Apakah Ini Cinta??

Apakah Ini Cinta??
Ayri Menang namun Ayri gelisah


__ADS_3

Di saat Ayri melangkah menuju gerbang sekolah, ia dapati Riri sedang memeluk Risa sambil menghapus air mata dan ia tidak sengaja mendengar perkataan Riri.


" gue ga bisa move on Sa, sakit banget hati gue liat mereka. " Isak Riri di pelukan Risa.


" jangan nyerah gitu, gue yakin kalo Dewa suatu saat jodoh Lo, dia bakalan Dateng ke Lo. Sabar kita itu masih remaja ko." Ucap Risa memberikan motivasi kepada Riri.


" Hahaha, siapa yang menang sekarang? makanya jangan so ngancam dan jangan kepedean dulu jadi orang. " Ucap Ayri dalam hati yang merasa puas akan hal tersebut. Ia melangkah menuju parkiran.


" Ayriiii... " Panggil Tea dan Avril yang berada jauh di belakangnya. Mereka mendekati Ayri ketika hendak memasuki arah parkiran.


" Tea, Avrillllll... " Ayri lebih mendekati mereka dengan rasa girang. Ayri memeluk ke dua sahabatnya itu, namun mereka merasa heran. Padahal niat mereka memanggil adalah untuk mengajak Ayri mampir ke rumah Avril.


" Woy, tumben banget Lo girang gini. Kemarin aja Lo nangis-nangis ke gue" ucap Tea.


" gue hari ini seneng bangeeetttt, selama hidup gue baru seseneng ini tea. " Ucap Ayri girang dengan mencubit pipi Tea yang cabi.


" Taraaaaa, gue di kasih kado ini dari Dewa." Ayri memamerkan kado dari Dewa kepada kedua sahabatnya itu.


" serius loh??" Avril terkejut.


" coba coba buka apa isi nya. " lanjut Avril ingin tahu.


" Yeyyy sabar dong, rahasia. Nanti gue bakal buka sendiri di rumah." ucap Ayri.


" Itu tanda nya Dewa juga suka deh Ay sama Lo, buktinya dia udah mau ngasih Lo kado." Kata Tea mengira-ngira.


" Mye bee, tapi..... " Ayri kembali mengerutkan mukanya karna di balik bahagianya itu akan ada harapan yang sirna.


" Sebentar lagi kelulusan, dan gue ga akan bisa lagi ketemu sama dia. " lanjutnya.


" Kalo gitu ya udah kalian pacaran aja gih, biar meskipun jauh kan Lo masih bisa kontekan sama dia. Minta nomer Hp nya." pungkas Avril.


" betul tuh." Tea sependapat.


" Ah kalian ini, kita tuh masih remaja di bawah umur, pacar-pacaran. Nanti ada saatnya pacaran mah." ucap Ayri.

__ADS_1


"Lah, terus Lo ngapain sampe sebegitunya sama Dewa tapi ngga ngarepin pacaran? ." ucap Avril.


" Ah, au lah, pusing. Gue mau pulang duluan ya, mau buka kado, Bye. " Ayri beranjak mengambil sepedahnya.


"Eh Ay, tunggu. Main yuk ke rumah Avril." ajak Tea. Namun Ayri menolak karna ia tidak sabar ingin segera membuka kado dari Dewa, tetapi Ayri beralasan beda.


" oh ya udah kalo gitu hati-hati di jalan." Tea memaklumi karna alasan Ayri akan pergi bersama orang tuanya.


Ayri pun berlalu meninggalkan ke dua sahabatnya itu menggunakan sepedah, namun di jalan ia tidak sengaja berpaprasan dengan Rangga yang sedang mengendarai motor.


" Hey, udah pulang sekolahnya?." sapa Rangga yang kemudian menghampiri Ayri.


" Iya ka, Kaka habis dari mana?." Tanya balik Ayri.


" Ada kepentingan aja, kita ngobrol-ngobrol dulu di kedai bakso Deket sini. " Ajak Rangga, namun Ayri menolak dengan alasan ada acara dengan keluarga sehingga Rangga pun memaklumi. Ayri pun pamit untuk melanjutkan bersepedanya.


Sesampainya di rumah, Ayri langsung menuju kamar tidak mempedulikan Ibunya yang sedang menyiram tanaman di halaman rumah karna ia masih merasa kesal terhadap ibunya.


