
" Hadeuhhh pelit banget tuh mang Agus tinggal buka aja gerbang nya susah banget. heuh. " Ucap Anissa sambil merebahkan tubuhnya bersama teman-teman yang lain di atas kasur hotel.
" Iya, padahal bukain juga ngga cuma-cuma ko di kasih pulus juga. Mana besok Ujian praktek pula, kalian jangan pada kesiangan ya, subuh-subuh kita capcus." Perintah Irma yang rebahan di samping Anissa.
Kasur di buat muat untuk 5 orang, selebihnya tidur di bawah dengan kasur lantai termasuk Ayri.
Ayri pun merenung sendiri dalam hati nya sambil menatap langit-langit.
" Ya allah gimana ini, aku terjebak pergaulan teman-temanku. Maafin Ayri pah, bukan maksud Ayri nakal. " Gerutu Ayri dalam hati dan kemudian ia membuka HP nya dan baru ingat bahwa ia belum sempat membalas Chat dari Dewa.
" Dewa, maafin aku ya. Pengen banget cerita tapi aku takut kamu marah, huhu. " Batinnya lagi.
Keesokan harinya ..
Pagi hari pukul 05.00 Ayri dan teman-temannya sudah pulang ke asrama karna mereka tidak ingin terlambat masuk ujian.
" Hoam, gue masih ngantuk. Put nanti bangunin gue jam setengah 7 ya. " Ucap Yeni yang merebahkan tubuh ke kasurnya setelah mandi dan ganti baju.
Sebagian teman Ayri masih mengikuti rasa kantuknya, sementara Ayri setelah selesai mandi ia justru membuka kembali daftar tilik sebagai sumber hafalan ujian nanti, ia menghafalkan sedemikian langkah-langka menginfus pasien, mengganti perban, dan merawat luka pasien.
Tangan Ayri lihai mempraktekkan meski hanya dengan ilustrasi tangan patung yang sebelumnya ia pinjam di laboratorium kampus.
" Sebentar ya bu, saya cek dulu urat yang akan di pasang infus. Ibu jangan tegang, rileks yakin bahwa ibu akan sembuh. " Ucap Ayri menggerutu sendiri.
" hmm, terus apa lagi ya? ya allah jangan sampai di depan penguji aku grogi jangan sampai juga aku di remedial. Huhu. " Gerutu Ayri lagi.
Ayri kemudian membuka HP nya dan meminta doa kepada Dewa agar ujiannya di beri kemudahan.
' Selamat pagi sayang, doain aku ya supaya ujian ku hari ini di permudah. Maaf semalam ga sempat balas chat kamu, aku semalam fokus belajar. Hehe ' Pesan Ayri kepada Dewa. Ia terpaksa berbohong agar Dewa tidak marah.
' Assalamualaikum pah, doakan Ayri supaya ujian hari ini di beri kelancaran. ' Pesan Ayri kepada Ayahnya.
Jam masuk kampus berbunyi, Ayri pun mempersiapkan dirinya untuk pergi ke kelas ujian praktek, ia tidak mempedulikan teman-temannya yang sibuk mempersiapkan diri.
" Bismillah. " Ucapnya ketika ia memasuki Ruang kelas ujian praktek. Ia memakai baju seragam putih celana putih ala perawat rumah sakit.
Ayri melihat ruangan tersebut sudah tersedia phantom sebagai pasien serta alat-alat medis yang akan di gunakan sebagai bahan ujian. Di ruangan tersebut sudah ada 4 orang sebagai teman kelompok Ayri.
" Assalamualaikum. " Sapa Ayri kepada teman kelompoknya sambil melempar senyum.
Teman kelompok Ayri bukan hanya dari q kelas melainkan berbagai kelas kebidanan kharisma.
" Hey, kamu sekelompok ya sama kita, nama kamu siapa? " Tanya salah satu temannya. Mereka saling sapa berbincang dan bahkan latihan ujian praktek bersama.
Ujian Praktek pun di mulai ketika 2 Dosen penguji dari prodi keperawatan memasuki kelas ujian. Hati Ayri berdegup kencang deg-degan khawatir akan ujiannya mengalami kegagalan.
" Baik anak-anak, kalian sudah siap? Ibu akan memulai sesuai abjad absensi ya. Yang pertama Ayri, silahkan maju ke depan. Ini soal yang akan kamu tangani hari ini. " Ibu Dosen Nita menyodorkan soal di bibir mejanya dan Ayri pun maju untuk mengambil soal tersebut dan memposisikan dirinya mempraktikkan sesuai soal.
__ADS_1
" Bismillahirrahmanirrahim. " Gumam nya dalam hati.
