
Raka bermaksud mengunjungi Mili di ruangannya saat dia ada jeda sedikit dari pekerjaan yang sekarang menumpuk karena Pak Banu sudah aktif bekerja.
Namun kabar yang ia dengar dari rekan kerja Mili adalah gadis itu sudah berhenti bekerja. Masa kontrak kerja gadis itu sudah usai. Tentang ini sungguh mengejutkannya karena ia baru mendengar.
"Mili tidak memberitahu Anda?" tanya rekan yang satu ruangan dengan gadis itu heran.
"Tidak. Mungkin dia lupa. Ya sudah. Terima kasih," kata Raka sambil meninggalkan ruangan gadis itu dengan pikiran tidak tenang. "Ada apa dengan Mili? Kenapa tiba-tiba masa kerjanya sudah selesai? Bahkan Haras tidak mengatakan apa-apa padaku."
Raka terus berjalan sambil berpikir tentang keanehan ini. Tangannya sibuk mencoba menelepon Mili. Namun nomor yang dihubunginya tidak menjawab. Pria ini pun berinisiatif untuk mengunjungi rumah Mili. Namun rumah gadis itu kosong.
"Kemana Mili? Kenapa dia seperti menghilang di telan bumi?" Raka pun merasa kecewa dan sedih mendengar kabar gadis ini. Ia pun pun berniat pulang. Namun saat membuka pintu, Raka melihat gadis itu berjalan dari arah jalan besar. Mili!
Raka bergegas keluar dari mobil dan menghampiri gadis itu.
"Mili."
"Oh, Kak Raka." Mili terkejut dengan kemunculan pria ini di depannya.
**
Mili terpaksa mempersilakan Raka masuk ke dalam rumah. Kemudian membuatkan minuman untuknya.
"Silakan Kak."
"Terima kasih. Kenapa kamu tiba-tiba di keluarkan dari perusahaan?" tanya Raka tidak sabar.
"Ah, aku ... bukan di keluarkan. Masa kontrak kerjaku habis," jawab Mili sambil tersenyum. Dia tidak ingin terlihat menyedihkan karena di keluarkan.
"Jadi alasan mereka kontrakmu habis?" selidik Raka. Mili mengangguk. Raka diam. dia tidak melanjutkan pertanyaannya karena sepertinya Mili tidak ingin membicarakannya. Ya, itu mungkin membuatnya terpukul. "Bagiamana keadaanmu?" Pertanyaan ini adalah yang terbaik untuk keadaan gadis ini sekarang.
__ADS_1
"Baik. Seperti yang kakak lihat." Mili tersenyum seraya menunjukkan bagaimana keadaannya sekarang. Memang tidak banyak berubah.
"Sekarang ... sudah bekerja lagi?" tanya Raka. Ia melihat name tag yang menyembul dari tas yang di bawa Mili tadi.
"Oh, ya. Di toko roti. Aku langsung bisa mendapatkan pekerjaan itu setelah berhenti dari perusahaan." Mili menjelaskan dengan gembira.
"Baguslah kamu langsung mendapat pekerjaan setelah dari sana. Aku sempat khawatir." Setidaknya itu tidak membuat stress gadis ini karena punya kegiatan lain. Kepala Mili mengangguk. "Apa ... roh Pak Banu masih ada di sini?" tanya Raka yang ingat akan tujuan penting lainnya menemui Mili.
"Oh, itu ... Beliau sudah lama tidak muncul di rumah ini." Sepertinya awalnya Mili ragu untuk mengatakannya.
"Tidak muncul?"
"Ya. Setelah Pak Banu merasakan sakit yang luar biasa dan pingsan waktu itu, Beliau menghilang. Aku pikir beliau hanya berkeliaran dan kembali lagi seperti biasa ke rumah ini. Ternyata sampai sekarang beliau tidak muncul," jelas Mili panjang.
Jadi roh Pak Banu hilang. Apakah itu karena Pak Banu sudah bangun dari koma? Karena kalau begitu, pasti roh itu kembali pada tubuhnya. Raka mencoba mengambil kesimpulan sendiri. Namun mengapa Pak Banu tidak mengingat Mili sama sekali?
