
Sebenarnya Banu juga heran pada sikapnya sekarang. Sejak tadi ia gelisah dengan memandang nomor kontak gadis ini di ponselnya.
"Kenapa aku meminta nomor kontaknya?" tanah dia masih saja heran. Ia ingin menghubungi gadis itu, tapi urung. Namun ia ingin bertemu. Entah karena kesal uang biaya ganti rugi belum kembali, atau karena apa, Banu tidak memahaminya.
Hingga akhirnya keputusan muncul untuk mendatangi gadis ini di tempat ia bekerja. Ia berniat bertemu dan bicara.
Lagipula orang-orang di toko roti hapal dengannya sebagai pembeli setelah kejadian tempo hari. Itu memudahkan dia mencari Mili dan bicara dengannya.
"Aku akan mengantarmu pulang. Masuklah," pinta Banu seraya menunjuk mobil dengan dagunya. Mili masih diam. Dia tertegun. "Kenapa? Kamu takut aku akan menyerahkan mu pada Dirga?" tanya Banu.
"Tidak. Itu tidak mungkin." Mili percaya Pak Banu tidak akan melakukan itu, meskipun tidak bisa mengingat tentang dirinya.
"Lalu apa?" tanya Banu tidak sabar.
"Kenapa Bapak ingin mengantar ku?" tanya Mili. Ia sejak tadi penasaran tentang itu. Banu mengusap dagunya halus sembari melempar pandangan ke arah lain sejenak. Dia juga heran. Kenapa bersikeras meminta gadis ini pulang bersamanya?
"Sudah aku katakan bahwa Dirga sepertinya masih mengintai mu. Dia tipe pria yang tidak akan melepaskan mu begitu saja jika sudah berurusan dengannya," kata Banu memberi penjelasan yang masuk akal. Mili mengerti. Buktinya pria itu masih mengejarnya.
"Tapi aku tidak mau," tolak Mili. Meskipun benar Dirga masih berkeliaran di sekitar rumahnya, dia tidak ingin ikut Pak Banu untuk pulang.
"Lakukan saja jika tidak mau aku menagih biaya itu sekarang," ancam Banu dengan wajah serius. Mili terkejut. Dia tidak menduga hal itu yang di jadikan bahan ancaman. "Masuklah ke mobil."
"Tidak." Mili tetap menolak.
"Kenapa tidak mau?" geram Banu.
"Rumah saya dekat dari sini, Pak. Lagipula naik mobil percuma karena rumah saya masuk ke dalam gang," jelas Mili.
"Oh, begitu?" Banu tidak menyangka itu. Dia tidak menduga kalau gadis ini tinggal di dekat sini. "Dimana rumah kamu?" tanya Banu akhirnya.
Mili diam. Dia ragu untuk mengatakannya.
__ADS_1
"Hei, aku bicara padamu," tegur Banu agak kesal.
"Di depan jalan masuk di depan sana." Mili menunjuk ke arah jalan menuju rumahnya.
"Apa pemukiman itu?" tebak Banu sedikit berharap iya. Karena mendadak ia ingin melihat tempat itu lagi. Sudut jalan yang selalu muncul di dalam mimpinya. Ia rindu.
"Ya," jawab Mili. Banu mengangguk mengerti.
"Aku akan bawa mobilku sampai dekat gang rumahmu, ayo ikut." Banu memaksa. Akhirnya Mili ikut.
Jadi waktu itu kita bertemu karena rumahnya disana? batin Banu sambil mengusap dagu dan tetap memfokuskan mata pada jalanan di depan. Perjalanan mereka begitu singkat, karena jarak yang di tempuh sungguh pendek.
"Rumahmu gang itu?" tanya Banu. Mili mengangguk. Sejak tadi pikirannya tidak karuan. Bagaimana bisa ia satu mobil dengan pria ini? Pria yang mengaku tidak mengenalnya sama sekali.
Setelah mencari tempat yang pas untuk parkir mobil, Banu mematikan mesin. Mereka turun dari mobil hampir bersamaan. Banu melihat ke sekeliling. Tempat ini ... Tempat ini sudah sangat akrab denganku.
