
Ayri duduk termenung di teras depan rumah selepas ia ganti pakaian sekolah.
" Pindahan?, Maksudnya gimana, Rangga mau pindahan rumah?. Gue malam ini harus ketemu Rangga nih, gimana pun alasannya gue harus ketemu dan ngobrol langsung. Lagi pula hari ini bertepatan berakhirnya masa pacaran, Iya pacaran gue yang tanpa kepastian." Gerutu Ayri sambil mencari ide alasan untuk bisa keluar rumah.
****
Ayri di dalam kamar sudah bersiap untuk pergi ketemuan dengan Rangga.
' Ka, gimana? udah siap untuk ketemuan? aku udah siap nih.' Ayri mengawali. Dan selang beberapa menit, Rangga pun membalas pesan Ayri.
' Iya, sebentar lagi Kaka sampai di depan rumah kamu.' Rangga.
Ayripun memberanikan diri keluar kamar dan sudah siap dengan alasan yang akan ia lontarkan ke kedua orang tuanya.
" Mah, Ayri ijin keluar sebentar ya, 10 menit aja. Ayri mau beli pembalut, stok di kamar habis." Ucap Ayri beralasan.
" jangan lama-lama. " Ucap Ayahnya sambil menonton tv.
" Iya." Jawab Ayri . Ia pun buru-buru mengeluarkan motornya, dan bertepatan dengan datangnya Rangga di sebrang jalan rumah Ayri.
Ayri mendahului pergi dan di ikuti oleh Rangga dari belakang.
" Kita ke alun-alun ya. " Ucap Rangga ketika ia mulai mendahului Ayri. Ayri pun menurut dan menuturi motor Rangga.
Sesampainya di alun-alun, Rangga masih tetap menjalankan motor nya lurus melewati alun-alun tersebut. Sementara arah yang Rangga tuju adalah jalanan yang sepi dan jarang di lewati kendaraan.
" Ka Rangga mau kemana sih? katanya ke alun-alun, tapi malah ke tempat sepi begini." Batin Ayri yang terus mengikuti di belakang Rangga.
Tiba-tiba Rangga berhenti di tempat sepi tersebut, Ayri semakin bertanya-tanya dan merasa takut.
" Ko berhenti disini sih ka, aku takut." Ucap Ayri yang ikut berhenti.
" Kita ngobrol disini aja dulu ya, jangan takut, ada kaka. Tadi di alun-alun Kaka liat ada temen Kaka, Kaka punya hutang jadi takut di tagih Hehe." Rangga beralasan.
" Oh " ucap Ayri sambil tengak tengok samping, depan belakang. Ayri takut gelap dan sepi, sehingga hatinya merasa tidak karuan, Tetapi Ayri berusaha menenangkan diri.
__ADS_1
" Gimana kabarnya sekarang?" Tanya Rangga tiba-tiba mengawali percakapan. Ia mendekati Ayri dan ikut duduk berdua di atas motor Ayri. Ia duduk di samping Ayri hingga bahu mereka saling menempel. Suasana sunyi nan gelap membuat Ayri takut dan khawatir.
" Aku yang seharusnya nanya ke Kaka. Kaka tuh kemana aja selama ini, selama kita jadian Kaka ga pernah balas pesan aku. Hilang bagai di telan bumi." Ucap Ayri meluapkan kesalnya.
" Hehe, maaf Ay. Ini HP Kaka baru bener abis di service. Terakhir Kaka SMS kamu, HP Kaka jatuh terus mati." Jelas Rangga yang seakan merasa tidak bersalah.
"Hmm, gitu. Terus kenapa Kaka ga berusaha ngabarin aku via telfon orang lain, adik Kaka atau teman Kaka?. Kenapa Kaka ga berusaha untuk bisa ketemu sama aku." Tanya nya lagi.
" Kaka ga enakan lah minjem ke orang lain, yang penting malam ini kita udah ketemu dan HP Kaka udah mulai bener lagi." Ucap Rangga yang menanggapinya dengan santai.
" Tau ga sih ka, aku tuh khawatir, resah ga ada kabar dari Kaka. Kan sesuai janji 7 hari kita pacaran, dan malam ini malam kita berakhir kita jadian." Jelas Ayri, ia meluapkan uneg-unegnya.
" Maaf ya sayang, Kaka udah salah. Tapi Kaka janji mulai malam ini sampai seterusnya Kaka akan ngabarin kamu dan kita akan terus jadian." Papar Rangga yang berusaha menenangkan hati Ayri.
" Oh iya, terus tadi siang aku sempet nanya ke temen Kaka yang penjaga cafe itu. Katanya Kaka mau pindahan. Itu maksudnya apa?" tanya nya lagi.
" Hehe, iya Kaka belum sempet cerita sama kamu ya. Kaka mulai Senin kemari mulai kerja di Jakarta jadi Kaka mau ngontrak di sana, tapi jangan khawatir Kaka akan pulang setiap Kaka libur." Rangga berusaha meyakinkan Ayri.
"Tapi, bentar lagi kan Ayri mau pergi ke pesantren ka. Aku ngga akan pulang sebelum libur semester. " ucap Ayri murung.
" Hmm, iya boleh aja sih. Kalo Kaka keberatan." Ucap Ayri merasa lebih semangat karna ada harapan Rangga bisa menjenguk ia di pesantren nanti.
