
Di tangga menuju kamar mandi, Ayri melihat Desy dan Ririn tengah berjalan di tangga sambil bercanda.
" Desy...... " Ayri memanggil Desy dengan girang.
" Ayri... Kebetulan banget kamu udah datang. Ini aku ada titipan oleh-oleh dari... " Namun sebelum Desy menyudahi ucapanya, Ayri mencoba menebak.
" Dari Ghani?. " Tebak Ayri.
" Bukan, tapi ini dari Rahman. " Ucap Ririn.
" Hah, Rahman?. " Ayripun heran.
Rahman adalah teman 1 kelasnya semenjak Ayri duduk di kelas 2 SMA ini. Selain itu, ia pun salah satu sahabatnya Ghani. Ayri heran mengapa Rahman sampai peduli terhadap Ayri.
" Ah, salah orang kali. Siapa tau di Kaka kelas atau adik kelas ada juga yang namanya Ayri. "
" Mana mungkin, Ayri Apriliani itu hanya kamu Ay. Udah nih terima aja lumayan tau Rahman kan ganteng ya Rin. Hehe " Celoteh Desy bermaksud bercanda.
" Ah apaan sih kalian ini, ya udah gih buat kalian aja. Aku mau mandi dulu. " Ayri malah meninggalkan mereka turun tangga untuk mengantri kamar mandi.
" Rahman, Kenapa dia sampe mau ngasih aku bingkisan itu ya ?. Ah nanti coba tanya langsung aja deh ke orangnya. " Gumam Ayri dalam hati sambil duduk di teras tunggu.
Di sekolah, tepatnya di depan pintu Ayri menunggu kedatangan Rahman. Laki-laki bertubuh tinggi, berisi berkulit putih dan mata sipit seperti turunan Cina itu membuat Ayri penuh tanya.
" Ali, apa kamu liat Rahman?. " Tanya Ayri tegas.
" Rahman tadi pas gue berangkat dia masih ngantri mandi. " Ucap Ali Cuek.
Ayripun berlalu menuju mejanya sambil terus memikirkan Rahman.
" Ah itu dia. Rahman..... " Panggil Ayri ketika Rahman masih melangkah di depan pintu.
" Iya saya, kenapa? " Jawab Rahman.
" Udah di terima oleh-oleh dari Palembang nya ya?." Tanya Rahman. Ucapan tersebut membuat Ayri yakin bahwa Bingkisan tersebut tidak salah tuan.
" Jadi benar kamu yang ngasih oleh-oleh tersebut?. Dalam hal apa?. " Tanya Ayri pun heran.
" Hehe, ngga apa-apa. Ya gue cuma pengen ngasih ke Lo aja. Nyokap gue ngasih cemilan banyak banget cuma karna gue ke inget Lo, jadi gue titipin aja lewat Ririn yang ga sengaja kemarin gue temuin di kantor. " Jelas Rahman.
" Oh, iya makasih deh kalo gitu. Tapi aku ga enakan sampe kebagian. Sekali lagi makasih ya. " Ucap Ayri dengan rasa malu.
" Iya its oke. " Ucap Rahman sambil berlalu menuju meja nya. Ayripun ikut menuju tempat duduknya karna bel tanda masuk sudah berbunyi.
Dalam hatinya masih penuh tanda tanya sampai sesekali Ayri memandangi Rahman yang sedang memperhatikan guru mengajar.
__ADS_1
" Apa bener ga ada maksud apa-apa ?. Aku jadi ga karuan hati kaya gini. Bahkan aku ga enakan sama Dewa. " Ucap Ayri dalam hati. Ayri masih sesekali memandangi Rahman yang tiba-tiba kepergok sedang memperhatikan Ayri.
"Eh, dia ngeliatin aku ? positif thinking Ayri, mungkin secara kebetulan aja dia liatin kamu. " Ayri mengrenyit-ngrenyitkan matanya.
Beberapa hari kemudian...