"Rumah saya masuk gang itu. Bapak sudah bisa pergi sekarang. Terima kasih." Mili menunjukkan gang masuk ke dalam rumah.
"Jarak rumah saya dari sini dekat. Itu sudah aman." Mili menolak. "Terima kasih." Mili membungkukkan badan dan berjalan sendiri. Dia tidak ingin di antar Banu. Toh, rumahnya hampir kelihatan. Buat apa di antar segala?
Namun nyatanya, pria ini tetap mengikutinya. Mili baru menyadari saat hendak berbelok masuk ke halaman rumah sewanya yang kecil.
"Bapak mengikuti ku?" tanya Mili terkejut.
"Sebaiknya pelankan suaramu kalau tidak ingin orang-orang di pemukiman ini keluar dan mengira aku adalah penjahat," perintah Banu.
Mili menoleh ke kanan dan kiri. Ya. Jika dia membuat keributan, orang-orang yang mungkin sudah banyak yang beristirahat karena sudah malam, akan terbangun dan mendatangi rumahnya.
"Cepat masuk ke dalam. Sepertinya ada seseorang yang mengikuti kita," bisik Banu mendorong Mili untuk menyingkir dari sana. Mili kebingungan. "Cepat buka pintunya," perintah Banu.
Mili segera mengeluarkan kunci dan ingin membuka pintu. Namun karena terburu-buru dan panik, tangan Mili gemetar. Banu berdecih. Ia mengambil alih kunci di tangan Mili dan segera membuka pintu. Lalu menarik Mili masuk dan menutupnya dengan cepat. Tak lupa Banu mengunci pintu.
__ADS_1
Siapa yang mengikuti mereka?
Masih berdiri di dekat pintu, Banu menempelkan daun telinga pada pintu. Mencoba mendengarkan situasi di luar. Tanpa menyadari bahwa ia masih memegang tangan Mili.
"Bisa ... lepaskan tangan saya?" tanya Mili.
"Oh?" Banu terkejut. Dia pun melepaskan tangan gadis ini segera. Suasana jadi canggung. "Maaf."
"Tidak apa-apa," sahut Mili segera menjauh.
"Sepertinya aku harus tetap di sini dulu," kata Banu pelan. "Kemungkinan Dirga masih di tempat ini."
Mili tidak mengatakan apa-apa. Lidahnya kelu. Pria ini, dia masuk ke dalam rumah kontrakannya yang sempit seperti waktu dulu. Itu membuat Mili teringat lagi kenangan tentang mereka berdua. Hatinya jadi sakit.
Banu melihat ke seluruh penjuru ruangan. Awalnya dia tidak begitu peduli, tapi kelamaan sorot matanya berbeda. Pria ini merasa rindu. Ada yang ingin ditemuinya, tapi apa? Siapa?
Langkah Banu pelan menjelajahi semua tempat ini. Terutama sofa itu. Ia mendekat. Tangannya menyentuh sofa dengan lambat. Ia merasa ada luapan gembira dan sedih yang datang bersamaan.
Itu tempat Pak Banu biasa tidur dan duduk. Itu tempat paling favorit di antara sekian banyak tempat di rumah ini.
Mili melihat apa yang di lakukan Banu dengan perasaan campur aduk. Ingin rasanya ia memeluk pria ini dan melepas rasa rindu. Namun itu tidak mungkin. Kedekatan yang tidak di sengaja olehnya ini akan terhapus begitu saja jika dia melakukannya.
Apa ini? Ini hanya sofa.
Ini hanya rumah kecil yang jika di bandingkan dengan rumah miliknya tidak ada artinya. Perabot-perabot di sini juga terlihat kuno dan usang. Tidak ada hal yang patut di rindukan. Namun Banu merasa degup jantungnya berdetak lebih kencang. Ia bahagia. Seakan-akan sudah lama merindukan tempat ini.
Mili menahan kuat-kuat untuk tidak menangis.
"Hei, Mili. Apa aku pernah datang ke rumah ini?" tanya Banu tanpa menoleh. Mili merasakan napasnya naik turun. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat. "Aku sedang bertanya padamu Mili." Kini Banu menoleh padanya. "Apa aku pernah datang ke rumah ini?" tanya Banu serius.
..._____...
__ADS_1