Ayri segera membuka kado dari Dewa yang isinya ternyata adalah satu buah coklat Silverqueen.


kring (1 pesan di terima)


' udah makan belum, jangan lupa makan dan selamat istirahat.' Rangga.


Namun Ayri tidak mempedulikan Pesan dari Rangga. Rasa bahagianya itu tidak ingin ada yg mengganggu.


Kring (1 pesan di terima)


' lagi Apa?.' lagi-lagi Rangga.


'kenapa ga di balas sibuk ya?.' Rangga. Namun Ayri malah tertidur sambil memeluk coklat Silverqueen tersebut.


Keesokan harinya..


Ayri bersama ayah dan ibunya berangkat menuju pesantren untuk melihat kondisi pesantren Yanga akan di tempati oleh Ayri.

__ADS_1


Selama perjalanan sampai tempat tujuan Ayri tidak melontarkan satu kalimat pun sebagai bukti protes nya terhadap ke dua orang tuanya. Hanya matanya yang melirik suasana di dalam pesantren, ia melihat sejumlah santriwan santriwati melakukan kegiatan di pesantren tersebut l, ada yang sedang mengkaji kitab di dalam masjid, ada yang sedang latihan bela diri serta ada yang sedang sibuk bersih-bersih halaman pesantren.


" Apa gue bakal betah tinggal di sini. Lihat raut mata mereka seperti biasa saja bahkan kayanya mereka merasa nyaman. Tapi, gue ga betah dan ga kuat jauh dari keluarga." Gumam Ayri dalam hati.


" Assalamualaikum." Sapa seorang wanita yang memakai baju syar'i menghampiri Ayri beserta orang tua Ayri yang sedang duduk di lobi luar kantor pesantren.


" Walaikum salam." Jawab Ibu Ayri, ia berdiri dan bersalaman dengan wanita tersebut.


" ada yang bisa saya bantu Bu? pak?" tanya wanita itu.


" Oh gini Bu, saya yang waktu itu daftarin anak saya sekolah dan mesantren disini." Ayah Ayri mengajukan ucapan.


" Oh, iya. Ini anaknya ya pak?."


" Iya, Ayri Perkenalan diri ayo." suruh Ayah Ayri .


" Ayri." Ucap nya sambil bersalaman dan tersenyum tipis.


" Saya ibu Aisyah, saya disini sebagai pembimbing Asrama putri. Sebentar ya pak, saya cari datanya dulu. Nanti saya ajak Ayri untuk keliling lingkungan pesantren." Ucap Ibu Aisyah. Ia beranjak mengambil buku identitas ke dalam kantor dan setelah itu mengajak Ayri tanpa ayah dan ibu untuk melihat Asrama putri.


Didalam Asrama Ayri tercenang ketika melihat para santri sedang sibuk aktivitas masing-masing di dalam Asrama, ada yang sibuk mencuci baju di tempat wudhu, ada yang sedang mengantri mandi di luar kamar mandi bahkan ada yang sedang fokus membaca Al-Quran di dalam kamar.


" Beginilah keadaan di Asrama, mereka kebetulan sedang libur sekolah, biasanya kalau hari aktif jam segini mereka sedang berada di sekolah, ada juga yang jadwal nya mengkaji kitab." Jelas ibu Aisyah, mereka sambil berjalan menyusuri lorong Asrama.


" Bu, kalo disini boleh bawa HP kah?." tanya Ayri kemudian.


" itu peraturan paling keras disini, kami tidak memfasilitasi santri untuk menggunakan alat-alat elektronik yang membuat lahan ( tidak bermanfaat, menimbulkan fitnah dan dosa )." jelas ibu Aisyah lagi.


" ya ampun ketat banget sih." gumam Ayri dalam hati.


" terus gimana dong untuk bisa ngubungin keluarga.?" lanjut Ayri bertanya.


" Tenang, di depan kantor kami sudah siapkan wartel untuk kalian bisa komunikasi dengan keluarga, tapi kalau hari libur saja. Dan para siswa di larang untuk keluar gerbang pesantren tanpa izin dan dapat izin dari pihak pesantren. " lanjut Bu Aisyah.


Peraturan-peraturan tersebut membuat Ayri semakin merasa tertekan dan tambah tidak ingin untuk di pesantrenkan.

__ADS_1


__ADS_2