Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 57 ° Dia Mili


__ADS_3

Gila. Pak Banu sudah gila. Dia mengatakan hal yang tidak perlu. Mili komat-kamit menggerutu dalam hati. Dia takut direktur marah lagi padanya yang tidak tahu apa-apa.


Gadis ini menunduk. Takut Cahaya marah padanya yang tidak tahu mengapa Pak Banu bicara seperti itu.


"Jadi kamu sudah bertekad ya?" tanya Cahaya. Banu tersenyum tenang. "Hhh ..." Cahaya menghela napas berat. Haras menepuk bahunya pelan. Dia tahu Banu hanya bercanda sekaligus serius dalam waktu yang sama. "Apapun itu Bibi sudah serahkan padamu. Bibi tidak akan lagi mengatur hidup kamu lagi. Namun ingat. Kamu harus tetap mempertahankan perusahaan dari orang-orang licik semacam Dirga atau yang lainnya."


"Tentu aku akan melakukannya Bi. Bibi tidak perlu khawatir." Banu tersenyum. Seakan berhasil menguji bibinya.


"Ya, sudah. Bibi kembali ke ruangan. Dan ... kamu." Cahaya melihat ke arah Mili.


"Dia punya nama. Mili," koreksi Banu.


"Ah, iya Mili." Cahaya melebarkan mata sekejap mendapat koreksi dari keponakannya. Mili mendongak. "Lain kali kita bisa bicara lebih banyak. Aku ingin lebih mengenalmu. Karena sepertinya seseorang sudah terobsesi dengan mu," kata Cahaya melirik Banu.


"Baik, Bu." Mili mengangguk sopan.

__ADS_1


"Ayo, Haras kita pergi," ajak Cahaya. Mili langsung ikut berdiri dan menunduk. Membiarkan Cahaya keluar dari ruangan. Setelah itu dia menoleh pada Pak Banu.


"Ada apa dengan tadi? Kenapa bicara hal yang tidak perlu, Pak Banu?" tegur Mili. Dia sudah menahan diri sejak tadi sikap kesewenangan pria ini. Tanpa menunggu duduk dulu, Mili segera protes.


"Soal yang mana?"


"Tentu saja soal yang tadi Bapak bicarakan pada direktur." Mili kesal harus menjelaskan. Padahal sudah jelas.


"Aku yang mengatakan kita tidur bersamaan? Atau aku yang mengatakan jika aku memang tidur dengan mu?" tanya Banu entah mengapa membuat Mili gugup. Pria itu menatap dalam.


"Ya, itu. Itu semua." Mili mengalihkan pandangan ke arah lain saat bicara. Banu tersenyum. Tiba-tiba dia menarik tangan Mili yang tidak ada pertahanan.


"Duduklah dulu di sini," kata Banu seraya memaksa Mili untuk duduk di sampingnya. Mili menatap Pak Banu dengan tatapan terkejut.


"Bi-bisa lepaskan tangan saya?" tanya Mili yang berusaha menguasai keadaan.

__ADS_1


"Tidak. Karena sepertinya kamu berniat kabur." Banu tidak mengindahkan permintaan Mili. Gadis ini pun diam. Antara senang dan bingung. Saat ini tubuhnya begitu dekat dengan Banu.


"S-sebenarnya, apa yang sedang Anda lakukan sekarang?" tanya Mili tanpa menoleh pada Banu sama sekali. Banu mengerjapkan mata.


"Aku?"


"Ya. Kenapa Anda membawa saya masuk ke dalam ruangan Anda? Duduk dan berbincang. Lalu bicara banyak hal aneh yang saya dengar tadi dengan direktur Cahaya. Apa maksud semua itu?" Kali ini Mili memberanikan diri menatap Banu.


Banu diam.


"Anda tidak mengingat saya sama sekali, lalu kenapa Anda berusaha untuk terlihat mengenal saya?" tanya Mili. Ia takut. Saat dirinya berharap, ternyata tujuan Banu bukanlah mengingat dirinya dan kembali dekat seperti dulu.


Ini hanya sebuah keingintahuan saja. Setelah mengerti dan paham, pria ini akan menghilang. Mili lebih ingin kejelasan tujuan Pak Banu padanya.


"Kamu khawatir?" tanya Banu. "Setelah aku mengenalmu aku akan pergi meninggalkanmu?" Pria ini sepertinya paham.

__ADS_1


"Ya." Mili menjawab dengan tegas. Ia tidak mau seperti dulu lagi.


..._____...


__ADS_2