
Untung saja ada Banu, kalau tidak Mili akan menabrak dinding kaca perusahaan. Bibir Mili meringis. Ia tidak fokus pada jalan di depan karena ia tengah memikirkan pria ini.
"Bapak kesini?"
"Seperti biasa. Kenapa kamu kaget?" tanya Banu tenang.
"Bapak tidak apa-apa, kan? Bukannya Bapak harusnya di rumah saja. Saya rasa tubuh Bapak perlu istirahat," bisik Mili. Karena orang-orang mulai memperhatikan dirinya.
"Tidak apa-apa." Banu menggiring Mili menuju pintu perusahaan. Ia tidak mau gadis ini menabrak dinding.
"Aku yakin harusnya Bapak tidak keluar," bisik Mili lagi dengan jalan lambat.
"Aku bilang tidak apa-apa, Mili."
"Aku rasa pintu ini untuk jalan, bukan untuk tempat bengong," tegur seseorang tegas. Mili menoleh. Itu Pak Dirga. Karena keberadaan Banu di sana, Mili lupa kalau ia harus mempercepat langkah karena ini pintu utama. Jadinya ia menghambat orang yang mau masuk.
"Ah, maaf." Mili langsung minggir dan membungkukkan badan meminta maaf. Banu yang ikut langsung menoleh, melihat dengan tajam ke arah Dirga yang bermuka masam.
Dirga! Aku sudah mengikuti banyak orang di sekitarku. Namun tidak ada tanda pengkhianatan. Jadi aku harus mengikuti mu. Aku ingin meyakinkan hatiku lagi bahwa kamu tidak mungkin melakukannya.
"Apa kamu datang ke perusahaan ini dengan membawa segudang maaf?" tanya Dirga dingin. Mili diam. Dia takut. "Dasar tidak berguna, selalu saja membuat masalah. Menumpahkan kopi, berdiri di depan pintu masuk. Tidak masuk akal kalau orang seperti kamu itu bisa masuk ke perusahaan Mandala ini," kata Dirga rupanya masih ingat pertemuan dengan Mili.
Banu mengernyitkan dahi mendengar cemoohan pria ini. Dia mengamati.
"Apa kamu masuk lewat 'jalan lain'?" selidik Dirga. Mili sedikit gemetar saat pria ini mencondongkan sedikit tubuhnya. Itu sangat mengintimidasi.
"Jangan gentar Mili. Aku ada di sini," kata Banu seraya memeluk Mili dari belakang. Tubuh Mili terperanjat saat merasakan lengan dingin Banu melingkar di tubuhnya.
"Ada apa pagi-pagi sudah ribut, Dirga?" tanya Bibi Cahaya yang juga datang bersama orang kepercayaannya, Haras.
Bibi! Banu menatap bibinya dengan haru. Ia rindu. Mili menyodok perut Banu untuk melepaskan pelukannya. Karena Mili ingin memberi hormat pada beliau. Banu melepaskan pelukannya.
"Selamat pagi." Mili memberi hormat.
"Oh, Bibi. Aku hanya sedang mendisiplinkan seorang karyawan yang ceroboh," kata Dirga dengan mata runcingnya. Cahaya melihat ke belakang Dirga.
Gadis ini? Cahaya terkejut melihat Mili.
__ADS_1
"Apakah sudah? Jika sudah, masuklah ke dalam. Jangan membuat tontonan yang tidak berguna," kata Cahaya yang sepertinya membuat Dirga mengepalkan tangan geram.
"Maafkan saya. Saya permisi, direktur," sahut Dirga merasa di halau bagai penjahat. Ia melangkah menjauh.
"Jangan berurusan dengan dia. Lebih baik kamu menghindari bertemu dengannya. Dia bukan orang yang bisa kamu jadikan teman," bisik Cahaya pada Mili.
"B-baik," ujar Mili mengangguk.
Tanpa mereka sadari bahwa Dirga bisa melihat interaksi barusan lewat pantulan kaca di meja resepsionis. Meskipun dia tidak bisa mendengar apapun dari pembicaraan mereka, tapi Dirga bisa menebak kalau mereka dekat.
Siapa gadis itu? Kenapa Cahaya terlihat mengenalnya dengan baik? Dirga mendengus.
**
Siang hari. Atap gedung.
"Kenapa dia terlihat mengenalmu, Mili?" tanya Banu saat Mili siap menyantap makan siang.
