Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 31 ° Kesepakatan sepihak


__ADS_3

"Tidak mungkin! Kenapa bisa semahal itu?" Mili mengerutkan kening merasa tidak yakin dengan biaya yang di sebutkan oleh Pak Banu.


Untuk tipe semacam harga mobil Alphard seperti ini, harga perbaikan cat dan bodi mobil memang berkisar satu jutaan. Bagi Mili yang tidak tahu menahu soal itu pasti tidak percaya. Bahkan bisa saja di atas itu.


Banu diam seraya menatap Mili lurus-lurus.


"Jadi kamu pikir aku berbohong dan menipumu?" tanya Banu terdengar menahan amarah. Mili diam. Dia tidak tahu. Apa pria ini berbohong atau tidak? Namun harga itu menurutnya sangat tidak masuk akal. "Ayo, ikut aku ke bengkel. Kamu akan tahu biaya perbaikan cat dan bodi mobil di sana." Banu kesal.


"Tidak," tolak Mili.


"Tidak? Kamu menolak biaya ganti kerusakan yang kamu perbuat?" tanya Banu tidak percaya. "Ini kesalahanmu. Jadi kamu harus berani bertanggung jawab atas perbuatan mu. Jangan menghindar atau kabur," desis Banu seraya menunjuk Mili.


"Saya tidak mau kabur. S-saya pasti akan bertanggung jawab, tapi saya tidak bisa membayar biaya perbaikan sekarang," tolak Mili. Dia tidak punya uang sebanyak itu untuk membayarnya.


"Jadi kamu ingin aku berbaik hati membiarkanmu lolos? Jangan membuatku kesal," desis Banu.


"Bukan seperti itu!" sergah Mili. Dia juga kesal. Saat ini dia bingung harus bagaimana. Uang sebanyak itu tidak mungkin dia bayarkan sekarang juga. Itu uang yang banyak menurutnya. Isi dompetnya tidak cukup untuk itu.


"Lalu?" desak Banu berusaha menahan amarahnya. Ini pertama kalinya Mili melihat raut wajah marah Pak Banu.


"Saya pasti akan membayarnya, tapi saya tidak bisa melakukan itu sekarang," kata Mili. Banu diam seraya melipat tangan. "Bisakah ... saya mencicilnya?" tanya Mili takut-takut. Kini pikiran tentang sakit hatinya sedikit terlupakan karena dia pusing dengan persoalan ganti biaya kerugian ini.


"Mencicil?" tanya Banu terkejut. Bola matanya sampai melebar sekilas.


"Ya. Saya tidak punya uang sebanyak itu. Namun saya bisa membayarnya secara bertahap," kata Mili yakin.


"Kamu pikir ini soal apa? Kenapa harus di bayar bertahap?" Kening Banu mengerut.


"Saya minta maaf, tapi hanya itu yang bisa saya lakukan jika harus menanggung semua biaya perbaikan," jawab Mili tidak tahu harus berbuat apa lagi.


"Kamu sedang melakukan negoisasi denganku?" tanya Banu tidak percaya. Ia mendengus dan tergelak merasa konyol. Mili diam. Dia tidak bisa membantah karena memang seperti itu.


"Oh, iya. Saya punya ide." Tiba-tiba Mili mendapatkan cara. Gadis ini menarik resleting tasnya. Lalu mengaduk-aduk isi tas untuk mencari sesuatu. "Ini. Ini KTP saya. Anda bisa memegang KTP saya dulu. Saya berjanji akan membayar semua biaya perbaikan ini nanti." Mili menyodorkan KTP-nya pada Banu.

__ADS_1


Pria ini terdiam seraya menatap KTP yang ada di tangan Mili.


"Kenapa aku harus menerima ini? Aku tidak membutuhkannya," tolak Banu. Dia membuang muka.


"Saya bersungguh-sungguh mau membayar Pak," kata Mili meyakinkan. Dia tahu ini aneh, tapi tidak ada lagi jaminan untuk meyakinkan pria ini bahwa dia tidak berbohong. "Saya yakin Anda tidak percaya pada saya. Jadi KTP saya ini untuk jaminan bahwa saya akan tetap membayar biaya kerusakan ini nanti." Tangan Mili masih mengambang menyodorkan KTP.


"Kenapa bukan scooter ini saja di jadikan jaminan? Aku yakin scooter ini mampu membiayai semua kerusakan yang kamu perbuat."


