
Ayripun berangkat di antar oleh kakaknya dan juga Roy.
Sesampainya di pesantren..
" Jaga diri baik-baik ya, nanti kalo ada apa-apa telfon kakak. " Ucap Kakaknya sambil membelai jilbab Ayri.
" Iya, kakak juga hati-hati di jalan. Ayri masuk dulu ya, Roy sampai jumpa lain waktu, jangan nakal ya. " ucap Ayri sambil mencium kening Roy. Roy pun hanya mengangguk.
Ayripun masuk ke dalam Asrama. Suasana Asrama sepi karna para santri masih mengikuti pengkajian pagi.
" Mending aku mandi dulu, sebelum ngantri. " Ayri mengambil handuk dan tempat sabun, tetapi Ayri baru menyadari bahwa pasta giginya sudah habis. Ia pun mengurungkan diri untuk mandi dan bergegas pergi ke koprasi untuk membeli pasta gigi dan cemilan ringan.
" Pasta gigi, oh ini dia. " Ayri menyusuri rak dan mencari letak pasta gigi.
" Ngga ngaji?. " Tanya seorang laki-laki secara tiba-tiba dari arah belakang Ayri.
" Eh?. " Ayri pun menengok. Ia dia adalah Haikal yang sedang membereskan stok barang.
" Eh, anu mas. Saya baru datang habis ijin pulang. " Ucap Ayri gugup.
" Oh, pantesan semalam tilawatih mas ga lihat kamu. Bacaannya nanti di lancarkan lagi. " Ucap Haikal yang tiba-tiba perhatian kepada Ayri.
" I, iya mas. " Ayri malu-malu. Haikal pun pindah posisi membereskan produk lain sedangkan Ayri menuju kasir.
" Apa? jadi dia inget sama aku? perhatian? apa itu maksudnya?. " Batin Ayri penuh tanya.
Di dalam Asrama, Ayri masih terngiang akan ucapan-ucapan Haikal yang masih tidak di sangka Ayri.
" Ngga Ayri, mungkin ini kebetulan aja. Pantes aja dia inget sama aku, karna bacaan Alquran ku jelek banget. Ngga mungkin Mas Haikal tiba-tiba suka sama aku toh ?."
Suara obrolan-obrolan kecil dan ocehan-ocehan para santri mulai terdengar, yang artinya para santri mulai berdatangan masuk asrama karna sudah memasuki jam istirahat.
" Aku duluan yang mandi, aku nomor 1. "
" Aku nomor 2. " ucap mereka dari depan kamar mandi.
__ADS_1
Ayri membuka jendela dan memandangi keributan tingkah teman-temannya sedang berebut kamar mandi.
" Hmm, mending mandi juga. " Ayripun bergegas kembali bersiap untuk ikut mengantri kamar mandi dan menunggu Desy serta Ririn datang.