Hari ini adalah hari Minggu, dimana semua kegiatan di liburkan Kecuali pengkajian di malam hari. Ayri ingin sekali berkomunikasi dengan Dewa ia merasa rindu dan merasa bersalah karna di pesantren Ghani dan Rahman kini tengah mengincar hati Ayri.
Ayri mengantri di loket wartel yang setiap hari Minggu selalu ramai. Meskipun hanya di beri waktu 5 menit untuk menelfon setidaknya Ayri bisa melepas rindunya.
"Assalamualaikum. " Ucap Ayri ketika Dewa mengangkat telfon dari Ayri.
" Ini siapa ya?." Dewapun penasaran karna nomor yang tidak ia kenal.
" Ini Ayri Wa, gimana kabar kamu, Sehat?. " tanya Ayri pelan karna takut ketahuan ngobrol dengan laki-laki.
" Alhamdulilah sehat, tumben bisa nelfon. " Ucap Dewa dari balik telfon.
" Kenapa emang ga boleh ya kalo aku rindu. " Ucap Ayri lusuh.
" Hehe, iya ngga. Tumben aja gitu kamu nelfon. " Namun ketika Dewa sedang berbicara tiba-tiba sambungan telfonnya mati.
" Yah, kenapa telfonnya mati sih. " Ayri pun menutup telfonnya dan mencoba usul kepada penjaga wartel.
" Mas, ko saya lagi telfon malah mati sih. Belum juga 5 menit. " Usul Ayri kepada penjaga wartel.
" Hmm, ya udah deh. berapa biaya telfon tadi.? " Ucap Ayri jutek.
" 5.000 . " Jawab penjaga wartel santai.
" Ya elah, belum juga 5 menit harus bayar lima ribu. Itu jatah uang jajan sehari ku. " Gumam Ayri dalam hati. Namun mau tidak mau ia harus membayarnya dan Ayri pun kembali ke asrama dengan wajah lusuh.
" Belum juga cerita ke Dewa udah harus mati telfonnya. Dewa aku kangen banget sama kamu, huhu. " Ayri lusuh di dalam kamar.
" Ga betah di sini, tapi aku harus gimana...... " Lama-lama Ayri menangis di atas dipannya di saat kamar sepi.
Kini setiap hari Ayri merasa di teror perasaan oleh rahman dan ghani. Sementara di pesantren sedang di gadang-gadang akan issue perjodohan di kalangan santri.
" Iya ngga nyangka ya, si Anggun sama si Rifki di jodohkan sama pa kyai gara-gara ada yang ngelaporin mereka lagi ngobrol berdua. Dan ternyata Rifki membenarkan ke pak kyai kalo dia suka sama Anggun. " Ayri teringat akan ucapan salah satu santri yang sedang bergosip di bawah pohon di taman asrama putri waktu itu.
Ayri khawatir akan hal tersebut juga di alami oleh Ayri yang sedang di taksir oleh Rahman dan Ghani.
" Ngga Ayri, ngga mungkin. Jangan sampe hal itu terjadi. " Ayri memejamkan matanya di atas dipan saat menjelang tidur.
" Tapi, bisa saja Ghani atau Rahman curhat ke pengurus kalo dia suka sama aku? " Ayri selalu di hantui hal negatif.
__ADS_1
Back to 7 hari yang lalu di sekolah..
" Iya emang aku suka sama kamu sejak kita sekelas, tapi aku tau Ghani suka sama kamu. Inilah usaha aku supaya kamu tau kalo aku suka sama kamu. " Jelas Rahman kepada Ayri ketika Rahman berusaha memberikan kerudung untuk Ayri secara langsung di dalam kelas saat sepi.
Ayripun sudah menyangka karna sikap Rahman semenjak itu berbeda, karna Ayri sering memergoki Rahman tengah memandangi Ayri saat jam belajar.
" Ma, maaf Rahman. Bukan nya aku menolak atau ngga suka sama kamu, tapi aku.... " Belum sempat Ayri melanjutkan, namun Rahman menyangkal.