"Akwu pwernah bertemwu." Karena mulut Mili penuh, kata-kata yang ia ucapkan tidak jelas.
"Telan dulu makananmu, baru kita bicara," kata Banu akhirnya memilih diam. Mili menganggukkan kepala setuju. Gadis ini mengunyah makanannya perlahan. Lalu menelannya dan meminum air dari botol yang ia bawa dari rumah.
"Katakan. Kenapa Dirga bisa mengenalmu?" tanya Banu tidak sabar.
"Seperti yang Pak Dirga tadi katakan, saya pernah menumpahkan kopi di bajunya. Seperti itulah pertemuan kita berdua, Pak."
"Jadi apa yang dikatakannya itu benar?" tanya Banu mengernyitkan alis.
"Ya."
"Kenapa kamu melakukannya? Apa karena aku pernah bilang kalau aku berpikir dialah orang yang mencelakai ku?"
"Bukan. Saya hanya tidak sengaja melakukannya." Mili meringis.
"Hhh ... Dasar ceroboh."
"Bapak ternyata sama saja dengan Pak Dirga. Mengatakan aku ceroboh dengan tanpa perasaan."
__ADS_1
"Karena kamu memang ceroboh," tuding Banu seraya melipat tangan. Mili mencebikkan bibirnya. Lalu merapikan tempat bekal makanan. Tiba-tiba pria ini mendekat dan memeluknya.
"Pak ..." Mili terkejut.
"Kamu harus menjaga diri dengan baik, Mili. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku ke depannya. Aku akan tetap menjadi roh atau kembali ke tubuhku, aku tidak tahu."
"Jangan khawatir soal itu, Pak. Saya selalu bisa menjaga diri saya dengan baik," kata Mili.
"Aku harap begitu." Banu masih memeluk tubuh perempuan ini erat. Seperti tidak ingin kehilangan.
"Aku pikir kamu belum makan siang, Mili. Ternyata bekal itu sudah habis." Muncul Raka di tempat mereka. Mili spontan mendorong tubuh Banu. Padahal tidak ada orang yang tahu kalau dia tengah berpelukan dengan seorang pria. "Ada apa?" tanya Raka yang melihat gerakan aneh Mili barusan.
"Ah, tidak. Tidak ada." Mili tertawa canggung. Banu menyoroti keduanya dengan tajam. Lalu pria ini mendekat ke arah Raka. Mili mendelik.
"Hei, anak muda. Kenapa kamu mendekati gadisku? Kamu tidak tahu kalau kamu baru saja membuat suasana romantis aku dan Mili buyar? Aku ini atasanmu," omel Banu sambil menunjuk ke arah Raka yang masih melihat ke arah Mili dengan heran.
Tentu saja itu semua hanya Mili yang lihat. Raka tetap saja tidak mendengar apa-apa.
"Ada yang salah dengan diriku, Mili?" tanya Raka merasa Mili tengah mengamati dirinya.
"Oh, tidak." Mili mengerjapkan mata dan tersenyum. Banu masih ada di dekat Raka.
"Apa aku mirip seorang CEO?" canda Raka sambil tergelak. Mili menipiskan bibir.
Itu tidak mungkin, ketus Banu.
"Siapa? Pak Banu? Itu tidak mungkin. Tidak ada yang bisa menyamai Pak Banu." Tanpa sadar Mili juga mengatakan hal yang sama. Seperti ia mengenal dengan baik pria itu. Banu menatap Mili dengan bibir menyungging senyum puas bahwa Mili sepaham dengannya.
"Kamu mengenal Pak Banu dengan baik?" tanya Raka. Mili lupa lagi. Karena Raka mengaku mirip CEO, dia jadi ingat dengan pria itu. Pria yang mengisi benaknya belakangan ini.
"Apa yang kakak katakan?" tanya Mili panik.
"Sebenarnya apa yang kamu ketahui soal Pak Banu, Mili?" tanya Raka mulai serius. "Banyak hal mencurigakan dari kecelakaan Pak Banu. Apa kamu tahu sesuatu?" tanya Raka membuat Mili tegang.
Banu yang tadinya bermuka masam karena tidak mau disamakan oleh pria ini, mendadak berwajah serius. Banu menatap Raka dengan seksama. Ini pertama kalinya ia mendengar Raka bicara soal kecelakaan dirinya.
...___...
__ADS_1