"Apakah ada pesan sebelum roh Pak Banu menghilang?" selidik Raka. Ia ingin tahu detailnya.
Jadi itu sebabnya Mili meneleponku saat penting itu?
Mili melihat Raka diam saja. Jadi ia merasa Raka tidak nyaman. T"Oh, maaf. Padahal aku baru saja di keluarkan dari perusahaan itu, sekarang jadi kepo soal CEO di sana. Sepertinya itu tidak pantas." Mili menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia menangkap bungkamnya Raka dengan pemikiran seperti itu.
Raka ingin sekali memberitahu kalau Pak Banu sudah bangun dari koma dan bisa kembali berkerja. Namun melihat keadaan Pak Banu yang tidak mengingat Mili sama sekali, membuat Raka tidak tega untuk memberitahunya.
Bibir Raka hanya tersenyum merespon kalimat Mili.
***
Banu memijit pangkal hidungnya. Ada rasa penat yang menyerangnya. Banu menghela napas berat. Seberat tanggung jawabnya pada perusahaan.
__ADS_1
"Ternyata aku masih belum siap langsung bekerja. Semua ini membuat aku lelah. Namun, aku yang sepetinya sudah terbaring lama di atas ranjang rumah sakit, tidak seharusnya masih berleha-leha. Apalagi melihat Dirga yang begitu berambisi menguasai perusahaan ini. Sebaiknya aku pulang lebih dulu."
Ia menutup pekerjaannya dan berdiri. Mengambil jas di kursi dan memakainya.
Rasa frustasi seakan menyerangnya dengan tiba-tiba. Tentu saja ia merasakan itu. Karena baru saja ia bangun dari koma, langsung bekerja dengan keras seperti ini.
"Raka, aku akan pulang lebih dulu. Kalau ada yang mencariku, bilang aku sibuk," kata Banu yang bertemu Raka di lorong.
"Oh, iya Pak." Raka mengangguk.
Banu berjalan menuju area parkir. Lalu langsung menjalankan mobil menjauh dari perusahaan. Ia ingin rehat sejenak. Hingga sampai akhirnya mobilnya berhenti si sebuah area pemukiman.
Bola mata Banu mengerjap. Dia heran kenapa tangannya membelokkan mobilnya ke area ini.
"Ini daerah mana?" tanya Banu kebingungan sendiri. Dia tidak tahu kalau itu pemukiman tempat Mili tinggal. "Kenapa aku ke sini?" Banu melihat ke sekitar dengan heran. Mungkin alam bawah sadarnya masih ingat tentang Mili. "Karena penat dan lelah, aku membelokkan kemudi dengan asal. Ini sudah berlebihan. Aku tidak bisa mengontrol diriku karena lelah yang menumpuk."
Tangan Banu yang memegang kendali, membawa mobilnya pergi dari tempat itu. Saat itu dari arah jalan besar, Mili sedang berjalan pulang. Sepertinya ia dari tempat kerja.
Banu yang melewati Mili menoleh sekilas. Namun ia kembali melihat ke depan karena merasa aneh dengan tempat yang ia kunjungi tanpa banyak pertimbangan ini. Mili berhenti dan menoleh sekilas saat mobil Banu sudah melintas.
"Aku merasa ada Pak Banu di sekitar sini," gumamnya. "Bodoh. Itu tidak mungkin. Kalau ada di sini, Pak Banu pasti akan kembali ke rumah. Lalu menjalani hari-harinya seperti biasa." Ada nada sedih di sana. "Hhh ... Aku terlalu ingin bertemu Pak Banu sampai mengira ada beliau di sini."
Kaki gadis ini pun melangkah lagi. Membuang harapannya untuk bertemu Pak Banu yang muncul sesaat.
"Sudahlah. Jangan berharap hal yang mustahil. Dia hanya roh. Terserah dia mau kemana dan melakukan apa. Tidak ada ikatan roh dan manusia yang pantas di harapkan. Sungguh bodoh aku jika masih menanyakan itu." Mili mengomel sendiri.
Sementara itu Pak Banu menghentikan mobilnya di depan sebuah toko roti. Ia ingin membelikan roti untuk bibinya.
...____...
__ADS_1