" Sttttt, memang cinta butuh waktu beradaptasi. Tapi aku yakin suatu saat kamu akan suka dan kita akan menikah. Aku akan menunggu kamu, Aku tau kamu ngga suka kan sama Ghani?. " Rahman selalu bergaya PD setiap berbicara, berkharisma.
" Udah ya Rahman plis, jangan ganggu aku. Kamu ngga perlu tau apa-apa tentang aku. " Ayri langsung pergi meninggalkan Rahman.
" Aku akan nunggu kamu sampe kamu mau jadi istri aku. " Teriak Rahman berusaha agar Ayri mendengar.
Namun Ayri tidak menghiraukan ucapan Rahman.
Kini hari-hari Ayri menjadi murung, setiap di sekolah ia tidak berani untuk bertemu ataupun tatap muka dengan Rahman, ia lebih memilih menyendiri atau menghabiskan waktu istirahat di depan taman dekat kantin yang berada di belakang kelas.
" Kenapa sih Ay, kayanya kamu akhir-akhir ini sering banget melamun. Kamu sakit atau rindu rumah?. " Tanya Lia yang berusaha mencari tau akan temannya yang tidak bergairah itu.
" Iya Li, aku kangen yang di kampung rasanya pengen buru-buru liburan lagi. " Ucap Ayri lusuh.
"Sabar, 5 bulan lagi ko. 1 tahun lagi juga kita lulus, harusnya kamu nikmatin keseruan di pesantren. Sekolah di sini seru tau, kita bisa dapet teman dari berbagai daerah. Coba kalo di kampung, temannya cuma dari tempat sekita aja. " Lia berusaha untuk menghibur Ayri.
Hari berganti bulan demi bulan di lewati Ayri dengan penuh sabar meskipun di luar Asrama Ayri berusaha angkuh.
Kini Ayri dan para santri akan kembali menikmati libur sekolah lagi, tepatnya libur kenaikan kelas.
Sebelum para santri di ijinkan pulang sore hari, pagi hari para santri di berikan pengumuman oleh kyai mengenai Larangan yang telah di langgar oleh para santri setiap tahun selama di pesantren.
Inilah alasan Ayri sejak awal berada di pesantren ia merasa terawasi, karna di setiap lingkungan pesantren terdapat banyak pengawas yang bukan hanya sekedar Kyai, ustadz, ataupun pengurus yang berada di kantor, melainkan setiap santri yang di beri tugas sebagai Staff asrama, keamanan ataupun jabatan lainnya yang selalu mengawasi gerak gerik pesantren.
Ada banyak hal yang para santri langgar namun mereka tidak menyadari sampai akhirnya ada beberapa santri yang mendapatkan kafaroh mengenai langgaran.
Beruntung Ayri tidak mendapatkan hukuman karna ia mendapatkan kriteria siswa berperilaku baik.
Pak Budi selaku pengurus kantor menyebutkan satu per satu santri terutama Ghani yang membuat Ayri tercenang saat Pak Budi menyebutkan nama Ghani.
" Loh, kenapa dia kena kafaroh?. " Batin Ayri kaget.
" Ghani?, dia dapat hukuman Ay?. " Lia pun ikut tercenang yang dari tadi duduk di samping Ayri bersama ke 2 sahabatnya.
" Iya, ga nyangka ya. Kira-kira kenapa ya?. " Ayri di ambang penuh tanya.
" Itu karna dia suka lirik-lirik cewe. Disini kan banyak mata-mata, jadi setiap gerak gerik kita yang suka pencicilan akan di laporkan ke pengurus. Maka nya kalo di luar asrama mata kita ga boleh jelalatan, jangankan mata, buat ngobrol sama cowo aja harus di kantor. " Jelas Ririn yang diam-diam mengetahui peraturan tersebut.
__ADS_1
" Oh pantesan aja dari sejak datang kesini aku ngerasa kaya ada yang ngawasin terus tiap saat. Maka nya ini nih yang aku takuti, takut Ghani atau Rahman macam-macam terus aku dapat kafaroh "
Setelah acara pengumuman itu, Ayri di jemput oleh kakaknya dan seperti biasa Roy pun ikut menjemput tantenya itu.