
Rupanya Banu tidak benar-benar tertidur. Jadi saat Mili mengatakan ingin menyerang Banu, pria itu bisa mendengarnya. Bahkan menarik tubuh Mili dan jatuh menindihnya.
"Kenapa tadi bersikap kekanak-kanakan, Pak?" tegur Mili mencoba marah dan menanyakan sikap aneh arwah tampan ini.
"Karena kamu memulainya," kata Banu.
"Aku? Apa yang aku mulai?" tanya Mili masih ingin lepas dari pelukan Banu. Pria ini tentu tidak mau melepaskan tubuh Mili.
"Kamu bicara dengan Raka."
"Bukankah itu wajar Pak? Saya sudah pernah mengenal pria itu sebelumnya. Justru tidak wajar jika saya bersikap dingin padanya tanpa alasan. Apalagi dia selalu baik pada saya," kata Mili tidak terima.
"Aku kesal Mili." Banu sedikit menggeram.
"Lalu ... kalau kesal, kenapa melampiaskan pada saya, Pak?" tanya Mili lebih kesal.
"Karena aku tidak mau kamu terlihat begitu dekat dengan pria lain." Pak Banu membuat pengakuan.
Mili diam.
"Kenapa begitu? Bukankah itu hak saya untuk dekat dengan pria lain?" tanya Mili serius.
"Aku mencintaimu, Mili."
Mili mengerjapkan mata. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Mili tetap tidak paham.
"Kenapa kamu diam saja?" tanya Banu akhirnya. "Kamu menolak ku?"
"Sebentar, Pak. Bisa lepaskan saya dulu. Posisi ini membuat saya tidak bisa berpikir dengan cermat. Tiba-tiba saya jadi bodoh," pinta Mili. Banu mengabulkannya. Ia merasa yakin bahwa gadis ini tidak akan kabur. Terlihat dari sorot matanya yang ingin membicarakan sesuatu. "Saya rasa Anda bukan jatuh cinta pada saya. Anda hanya kesepian di dalam ruang antara hidup dan mati."
Banu terdiam.
"Kamu pintar menyamarkan isi hatimu. Padahal jelas sekali aku mendengar suara detak jantungmu yang berdebar saat aku menyatakan perasaanku," kata Banu tahu trik yang di pakai gadis ini.
Blush! Mili langsung memerah.
__ADS_1
"Kamu pikir tubuhmu yang menindih ku tidak memberi informasi soal keadaan jantungmu itu ..."
Aku ketahuan! pekik Mili di dalam hati.
"Mungkin ini aneh, tapi aku sungguh-sungguh." Banu mengatakan dengan wajah serius.
"Entahlah Pak. Saya belum bisa menjawab." Mili gamang. Ini sangat aneh baginya. Pria ini bukan sosok riil seperti dirinya, tapi tak bisa di pungkiri kalau seringkali ia juga kebingungan kalau pria ini tidak ada. Ia ingin pria itu selalu berada di sampingnya.
Bruk!
"Pak!" teriak Mili. Tiba-tiba tubuh Banu ambruk. Mili mendekat dan menyentuh tubuh pria ini. Tentu saja dingin seperti es. "Pak! Ada apa?" tanya Mili cemas.
"Aku tidak tahu. Tiba-tiba kepalaku pusing." Banu memegangi kepalanya. "Ini sangat ... Argghh!!!" Banu mengerang.
"Pak Banu! Pak! Bapak!" Mili akhirnya memeluk pria ini karena dia kebingungan apa yang harus di lakukan untuk meredakan rasa sakit yang di dera barusan.
...****...
Cit, cit, cit. Suara burung berkicau di luar jendela membangunkan Mili. Gadis ini mengucek matanya. Ia bangun seraya menyipitkan mata. Saat itu ia tersadar bahwa tangannya terkunci oleh sesuatu. Tubuhnya tidak bisa bergerak bebas.
Rupanya tangannya tengah di genggam oleh roh tampan itu. Banu masih memejamkan mata. Mili menghela napas lelah. Benar. Ia sangat lelah. Tadi malam tidak bisa tidur karena Pak Banu terus saja mengerang kesakitan. Entah itu karena apa.
