Apakah Ini Cinta??

Apakah Ini Cinta??
Perpisahan part 2


__ADS_3

" Ayri... ngapain sih Lo sampe segitunya. " Avril meraih Ayri untuk bangun dari simpuhan.


" Percuma gue ungkapin, dia ngga peduli Huhu. " Ayri menangis di pelukan Avril.


" Udah - udah jangan nangis, malu tau sama guru - guru sama Siswa lainnya juga." ucap Avril.


" Dewa segitunya banget sih angkuhnya. " Shisi ikut membantu Ayri berdiri.


" Ayo kita pulang, udah jangan fikirin Dewa. Masih banyak cowo lain yang lebih peduli sama kamu." mereka pun berjalan menuju parkiran.


Di parkiran, Ayri melihat Dewa yang sedang di beri bunga oleh Rika.


" Plis terima ya, nanti Riri nangis loh kalo ga Nerima." Rika memohon.


" Iya udah, thanks. " Dewa menerima pemberian bunga tersebut. Ayri yang melihat pun langsung berpaling dan berlari.


" Ya allah, segitunya kah engkau memberi ujian luka padaku." Batin Ayri sambil terus berlari. Tea mengejar dengan motor nya sekaligus pulang.


" Ayri.... " Panggil Tea sambil menghampiri Ayri dengan motornya.


" Ayo naik, udah Lo tuh apa -apaan sih kaya gini. Lebay banget, udah lupain semua tentang Dewa tentang Rangga. Lo harus fokus sekolah, di pesantren Lo bakal nemuin cowo yang lebih baik dari mereka. " Ucap Tea dengan nada kesal, Ayri hanya terdiam atas ucapan Tea.


Di rumah..


Ayri termenung menatap luar jendela kamar, hatinya tiba - tiba termotivasi untuk segera mendapat ketenangan. Ayri tiba - tiba ingin cepat - cepat untuk pergi ke pesantren, ia pun kemudian memilih - milih baju yang akan di bawa ke pesantren.


" Mungkin keputusan mamah sama papah benar, dan mungkin Allah lagi nguji gue buat gue betah di pesantren." gumam Ayri dalam hati.


" Mah, Kapan papah bawa Ayri ke pesantren? " Tanya Ayri kepada ibu ny yang sedang menyirami tanaman.


" Nanti 2 mingguan lagi, kenapa? kamu belum siap ya? " Ibunya berbalik tanya karna khawatir anaknya akan dilema.


" Iya, karna Ayri ngga punya baju syar'i untuk disana. Mungkin sore Ayri ke toko baju sama Kaka, Terus apa lagi yang perlu Ayri bawa?" Ucapan Ayri santai, ibunya heran karna biasanya ia meronta jika membahas tentang pesantren.


" Lho, tumben banget kamu mau membahas tentang pesantren nak?, nanti kita siapkan bareng - bareng ya. Mamah bereskan kerjaan mamah dulu." Ibunya segera membereskan pekerjaan nya dan kemudian membantu Ayri berkemas untuk persiapan di pesantren.


" Assalamualaikum Ayri... " Seru Tea dari depan rumah Ayri.


" Walaikum salam. " Ayri membuka kan pintu ketika sedang sibuk berkemas dengan ibunya di dalam kemar.


" Eh Tea, masuk. Tumben Lo main." Ayri mempersilahkan.


" Gue khawatir sama Lo takut gimana - gimana setelah kejadian kemarin." Ucap Tea.


" Stttt, jangan bahas itu. Ada nyokap gue!" Ayri membungkam mulut Tea.

__ADS_1


" Ada siapa Nak?." Tanya Ibunya Ayri yang masih ada di dalam kamar.


" Eh, ini mah Tea. Katanya mau bantu - bantu Ayri berkemas, hehe."


" Eh, i,iya Tante. Tea mau bantuin Ayri berkemas soalnya Tea khawatir Ayri ga bisa ngelipet baju, hehe." Ucap Tea dengan alasan yang konyol.


" Hehe, Tea Tea , ada - ada aja kamu. Ya udah kalo gitu mamah ke dapur dulu ya mau masak, kan ada Tea yang bantuin." Ibunya Ayri pun berlalu ke dapur.


" Eh Ayri, Lo ini mau berangkat kapan ko udah kemas-kemas barang kaya gini sih?." Tanya Tea setelah ibu nya sudah tidak terlihat dari balik pintu lagi, Ia menutup pintu kamar Ayri.


" Masih 2 Minggu lagi ko, tapi sebenernya besok juga gue udah siap." Ucap Ayri datar.


" Ya elah Ay, cepet banget sih Lo berangkatnya. Gue BT tau ga ada Lo, nanti gue temenan sama siapa, huhu"


" Sama nenek gayung, hahaha " Canda Ayri.


"Sembarangan Lo." Tea mencubit pinggang Ayri yang sedang melipat - lipat baju.


" Aw, sakit tau." Ayripun mengernyitkan keningnya.


" Kan kata Lo gue suruh move on, ya mungkin inilah jalan yang terbaik" Lanjut Ayri.


****


2 Minggu berlalu...


" Terimakasih Dewa, Lo udah ngajarin gue tetntang rasa suka. Meskipun gue ga pernah tau seberapa besar cinta Lo ke gue, gue ikhlasin Lo untuk memilih siapa pun wanita yang akan menjadi pilihan hati Lo. Lebih tepat nya Riri, kalo Lo suka dia, bahagiakan dia karna dia lebih pantas buat Lo." Batin Ayri ketika bayangannya terlintas saat Dewa menerima bunga dari Riri.f


Sepanjang perjalanan, diri Ayri di penuhi lamunan - lamunan yang akan membuatnya selalu rindu. Tetapi inilah hidup yang harus di jalani, menatap masa depan adalah hal yang paling utama sehingga Ayri harus lebih optimis.