"Scooter? Tidak! Anda tidak boleh menahan scooter ini untuk jadi jaminan." Spontan Mili memeluk kepala scooter yang dinaikinya. "Scooter ini bukan milik saya. Ini milik toko roti tempat saya bekerja. Saya tidak bisa menyerahkan ini sebagai jaminan."


Banu memperhatikan gadis ini dengan seksama. Saat itu Handphone Mili berdering.


"Kenapa harus telepon sekarang sih?" Pertamanya Mili mencoba mengabaikan, tapi kemudian ia menggerutu kesal karena ponselnya terus berdering. "Maaf," ucap Mili pada Pak Banu. Akhirnya ia menarik KTP tadi dan menerima telepon. "Halo."


"Kemana saja kamu Mili? Kenapa belum kembali ke toko?" tanya senior di seberang.


Oh, gawat. "Y-ya. Aku akan sampai secepatnya, Senior." Mili sadar keadaan di tokonya juga darurat. "Maaf, Pak. Bisakah Anda menerima ini dan membiarkan saya pergi dulu?" Mili kembali menawarkan KTP-nya pada Banu. "Saya tidak akan mengingkari janji. Jika saya melakukannya, Anda bisa memenjarakan saya."


Banu diam tidak merespon apa-apa.


Banu terkejut saat Mili tiba-tiba menarik tangannya dan menyerahkan KTP miliknya dengan paksa. Lalu menyalakan mesin scooter dan lenyap menjauh dari tempatnya.


"Hei, tunggu!" Panggil Banu. Namun gadis itu sudah lenyap. "Apa-apaan tadi?" gerutu Banu seraya menatap KTP di tangannya, lalu melihat lagi ke arah dimana gadis itu menghilang.


Banu memasukkan KTP Mili ke dalam sakunya. "Mobilku sampai seperti ini," keluh Banu menatap mobilnya.


**


Banu tidak tahu mau di apakan KTP itu. Saat ini ia sedang menatap KTP yang ia letakkan di atas meja kerja itu sambil berpikir.


"Untuk apa aku KTP ini? Dasar gadis itu. Seenaknya sendiri melakukan negoisasi," gerutu Banu.


Tok! Tok!

__ADS_1


"Masuklah!" perintah Banu. Pintu pun terbuka. Raka muncul. Banu meraih KTP itu dan meletakkan ke dalam laci meja. "Ada apa Raka?"


"Ada dokumen yang harus Anda tanda tangani Pak."


"Baiklah."


"Saya melihat mobil Anda tergores dan penyok. Apa Anda mengalami kecelakaan saat keluar siang tadi Pak?" tanya Raka seraya menyerahkan dokumen pada Banu.


"Ya." Banu menerima dokumen itu dan membacanya.


"Apa Anda tidak apa-apa?" tanya Raka khawatir.


"Ya. Aku tidak apa-apa."


"Syukurlah."


"Kamu mirip dengan seorang ibu, Raka."


"Saya hanya cemas pada Anda Pak. Apalagi setelah Anda sempat mengalami koma yang agak lama," jelas Raka tulus. Setelah membaca, Banu menandatangani dokumen itu.


"Terima kasih, tapi aku baik-baik saja Raka. Lagipula ... Bukan aku yang pantas dicemaskan," kata Banu membuat Raka mengerutkan keningnya heran. Namun Banu tidak menjelaskan apa yang di maksud dari perkataannya. "Ini." Banu menyerahkan dokumen itu.


"Saya masih penasaran kenapa Anda menghampiri saya di toko roti waktu itu," kata Raka.


"Aku hanya ingin menghabiskan weekend bersama orang lain. Mencoba suasana baru," terang Banu. Pria ini memang lebih sering menghabiskan banyak waktu sendirian.


"Mungkin ... ini waktunya Anda menikah, Pak," usul Raka.


"Menikah? Aku rasa belum, Raka." Banu menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Oh, ya. Apa gadis yang kamu ajak bicara di toko roti itu adalah temanmu?" tanya Banu. Ini sempat membuat Raka terkejut.


"Gadis?"


"Ya. Gadis bernama ... Mili kalau tidak salah." Banu berusaha mengingat-ingat.

__ADS_1


Kenapa Pak Banu tiba-tiba membicarakan Mili?


...____...


__ADS_2