Banu melepas tangan Mili. Gadis ini pun bangun dari duduknya.
"Aku terus saja menggenggam tanganmu?" tanya Banu.
"Ya. Sampai tangan saya pegal," keluh Mili terang-terangan. Banu mencoba untuk duduk. Mili mendekat untuk membantu. Arwah tampan ini terlihat lemah.
"Terima kasih."
Gadis ini berjalan menuju jendela. Membuka tirai hingga cahayanya masuk menyinari kamar. Ini sudah agak siang.
"Pak Banu ini kenapa sih? Bukannya roh enggak bisa sakit. Kenapa tadi ambruk dan tidak membuka mata?" tanya Mili.
"Aku tidak tahu. Aku merasa tubuhku seperti di tarik kuat. Rasanya sangat sakit sekali," jelas Banu. "Seperti rohku ini akan menghilang begitu saja."
__ADS_1
"Di tarik? Apa ... Bapak akan kembali ke tubuh Bapak semula?" tanya Mili lambat asal seraya menoleh pada pria ini. Banu mendongak. Dia melihat ada rasa gelisah di wajah Mili.
"Mungkin. Kamu tidak akan di ganggu lagi olehku, saat itu terjadi," kata Banu tersenyum membuat Mili tertegun. Gadis ini terdiam menatap pria yang tersenyum itu. "Bukan begitu, Mili?"
Mili terdiam. Ada banyak pemikiran yang ada di dalam benaknya.
"Mili?" tegur Banu pelan.
"Ah, iya Pak. Ada apa?" tanya Mili seraya tersenyum kaku. Dia seperti baru saja sadar dari tidur. Kali ini Banu yang terdiam. Manik matanya menatap gadis ini agak lama.
"Sebaiknya kamu segera berangkat kerja. Ini sudah agak siang," ujar Banu mengingatkan.
"Hah?! Aduh. Ini gara-gara Bapak aku jadi kesiangan," sungut Mili dan bergerak menuju ke kamar mandi dengan membawa handuk.
...****...
Sepanjangan perjalanan menuju ke arah tempat kerja, Mili diam sambil berpikir. Manik matanya yang melihat ke arah jendela bus menerawang jauh.
Kembali? Roh Pak Banu akan kembali pada tubuhnya. Pada saat itu, apa kita akan tetap seperti ini? Pasti iya. Bukannya kita sudah lumayan lama tinggal dalam satu atap? Jadi enggak mungkin kita hubungan kita berubah.
Bus sudah sampai di halte dekat gedung perusahaannya. Kakinya melangkah menuju ke tempat kerja yang begitu di idamkan banyak orang. Angin berhembus mengibaskan rambutnya dengan lembut.
Ia melihat kenyataan tentang kehidupannya. Sebuah gedung perusahaan yang mewah dan dirinya yang terpantul di dinding kaca gedung dengan tampilan sederhana.
Walaupun begitu, kita bukanlah dua manusia yang bisa hidup dalam satu jalan. Sudah jelas batas kita berdua ada di depan mata. Dia kaya, aku miskin. Dia tampan aku bagai gembel. Meskipun sekarang aku menolongnya, kemungkinan dia mengenal aku lagi sangat kecil.
Sekarang, anggap sajalah semua ini hanyalah sebuah mimpi. Bertemu pria tampan bak pangeran berkuda putih hanya ada di dalam dongeng. Anggap saja saat ini aku sedang tinggal dalam sebuah cerita dongeng. Dimana itu akan berakhir setelah roh Pak Banu kembali ke tubuh aslinya.
"Baiklah. Aku akan berkerja dengan baik mencari tahu siapa yang sebenarnya mengincar Pak Banu. Aku akan berjuang karena sudah mendapatkan hadiah berupa kesempatan bekerja di perusahaan ini dari Pak Banu. Oke. Aku akan berjuang untuk Pak Banu," tekad Mili mengepalkan tangannya.
Set! Tubuh Mili terayun dan jatuh dalam pelukan Banu.
"Bapak?" Mili terkejut pria ini muncul.
"Apa yang kamu pikirkan sampai hampir saja menabrak dinding kaca perusahaan?" tegur Pak Banu menyadarkan Mili.
__ADS_1
..._______...