Tiba di lokasi pondok pesantren..


Para calon santriwan dan santriwati dari berbagai daerah pun sudah berbondong - bondong datang di hantar oleh sanak keluarga nya masing - masing.


Ayri melihat sekitar halaman pondok pesantren di penuhi oleh keluarga santri. Ada yang sedih sampai menangis ketika akan di tinggal pulang oleh keluarganya ada pula yang tegar tetap bahagia di tinggal keluarganya.


" Ayri.. yang betah ya, Kaka janji tiap bulan Kaka akan jenguk Ayri. Kaka bakal kangen kamu sayang " Tutur kakanya yang kemudian meneteskan air matanya.


" Iya ka insya Allah, sama Ayri juga bakal kangen sama Kaka. Apalagi sama Roy, sini sayang Tante peluk. " Ayri memeluk Roy yang sedang asik makan ciki dengan muka polos yang belum mengerti apa - apa.


" Udah kalo gitu kita pulang dulu ya nak, kamu hati-hati di sini dan jaga kesehatan. Kalo ada apa-apa nanti kabari mamah papah. " Tutur Ibu Ayri yang sedari tadi sedih meneteskan air mata.


" Iya mah, udah mamah jangan sedih. Ayri di sini akan baik-baik aja, Ayri udah ikhlas ko cari ilmu di sini. " Ayri pun memeluk Ibu nya. Lalu mereka pun bergegas untuk pulang.


Ayri memasuki Asrama putri dengan membawa 1 tas travel dan 1 tas sekolah yang berisi perlengkapan selama di asrama.

__ADS_1


" Bismillah, semoga gue betah. " Ayri memijakkan tangga untuk naik ke lantai 3. Kamar Ayri berada di lantai paling atas karna disitu tempat untuk siswa kelas 1.


" Assalamualaikum." Ayri memasuki kamar 22 dimana nama nya tertera dalam daftar siswa kelas 1 yang di tempel pada kaca jendela kamar tersebut.


" Walaikum salam. " Jawab siswa yang di dalam,


terlihat beberapa Siswa yang akan menjadi temannya nanti.


Ayri menuju loker yang sudah tercantum namanya, kasur dan loker nya berada paling pojok.


" Hay, selamat datang. Salam kenal ya, hehe." Sapa salah satu wanita bersyar'i panjang tinggi berisi.


" Hey iya, salam kenal juga. Saya Ayri, nama kamu siapa?" Ayri menyapa kembali.


" kenalin, aku Ririn alamat aku dari Riau. " Jawab Ririn dengan logat Melayu.


" Waw jauh ya, hehe. Kalo aku Asli dari Jawa barat. " mereka saling berbincang perkenalan satu sama lain sambil duduk di pinggir ranjang kasur milik Ayri, sampai tidak terasa azan Ashar berkumandang.


" BTW, kita siap - siap ke masjid yuk. Azan Ashar sudah berkumandang tuh. " Ajak Ririn bergegas bangun dari pinggir ranjang kasur Ayri. Ayri pun bergegas mengambil mukena dari dalam tasnya dan mereka berjalan beriringan menuju masjid.


Di masjid, Ayri dan Ririn duduk beriringan 1 shof sementara di samping Ayri ada 2 Kaka kelas SMA yang sedang berbincang sambil mendengar pujian yg di lantunkan setelah Azan.


" Kan, merdu banget. Gue tuh seneng banget kalo dia yang melantunkan pujian " Ucap Kaka kelas tersebut.


Perbincangan mereka terdengar jelas oleh Ayri, namun ia hanya menyimak sembari mencari dimana sumber suara pujian tersebut.


Suara komat sudah di kumandangkan, ada seorang laki-laki masuk dari pintu samping tempat wudhu ketika para jamaah shalat sudah berdiri untuk melaksanakan Shalat Ashar. Tempat tersebut adalah tempat monitor toa dan berbagai perkakas untuk shalat di masjid.


" Tuh, tuh kan. ganteng banget.... " Celoteh Kaka kelas tersebut yang membuat Ayri lama - lama risih mendengarnya.


Selesai Shalat, Ririn mengajak Ayri untuk mengantar dirinya belanja perlengkapan mandi di sebuah koprasi milik pondok pesantren, letak nya tidak jauh dari gerbang masuk utama pondok.


" Kamu mau beli apa? " Tanya Ririn, mereka berjalan beriringan menuju koprasi.


" Ngga, semua perlengkapan ku udah komplit, hehe." Jawab Ayri dengan senyuman.


" Baiklah."


Di dalam koprasi, Ayri hanya melihat - lihat produk dan melihat harga karna tidak ada hal lain selain melihat - lihat.


" Lumayan murah-murah sih, eh itu kan cemilan kesukaan gue, satu deh. " Ayri berusaha meraih bungkus cemilan tersebut, namun tidak teraih karna tinggi.


" Mau ngambil yang mana? kalo susah bisa ko minta tolong." Ucap laki - laki yang ada di sebelah Ayri yang sedang menyusun barang di rak. Laki - laki tersebut adalah pelayan koprasi dengan pakaian Koko yang lengkap dengan peci.


" Eh, mau yang itu. " Tunjuk Ayri gerogi.

__ADS_1


Laki - laki tersebut adalah orang yang di tunjuk-tunjuk oleh Kaka kelasnya sewaktu shalat Ashar.


__ADS_2