Suasana kembali hening sejenak. Malam pun mulai larut, Ayri melupakan alasan kepada orang tuanya yang hanya ingin keluar membeli pembalut karna ia masih merasa rindu dengan Rangga.
Tangan Rangga tiba-tiba menggenggam tangan Ayri, dan Ayri pun tersentak ketika tangannya di genggam sehingga ia refleks memandangi wajah Rangga.
"I LOVE U" Bisik Rangga di telinga Ayri dengan nada sayu. Ia tenggelam dalam keheningan. Rangga memejamkan matanya, tangan yang sedari tadi menggenggam tangan Ayri kini berpindah ke pipi Ayri yang terasa mulai dingin.
" Ka... " Ucap Ayri berusaha menyadarkan Rangga yang sedang menikmati gairah ingin menyentuh Ayri, namun Rangga menyentuh bibir Ayri dengan satu jari telunjuknya.
" Sttttt,, biarkan. Malam ini milik kita berdua." Bisik Rangga di telinga Ayri yang membuat Ayri semakin merinding.
Hati Ayri semakin tidak karuan, detak jantungnya berdegup sangat kencang. 'Apa yang Harus Gue lakukan' Batin Ayri.
" Tapi ka, aku harus buru-buru pulang. Maaf aku ga bisa meladenin Kaka kalo seperti ini caranya." Ucap Ayri ketus dan berusaha menghindari Rangga, namun Rangga meraih lengan Ayri dengan erat sampai Ayri jatuh ke pelukan Rangga.
__ADS_1
" lepasin aku ka, Kaka jangan macam-macam atau aku akan teriak." Ancam Ayri yang merasa sangat ketakutan akan sikap Rangga, ia berontak berusaha menjauh dari Rangga. Untunglah dari kejauhan ada sorotan lampu motor yang mulai mendekati ke arah mereka.
" Ma, maaf. " Rangga menyadari akan ke khilafannya. dan menjaga jarak dari Ayri. Ayri langsung bergegas membawa motornya dan tancap gas pergi meninggalkan Rangga karna takut terpergok pula oleh pengendara motor yang akan mendekati itu.
Sepanjang jalan, Air mata Ayri mengalir begitu saja. Dengan tubuh yang gemetar dan terasa sangat dingin di tubuhnya, ia memaksakan untuk mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.
Kini ia bisa melewati rasa takutnya bisa menghindari Rangga yang seperti keraksukan nafsu birahi.
Sesampainya di depan rumah, Ayah Ayri sudah menunggu di teras depan rumah.
" Jam berapa ini, katanya cuma 10 menit. Nyatanya 1 jam. Mana pembalut yang kata nya kamu mau beli?." Ayahnya mengintrogasi. Namun Ayri hanya terdiam, dan malah lari ke dalam kamar karna ia tidak tahan menahan bendungan Air matanya.
" Dasar anak ngga bisa di atur, udah mulai bandel. Anak perawan malam-malam keluyuran." Gumam Ayahnya. Ayri tidak mempedulikan perkataan Ayahnya karna hatinya sedang tidak karuan.
Didalam kamar Ayri membenamkan kepalanya di bawah bantal dan menangis sesegukan, merasakan betapa kecewanya terhadap Rangga serta menyalahkan dirinya sendiri karena lagi-lagi dia sudah terjebak oleh rayuan Rangga.
" Apa setiap laki-laki dewasa kalo pacaran akan berperilaku seperti itu? Apakah setiap orang yang pacaran akan melakukan hal-hal senonoh kaya gitu?, Huhuhu." Gumam Ayri sambil menangis.
" Bodoh banget Lo Ay, Bodohhhhhhh." Teriaknya dalam benaman bantal. Hatinya begitu terpukul atas perlakuan Rangga yang membuat Ayri trauma.
Kriiiiingggg ( panggilan masuk)
Suara HP Ayri berdering. Bukannya mengangkat panggilan tersebut, ia malah menonaktifkan HP nya dan tidak mempedulikan siapapun yang menelfon.
Terdengar sayu-sayu tangisan oleh Ibu nya Ayri dari ruang tv. Ia terus memperhatikan suara tersebut dan mendekatkan ke arah kamar Ayri.
Tok tok tok...
" Ayri, mamah masuk ya." Ucap Ibu Ayri sambil membuka pintu kamar Ayri. Ayri langsung membenarkan posisi seperti sedang nyeri menstruasi. Ayri tidur miring dengan posisi kaki di tekuk.
"Iya mah." Jawab Ayri sambil menghapus Air matanya.
" Kamu kenapa sayang?." Ibu Ayri mendekati Ayri dan mengelus kepala Ayri.
" Ga apa-apa mah, cuma sakit aja perut Ayri. Ayri cuma lagi pengen sendiri mah, mau istirahat. Ayri udah minum obat ko." Tutur Ayri berusaha agar ibunya tidak curiga dengan masalah yang sebenarnya.
__ADS_1
" Oh iya udah kalo gitu, nanti kalo perutnya masih sakit bilang mamah ya, Selamat istirahat." Ucap Ibunya dengan penuh perhatian. sebelum beranjak pergi, ibunya mencium kepala Ayri.