" Selamat siang ibu, perkenalkan nama saya Bidan Ayri dari prodi kebidanan akan melayani ibu. Ibu ada keluhan apa datang ke BPM saya?. " Tanya Ayri kepada phantom yang berbaring di hadapannya menghayati bahwa phantom tersebut adalah pasiennya.
" Oh ibu demam? " tanya Ayri. Yang di jawab oleh Dosen penguji mewakili sebagai suara dari phantom tersebut.
" Sebentar ya saya periksa dulu. " Lanjut Ayri melakukan sesuai yang di cantum di dalam daftar tilik. Setelah melakukan pemeriksaan Ayri melakukan pemasangan infus kepada phantom tersebut. Ada rasa grogi yang tidak bisa hilang, bahkan Ayri masih banyak teguran dari dosen penguji namun Ayri bisa menyelesaikan ujiannya sampai akhir.
Jam istirahat tiba.
Ayri buru-buru untuk ke kamar karna ia sudah sangat lelah ingin merebahkan tubuhnya sebentar. Ketika ia sampai di dalam kamar, Aisyah pun menyusul Ayri.
" Hey, gimana ujian nya di kelas kamu?. " Tanya Aisyah menghampiri Ayri meski dengan jalan yang sudah tidak nyaman lagi, tetapi perut nya tidak terlihat begitu buncit karna Aisyah memakai baju yang gedombro gan.
" Hum, pokonya bikin aku tremor Ais. " cerita Ayri kepada Aisyah yang perutnya terlihat semakin membesar karna kini kehamilan nya sudah memasuki 9 bulan.
" Oh iya Ais, aku semalam kacau banget. " ujar Ayri mengawali cerita sambil menoleh kanan kiri khawatir teman se genk Irma mendengar padahal mereka belum sampai kamar.
" Aku semalam di ajak dinner sama genk Irma. Terus kita pulang tengah malam sampai akhirnya kita nginep di hotel. " lanjut Ayri pada akhirnya tepuk jidat.
" Ya ampun, terus?. " Tanya Aisyah penasaran.
" Jadi kita baru subuh tadi pulang. Mang Agus semalam bersikeras ngga mau buka gerbang, aku takut kalo mang agus bakal laporin kita ke ibu asrama bahkan ke ketua Yayasan, huhu. " Ujar Ayri ketakutan.
" Hmm, ada-ada aja ulah genk itu. Lain kali kamu jangan mau di ajak mereka Ay, kasian nanti kamu kebawa nakal mereka. " ujar Aisyah mengingatkan. Namun tidak lama kemudian mereka pun datang beramai-ramai sambil berkeluh kesah akan ujiannya hari ini.
Di dapur Asrama, Ayri dan Aisyah menyantap makan siang di meja dapur di iringi beberapa mahasiswa wanita yang lain dengan jarak yang berjauhan.
" Ay, kayanya perut aku kaya kurang nyaman deh. Dari semalam dede bayi nya ngga bisa diem sampai aku ngga bisa tidur semalaman. " Cerita Aisyah sambil mengeluh perut nya dan sesekali menyuap meski sedikit.
" Wah kaya nya sebentar lagi launching nih, hehe. Sahabatku harus kuat. " Bisik Ayri di telinga Aisyah dan kemudian mengelus perut Aisyah yang secara kebetulan bayi dalam perut Aisyah bergerak dan membuat keduanya sontak terkejut.
" Upsss, Wahhhhh. Hihi masya allah " Ayri semakin mengelus perut Aisyah di ikuti Aisyah.
" Dede dalam perut, sehat selalu ya cepet launching. Lihat nih mamah kamu wonder women jaga kamu dalam perut. " Ucap Ayri kepada perut Aisyah sambil sedikit menunduk ke bawah meja karna takut ketahuan mahasiswa yang lainnya.
" Hehe, makasih ya Ayri. Kamu sahabat aku yang paling baik dan peduli, aku ngga akan pernah lupain kamu Ay meskipun nanti kita akan terpisah. " Ucapnya mengelus pundak Ayri.
" Ngga akan ada perpisahan untuk kita Ais, berkat kamu juga aku bisa bertahan di kampus ini. Ah udah ayo lanjut lagi makannya sebentar lagi bel tanda masuk bunyi. " Ujar Ayri lalu kemudian menyantap kembali makanan yang dari tadi ia lupakan.
Keesokan harinya...
Sejak pagi kemarin Dewa tidak membalas pesan Ayri bahkan semalam Ayri tidak sempat pula memberi kabar kepada Dewa karna ujian berakhir di jam 6 petang. Sementara hari ini tinggal menyelesaikan laporan hasil kasus pasien secara tertulis yang bisa di kerjakan di kamar.
Beberapa teman lainnya masih harus mengikuti ujian karna kelompok mereka belum selesai mengikuti ujian.
" Dari kemarin Dewa ngga balas chat dariku. Apa dia marah ya? apa dia tau kejadian malam itu?. " Ayri bertanya-tanya dalam hati sambil menulis laporan dan chat Dewa kembali.
__ADS_1
' Sayang kamu kemana aja sih ko ga balas chat aku?. ' Chat Ayri. Bahkan Ayri mencoba menelfon malah nomornya tidak aktif.
" Yah ko ga aktif, dia kenapa sih? " Gerutu Ayri khawatir.
" Ada apa sih?. mungkin Hp nya rusak kali ya?. Semoga saja. Ayri jangan mikirin Dewa dulu, fokusin sama tugas. " Ayri memotivasi dirinya sendiri dan melanjutkan mengerjakan tugas.
Kloning (suara tanda SMS masuk)
Ayri langsung membuka dengan sigap berharap Dewa membalas pesan.
' Ayri, doakan aku semoga persalinannya hari ini di permudah. ' Chat Aisyah.
'Masya allah hari ini Aisyah berjuang melahirkan, semoga kamu kuat Ais. Salut banget sama mama satu ini. Semangat ya sayang. ' Balas Ayri memberi support.
Padahal ia berharap itu chat dari Dewa.
" Akhirnya selesai juga. Harus segera di kumpulkan dan mumpung hari ini masih pagi aku mau pulang ke rumah. " Ucap Ayri bergegas memakai seragam untuk ke kampus mengumpulkan tugas laporan dan setelah itu ia kembali berbenah persiapan pulang ke rumah.
Kali ini ia tidak di jemput karna keinginannya untuk pulang sendiri dan besok pagi sudah harus berada di kampus lagi mengikuti ujian tulis.
" Semangat pulang pake angkot. Sampai rumah aku temui Sinta, semoga dia ada di rumah. " Ucap nya sambil berjalan keluar gerbang dan menunggu angkot lewat.
Selama perjalanan Ayri merasa canggung, pasalnya ini adalah kali pertama Ayri pulang ke kampus menggunakan angkutan umum tapi syukur ia selamat sampai tujuan meskipun dari terminal ia harus di jemput kakaknya.
" Kenapa pulang dadakan sih?. " Tanya kakaknya sambil menyetir motor.
" Ya BT aja di kampus ngga ada kegiatan, tapi besok pagi harus udah di kampus lagi sih, hehe. " Jawab Ayri entang yang membuat kakaknya melenggang bibirnya.
" Kakak turun di toko, kamu bawa nih motor. Awas hati-hati. " ucap Kakak Ayri yang berpura-pura jutek.
" Okee kak. tincu kakak ku sayang. " Balas Ayri malah membalas bahagia, pasalnya sebelum sampai rumah, ia ingin terlebih dahulu pergi ke rumah Sinta untuk memastikan Dewa kenapa tidak membalas Chat nya.
Di rumah Sinta, Ayri di sapa sopan oleh Sinta serta Sinta pun respek langsung pergi menyusul Dewa karna Sinta tau pasti Ayri datang ingin menemui Dewa. sementara Ayri menunggu di ruang tamu rumah Sinta merasa deg degan dan canggung.
" Ayo dong Dewa datang kesini, aku ngga bisa lama ketemu kamu. " Gumam nya dalam hati. Dan tidak lama kemudian, Sinta datang di ikuti Dewa di belakangnya.
" Loh ko ada disini? ngga ke kampus? " tanya Dewa terkejut karna Sinta tidak memberi tahu bahwa Ayri ada di rumahnya yang kemudian duduk di samping Ayri.
" Hehe, hari ini aku free. Sengaja mau ketemu kamu. " Jawab Ayri santai dan menggenggam tangan Dewa.
" Maksain banget jauh-jauh pulang cuma buat ketemu aku. " Jawab Dewa jutek, dan perlahan melepas genggaman Ayri dan Ayri merasa tersentak.
Sementara Sinta pergi ke warungnya untuk mengambil suguhan.
" Ya habis kamu ga bales pesan dari aku. Kan aku khawatir. " Jawab Ayri bernada manja.
" Oh karna itu?. " Ucap Dewa masih angkuh. Sikap nya membuat Ayri mendadak bingung dan bertanya-tanya kenapa Dewa bersikap seperti itu.
__ADS_1
" Iya dan aku butuh jawaban alasan kamu. Bukan nada jutek seperti itu. " Ayri pun berubah sikap menjadi jutek. Ia bangun dari duduk dan bergegas untuk keluar rumah Sinta.